Beberapa hari yang lalu, di town hall kantor, ada satu momen yang membuat saya terdiam.
Pihak perusahaan sedang menjelaskan rencana besar untuk meningkatkan kompetensi seluruh karyawan. Tujuannya bagus: setiap orang diharapkan memiliki pemahaman yang lebih luas dan lebih holistik mengenai bagaimana perusahaan bekerja.
Di tengah sesi, muncul satu pesan yang mungkin terdengar sederhana.
"Kalau tidak tahu, ya bertanya."
Kalimat yang sering kita dengar.
Namun kemudian, seseorang mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan yang menurut saya luar biasa.
"Kalau saya bahkan tidak tahu apa yang harus saya tanyakan, bagaimana?"
Ruangan sempat hening sejenak.
Saya melihat ekspresi MC berubah sesaat. Mungkin pertanyaan itu di luar dugaan. Namun yang saya apresiasi, alih-alih meremehkan pertanyaan tersebut, pihak perusahaan merespons dengan cukup baik. Mereka mengatakan bahwa mulai bulan depan akan ada training yang lebih ekstensif agar setiap orang memiliki fondasi yang cukup sebelum diharapkan memahami berbagai aspek bisnis.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah satu sesi tanya jawab biasa.
Bagi saya, momen itu terasa sangat personal.
Karena dulu, ketika saya mengungkapkan kebingungan yang kurang lebih sama, respons yang saya terima justru sebaliknya.
Seolah-olah saya bodoh.
Seolah-olah kalau saya bahkan tidak tahu harus bertanya apa, berarti saya kurang berpikir.
Dan ternyata, bertahun-tahun kemudian, saya mendengar orang lain mengutarakan hal yang sama—dan kali ini pertanyaannya justru dianggap valid.
Rasanya seperti ada beban lama yang akhirnya sedikit terangkat.
Pertanyaan Tidak Muncul dari Ruang Kosong
Ada satu hal yang sering dilupakan ketika orang berkata, "Kalau tidak tahu ya tanya."
Pertanyaan tidak muncul begitu saja.
Pertanyaan lahir dari pemahaman.
Semakin seseorang memahami sebuah bidang, semakin spesifik pertanyaan yang bisa ia ajukan.
Sebaliknya, ketika seseorang benar-benar baru memasuki suatu domain, ia sering kali bahkan belum memiliki kerangka berpikir yang cukup untuk mengetahui apa yang belum ia ketahui.
Dalam dunia pembelajaran, kondisi ini sering disebut sebagai unknown unknowns.
Bukan sekadar "Saya belum tahu jawabannya."
Melainkan:
"Saya bahkan belum tahu bahwa ada hal yang perlu saya ketahui."
Ini adalah fase yang sangat normal ketika seseorang sedang belajar sesuatu yang benar-benar baru.
Analogi Ruang Operasi
Bayangkan seseorang yang tidak pernah kuliah kedokteran.
Lalu tiba-tiba ia didorong masuk ke ruang operasi.
Semua orang berkata,
"Kalau nggak ngerti, tanya aja."
Tanya apa?
Ia bahkan belum tahu nama alat-alat bedah.
Belum tahu anatomi tubuh manusia.
Belum tahu prosedur sterilisasi.
Belum tahu urutan operasi.
Dalam kondisi seperti itu, otak bisa membeku.
Bukan karena malas.
Bukan karena bodoh.
Tetapi karena belum memiliki fondasi.
Kalau ada yang berkata analogi ini terlalu berlebihan atau tidak apple-to-apple, saya rasa mereka justru melewatkan fungsi sebuah analogi.
Analogi bukan dibuat agar identik dalam setiap detail.
Analogi dibuat untuk menjelaskan pola berpikir yang sama dalam konteks yang berbeda.
Dan pola berpikirnya sederhana:
Tanpa fondasi, seseorang bahkan belum tahu pertanyaan apa yang layak diajukan.
"Common Sense" Sering Kali Hanya Pengalaman yang Sudah Terlupakan
Ada fenomena psikologi yang disebut curse of knowledge.
Ketika seseorang sudah sangat menguasai suatu bidang, ia mulai lupa bagaimana rasanya menjadi pemula.
Akibatnya muncul kalimat-kalimat seperti:
- "Kan tinggal tanya."
- "Masa nggak kepikiran?"
- "Common sense lah."
Padahal yang mereka sebut "common sense" sering kali hanyalah pengalaman bertahun-tahun yang sudah begitu melekat hingga terasa alami.
Yang bagi mereka tampak sederhana, bagi orang baru bisa terlihat seperti hutan tanpa peta.
Senior Bukan Berarti Mahatahu
Ada anggapan lain yang menurut saya cukup berbahaya.
Karena seseorang sudah senior, maka ia seharusnya mampu mengetahui semuanya sendiri.
Saya tidak setuju.
Yang biasanya dimiliki seorang senior adalah kemampuan belajar yang lebih cepat, pengalaman yang lebih banyak, dan pola pengenalan masalah yang lebih baik.
Bukan berarti ia otomatis memahami seluruh domain baru tanpa onboarding, dokumentasi, atau pelatihan.
Seorang Senior Backend Engineer yang berpindah menjadi Product Manager tetap harus mempelajari bisnis.
Seorang Senior Product Manager yang pindah ke industri kesehatan tetap harus mempelajari regulasi.
Seorang Senior Engineer yang masuk ke perusahaan logistik tetap harus memahami proses warehouse.
Pengalaman mempercepat proses belajar.
Pengalaman tidak menghapus kebutuhan untuk belajar.
Tanggung Jawab Mentor dan Perusahaan
Menurut saya, ketika banyak orang tidak tahu harus bertanya apa, itu bukan sekadar masalah individu.
Itu bisa menjadi sinyal bahwa fondasi pembelajaran belum dibangun dengan baik.
Mentor bukan hanya menjawab pertanyaan.
Mentor membantu seseorang memahami medan yang sedang ia masuki.
Perusahaan bukan hanya menyediakan dokumentasi.
Perusahaan membantu membangun peta agar orang tahu ke mana harus melangkah.
Training yang baik bukan sekadar memberikan jawaban.
Training yang baik membantu orang menemukan pertanyaan yang bahkan belum terpikirkan sebelumnya.
Penutup
Town hall hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa puluh menit.
Namun ada satu pertanyaan yang terus terngiang di kepala saya.
"Kalau saya bahkan tidak tahu apa yang harus saya tanyakan, bagaimana?"
Sekarang saya justru melihatnya sebagai salah satu pertanyaan paling jujur yang bisa diucapkan oleh seseorang yang sedang belajar.
Karena mengakui bahwa kita memiliki blind spot membutuhkan kerendahan hati.
Dan tugas seorang mentor, senior, maupun perusahaan bukanlah mempermalukan orang yang sedang berada dalam kegelapan.
Tugas mereka adalah menyalakan lampu.
Sebab seseorang baru bisa mulai bertanya ketika ia akhirnya dapat melihat apa yang ada di hadapannya.