Wednesday, February 11, 2026

Why forcing your child to make the right choice can backfire

(Copied from email newsletter from Susan David - https://www.susandavid.com/)

Hi All,

Your child’s best friend is over for a playdate. As you try to get some work done at the kitchen table, you hear the bickering start in the den.

“Can I have a turn on the PlayStation?” the friend asks.

“I’m still playing,” your kid responds.

“But you’ve been playing for an hour!”

“It’s my game!”

Exasperated, you call your child into the kitchen. “You need to share,” you tell them. The friend gets a turn, but irritation stays plastered on your kid’s face. Was the lesson learned?

Probably not.

Often when we try to raise our children to act in line with our values, our demands will only go so far. (Trust me—I’ve been there!) Study after study shows that when we try to force values upon our kids, the result is quite likely to be the opposite of what we intended. In one study, children who were instructed by adults to share during play ended up sharing less and less in subsequent activities. People just don’t like being told what to do—even very young people!

So what’s the alternative? Like adults, kids are most likely to change their behaviors when that change is connected to their personal values. Think of how this works in your own life. If you’re a perfectionist who often spends hours completing a task (albeit, very thoroughly), your boss’ appeals for efficiency are unlikely to motivate you to speed up. Efficiency just isn’t something you value. However, maybe you are a person who strives to be a good teammate, so if they frame their request as a way of respecting your colleagues’ time, you may be more inspired to pick up the pace.

The same is true of children. If you want to encourage them to behave differently, you’ll greatly improve your chance of success if you connect the new behavior to a value that already matters to them.

The first step is to help your child to discover and articulate their values. As always, emotions can serve as an important data point. Let’s say your kid arrives home from school fuming.

“Jack didn’t play with me today,” they say, “so tomorrow I’m not gonna play with him!”

You may feel the inclination to tell them, “Hmm, that’s not nice. Be the bigger person.” But this kind of admonition could actually lead them to resent you (and maybe themselves) for implying that their emotion is wrong or bad!

A more productive approach is to help them figure out why they’re so upset. What values are hiding beneath that anger? By talking through the situation, you might discover that they feel betrayed by Jack. Loyalty and friendship are values they hold dear. Now the door is open for you to ask, “How would a loyal friend react in your situation?” You let your kid connect the dots themselves: A loyal friend wouldn’t give up on the relationship. Rather, they’d talk it out with their old pal, and, very likely, still extend an invitation to play the next day.

As tempting as it can be to try to force your little ones to act the way you want them to, it robs them of two things:
  • autonomy
  • the chance to discover their own values
But there’s a better way. When you instead, assist them in thinking through what matters to them, you give them the tools they need to develop and grow—which was probably your intention in the first place.

With my thoughts on your journey,
Susan David

Monday, February 9, 2026

Truth, Lies, and Consequences

Telling the truth is easy;
it only takes a few minutes.
The hardest part is accepting it,
and mitigating its impact—
which may change your entire life—
compared to hiding it.

Honest people are punished harshly,
while liars live freely.
I have seen enough examples where liars hide the truth their entire lives,
and live peacefully until their time is exhausted.

Now tell me—
who taught people how to lie in the first place?



Sunday, February 8, 2026

Kodoku : Guci dan Kantor Ber-AC


Dalam folklore Jepang dan Tiongkok kuno, ada satu praktik ilmu hitam yang namanya lumayan terkenal, dan konsekuensinya brutal: Kodoku.

Kodoku bukan mantra instan. Ia adalah proses panjang, disengaja, dan kejam—baik bagi korban maupun pemiliknya.

Ritualnya dimulai dengan sebuah guci.


Ke dalam guci itu dimasukkan lima binatang beracun. Umumnya ular, kelabang, laba-laba, katak beracun, dan kalajengking. Di beberapa varian, jenisnya bisa berbeda, tapi prinsipnya sama: makhluk-makhluk yang secara alami saling bermusuhan dan berbahaya jika disatukan.

Setelah itu, guci disegel rapat, tak ada udara masuk. Lalu guci tersebut dikubur di perempatan jalan.


Di dalam gelap dan sempit, binatang-binatang itu mulai panik. Mereka saling menyerang. Tidak ada ruang untuk kabur. Tidak ada jalan damai. Yang terjadi hanyalah eliminasi.


Satu demi satu mati.

Sampai tersisa satu.

Makhluk yang bertahan inilah yang kelak disebut *Kodoku*—hasil dari akumulasi racun, agresi, dan survival ekstrem. Setelah ritual lanjutan, Kodoku dipercaya bisa dijadikan entitas gaib yang bisa “dideploy” untuk mencelakakan musuh pemiliknya, atau untuk tujuan lain terkait akumulasi kekayaan.

Tapi ada harga yang mahal.

Kodoku harus diberi tumbal secara berkala. Jika tidak, ia tidak akan lenyap. Ia akan berbalik arah—memakan majikannya sendiri.

Kodoku tidak pernah benar-benar jinak. Ia hanya menunggu kesempatan.

---

Sekarang, mari geser gucinya.


Bukan ke tanah, tapi ke gedung kantor modern.

AC dingin. KPI panas. Slack bunyi terus.


Lima orang pintar. Ambisius. Berpotensi besar. Dimasukkan ke satu tim, satu proyek, satu target yang agresif. Ruang geraknya sempit. Arahan kabur. Resource terbatas. Deadline menekan.

Mereka “digebrak”.

“Buktikan value-mu.”
“Siapa yang paling impactful?”
“Kita butuh high performer.”
“Survival of the fittest.”


Secara sadar atau tidak, sistem mulai bekerja seperti guci Kodoku.

Alih-alih kolaborasi, muncul kompetisi laten. Alih-alih saling menopang, mulai ada sikut-sikutan halus. Knowledge disimpan. Kredit diperebutkan. Empati dianggap lambat.

Dan hasilnya?

Biasanya luar biasa.

Output melonjak. Profit gila-gilaan. Investor senyum. Board puas. Dari luar, sistem terlihat sukses.

Satu atau dua “survivor” muncul—mereka yang paling tahan tekanan, paling adaptif, paling kebal rasa bersalah. Mereka naik cepat. Dipuji. Dijadikan role model.

Kodoku korporat berhasil diciptakan.

---

Masalahnya, seperti versi aslinya, Kodoku tidak pernah berhenti lapar.

Ia butuh tumbal terus-menerus: lembur tanpa batas, burnout yang dinormalisasi, kesehatan mental yang “nanti saja”, hubungan personal yang dikorbankan. Dan ketika tumbal mulai habis—ketika karyawan terbaik mulai pergi, ketika tubuh dan pikiran mulai rusak—Kodoku tidak mati.

Ia berbalik.


Budaya kerja menjadi toksik. Kepercayaan runtuh. Cynicism merajalela. Orang-orang yang “bertahan” pun pelan-pelan dimakan dari dalam: paranoia, kehampaan, kehilangan makna.

Perusahaan sering heran:
“Kok sekarang susah cari talent?”
“Kok engagement turun?”
“Kok orang-orang cepat resign?”

Padahal gucinya masih di sana. Masih disegel. Masih dikubur di perempatan keputusan yang sama.

---

Kodoku mengajarkan satu hal yang jarang diakui dalam dunia modern:
Sistem yang dibangun dari saling memakan akan selalu menuntut daging—entah cepat atau lambat.

Ia bisa menghasilkan kekuatan dan performa yang luar biasa. Tapi bukan sustainable power. Dan ia tidak pernah setia.

Pertanyaannya bukan apakah kita bisa menciptakan Kodoku di tempat kerja. Kita sudah melakukannya, berkali-kali.

Pertanyaannya adalah:
siapa yang akhirnya akan menjadi tumbalnya?

Saat Ekspektasi Jadi Jebakan


Ada ekspektasi → disimpan di kepala sendiri → nggak dikomunikasikan → lalu suatu hari… boom → orang lain disalahin karena gagal menebak isi pikiran.

Itu unfair. Dan lebih parah lagi, itu malas.
Karena komunikasi itu kerja. Nyalahin “nggak peka” itu jalan pintas.

Peka itu respon terhadap sinyal yang ada.
Inisiatif itu bertindak dalam ruang yang jelas.
Kalau nggak ada sinyal, nggak ada konteks, nggak ada boundary — yang ada cuma jebakan evaluasi.


Nggak ada orang waras yang nggak naro rambu, lalu marah karena orang lain nyasar.
“Harusnya tau jalan” — ya tau dari mana, bro? Google Maps aja butuh sinyal.


Ekspektasi yang tidak diucapkan tapi ditagih kemudian bukan standar—itu jebakan.

Tuesday, February 3, 2026

AI Overthinking


Kemarin, pas gw lagi ngerjain sebuah tugas dibantu AI, gw tidak sengaja melakukan satu hal kecil: gw mengirim prompt tanpa mengaktifkan fitur *extended thinking*. Awalnya gw nggak terlalu banyak mikir. Tapi tahunya hasil yang keluar justru bikin gw kaget.

Output-nya lebih ringkas. Lebih fokus. Dan—yang paling penting—lebih relevan dengan apa yang sebenarnya gw butuhkan.

Ini menarik, karena sebelumnya gw justru sering merasa terganggu ketika menggunakan mode *extended thinking*. Bukan karena AI-nya “kurang pintar”, tetapi karena output yang dihasilkan sering kali terlalu panjang, terlalu banyak asumsi, dan kadang terasa seperti informasi yang “diada-adain”. Seolah-olah ada dorongan untuk mengisi setiap celah dengan penjelasan tambahan, meskipun nggak semuanya benar-benar diperlukan.


Ketika diminta untuk “berpikir lebih dalam”, AI justru mulai mirip manusia yang lagi overthinking. Terlalu banyak kemungkinan dipertimbangkan, terlalu banyak elaborasi ditambahkan, sampai akhirnya batas antara fakta, asumsi, dan spekulasi menjadi kabur. Sesuatu yang sederhana jadi rumit. Sesuatu yang jelas jadi melebar ke mana-mana.


Pengalaman kecil ini bikin gw mikir juga sih.

Sering kali, kita juga melakukan hal yang sama. Kita kira bahwa kualitas selalu sebanding dengan seberapa keras kita berpikir, seberapa banyak kita menganalisis, atau seberapa kompleks proses yang kita jalani. Padahal, dalam banyak kasus, justru sebaliknya: kejelasan muncul ketika kita berhenti menumpuk pikiran yang tidak perlu.

Tidak semua pekerjaan butuh analisis mendalam. Tidak semua keputusan perlu dibedah dari sepuluh sudut. Dan tidak semua hasil yang baik lahir dari kepala yang terus berisik.

Kadang, berpikir secukupnya—lalu mengeksekusi dengan jujur dan fokus—justru menghasilkan karya yang lebih bersih dan lebih tepat sasaran.

Pengalaman ini menjadi pengingat sederhana: kualitas bukan selalu tentang “lebih banyak”. Kadang, kualitas justru lahir dari keberanian untuk berhenti sebelum pikiran kita sendiri mulai mengada-ada.

Sunday, February 1, 2026

As It Is

Sometimes, there is no hidden meaning.
Everything is as it is.

Sometimes, there is no applicable strategy to eases things can be found.
Just execute it with brute force!



Certainty of Paradox

Whisper of silence,
touch of empty space,
light of darkness,
Love, neither lost nor found...