Sunday, January 4, 2026

Calculated Risk

Dalam hidup, risiko itu selalu ada. Bahkan ketika kita merasa sedang “aman”, sebenarnya kita cuma memilih risiko yang lebih familiar. Bertahan di pekerjaan yang bikin lelah adalah risiko. Menunda keputusan penting karena takut salah juga risiko. Diam pun bukan bebas risiko—dia hanya risiko yang menyamar sebagai kenyamanan.

Masalahnya, banyak dari kita diajarkan bahwa risiko adalah sesuatu yang harus dihindari. Sejak kecil kita didorong untuk memilih jalan yang paling stabil, paling bisa diprediksi, paling minim gejolak. Tidak salah. Stabilitas penting. Tapi ada harga yang sering luput dibicarakan: stagnasi.

Mengambil risiko bukan berarti nekat atau lompat tanpa parasut. "Calculated risk" berarti kita sadar apa yang dipertaruhkan, apa yang mungkin kita dapatkan, dan apa yang siap kita tanggung kalau hasilnya tidak sesuai harapan. Ada proses berpikir, ada pertimbangan, ada kesiapan mental. Bukan impuls, tapi juga bukan kelumpuhan karena terlalu banyak analisis.


Pertumbuhan hampir selalu lahir dari wilayah yang tidak sepenuhnya nyaman. Belajar skill baru berarti siap terlihat bodoh di awal. Pindah arah karier berarti siap kehilangan sebagian identitas lama. Membuka diri dalam relasi berarti siap terluka. Tapi justru di ruang-ruang itulah kita bertemu versi diri yang lebih jujur dan lebih matang.

“No risk, no growth” terdengar klise, tapi ada kebenaran yang keras di sana. Otot tidak tumbuh tanpa beban. Pikiran tidak berkembang tanpa tantangan. Hidup tidak melebar tanpa keberanian untuk melangkah keluar dari pola lama. Pertanyaannya bukan apakah kita akan menghadapi risiko—karena itu pasti. Pertanyaannya: risiko mana yang kita pilih, dan untuk hidup seperti apa.

Berani mengambil "calculated risk" bukan soal menjadi nekat. Itu berarti menghormati potensi diri sendiri. Mengakui bahwa kita layak mencoba, layak gagal, dan layak tumbuh. Karena pada akhirnya, penyesalan terbesar jarang datang dari hal yang kita coba dan gagal, tapi dari hal yang tidak pernah kita berani mulai.

Saturday, January 3, 2026

Dance of the Twilight

Sore itu aku merasa kepalaku terlalu penuh. Rasanya seperti ada gulungan kabel kusut yang nyangkut di belakang mata, dan setiap tarikan napas cuma menambah kekencangannya. Aku keluar sebentar, sekadar ingin berjalan sambil mencari udara yang tidak bercampur dengan notifikasi pekerjaan.

Langit sedang berubah warna. Orange-nya lembut, emasnya hangat, dan ada sesuatu dalam cahaya itu yang tiba-tiba membuat langkahku melambat. Aku duduk di bangku taman tanpa benar-benar tahu kenapa. Angin sore menyentuh pelan, dan suara kota terdengar seperti seseorang menurunkan volumenya dari belakang layar.

Di titik itu pikiranku mulai melayang, bukan liar, tapi mengambang. Seolah ada ruang kosong yang tiba-tiba terbuka, dan aku jatuh masuk ke dalamnya dengan cara yang halus.

Di dalam ruang itu, aku melihatnya.


Seorang perempuan. Gerakannya lembut, tenang, dan serba mengalir. Dia menari di bawah cahaya senja, seakan setiap gerakan tubuhnya diukir dari warna-warna langit. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku tahu dia tersenyum. Atau mungkin itu hanya perasaan yang muncul dari cara ia bergerak.

Aneh, karena gambarnya terlalu nyata untuk disebut bayangan pikiran. Tapi terlalu sunyi untuk disebut kenyataan. Dia seperti berdiri di perbatasan antara dunia luar dan dunia dalam, dan entah bagaimana aku ikut berdiri di sana bersamanya.

Perlahan aku merasa tubuhku lenyap, seakan batas antara aku dan tarian itu memudar. Gerakannya terasa seperti bagian dari nafasku sendiri. Tidak ada waktu, atau mungkin ada, tapi dia meregang dan mengecil sesukanya. Rasanya lama… tapi saat aku berkedip, semuanya hilang begitu cepat seperti cahaya yang ditarik dari permukaan air.

Ketika kesadaranku kembali penuh, aku masih duduk di bangku yang sama. Senja masih ada di atas kepala. Tapi kepala yang tadinya sesak mendadak terasa lebih lapang. Seperti ada ruang yang baru dibersihkan.

Saat aku membuka laptop, ide-ide mengalir tanpa perlu dipaksa. Hal-hal yang sebelumnya membuatku pusing berubah menjadi rangkaian langkah sederhana. Tiba-tiba semuanya terasa bisa diselesaikan.

Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sore itu. Mungkin itu vision. Mungkin imajinasi liar yang terlalu indah untuk ditolak. Atau mungkin itu bagian dari diriku sendiri yang selama ini bersembunyi.

Tapi tiap kali aku melihat langit senja, ada sensasi yang kembali — seperti panggilan yang halus, seperti momen itu masih tertinggal di udara. Dan bagian kecil dari diriku selalu merasa bahwa tarian itu belum selesai.

Thursday, January 1, 2026

Still Standing


1 Januari 2026

Hari ini kalender resmi berganti angka.
Tapi tubuh dan kepala gue tahu: pergantian tahun nggak pernah sesederhana itu.

Kalau gue menoleh ke belakang, 2025 adalah salah 1 tahun terberat yang pernah gue lewati sejauh ini.
Bukan cuma karena satu kejadian besar, tapi karena rentetan pukulan kecil dan besar yang datang silih berganti.

Gue difitnah di beberapa tempat.
Kehilangan kepercayaan, kehilangan rasa aman, kehilangan arah.
Ada hal-hal yang gue perjuangkan bertahun-tahun, runtuh begitu saja—tanpa penjelasan yang adil, tanpa penutup yang rapi.

Di banyak hari, gue cuma bertahan.
Bukan berkembang. Bukan menang. Bertahan saja sudah terasa seperti kerja penuh waktu.

Kalau ditanya apa yang masih bisa gue syukuri dari tahun itu, jawabannya sederhana tapi berat:
gue masih hidup.
Gue masih di sini.
Dan di tengah semua kekacauan itu, gue sadar—masih ada orang-orang yang memilih berdiri di sisi gue, meski dunia sedang tidak ramah.

Belakangan gue juga dengar cerita dari banyak orang.
Ternyata gue nggak sendirian.
Banyak yang menjalani 2025 dengan luka mereka masing-masing—beda bentuk, beda cerita, tapi sama-sama capek.

Jujur, ada bagian dari diri gue yang ingin menghapus saja tahun itu.
Menguburnya dalam-dalam.
Berpura-pura itu cuma mimpi buruk yang nggak perlu diingat.

Tapi ada kalimat yang terus terngiang:
sejarah yang dilupakan cenderung terulang kembali.

Mungkin 2025 memang bukan untuk dirayakan.
Tapi ia layak diingat—sebagai pengingat tentang batas, tentang rapuhnya reputasi, tentang betapa cepat hidup bisa berubah arah.

Gue nggak punya resolusi besar untuk 2026.
Nggak ada janji bombastis.
Cuma satu harapan yang sederhana dan jujur:

semoga tahun ini lebih baik.
Sedikit demi sedikit pun nggak apa-apa.

Karena setelah tahun seperti 2025, “lebih baik” saja sudah cukup berarti.

Wednesday, December 31, 2025

The Lost Child

Setiap malam, jam di ruang tamu selalu berdetak sedikit lebih keras dari biasanya.

Jarumnya hampir selalu berhenti di angka tujuh ketika dia mendengar suara ketukan kecil dari luar pagar.


“Tok… tok… tok…”

Anak perempuan itu—sebut saja namanya Rani—sedang duduk lesehan sambil menggambar. Mamanya di dapur, radionya menyala pelan, bau minyak goreng dan bawang putih mengambang di udara.

“Ran, jangan ke mana-mana ya,” suara mama dari dapur.
“Iya, Ma,” jawabnya otomatis.

Ketukan itu datang lagi.

Rani berdiri, mengintip lewat jendela. Di luar, ada anak-anak. Banyak. Usia mereka kira-kira sama dengannya—SD semua. Ada yang kurus, ada yang gemuk, ada yang rambutnya dikepang rapi, ada yang kusut seperti baru bangun tidur.


Seorang anak laki-laki melambai. Senyumnya lebar.

“Main, yuk,” ajak mereka.

Rani ragu sebentar. Tapi kaki kecilnya sudah melangkah keluar sebelum pikirannya sempat menyusul.

Sejak malam itu, mereka selalu datang.

Selalu antara jam tujuh sampai jam sembilan. Tidak pernah lewat, tidak pernah lebih awal.

Mereka main petak umpet di lapangan kosong, lompat-lompatan di dekat kali kecil, duduk berjejer di batu sambil cerita hal-hal aneh yang rasanya seperti mimpi tapi terlalu nyata untuk disebut mimpi.



“Nama geng kita apa?” tanya Rani suatu malam.

Anak perempuan berambut pendek menoleh. Matanya tenang, dewasa dengan cara yang aneh.
“Kami nggak punya nama,” katanya.

Rani berpikir sebentar, lalu tersenyum.
“Kalau gitu… aku namain kalian The Lost Child.”

Anak-anak itu saling pandang. Tidak ada yang tertawa, tapi tidak ada yang menolak.

“Boleh,” kata anak laki-laki yang pertama melambai tadi.

Rani tidak pernah cerita ke orang tuanya. Entah kenapa, rasanya tidak perlu. Seperti rahasia kecil yang hanya miliknya.

Suatu malam, mereka bermain di pinggir kali. Airnya keruh, mengalir pelan tapi dalam. Bulan menggantung rendah, cahayanya memantul di permukaan air seperti pecahan kaca.

“Jangan terlalu dekat,” kata Rani.

Anak paling kecil tertawa.
“Tenang aja.”

Tawa itu berhenti terlalu cepat.

Kakinya terpeleset.

“Eh—!”

Tubuh kecil itu jatuh ke air. Sekejap saja. Lalu arus menariknya pergi.

“Pegang tanganku!” teriak Rani sambil berlutut di pinggir kali.


Air beriak liar. Tidak ada tangan yang teraih.

Anak-anak lain berdiri kaku. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang menangis.

Hanya suara air.

Lalu semuanya gelap.

Rani terbangun di ranjangnya.

Selimutnya rapi. Lampu kamar menyala. Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi.

“Mimpi ya…?” gumamnya.

Hari itu berjalan normal. Sekolah, PR, makan malam. Tapi setiap jam tujuh, Rani menoleh ke pagar.

Tidak ada ketukan.

Malam-malam berikutnya juga sama.

The Lost Child tidak pernah datang lagi.

Bertahun-tahun kemudian, Rani sudah remaja. Suatu sore, mamanya membongkar lemari tua, mencari album foto lama.

“Ran, sini deh,” panggil mama.

Rani duduk di sampingnya. Album itu bau kertas tua dan debu. Halaman demi halaman dibuka.

Lalu Rani membeku.

Di salah satu foto hitam-putih, ada segerombolan anak SD berdiri berjajar di pinggir lapangan tanah. Wajah-wajah yang sangat ia kenal.


“Itu…” napasnya tercekat. “Itu mereka.”

Mama tersenyum kecil.
“Itu teman-teman SD mama dulu.”

Jari Rani menunjuk satu per satu.
“Yang ini… yang rambutnya pendek… yang ini yang sering senyum…”

Lalu jarinya berhenti di satu anak perempuan di tengah foto.

“Ma,” suaranya bergetar. “Itu aku.”

Mama tertawa pelan.
“Ngaco kamu. Mana mungkin. Mama waktu itu masih SD.”

“Tapi itu aku,” Rani bersikeras. “Aku kenal mereka. Aku main sama mereka.”

Mama menghela napas, nadanya berubah hati-hati.
“Ran… salah satu dari anak-anak itu meninggal. Tenggelam di kali dekat sekolah.”

Rani menelan ludah.

“Itu… kejadian malam hari?”
Mama mengangguk pelan.

Rani menatap foto itu lagi. Wajah-wajah yang tersenyum tenang. Tidak menakutkan. Tidak jahat.

“Hmm...,” kata mama sambil menutup album, “Tapi dipikir-pikir anak ini memang sedikit mirip kamu yah. Tapi mama juga lupa ini siapa...”

Rani tidak menjawab.

Malam itu, sebelum tidur, ia menatap jam dinding. Pukul tujuh tepat.

Tidak ada ketukan.

Tapi entah kenapa, ia merasa—di luar pagar, di balik gelap—ada segerombolan anak yang akhirnya bisa pulang.

Friday, December 19, 2025

Strength through stress

(Copied from email newsletter from Susan David - https://www.susandavid.com/)

Hi All,

The journey toward a stress-free existence is nothing short of a cultural obsession. We sign up for yoga classes and download meditation apps to help us escape stress, complaining to our friends about our looming deadlines and lack of sleep. We seek out techniques to help us eliminate stress from our lives and read articles about how it’s going to send us to an early grave.

Since prolonged, excessive stress can impact us, the need to destress is easy to understand. Yet a core aspect of living a happy, fulfilling life involves renegotiating our relationship to stress rather than attempting to eliminate it. In fact, attempting to banish stress can actually have the opposite effect, increasing stress rather than decreasing it. It’s healthier to recognize the power—and inevitability—of stress and ride the wave, acknowledging its challenges and using it to propel us forward.

Stress actually evolved as a useful behavioral response. When we perceive a threat, stress allows us to run faster and see and think more clearly—all of which helped our early ancestors survive. Abolishing stress would mean getting rid of a deep part of human biology and one of our most valuable tools.

Here are some strategies we can use to build a healthier relationship with our stress:



Change your perspective: Recognize that stress can be a sign that you are learning and growing. As we step into the discomfort of new things, we are bound to feel the stress of that stretch. Love yourself through that learning. When that burst of anxiety hits you right before a big presentation, it can either send you into a tailspin or it can sharpen your focus. Embrace evolutionary reality rather than fighting it.
Unhook: When you find yourself saying “I am stressed” rather than “I feel stressed,” there’s a good chance the feeling has you hooked. You’ve come to identify so strongly with your stress that it feels like it is defining you. Remind yourself that stress is not who you are. It’s an experience you’re having. Even this slight shift can give you the perspective you need to move forward.
Cultivate curiosity: Why are you feeling stressed? How do you respond to stress? What does your inner dialogue sound like? Which value is the feeling pointing toward? Sometimes your stress will signal a value head-on: you’re stressed about the project because you care about your client and want to do good work. Sometimes, it’s more subtle, like a nagging tug at your heart suggesting that you’re ready for a life-change. When we have the courage to explore the experience of stress, we can begin to recognize patterns and adjust our behavior.
Rather than battling stress, consider how you can use it to your advantage. It heightens your senses and prepares you for big moments, giving you the boost you need to focus, succeed, and thrive.
Wishing you well,

Susan David

Wednesday, December 3, 2025

Teman di Ujung Senja

Namaku Rendra. Dan seumur hidupku, aku selalu punya seseorang yang menemaniku — bahkan ketika aku sudah lupa caranya memanggil nama sendiri di tengah sunyi.

Aku pertama kali bertemu dengannya waktu umur enam tahun. Aku duduk di bawah pohon mangga di halaman belakang, menggambar awan di buku tulis. Saat itu langit seperti mau runtuh, tapi aku malah melihat seorang anak laki-laki berdiri di sisi lain halaman. Dia tersenyum, memiringkan kepala, dan berkata,
"Kenapa kamu kelihatan sedih, Ren?"
Aku mengangkat bahu. "Aku nggak punya teman main."
Dia duduk di sebelahku dan berkata pelan, "Sekarang punya."


Namanya Thomas.

Ia hadir setiap kali dunia jadi terlalu besar buat aku pahami. Waktu aku jatuh dari sepeda, dia menertawakanku dulu baru menolong. Waktu aku menangis karena Ayah pergi kerja jauh, dia bilang, "Gak apa-apa, aku di sini."
Aku percaya padanya seperti aku percaya bahwa pagi akan datang.

Lalu, seperti semua masa kanak-kanak yang terbang tanpa pamit, Thomas perlahan menghilang.
SMP, SMA, kuliah, cinta pertama, pekerjaan pertama, pernikahan — semuanya datang dan pergi dalam parade waktu. Aku punya teman, rekan, anak, lalu cucu. Aku punya rumah dengan taman kecil dan suara ketawa setiap sore.
Hidupku penuh, tapi tak pernah benar-benar utuh. Selalu ada ruang kecil di dada, seperti kursi kosong di ruang tamu, menunggu seseorang yang tak kunjung kembali.

Waktu berlalu. Teman-teman lama mulai berpamitan satu per satu.
Pagi jadi lebih panjang, malam jadi lebih berat.
Dan ketika Lila, istriku, pergi dalam tidurnya — aku merasa seluruh dunia berubah jadi gema. Rumah kami terlalu besar, bahkan untuk napasku sendiri.

Suatu malam, listrik mati. Aku duduk di ruang tamu, hanya ditemani cahaya lilin yang redup. Angin meniup tirai seperti napas pelan dari dunia lain. Aku sempat berpikir, mungkin aku hanya menunggu giliran.


Lalu aku mendengar suara itu.
Lembut. Akurat. Seperti gema masa kecil yang menembus waktu.

"Rendra..."

Aku menoleh. Dan di sana, di sisi meja, berdiri seseorang. Wajahnya samar diterangi cahaya lilin, tapi aku tahu. Aku tahu bahkan sebelum ia tersenyum.
"Thomas."


Dia masih sama. Tidak menua, tidak berubah. Rambutnya tetap berantakan, matanya tetap hangat. Ia duduk di kursi seberangku, mengangkat alis seolah tak ada tahun yang memisahkan kami.
"Kamu tumbuh jadi tua sekali," katanya sambil tertawa kecil.
Aku tersenyum miris. "Dan kamu tetap sama."
"Aku kan cuma muncul kalau kamu butuh."
Aku menatapnya lama. "Jadi kamu nyata?"
Dia berpikir sebentar, lalu menjawab, "Tergantung, Ren. Apa yang lebih nyata — sesuatu yang kamu sentuh, atau sesuatu yang kamu percaya sepenuhnya?"

Kami mengobrol lama malam itu. Tentang hidup, kehilangan, tentang semua hal yang dulu terasa besar tapi kini hanya serpihan waktu. Thomas mendengarkan tanpa banyak bicara, seperti dulu. Kadang aku merasa dia menatapku dengan mata yang tahu segalanya — seolah dia selalu ada di setiap momen yang aku lupa.

Ketika lilin hampir padam, aku berkata, "Kau tahu, Thomas, mungkin kamu cuma bagian dari pikiranku. Sisa imajinasi bocah kesepian."
Dia tersenyum samar. "Kalau begitu, kamu berhasil menciptakan teman yang sangat setia."

Dan sebelum aku sempat menjawab, angin masuk dari jendela yang setengah terbuka. Api lilin padam.
Gelap.
Tapi di dalam gelap itu, aku merasa hangat. Seperti seseorang menepuk bahuku perlahan, lalu berbisik, "Aku di sini."

Pagi datang dengan sinar matahari yang lembut.
Dua cangkir teh di meja, satu di antaranya masih berasap.


Aku tidak ingat apakah aku menuang dua cangkir. Tapi di permukaan teh itu, ada riak kecil yang bergerak... seperti seseorang baru saja meniupnya.

Aku menatap cangkir itu lama, lalu tersenyum.
Mungkin dunia tak pernah benar-benar meninggalkan kita.
Mungkin yang kita sebut teman khayalan hanyalah bentuk lain dari jiwa — yang menolak membiarkan kita berakhir sendirian.

Dan di antara cahaya pagi yang menembus jendela, aku mendengar suaranya lagi.
Jauh.
Lembut.
"Selamat pagi, Ren."

Aku tersenyum. "Selamat pagi, Tom."

***

Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku benar-benar tidur.
Atau mungkin — aku belum bangun.

Udara di sekitar terasa lembut. Tidak dingin, tidak panas. Aku duduk di kursi kayu di taman yang samar-samar kukenal. Pohon mangga di belakang rumahku dulu berdiri di sana, tapi daunnya kini berkilau seolah terbuat dari cahaya pagi yang beku.
Ada jalan setapak yang menuju ke arah kabut putih. Aku tahu ke mana jalan itu mengarah, tapi aku belum siap melangkah.


Lalu kudengar suara langkah. Ringan, seperti anak kecil berlari di pasir.
"Tungguin aku dong," katanya.

Aku menoleh, dan di sana Thomas berdiri — sama seperti dulu. Kaus lusuh, senyum malas, mata yang seolah tahu rahasia dunia tapi pura-pura nggak peduli.
Dia duduk di sebelahku, menatap langit yang terlalu biru untuk nyata.
"Capek ya?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Capek... tapi bukan capek tubuh. Lebih kayak... capek nunggu sesuatu yang aku sendiri nggak tahu apa."

Thomas mengangguk pelan. "Semua orang nunggu sesuatu, Ren. Bedanya, cuma ada dua jenis penunggu: yang masih berharap... dan yang udah selesai berharap."
"Dan aku yang mana?"
Dia menatapku lama, lalu tersenyum kecil. "Kamu udah mulai selesai."

Kami diam lama. Angin membawa aroma teh dan tanah basah. Aku memejamkan mata, mendengar detak halus — entah dari jantungku, atau dari dunia ini.

"Aku pengin nanya," kataku akhirnya. "Kamu itu siapa sebenarnya?"
Thomas tertawa kecil. "Kamu selalu suka pertanyaan susah."
"Aku serius."
Dia menatap tangannya, lalu ke arahku. "Mungkin aku bagian dari kamu yang nggak mau mati. Bagian kecil yang masih pengin main, pengin tertawa, pengin percaya."
Aku menelan ludah. "Jadi kamu cuma ilusi?"
Dia menggeleng. "Ilusi itu bukan berarti tidak nyata. Hanya berarti kamu belum punya bahasa untuk menjelaskannya."

Angin berhenti. Dunia terasa hening seperti sebelum seseorang menutup buku.

"Thomas," kataku pelan, "Kalau aku pergi... kamu bakal tetap di sini?"
Dia tersenyum, matanya basah tapi damai. "Aku bukan di sini, Ren. Aku adalah tempat ini. Di mana pun kamu berada, aku bagian dari tempat itu."
Aku mengangguk. "Dan kalau aku hilang?"
"Kalau kamu hilang, aku yang akan menemukanmu."

Seketika aku sadar — taman ini mulai larut dalam cahaya.
Rumahku, pepohonan, bahkan tubuhku sendiri perlahan menjadi transparan.
Aku tidak merasa takut. Tidak merasa sedih. Hanya ada rasa ringan — seperti akhirnya menurunkan beban yang sudah lama kugendong.

Thomas berdiri, mengulurkan tangannya. "Ayo, Ren."
Aku menatap tangannya yang bercahaya samar. "Ke mana?"
Dia tersenyum. "Ke tempat di mana tidak ada yang pergi, dan tidak ada yang datang. Hanya ada... yang ada."


Aku berdiri. Saat jemariku menyentuh tangannya, dunia runtuh dalam keheningan yang indah.
Bukan gelap. Bukan terang. Hanya... tenang.

Dan sebelum segalanya hilang, aku mendengar suaranya berbisik, sangat lembut:
"Kamu nggak pernah sendirian, Ren. Bahkan waktu kamu pikir begitu."

Lalu semuanya jadi cahaya.

***

Epilog: Di Taman Belakang

Namaku Dara.
Orang bilang aku mirip Kakek waktu muda — sama-sama suka bengong liat langit. Bedanya, kalau Kakek dulu pakai rokok di tangannya, aku cuma bawa segelas teh dingin dan earphone setengah nyala.

Sudah dua minggu sejak Kakek meninggal. Rumahnya masih sama: tembok kusam, jendela besar, dan taman kecil yang seolah hidup di dunia sendiri.
Kami belum berani membongkar apa pun di sana. Ibu bilang, biarkan dulu rumahnya tenang, biarkan arwahnya beres-beres sendiri.

Aku tahu itu cuma cara halus untuk bilang "kita belum siap."

Sore itu, aku duduk di taman belakang. Kursi kayu tua masih ada di tempatnya. Catnya mengelupas, tapi tetap kokoh. Di atas meja, dua cangkir teh — sudah kering, tapi meninggalkan noda bundar di taplak.


Aneh, karena katanya Kakek tinggal sendirian.

Aku menatap cangkir itu lama, lalu tiba-tiba teringat sesuatu: waktu kecil, aku sering main ke sini. Kadang aku lihat Kakek duduk sendirian di taman, ngobrol pelan seolah ada orang di depannya.
Waktu aku tanya siapa, dia cuma bilang,
"Teman lama, Ra. Kamu nggak kenal. Tapi dia kenal kamu."

Dulu aku pikir itu lelucon orang tua yang kesepian. Sekarang... entah kenapa, aku nggak se-yakin itu.

Aku menutup mata. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma daun mangga dan sesuatu yang aneh — seperti wangi teh manis yang baru diseduh. Lalu aku dengar suara kursi kayu berderit, padahal aku tidak bergerak.

"Aku kangen dia," kataku lirih, entah ke siapa.

Sebuah suara, halus tapi jelas, datang dari arah meja.
"Dia nggak pernah benar-benar pergi."


Aku membuka mata.
Ada bayangan samar duduk di kursi seberang. Seorang pria muda, dengan rambut berantakan dan senyum yang entah kenapa terasa... familiar.
Ia menatapku, lalu berkata pelan, "Dara, ya? Kamu mirip dia waktu kecil."

Jantungku berdetak keras.
"Siapa kamu?" tanyaku, hampir berbisik.

Dia menatap teh di depannya, meniup permukaannya, lalu tersenyum kecil.
"Teman lamanya Rendra."

Aku tak tahu harus berkata apa. Angin berhenti. Cahaya senja membuat segalanya seperti lukisan.
Dia berdiri, menatapku dengan mata hangat yang entah kenapa bikin dadaku sesak.

"Jaga taman ini, ya," katanya. "Dia suka tempat ini karena di sinilah dua dunia bisa saling dengar."
"Dua dunia?"
Dia tidak menjawab. Hanya melangkah menjauh, melewati cahaya sore yang makin redup.
Langkahnya tidak bersuara. Dan ketika aku menoleh lagi — dia sudah tidak ada.

Tapi di meja, salah satu cangkir teh kini berasap tipis.
Segar. Hangat. Seolah baru diseduh.

Aku memegang cangkir itu dengan tangan gemetar. Rasanya manis, persis seperti buatan Kakek.
Dan di dasar cangkir, daun tehnya membentuk pola kecil — dua sosok berdiri berdampingan.

Aku menatapnya lama, lalu tersenyum.
Mungkin, pikirku, ada tempat di antara hidup dan kenangan... di mana mereka yang saling mencintai bisa tetap berjumpa.
Dan taman belakang ini — mungkin, hanya mungkin — adalah pintu kecil menuju tempat itu.

Saturday, November 8, 2025

Battling burnout

(Copied from email newsletter from Susan David - https://www.susandavid.com/)

Hi All,

In the context of our “rise-and-grind” culture, it’s very likely that you (or someone you care about) is either coping with burnout now or has dealt with it in the past.

I’ve been there myself. It feels like your work is demanding more of you than you have to give. It takes you an hour to complete a task that you could have previously done in twenty minutes. You used to look forward to your job. Now you dread it.

One of the key signs of burnout is working less efficiently and falling behind. We often try to remedy this by working more than before. This creates an unhealthy cycle: the deeper your sense of burnout, the more you work, and the more you work, the greater the burnout. The sense of depletion follows you home from the office and you have less energy for your personal life. You feel like you’re in a dark tunnel crawling toward a light that never seems to get any closer.

If this sounds familiar, read on for some tips and tricks for tackling burnout.

Rather than lean in to busyness, look for opportunities to lean in to your humanness.

Humanness looks different for different people. Here are a few ideas:
  • Plan a date night with your partner or friend where you agree not to talk about work.
  • Get outside or do something active.
  • Listen to a favorite song with your eyes closed.
Your humanness is present when you take pleasure in existing rather than accomplishing, when you remember that you’re a human being, not a human doing.

When we connect with our humanness, we stop struggling toward the light at the end of the tunnel and start learning how to see in the dark. We squint our eyes, notice the specific emotions that burnout has provoked in us, and use them as signposts that point us toward our values.

Boredom is a reminder that your need for intellectual challenge is going unmet.
Loneliness suggests that you need more personal connection in your life.
Exhaustion is urging you to lean against the tunnel wall and take a rest.
It’s easy to look forward to some indefinite point in the future when work will slow down and your burnout will fade. But that approach assumes that you won’t collapse along the way.

Instead, it’s more sustainable to use your feelings as data to guide your decisions in the present. Whether that means rethinking how you relate to your work, adjusting your role within your organization, or even laying the groundwork for a career change, you’ll be reframing your burnout as an opportunity to identify the first steps toward change.

In kindness and compassion,

Susan David