Tuesday, October 13, 2026

Dua Panglima dari Tavenford

Konon, di ujung paling utara Negara Cassarine dan ujung paling selatan Negara Eldmoor, ada sebuah desa kecil bernama Tavenford. Desa itu berdiri tepat di tempat dua sungai bertemu. Sungai Silvane dari pegunungan Eldmoor mengalir jernih dan dingin, sementara Sungai Umbra dari dataran Cassarine mengalir tenang dan keruh kecokelatan. Di titik pertemuannya, air kedua sungai berjalan berdampingan berabad-abad tanpa mau bercampur, seolah masing-masing masih ingin mengingat asalnya.


Penduduk desa itu tidak pernah terlalu peduli pada garis perbatasan. Anak-anak dari tepi barat dan tepi timur mandi di sungai yang sama, pedagang menyeberang tanpa ditanya, dan pernikahan antar-tepi sudah menjadi hal biasa. Di desa itulah lahir dua anak lelaki, hanya terpaut beberapa bulan.

Yang satu biasa dipanggil Tor, anak seorang pembuat perahu dari tepi barat. Tubuhnya kurus, kulitnya legam terbakar matahari, dan ia tidak bisa diam lebih dari sepuluh hitungan. Yang satunya bernama Ed, anak seorang penenun dari tepi timur. Ia lebih pendiam, suka mengamati, dan tangannya selalu sibuk membuat sesuatu dari apa saja yang ia temukan.

Mereka bertemu di tengah sungai pada umur enam tahun, ketika Tor nekat berenang menyeberang dan kehabisan tenaga di tengah arus. Ed, yang sedang memancing di atas batu pipih, menjulurkan galahnya.

"Pegang! Jangan lepas!" teriak Ed.


"Aku... tidak... lepas..." jawab Tor terengah-engah sambil mencengkeram galah itu seperti nyawanya.

Sejak hari itu mereka tidak terpisahkan. Mereka memanjat pohon ek tua di tengah desa, mencuri pir milik Nyonya Orla, dan berlomba menyeberang sungai setiap sore. Mereka bahkan punya sandi rahasia berupa siulan: tiga nada pendek dan satu nada panjang, naik di ujungnya, seperti burung yang bertanya.

"Kalau kau dengar ini," kata Tor suatu malam sambil berbaring di atas batu yang masih hangat, "berarti aku ada di dekat sini. Di mana pun."

"Di mana pun?" Ed tertawa kecil.

"Di mana pun. Sungai ini tidak akan bisa memisahkan kita."

Mereka tumbuh menjadi pemuda. Tor mewarisi galangan perahu ayahnya, Ed menggantikan ayahnya di alat tenun, dan hidup terasa seperti sungai yang mengalir tenang. Sampai pada musim kemarau tahun ketika Eldmoor dan Cassarine saling menuduh soal hak atas hulu sungai.

Awalnya hanya kabar di pasar. Lalu datanglah utusan berkuda dari dua arah, membawa gulungan perintah. Para pemuda tepi barat dipanggil ke bawah panji Eldmoor. Para pemuda tepi timur dipanggil ke bawah panji Cassarine. Sungai yang selama ini hanya hiasan, mendadak menjadi garis yang sungguh-sungguh.

Sehari sebelum keberangkatan, seorang juru potret keliling singgah di pasar desa dengan kotak kayunya yang besar. Tor menarik Ed ke depan kotak itu.

"Buat apa, Tor? Kita tidak punya uang lebih," bisik Ed.

"Justru karena itu." Tor merangkul bahu sahabatnya erat-erat. "Supaya kita punya sesuatu yang bisa dipegang kalau nanti rindu."

Juru potret itu mencetak dua lembar. Satu dibawa Tor, satu dibawa Ed. Dalam gambar itu, dua pemuda berdiri saling merangkul, yang satu tertawa lebar, yang satu tersenyum canggung, dan di belakang mereka tampak kabur air kedua sungai yang tidak mau bercampur.


Pagi harinya, di jembatan bambu yang menghubungkan kedua tepi, mereka berpisah. Tidak ada banyak kata. Hanya dua pelukan yang terlalu lama, dan satu siulan pendek dari masing-masing arah ketika punggung mereka sudah saling menjauh.

***

Perang itu berlangsung lama. Sebelas tahun berlalu, dan selama itu desa-desa terbakar, ladang menjadi kuburan, dan nama-nama baru muncul dari medan laga.

Di pihak Eldmoor, ada seorang panglima yang naik dari prajurit biasa berkat kecerdasannya membaca sungai dan arus. Anak buahnya menjulukinya Sang Arus Tenang, karena ia tak pernah tampak panik dalam keadaan terburuk sekalipun.

Di pihak Cassarine, ada seorang panglima yang terkenal ahli menyusun siasat, serapih orang menenun benang menjadi kain. Ia dijuluki Si Sembilan Jari, sebab satu jarinya hilang di pertempuran pertamanya.

Keduanya saling mendengar julukan satu sama lain. Tapi di tengah perang, yang sampai ke telinga hanyalah julukan, bukan nama asli, dan wajah musuh di seberang hanyalah bayangan di balik panji.

***

Pada tahun kedelapan, pasukan Sang Arus Tenang terjebak di Ngarai Kelabu. Kabut turun tebal di malam hari. Pasukan Cassarine sudah menutup mulut ngarai di sisi utara dan menunggu di lereng, menanti fajar untuk menghabisi.

Di atas lereng, Si Sembilan Jari berdiri memandangi kegelapan dengan para perwiranya di sampingnya.

"Panglima, kita tinggal menunggu pagi," kata seorang perwira. "Mereka tidak punya jalan keluar."

Sang panglima tidak menjawab. Ia memperhatikan sesuatu yang aneh. Dari dasar lembah, di antara bunyi tetes embun dan batuk prajurit yang kedinginan, terdengar siulan lirih. Tiga nada pendek, satu nada panjang yang naik di ujungnya.

Tangannya mengepal. Napasnya tertahan.


"Tarik mundur pasukan dari lereng selatan," perintahnya akhirnya.

"Apa? Panglima, itu satu-satunya jalan keluar mereka!"

"Saya tahu." Suaranya terdengar datar, tetapi matanya basah. "Tapi coba kamu lihat, langit tidak berbintang. Badai akan segera datang. Melihat struktur disini, akan sangat rentan longsor. Saya tidak mau mengambil resiko pasukan kita habis oleh karena bencana ini."

Para perwira saling berpandangan sesaat, namun menemukan bahwa logika sang panglima ada benarnya. Malam itu, pasukan Eldmoor menemukan lereng selatan terbuka dan merayap keluar dalam kabut, tanpa tahu mengapa nasib berpihak pada mereka.

Sementara di punggung bukit, Si Sembilan Jari membalas siulan itu satu kali saja, sangat pelan, lalu menunduk dan tidak menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

***

Tiga tahun kemudian, giliran yang lain berhutang.

Pasukan Cassarine kalah telak di dataran Vessmir. Panglima mereka, Si Sembilan Jari, terluka parah dan hanyut di sungai ketika menyelamatkan pasukannya menyeberang. Ia terdampar di pasir tepi sungai, setengah sadar, demam, dengan jubah basah menutupi wajahnya.

Patroli kecil pasukan Eldmoor menemukannya menjelang subuh.

"Panglima, ini panglima musuh!" seru seorang prajurit. "Lihat lambang di bajunya. Kita habisi saja sekarang, perang ini bisa berakhir lebih cepat!"

Sang Arus Tenang berjongkok di samping tubuh itu. Ia sudah mengangkat tangan hendak menyibak hoodie yang menutupi wajah sang panglima, ketika orang itu mengigau pelan dalam demamnya. Bukan kata-kata, melainkan siulan lemah. Tiga nada pendek dan satu nada panjang yang naik di ujungnya.

Tangannya membeku di udara.


"Bawa dia ke rumah tabib di seberang sungai," katanya.

"Panglima?!"

"Dia terluka, dan aku tidak membunuh orang yang tak bisa melawan. Itu perintahku." Ia melepaskan jubah wol kelabunya yang masih kering, yang bagian tepinya bertambal jahitan rapi, lalu menyelimutkannya ke tubuh yang menggigil itu. "Dan jangan bilang siapa-siapa. Kalau ada yang bertanya, kita tidak pernah menemukan siapa pun di sini."

Sebelum matahari terbit, ia sudah pergi lebih dulu. Ia tidak menoleh ke belakang.

***

Perang itu akhirnya selesai juga, tidak dengan kemenangan siapa-siapa, melainkan karena kedua negara sudah terlalu letih. Kedua panglima pulang ke tanah masing-masing, menanggalkan gelar, dan hidup sebagai orang biasa.

Tapi para prajurit yang menyaksikan dua peristiwa itu tidak bisa menutup mulut selamanya. Mereka bercerita di kedai, di pasar, di depan tungku. Cerita itu berpindah dari mulut ke mulut dan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan banyak bumbu di sana-sini: tentang dua panglima yang saling menyelamatkan tanpa pernah tahu wajah satu sama lain, tentang siulan di tengah kabut, tentang jubah yang diselimutkan di pagi buta.

Tak seorang pun tahu nama asli mereka. Hanya julukan yang tersisa. Ada yang berbisik bahwa keduanya lahir di tanah yang sama, dari dua tepi sebuah sungai. Tapi bisik-bisik itu tak pernah dibenarkan siapa pun, sebab dua orang yang paling tahu jawabannya tidak pernah mau menjawab.

Dan sampai hari ini, kata orang-orang tua, kalau malam berkabut di Tavenford, kadang masih terdengar siulan lirih di antara dua arus yang tidak mau bercampur.

***

"...dan begitulah," kata sang kakek sambil menyeruput tehnya, "legenda dua panglima dari Tavenford."

Hujan turun pelan di luar, menimpa genteng dengan irama yang menenangkan. Di beranda sebuah rumah sederhana, seorang lelaki tua bersandar di kursi anyamannya. Di lantai di hadapannya, dua anak duduk bersila dengan mulut setengah terbuka, lupa pada kue gandum madu yang mulai dingin di piring.

Lyra, cucunya yang berumur sepuluh tahun, langsung menegakkan badan. "Terus, Kek? Mereka akhirnya ketemu nggak?"

"Menurut cerita yang kakek dengar, tidak."

"Yaaah." Lyra cemberut. "Sedih banget. Tapi Kek, siapa sebenarnya mereka? Kakek pasti tahu kan, soalnya Kakek hafal banget ceritanya."

Kakek hanya tersenyum, matanya melirik ke arah jendela yang basah oleh hujan. "Nama asli mereka..."

Belum sempat kalimat itu selesai, Fenn, teman sekelas Lyra yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri. Matanya terpaku pada lemari pendek di sudut beranda. Di atasnya, bersandar pada dinding, ada sebuah bingkai foto tua berwarna cokelat pudar.

"Kek," kata Fenn pelan, "itu foto siapa?"

"Yang mana, Nak?"

"Yang itu. Dua orang yang rangkulan itu." Fenn menunjuk dengan jari yang sedikit gemetar. "Yang sebelah kanan itu, wajahnya mirip banget sama foto di rumahku. Di ruang tamu rumahku ada foto yang persis sama. Kata Nenek, itu Kakek Buyutku. Namanya Torin."

Beranda mendadak sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar.

Kakek meletakkan cangkirnya pelan-pelan. Tangannya sedikit bergetar ketika ia berdiri, melangkah ke lemari itu, dan mengambil bingkai foto tersebut. Ia mengusap kacanya dengan ibu jari, seperti sudah ribuan kali ia lakukan.

"Torin," ulangnya lirih. "Jadi kau cicitnya Torin."

"Kakek kenal Kakek Buyutku?" tanya Fenn bingung.

"Tidak, Nak. Kakek tidak pernah bertemu langsung." Kakek menoleh pada Lyra. "Tapi yang di sebelah kirinya itu, yang tersenyum canggung itu, adalah kakek-ku. Namanya Edrin."

Lyra menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pelan-pelan, ia menyambungkan potongan-potongannya. "Tunggu... Kek, jangan bilang... dua panglima tadi itu..."

"Sang Arus Tenang dan Si Sembilan Jari," kata Kakek sambil mengangguk, "adalah dua anak lelaki dalam foto ini."


"Tapi tadi Kakek bilang mereka tidak pernah ketemu," protes Fenn.

"Itu kata legenda. Dan legenda itu memang sengaja dibiarkan begitu." Kakek duduk kembali, foto itu masih dipeluknya. "Kenyataannya lain, Nak. Mereka bertemu. Sering sekali."

Dua anak itu terdiam.

"Setelah perang, di sebuah malam berkabut, kakekku menyeberang diam-diam dengan perahu kecil buatan sahabatnya. Di tengah sungai, di batu pipih tempat mereka dulu berbaring waktu kecil, seseorang sudah menunggu. Tak ada yang bicara. Kakekku bersiul, tiga pendek dan satu panjang, dan dari gelap dibalas dengan siulan yang sama."

"Mereka sudah tahu?" bisik Lyra.

"Mereka sudah tahu. Kakekku mengenali jahitan di tepi jubah itu sejak ia siuman di rumah tabib. Itu jahitan ibu Torin, yang dulu sering ia lihat di rumah sahabatnya. Torin mengenali jari yang hilang itu, begitu ia melihat tangan sahabatnya menuang teh di pertemuan pertama mereka setelah perang." Kakek tersenyum tipis. "Tapi tak satu pun dari mereka mengucapkannya."

"Kenapa, Kek?" tanya Fenn.

"Karena rumor sudah terlanjur beredar, dan rumor itu berbahaya. Seorang panglima Eldmoor yang membiarkan musuhnya lolos, dan seorang panglima Cassarine yang membuka jalan bagi lawannya: di mata kedua negara, itu pengkhianatan. Kalau salah satu dari mereka membenarkan, bukan hanya mereka yang dihukum, tapi juga istri, anak, dan seluruh keluarga mereka."

Kakek menatap hujan. "Selama puluhan tahun, setiap kabut turun, mereka saling mengunjungi. Makan ikan bakar, minum teh, membicarakan panen dan cuaca dan anak-anak yang mulai nakal. Tentang perang, tidak sepatah kata pun. Seolah dengan tidak membicarakannya, mereka bisa menjaga satu-satunya hal yang tidak boleh diambil siapa pun dari mereka."

"Kakek tahu dari mana?" tanya Lyra.

"Ayah Kakek. Waktu kecil ia pernah mengintip dari balik semak dan memergoki mereka. Kakekku membuatnya bersumpah tutup mulut. Baru di ranjang kematiannya, ayah Kakek menceritakannya, dengan pesan agar rahasia ini disimpan sampai keadaannya benar-benar aman." Kakek mengangkat bahu pelan. "Kedua negara kuno itu sekarang sudah tidak ada, Nak. Cuma tinggal nama di buku sejarah. Kedua negara kuno itu sudah melebur menjadi satu akhirnya. Rasanya, sudah aman."

Hening sejenak. Lalu Kakek mengerutkan bibirnya dan bersiul pelan: tiga nada pendek, satu nada panjang yang naik di ujungnya.

Fenn tersentak. Matanya melebar.

"Itu..." bisiknya. "Nenekku sering bersiul begitu kalau lagi masak. Katanya itu siulan turun-temurun dari Kakek Buyut Torin."

Kakek tertawa. "Jadi keluargamu pun ikut menyimpannya selama ini."

Lyra menatap foto itu lama, lalu berkata lirih, "Kek, berarti mereka sebenarnya nggak pernah benar-benar berpisah, ya?"

"Tidak, Nak. Mereka hanya tidak pernah mengakuinya." Kakek mengusap kepala Lyra, lalu menatap Fenn dengan pandangan hangat. "Yang tertunda tiga generasi bukan pertemuan mereka. Hanya pengakuannya. Dan sore ini, dua keluarga akhirnya saling menyebut nama."

Di luar, hujan mulai reda. Di atas lemari pendek itu, dua pemuda dalam bingkai tua tetap saling merangkul, tersenyum pada siapa pun yang mau memandang. Dan di belakang mereka, samar-samar dalam warna cokelat yang memudar, air dari dua sungai itu masih mengalir berdampingan, tidak lagi terasa seperti pemisah, melainkan seperti dua tangan yang akhirnya berjabat.

Sunday, October 11, 2026

Tempat Tawa Boleh Pulang

Aku mengenal Radit sejak ia masih belajar menyebut huruf R dengan benar. Waktu itu ia masih memanggilku "Tante Latri", dan aku tak pernah sampai hati membetulkannya.

Rumah keluarganya hanya terpisah satu pagar dari rumahku. Tiap sore, suara anak itu sudah lebih dulu sampai ke teras sebelum tubuhnya muncul. Ia berlari sambil berteriak, sandalnya selalu salah kaki, rambutnya acak-acakan oleh keringat dan angin.

"Tante Latri! Tante Latri! Tadi di sekolah aku jadi kapten!"

"Kapten apa?"

"Kapten bola! Terus aku nyetak gol, terus Bayu nangis, terus aku kasih dia permen biar nggak nangis lagi!"

Aku tertawa sampai harus memegangi pinggang. Begitulah Radit: bicaranya seperti air bah, wajahnya tak pernah bisa menyembunyikan apa pun. Senang, ia melompat. Kesal, bibirnya maju sejengkal. Malu, kedua telinganya memerah sampai ke ujung.

Bapaknya, Pak Hendra, seorang pria tenang yang suka memperbaiki barang rusak di teras. Radio tua, kipas angin, sepeda anak-anak tetangga. Ibunya, Bu Laras, pandai membuat sambal dan selalu menyisihkan satu toples untukku. Adiknya, Dimas, lima tahun lebih muda, mengekor ke mana pun Radit pergi seperti bayangan yang kecil dan bandel.

Aku sering mengantar kue ke rumah mereka. Sebaliknya, mereka sering mengetuk pagarku membawa gorengan. Di akhir pekan kami kadang pergi bersama: naik angkot ke pasar malam, makan bakso di warung dekat taman, Radit dan Dimas berebut kerupuk, Pak Hendra pura-pura tak melihat.

"Bu Latri, nanti kalau saya sudah besar," kata Radit suatu malam sambil menjilat sisa kuah di bibirnya, "saya mau beliin Bapak rumah yang gede. Yang ada teras buat benerin barang-barangnya."

Pak Hendra tertawa pelan dan mengacak rambut anaknya. "Habisin dulu baksonya."

Aku ingat malam itu dengan jelas. Mungkin karena itu terakhir kalinya aku melihat keluarga itu dalam keadaan baik.


***

Kabar buruk datang pelan-pelan, seperti air yang merembes dari dinding. Mulanya hanya kata-kata di televisi, lalu di warung, lalu di mulut orang-orang yang tadinya ramah. Ada golongan tertentu yang dituding sebagai sumber segala kekacauan. Ada daftar. Ada kerumunan. Ada malam-malam ketika jendela rumah-rumah tertentu dilempari batu, lalu api.

Keluarga Radit termasuk golongan yang diburu itu. Aku sendiri tidak, tapi aku tahu cukup banyak untuk takut.

"Bu Ratri, Ibu juga ngungsi aja," kata Bu Laras suatu sore, suaranya ditekan serendah mungkin. Tangannya dingin saat menggenggam tanganku. "Jangan tunggu sampai ada apa-apa."

"Kalian mau ke mana?"

Bu Laras menggeleng. "Lebih baik Ibu nggak tahu. Kalau ditanya, Ibu nggak perlu bohong."

Keesokan harinya rumah di sebelahku sudah kosong. Pintunya terkunci, tirai tertutup, dan di teras hanya tertinggal radio tua yang belum selesai diperbaiki Pak Hendra.


Sehari setelahnya, aku pun pergi. Aku menumpang di rumah saudara jauh di kota lain, dengan satu tas pakaian dan hati yang tertinggal di gang itu. Berbulan-bulan aku hidup dengan telinga menempel pada radio, menunggu kabar bahwa semuanya sudah reda. Aku tak tahu apakah mereka selamat. Tiap malam aku berdoa tanpa tahu kepada siapa harus menyebut nama-nama itu.

***

Ketika keadaan akhirnya dinyatakan aman, aku pulang. Gang itu tampak lebih kecil dari ingatanku. Beberapa rumah hangus, beberapa tak berpenghuni, beberapa dihuni orang yang tak kukenal. Rumah Radit masih berdiri, dengan jendela yang retak dan cat pagar yang mengelupas.

Aku menunggu berhari-hari sampai suatu pagi kudengar pagar sebelah berderit. Bu Laras berdiri di sana, jauh lebih kurus, matanya cekung, rambutnya sudah banyak memutih.

"Bu Laras..."

Ia menatapku seperti menatap sesuatu yang mungkin hanya bayangan. Lalu bahunya runtuh, dan ia memelukku erat-erat sampai aku sulit bernapas. Ia tak menangis. Ia hanya gemetar, dan terus mengulang, "Masih ada. Masih ada. Masih ada."

Baru kemudian aku sadar yang ia maksud adalah anak-anaknya.

Di ambang pintu, Radit berdiri memperhatikan kami. Tubuhnya lebih tinggi, bahunya lebih tegap, dan ia menggandeng Dimas yang bersembunyi di belakang kakinya. Tapi ada yang hilang dari wajah itu. Aku butuh beberapa detik untuk memahami apa yang hilang: tidak ada lagi gerakan ekspresif di sana. Wajahnya diam seperti topeng, matanya lurus dan tajam.

"Radit," panggilku, suaraku bergetar. "Tante Ratri pulang."

"Iya, Tante," jawabnya datar. Ia mengangguk sopan. Tidak ada teriakan, tidak ada lari, tidak ada "Tante Latri! Tante Latri!".

Aku mencari-cari Pak Hendra di balik punggung mereka, dan saat itulah aku mengerti dari cara Bu Laras memalingkan muka.

Cerita itu tidak pernah kudengar langsung dari mereka. Aku merangkainya dari potongan-potongan: bisik tetangga, igauan Bu Laras di malam-malam tertentu, dan keheningan Radit yang berbicara lebih keras dari apa pun.

Kata orang, mereka bersembunyi di sebuah bangunan pengungsian, di ruang sempit tersembunyi di balik lemari. Ruang itu hanya muat untuk tiga orang yang berdempetan. Ketika langkah-langkah kasar mendekat, Pak Hendra menatap istri dan kedua anaknya, lalu memilih keluar dari ruang itu. Ia sengaja membuat suara, sengaja menjadi sasaran, agar orang-orang itu berpaling dari lemari.

Bu Laras mendekap kedua anaknya, menutup mulut Dimas dengan telapak tangan. Dari celah kecil di balik papan, Radit melihat semuanya.


Aku tidak sanggup membayangkan sisanya, dan memang tidak seorang pun pernah menceritakannya sampai selesai.

Sejak malam itu, Bu Laras menjadi orang lain. Ia terjaga sepanjang malam, mengecek pintu berulang kali. Kalau Radit terlambat pulang setengah jam saja, ia sudah berdiri di gerbang dengan wajah pucat. Kalau lewat satu jam, ia mulai berteriak memanggil nama anaknya dari ujung gang ke ujung gang.

Pernah suatu sore aku berlari keluar karena mendengar jeritan itu.

"Radit! Radit! Di mana kamu, Nak! Radit!"

"Bu Laras, tenang, Bu. Tenang. Saya di sini." Aku memeluk bahunya yang bergetar. "Mungkin dia lagi di sekolah."

"Dia nggak pulang! Dia nggak pulang, Bu Ratri! Nanti mereka... nanti mereka..."

Saat itulah Radit muncul di mulut gang, tas masih tersampir di bahu, seragamnya kusut dan berdebu. Ia berlari kecil menghampiri ibunya. Raut wajahnya tak berubah, hanya tangannya yang cekatan memegang kedua lengan sang ibu.

"Radit di sini, Bu. Radit nggak ke mana-mana. Tadi cuma ada kerja kelompok. Maaf nggak ngabarin."

Nadanya lembut, sabar, tapi mengerikan karena begitu terlatih. Seperti seseorang yang sudah berkali-kali mengucapkan kalimat yang sama, dan akan mengucapkannya lagi tanpa pernah lelah.

Sejak hari itu, tak sekali pun aku melihatnya menangis. Tidak di hari ketika rumahnya dicorat-coret, tidak di hari ketika ibunya dibawa ke dokter, tidak di hari ketika Dimas demam tinggi dan Radit menggendongnya semalaman di jalan menuju puskesmas.

Aku tak pernah berhenti memperhatikan mereka. Kadang aku mengantar makanan, kadang menemani Bu Laras minum teh sambil mendengarkannya mengulang cerita yang sama, kadang membayarkan buku pelajaran Dimas diam-diam.

Radit bekerja paruh waktu sepulang sekolah. Mencuci piring di rumah makan, mengangkat barang di toko, mengantar paket. Nilainya tetap bagus, bahkan lebih bagus dari sebelumnya, seolah ia sedang menyelesaikan sebuah kewajiban yang tak boleh ditinggalkan.

"Kamu nggak capek, Nak?" tanyaku suatu malam ketika kutemukan ia tertidur di teras dengan buku terbuka di dadanya.


Ia membuka mata, dan dalam sekejap sudah duduk tegak. "Nggak apa-apa, Tante. Radit masih kuat."

"Kamu boleh istirahat. Nggak harus selalu kuat."

Ia menatapku sebentar, dan di dalam matanya aku sempat melihat sesuatu bergerak, seperti ikan yang melintas cepat di air keruh. Lalu menghilang.

"Kalau Radit istirahat, nanti siapa yang jagain Ibu sama Dimas, Tante?"

Aku tak punya jawaban untuk itu.

***

Tahun-tahun berlalu. Radit lulus sekolah, bekerja di sebuah kantor, mengambil lembur tanpa mengeluh, memberi uang untuk kuliah Dimas, membelikan obat untuk ibunya. Dari remaja yang kaku ia menjadi lelaki muda yang kaku. Orang-orang menyebutnya dewasa sebelum waktunya. Orang-orang menyebutnya anak berbakti. Tak ada yang menyebutnya kesepian, karena memang tak ada yang bisa melihatnya.

Kadang aku teringat anak kecil yang dulu melompat-lompat di teras rumahku. Aku mencoba memancingnya.

"Radit, masih ingat nggak waktu kamu kasih permen ke Bayu yang nangis?"

Sudut bibirnya bergerak sedikit, sangat sedikit. Hampir tersenyum. Lalu seperti ada yang menariknya kembali dengan tali tak terlihat.

"Ingat, Tante," katanya pelan. "Udah lama banget."

Tetapi pelan-pelan tubuh Radit mulai berkhianat. Mulanya batuk kecil yang tak kunjung hilang. Lalu wajahnya makin pucat, pipinya makin tirus, kemejanya yang dulu pas mulai tampak kebesaran. Ia sering berpegangan pada pagar ketika berdiri terlalu lama.

"Kamu sakit, Nak," kataku. "Periksa ke dokter."

"Cuma kecapekan, Tante."

Butuh berbulan-bulan sebelum ia akhirnya mau diperiksa, dan berbulan-bulan lagi sebelum para dokter berani mengucapkan nama penyakit itu. Penyakit langka. Aku tak pernah benar-benar mengingat istilahnya. Yang kuingat hanyalah wajah dokter yang menunduk, dan kalimat yang keluar dari mulutnya dengan hati-hati: tidak banyak yang bisa dilakukan.

Bu Laras mendengar kabar itu dengan tatapan kosong. Kali ini ia tak berteriak. Mungkin karena ia sudah kehabisan cara untuk berteriak.

Dimas yang baru lulus kuliah duduk di sampingku di lorong rumah sakit, kedua tangannya mencengkeram lututnya sendiri.

"Tante," bisiknya, "Kak Radit tuh dari dulu yang nanggung semuanya. Dan sekarang malah dia yang..."

Aku menepuk punggungnya. "Sekarang giliran kamu, Dimas. Kakakmu sudah menyiapkan kamu untuk ini. Dia nggak akan tenang kalau kamu nggak bisa berdiri sendiri."

Dimas mengangguk, menyeka matanya dengan kasar. Ia tak tahu bahwa kalimatku itu setengah doa.

Aku datang hampir setiap hari. Menyuapi Radit bubur ketika tangannya sudah terlalu lemah menggenggam sendok, mengganti kompres, membacakan berita yang tak ia dengarkan. Ia tak pernah mengeluh. Tak sekali pun. Bahkan ketika napasnya tersengal dan keringat dingin membasahi pelipisnya, ia hanya memejamkan mata dan mengucapkan terima kasih.

"Radit," kataku pada suatu malam yang sunyi, "kalau kamu butuh apa-apa, kasih tahu tante yah."

Ia menoleh pelan ke arahku. Wajahnya sudah sangat tirus, tapi ekspresinya tetap sama: keras, tenang, terkunci.

"Nggak apa-apa, Tante," katanya, suaranya nyaris hanya napas. "Tante udah banyak bantuin Radit. Makasih ya."

Hanya itu. Sampai hari terakhirnya, hanya itu.

Radit meninggal pada suatu pagi yang cerah, di antara bunyi burung dan cahaya yang menembus gorden. Ibunya menggenggam tangannya, adiknya berlutut di sisi ranjang. Aku berdiri di ambang pintu dan melihat bahwa bahkan di saat terakhir, wajah itu tidak melunak.

Pemakamannya dihadiri begitu banyak orang. Teman kantor, tetangga, guru-gurunya dulu, orang-orang yang pernah ia tolong tanpa pernah ia ceritakan. Mereka menangis, memeluk Bu Laras, mengucap kata-kata yang baik tentang lelaki muda yang pendiam, pekerja keras, dan berbakti pada keluarganya.

Aku menangis lebih keras dari siapa pun. Tapi bahkan di antara tangisan sebanyak itu, ada yang terasa timpang: satu-satunya orang yang tidak pernah menangis adalah orang yang paling pantas ditangisi.

***

Beberapa tahun kemudian, Dimas datang ke rumahku dengan sebuah ponsel tua di tangan.

"Tante, ini ponsel lama Kak Radit. Aku nemu waktu beresin lemari. Ada akun yang dia pakai buat nulis, tapi nggak ada yang pernah tahu. Aku... aku nggak sanggup baca semuanya. Tante mau lihat?"

Aku membawanya ke teras, tempat kami dulu sering duduk bersama. Layar kecil itu menyala, dan di sana mungkin ada puluhan cerita pendek yang ditulis dengan rapi, dengan tanggal yang tersebar selama bertahun-tahun.

Aku membaca satu per satu.

Ada cerita tentang seorang anak laki-laki yang pulang sekolah dengan lutut berdarah dan tertawa terbahak-bahak. Ada cerita tentang keluarga yang makan malam di satu meja panjang, ayahnya melucu dan ibunya pura-pura marah. Ada cerita tentang sahabat yang saling meledek di warung, tentang tokoh perempuan yang selalu bernyanyi saat menyiram tanaman, tentang tokoh lelaki yang menangis tanpa malu saat menonton film sedih lalu ditertawakan teman-temannya dengan penuh keakraban.

Semua tokohnya riuh, ekspresif, hangat. Semua tokohnya hidup seperti dirinya yang dulu.

Aku menutup mulutku dengan tangan, tetapi isakku lolos juga.


Di salah satu tulisan terakhir, ada satu kalimat penutup di akhir cerita yang membuat dadaku seperti diremas: "Tokoh ini boleh bahagia, karena dunia ini milikku dan tak ada yang bisa merebutnya."

Dan baru kusadari satu hal. Akun itu tidak mengikuti satu pun anggota keluarganya. Tidak Dimas, tidak Bu Laras. Ia menulis semuanya diam-diam, di tempat yang tak akan dijangkau mata mereka.

Mungkin ia takut ibunya akan membaca dan tahu betapa ia merindukan hidup yang telah direnggut. Mungkin ia takut adiknya akan menyadari bahwa kakaknya masih menyimpan anak kecil yang riang itu, dan bahwa anak kecil itu tidak pernah benar-benar mati, hanya dikunci rapat-rapat di ruang yang paling dalam, seperti ruang sempit di balik lemari di malam itu.

Ketika ia kehilangan ayahnya, ia tak punya tempat untuk menaruh tangis. Maka ia membangun dunia lain, tempat tawanya boleh pulang.

***

Sore itu aku pergi ke makamnya sendirian. Matahari condong ke barat, mewarnai batu nisan dengan semburat jingga. Rumput di sekitarnya sudah tumbuh rapat. Aku berlutut, menaruh sekuntum bunga, lalu menggenggam secarik kertas yang sudah lusuh karena terlalu sering kulipat.

"Radit," bisikku. "Tante Latri datang."

Angin berhembus lembut, menggoyangkan ujung rumput dan helaian kertas di tanganku. Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak ada.

"Tante sudah baca semua tulisan kamu, Nak. Maaf ya, Tante baru tahu sekarang. Kamu nggak pernah kehilangan dirimu, ya? Kamu cuma nyembunyiin dia." Suaraku pecah. "Kamu pikul semuanya sendirian. Kamu nggak pernah nangis, tapi kamu nulis ribuan kata tentang tawa. Tante ngerti sekarang."


Aku menarik napas panjang, dan membacakan puisi itu dengan suara bergetar, perlahan, seolah ia duduk di sampingku dan mendengarkan.


Pergilah nak,
bukalah pintu menuju misteri dunia.

Biarlah langit memberimu kebebasan yang kamu dambakan.
Semoga cahaya matahari menghangatkan tubuh dan perasaanmu
Semoga hembusan angin mendorongmu terbang lebih jauh.
Biarlah aliran air memelihara kelembutanmu,
dan bumi mendukung setiap langkahmu.

Pergilah nak,
bebaskan hatimu,
bebaskan pikiranmu.
Tinggalkan cengkraman sosial.

Tertawalah sepuasmu,
menangislah sekehendakmu.

Sebab, kita semua sama,
di dalam ruang yang bahkan memeluk langit dan bumi…


Saat kata terakhir lepas dari bibirku, angin berhenti sejenak. Seperti ada yang mendengarkan.

Aku mengusap air mataku dan tersenyum untuk pertama kalinya hari itu. Di kejauhan, dua anak kecil berlari melintasi jalan setapak pemakaman sambil tertawa, sandal mereka salah kaki, rambut mereka acak-acakan oleh angin.

Dan untuk sesaat, aku hampir bisa mendengar suara itu lagi, dari sore yang sudah lama sekali:

"Tante Latri! Tante Latri!"

Aku memejamkan mata, membiarkan suara itu menetap sebentar di dadaku, lalu menjawab pelan, seperti dulu:

"Iya, Nak. Tante di sini."

Ke Mana Langit Membawamu

Pergilah nak,
Open the door to the great unknown.

Biarlah langit memberimu kebebasan yg kamu dambakan,
Semoga cahaya matahari menghangatkan tubuh dan perasaanmu,
Semoga hembusan angin mendorongmu terbang lebih jauh.
Biarlah air memelihara kelembutanmu,
Dan bumi mendukung setiap langkahmu.

Pergilah nak,
Bebaskan hatimu,
Bebaskan pikiranmu.
Tinggalkan cengkraman sosial.

Tertawalah sepuasmu,
Menangislah sekehendakmu.

Sebab, kita semua sama, di dalam ruang yang bahkan memeluk langit dan bumi…



Sunday, September 20, 2026

Roti Isi dan Setoples Acar


Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, sebuah kedai kecil di sudut jalan itu sudah harum oleh aroma roti yang baru dipanggang. Uap tipis naik dari panggangan, dan di balik etalase kaca berjajar roti isi yang tersusun rapi. Pemiliknya seorang bapak yang sudah berumur. Rambutnya hampir seluruhnya memutih, tapi tangannya masih cekatan mengiris, menata, dan membungkus.

Salah satu pelanggan setianya adalah seorang mahasiswa perantauan. Hampir tiap pagi ia datang, memesan roti isi yang sama, lalu duduk di bangku kayu dekat jendela. Ia makan pelan-pelan sambil membuka catatan kuliah, sementara kota di luar sana mulai riuh.

Lama-lama, Bapak itu hafal segalanya. Ia tahu pesanan si anak, tahu jam datangnya, bahkan tahu kapan anak itu sedang begadang karena matanya sayu. Kadang roti isinya ia beri tambahan sedikit tanpa bilang-bilang. "Namanya juga anak rantau," pikirnya. "Jauh dari rumah, jangan sampai kurang makan."

Lalu suatu hari, kebiasaan itu berubah.

Si mahasiswa masih datang, tapi ia tidak lagi duduk di bangku dekat jendela. Ia memesan, membayar, lalu pergi membawa bungkusan. Hari berikutnya sama. Hari berikutnya lagi juga sama.

Awalnya Bapak itu berpikir mungkin anak itu sedang sibuk, ada tugas atau ujian. Tapi seminggu berlalu, lalu dua minggu, dan bangku kayu di dekat jendela tetap kosong. Ada yang mengganjal di hatinya, seperti kursi di meja makan keluarga yang tiba-tiba tak lagi terisi.

Suatu pagi, saat menyerahkan bungkusan itu, ia akhirnya bertanya.

"Nak, Bapak perhatikan sekarang kamu sering bungkus, nggak makan di sini lagi. Ada apa? Ada yang kurang dari kedai Bapak? Atau kamu cuma sedang sibuk saja?"

Si mahasiswa tampak kaget. Wajahnya memerah, dan ia buru-buru menggeleng. "Nggak, Pak! Bukan gitu sama sekali. Rotinya enak, saya suka banget."

Anak itu menggaruk tengkuknya, ragu sejenak, lalu menjelaskan, "Jadi begini, Pak. Belakangan saya dapat resep acar fermentasi. Rasanya cocok banget di lidah saya, dan pas sekali kalau dimasukin ke roti isi Bapak. Tapi saya nggak enak hati kalau harus ngeluarin makanan dari luar di kedai ini. Jadi saya bungkus dulu, terus cari tempat di pinggir jalan buat nambahin acarnya sendiri."

Bapak itu terdiam sebentar. Lalu senyumnya perlahan mengembang, hangat dan penuh rasa geli. Ia bersandar di meja kasir, matanya berbinar penasaran. "Coba ceritakan, acarnya itu bikinnya gimana? Bahannya apa saja?"

Si mahasiswa sempat bingung, tapi lalu ia menjelaskan. Ia menyebutkan bahan-bahannya satu per satu, takaran garamnya, lama fermentasinya, dan cara menyimpannya. Bapak itu mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, seolah sedang menghafal sesuatu yang berharga.

Anak itu tidak tahu, itu bukan sekadar rasa ingin tahu.

Beberapa hari kemudian, di dapur kecil di belakang kedai, sebuah toples kaca berisi acar mulai berfermentasi diam-diam. Bapak itu mengikuti resep si anak dengan teliti dan mencicipinya dengan sabar sampai rasanya pas.

Pagi itu, seperti biasa, si mahasiswa datang dengan langkah agak terburu-buru. Ia sudah siap memesan dan membawa pulang bungkusannya. Tapi sebelum ia sempat bicara, Bapak itu sudah menyodorkan sebuah roti isi.


"Ini, coba dulu," katanya, matanya berkilat jahil. "Di dalamnya sudah Bapak tambahkan acar. Bapak bikin sesuai resep kamu. Coba cicipi, mirip nggak sama buatan kamu sendiri?"

Si mahasiswa terpaku menatap roti itu. Ia menerimanya dengan kedua tangan, lalu menggigitnya perlahan. Asam yang segar, sedikit gurih, dan renyah yang pas berpadu dengan isi roti yang sudah ia kenal setiap pagi. Rasanya sama persis dengan yang ia buat sendiri.

"Gimana?" tanya Bapak itu, separuh menahan senyum.

"Mirip, Pak," jawab anak itu dengan suara sedikit bergetar. "Mirip banget. Persis."

"Ok deh..." Bapak itu tertawa kecil, puas. "Mulai sekarang kamu nggak perlu repot-repot lagi. Nggak usah bikin acar banyak-banyak di kamar kos, nggak usah bawa-bawa toples. Duduk saja di sini seperti biasa. Acarnya sudah ada."

Mahasiswa itu tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokannya terasa penuh. Ia hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih dengan suara pelan.

Pagi itu, ia kembali duduk di bangku kayu dekat jendela. Cahaya matahari jatuh di atas mejanya, dan di tangannya ada roti isi yang sudah dilengkapi acar buatan orang yang menganggapnya seperti anak sendiri. Di kota yang jauh dari rumah itu, ia merasa untuk sesaat betul-betul di rumah.

Thursday, August 27, 2026

Community problem

Halo guys, gue cuma mau sharing sedikit tentang sesuatu yang gue lihat dan alami di salah satu online community yang gue ikuti.

Kemarin terjadi sebuah konflik yang awalnya sebenarnya cukup sederhana. Berawal dari becanda, ada yang tersinggung, kemudian berkembang menjadi konflik personal.

Yang jadi masalah adalah ketika konflik tersebut kemudian dibawa ke ranah komunitas dan melibatkan semakin banyak orang.

Orang yang merasa dirinya dibully kemudian merespons dengan menghubungi dan meneror orang-orang yang dianggap membully dia melalui berbagai channel: social media, telepon, DM, bahkan menghubungi member lain yang sebenarnya tidak terlibat. Konfliknya kemudian berkembang menjadi penghinaan, fitnah, dan tindakan-tindakan lain yang akhirnya masuk ke ranah hukum.

Sekarang orang tersebut sedang berhadapan dengan proses hukum, dan member maupun pengurus community yang bersangkutan juga ikut was-was karena kemungkinan dimintai keterangan.

Gue sharing ini bukan untuk nakut-nakutin siapa pun. Justru gue melihat ini sebagai reminder buat kita semua.

Menurut gue, salah satu hal yang sangat penting dalam sebuah community adalah adanya pengurus yang berani menjaga batas. Gue pribadi sangat appreciate kalau ada pengurus yang tegas menegur ketika ada orang yang membawa masalah personal ke dalam komunitas.

Misalnya, ketika konflik personal mulai berubah menjadi:
  • mendamprat atau mempermalukan orang di depan umum;
  • Screenshoot chat pribadi dan sharing ke community tanpa men-sensor identitas pribadi orang yang terlibat, dan tanpa consent dari orangnya;
  • menyeret member lain yang sebenarnya tidak terlibat;
  • membentuk kubu dan membuat semacam tekanan, "kalau lu nggak ikut musuhin dia, berarti lu juga musuh gue."

Menurut gue, itu bukan cara yang sehat ataupun dewasa dalam menyelesaikan konflik.

Masalah personal sebisa mungkin diselesaikan secara personal. Jangan mengubah masalah antara dua orang menjadi masalah seluruh komunitas.

Hal lain yang menurut gue penting adalah kita perlu lebih hati-hati ketika bercanda atau melakukan sesuatu di dunia digital.

Digital space mungkin terasa seperti ruang santai atau ruang privat, tapi pada praktiknya banyak hal yang kita lakukan di sana bisa menjadi public record. Sesuatu yang kita tulis hari ini bisa saja di-screenshot, disimpan, diteruskan, atau muncul kembali bertahun-tahun kemudian.

Bahkan ketika kita sudah menghapusnya, kita nggak pernah benar-benar tahu siapa yang sudah menyimpan salinannya.

Karena itu, gue pribadi punya kebiasaan sederhana: sebelum mengirim atau mem-posting sesuatu yang berpotensi sensitif, gue biasanya tulis dulu di notepad, kemudian gue baca ulang.

Gue biasanya bertanya ke diri sendiri: "Kalau tulisan ini masih ada 10 tahun dari sekarang dan suatu hari ditunjukkan di depan banyak orang, apakah gue masih nyaman mempertanggungjawabkannya?"

Kalau jawabannya nggak, biasanya gue reconsider sebelum mengirim.

Dan satu hal lagi: jangan pernah meremehkan orang hanya karena kita menganggap dia "orang kecil", "nggak punya power", atau "nggak mungkin melakukan apa-apa".

Kita nggak pernah benar-benar tahu siapa yang dia kenal, sumber daya apa yang dia punya, atau sejauh apa sebuah konflik bisa berkembang kalau salah satu pihak memilih membawa masalah tersebut ke jalur hukum.

Pada akhirnya, yang paling aman menurut gue bukanlah berpikir, "Gue bisa melakukan ini karena gue yakin nggak akan kena apa-apa."

Tapi: "Gue akan berhati-hati karena apa pun yang gue lakukan tetap punya konsekuensi."

Jadi sekali lagi, gue sangat appreciate pengurus community mana pun yang berusaha menjaga ketertiban, mencegah konflik personal merembet ke komunitas, dan berani menegur ketika batas tersebut mulai dilanggar.

Semoga sharing ini bisa jadi reminder buat kita semua. 🙏

Tuesday, August 25, 2026

A Gentle Sinner - A Desime Fanfic


Fanfiction dari Deadly Sevens Inside Me

---

Di tempat yang tidak mengenal pagi dan malam, para roh berkumpul. Tidak ada lantai maupun langit. Hanya kehampaan luas tempat konsep-konsep kuno memiliki kesadaran dan mengambil bentuk sebagai roh.

Justice berdiri di tengah lingkaran, di sebelahnya, Redemption menundukkan kepala dengan wajah muram, dan Kindness menggenggam kedua tangannya sendiri.

Jauh di belakang mereka, bersandar pada kehampaan seolah-olah sedang menunggu pertunjukan dimulai, berdiri sebuah sosok yang tersenyum; Murder.

Di hadapan mereka semua, sebuah bayangan sedang bersiap digantung. Seorang anak kecil dengan rambut putih. Tubuhnya mungil, lehernya terikat.

Tidak ada tangisan, ataupun jeritan. Tidak ada permohonan. Hanya sepasang mata yang menatap langit dengan tenang.

"Dia tidak takut," bisik Kindness.

Justice menyipitkan mata, "Dia seharusnya takut."

"Dia akan mati," kata Redemption pelan.

Murder tertawa kecil, semua roh menoleh kepadanya, "Justru itu. Dia pikir kematian adalah kedamaian."

Lalu tali itu ditarik dan tubuh kecil itu terangkat. Untuk pertama kalinya, semua roh melihat sesuatu yang membuat mereka tidak dapat berkata-kata. Elian tersenyum.

"Sebentar lagi... Aku bisa tidur seperti Papa dan Mama." Napasnya terputus-putus... Kemudian dunia manusia menghilang dari matanya. Namun bagi para roh, kisah Elian baru saja dimulai.


---

Sebelum tangannya mengenal darah dan namanya dikenal sebagai Sinner, Elian hanyalah seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah rumah kecil di pinggir kota.

Perang telah berakhir beberapa tahun sebelumnya, namun perang tidak pernah benar-benar meninggalkan manusia. Ia hanya berganti wujud.

Ayah Elian adalah seorang veteran. Dahulu, ia pulang sebagai pahlawan. Namun sekarang, ia pulang sebagai seorang lelaki yang tidak pernah benar-benar meninggalkan medan perang.


Suara pintu dibanting dapat membuatnya berteriak; Suara benda jatuh dapat membuatnya membentak; Dan sedikit kesalahan saja bisa membuat tangannya terangkat.

"Diam!" Plak!

Elian jatuh ke lantai, dan ibunya langsung berlari. "Elian!"

"Jangan sentuh dia!" Sang ayah berdiri dengan napas berat.

"Aku sudah bilang jangan melawan!"

Elian memegang pipinya, "Maaf, Pa... Aku nggak bermaksud..."

Ibunya segera memeluk Elian, "Sudah... Ibu tahu..."

Di dalam kehampaan, Kindness memperhatikan, "Dia tidak membenci ayahnya."

---

Ibu Elian adalah kebalikan dari suaminya. Jika suaminya membawa sisa-sisa perang ke dalam rumah, perempuan itu membawa sedikit kedamaian dari dunia luar.

Tetangga yang terluka datang kepadanya, ia obati. Anak tetangga yang kelaparan datang, ia beri makan. Orang tua yang tidak mampu membeli obat datang, ia membantu sebisanya.

Ia tidak bisa membantu banyak, karena keluarganya sendiri juga miskin. Namun jika ada sedikit kelebihan, ia selalu membaginya.

Suatu sore, seorang tetangga tua datang, "Maaf, Bu. Anak saya belum makan."

Ibu Elian melihat panci, kemudian mengambil sebagian makanan. Elian yang sedang duduk di meja langsung menatap ibunya, "Ma... Jangan kasih semuanya, nanti Papa marah..."

Ibunya tersenyum, "Iya, ibu tahu, ibu nggak kasih semuanya."

"Terus kenapa tetap masih dikasih?"

Ibunya berlutut di hadapannya, "Karena mereka lapar."

Elian terdiam, "Tapi kita juga lapar."

"Makanya Ibu cuma kasih sedikit. Kita masih punya cukup untuk makan malam." Ia mengusap rambut putih-keperakan Elian.

Elian memandangi makanan yang dibungkus ibunya, "Kenapa Ibu selalu menolong orang?"

Ibunya tersenyum, "Karena kalau kita melihat orang lain kesusahan, hati kita juga ikut sakit... Karena kita manusia."

Elian tidak mengerti, dan ibunya melanjutkan, "Kalau kamu bisa membuat orang lain sedikit lebih bahagia tanpa membuat dirimu sendiri menderita, lakukan."


Elian menunduk, "Kalau nanti Papa marah?"

Ibunya terdiam sesaat, kemudian tersenyum, "Kalau Papa marah, biar ibu yang hadapi."

"Kalau ibu dipukul?"

Sang ibu memeluk anaknya. "Nggak apa-apa, biar ibu yang hadapi Elian... Kalau kamu melihat orang lain sakit, jangan belajar untuk menjadi orang yang tidak peduli hanya supaya kamu tidak ikut sakit."

Kalimat itu tinggal di dalam hati Elian, dan jauh di dalam jiwanya, sesuatu terbangun. Kindness membuka matanya, "Anak ini memiliki resonansi denganku."

Justice mengangguk, "Ya... Dia memiliki benih kebajikan yang kuat."

Murder, yang sejak tadi diam, hanya memandangi Elian; Senyumnya menghilang.

---

Malam itu hujan turun. Ayah Elian pulang dalam keadaan mabuk. Langkahnya berat, botol bir masih berada di tangannya. "Di mana makan malam?"

Ibu Elian segera berdiri, "Sebentar, segera kusiapkan."

Sang ayah melihat meja, kemudian melihat sebuah panci yang hanya 3/4 terisi. Wajahnya berubah, "Kamu kasih makanan lagi?"

Ibu Elian diam.

"Jawab!"

"...sedikit."

Brak! Botol menghantam meja. Elian yang berada di sudut ruangan langsung menutup telinganya, "Jangan, Pa..."

"Diam!"

Ayahnya mendekati ibunya, "Kita sendiri kekurangan!"

"Aku tahu."

"Terus kamu kasih makanan kita?!"

"Ini masih cukup untuk kita makan bertiga..."

"Jangan bantah aku!" Botol di tangan lelaki itu pecah. Suara pecahannya membuat Elian membuka mata. Ayahnya menggenggam pecahan botol, dan ibu Elian mundur.

"Jangan..."

"Diam!"

"Papa!"

Ayahnya mengangkat tangan, dan sesuatu bergerak di balik bayangannya. Anger, roh amarah merayap di dalam dirinya. Di sampingnya, Drunken berbisik seperti asap. Dan di belakang semuanya — Murder tersenyum, "Sudah waktunya."

Kindness berteriak, "Jangan!"

Murder menoleh, "Kenapa?"

"Ini bukan jalan anak itu!"

"Dia akan membunuh istrinya."

"Kalau begitu kita seharusnya hentikan!"

Murder tertawa, "Aku bukan Justice!"

Elian melihat ayahnya mengangkat pecahan botol, sementara ibunya menangis, "Elian... jangan lihat."

Tapi kali ini Elian tidak menutup matanya. Ia tidak sanggup. Ia melihat ketakutan di wajah ibunya, dan sesuatu di dalam dirinya pecah. Bukan kebencian ataupun kemarahan; Hanya sebuah pikiran sederhana: "Mama akan sakit."

Tangannya menemukan pisau di meja selagi ayahnya melangkah maju. Elian bergerak, dan pisau itu menembus punggung ayahnya. Sang lelaki terdiam, matanya melebar, "El...ian?"

Tubuhnya terhuyung. Ia berbalik. Elian menangis, "Papa..."

Pisau itu masih berada di tangannya, sementara ayahnya mulai mengangkat tangan. Namun tidak pernah sempat menyentuh anaknya. Elian menusuk sekali lagi tepat ke dada. Kemudian tubuh lelaki itu akhirnya terjatuh.

Elian memandangi ayahnya. Darah perlahan menyebar di lantai; Namun wajah ayahnya... damai. Tidak marah, tidak berteriak, tidak lagi bisa memukul.

Elian berlutut, "Papa?"

Tidak ada jawaban. Ia menoleh kepada ibunya yang berdiri membeku. Air mata mengalir dari kedua matanya sambil memandang suaminya, dan kemudian dia memandang anaknya.

"Elian..." Sang ibu menutup mulutnya. Ia menangis, "Apa yang kamu lakukan?"

Elian menggenggam pisaunya, "Papa mau bunuh Mama."

Ibunya jatuh berlutut, "Aku tahu..."

"Aku nggak mau Mama sakit."

"Ibu tahu..."

"Mama marah?"

Sang ibu menatap anaknya. Bagaimana mungkin ia marah? Bagaimana mungkin seorang ibu membenci anak yang baru saja menyelamatkan hidupnya? Namun bagaimana mungkin seorang istri tidak berduka ketika melihat suaminya mati? Kedua perasaan itu bertabrakan di dalam dirinya.

Cinta, duka, syukur, ngeri, semua perasaan bercampur aduk sekaligus.

Kindness menangis, "Jangan biarkan dia sendirian."

Redemption maju, "Dia membutuhkan pengampunan."

Justice melangkah, "Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."

Murder memperhatikan Elian. Untuk pertama kalinya, ia melihat sebuah celah. Bukan kebencian ataupun dendam. Melainkan kepolosan yang jauh lebih berbahaya.

Elian menatap wajah ayahnya, "Papa tidur... Papa kelihatan damai..."


Murder berbisik, "Ya."

Elian menoleh, "Damai..."

Murder tersenyum, "Begitulah."

Kindness berteriak, "Jangan dengarkan dia!"

Namun Elian sudah terlalu lelah, ia menatap ibunya, "Mama..."

Ibunya membuka kedua tangannya, menyambut Elian yang berlari ke pelukannya, "Maaf..."

Ibunya memeluknya erat, "Elian..."

"Aku nggak mau Mama sakit."

Ibunya menangis, "Ibu tahu."

"Kalau Mama tidur..." Elian mengusap wajah ibunya, "...Mama juga nggak akan sakit lagi."

Mata sang ibu melebar, "Elian..."

Pisau itu bergerak sekali. Sang ibu terdiam. Elian memeluknya, "Sabar ya, Ma."

Tubuh ibunya perlahan melemas.

"Mungkin sakitnya cuma sebentar..." Air mata jatuh dari wajah Elian. "Tapi nanti Mama bisa seperti Papa; Tertidur dengan damai."

Ia tersenyum di pelukan sang ibu. Dan ketika napas terakhirnya hilang, Elian tetap berada di dalam pelukan itu. Murder berdiri tepat di belakangnya.

---

Malam itu, Elian mengatur tubuh kedua orang tuanya. Ia menarik tangan ayahnya, kemudian tangan ibunya, dan menyatukan keduanya. Lalu ia berbaring di antara mereka, "Aku juga capek."

Ia memejamkan mata, "Selamat tidur, Papa."

Ia berpindah sedikit, "Selamat tidur, Mama."

Kemudian Elian tertidur.


Dan ketika ia tertidur — di sekeliling tubuh kecil yang tertidur di antara dua jenazah itu, tercipta selubung tenang, hangat, hampir seperti selimut. Roh Peace, yang jarang campur tangan dalam urusan manusia, entah bagaimana telah tertarik oleh keheningan aneh di hati Elian dan memilih menjaga tidurnya. Peace menatapnya, "Aku akan menjaganya selama dia tidur."

Redemption datang, wajahnya penuh kecemasan, "Kita harus membawanya."

Justice menimpali, "Dia telah melakukan pembunuhan."

Kindness berbicara kepada seluruh roh yang hadir, "Kumohon, datanglah dan perbaiki ini, selamatkan sisa dari anak itu yang masih bisa diselamatkan!"

Redemption berlutut di hadapan jiwa Elian, "Elian, bangunlah... Apakah kamu menyesal atas apa yang kamu lakukanl?"

Elian membuka mata dan ia tampak bingung, "Menyesal?"

Elian berpikir, kemudian menggeleng, "Papa dan Mama sekarang nggak sakit."

Redemption terdiam. "Tidakkah kamu merasa bersalah?"

Elian menggeleng lagi, "Kenapa harus merasa bersalah?"

Justice maju, "Karena kau membunuh mereka."

Elian menatap Justice, "Aku cuma bikin mereka berhenti sakit."

Justice terdiam. Kindness memandang Redemption. Redemption memandang Justice. Tidak ada yang memiliki jawaban.

Kemudian Peace berdiri di depan Elian, "Biarkan dia tidur dahulu."

Dan malam itu, Justice tidak dapat menyentuhnya. Bukan karena Elian lebih kuat. Melainkan karena di dalam dirinya tidak ada kebencian yang bisa dihukum.

Tidak ada niat jahat maupun dendam. Tidak ada kesadaran bahwa dirinya telah melakukan dosa. Hanya seorang anak yang mengira bahwa kematian adalah bentuk terakhir dari belas kasih dan kebaikan.

---

Pagi berikutnya, seorang petugas keamanan menemukan Elian yang sedang tertidur di antara dua jenazah.

"Astaga..."

Ia segera memanggil bantuan. Polisi datang, namun tidak ada tanda perampokan yang jelas. Anak itu tidak mengatakan apa-apa. Ketika ditanya siapa yang membunuh orang tuanya, Elian hanya menjawab: "Mereka sudah tidur."

Petugas mengira anak itu trauma. Tidak ada yang tahu kebenarannya. Elian dibawa ke panti asuhan, dan di sana, ia dikenal sebagai anak yang ceria. Ia murah senyum, aktif bermain, banyak membantu anak-anak lain, bahkan sering membagikan makanannya.


"Elian, kenapa kamu kasih punyamu?"

"Karena kamu belum makan."

"Tapi nanti kamu lapar."

Elian tersenyum, "Aku masih ada, aku bagi kamu sedikit. Aku masih bisa makan."

Kindness tersenyum dari kejauhan, "Masih ada sisa kebaikan di hatinya..."

---

Tidak lama kemudian Elian menyadari sesuatu. Anak-anak di panti sering sakit. Mereka kurus, pucat, batuk, dan sering demam. Namun para pengurus panti selalu tampak sehat.

Suatu malam, Elian melihat seorang pengurus mengambil sebagian besar makanan dari gudang. Ia menyimpannya sendiri, kemudian makanan yang tersisa diberikan kepada anak-anak.

Elian memperhatikan, "Kenapa makanan yang dibagikan cuma sedikit?"

Pengurus itu membentak, "Diam."

Elian mengangguk, "Baik..."

Beberapa hari kemudian, ia melihat sesuatu yang lebih buruk. Seorang pengurus menambahkan sesuatu ke makanan. Seorang anak bertanya, "Itu apa?"

"Ini obat. Supaya kamu cepat sembuh..."

Elian memperhatikan anak itu. Malamnya anak tersebut demam tinggi dan Elian duduk di samping tempat tidurnya, "Kamu sakit?"

"Iya..."

"Kamu takut?"

"Sedikit."

Elian memegang tangannya sambil tersenyum, "Nggak apa-apa. Sebentar lagi semuanya akan membaik..."

Di balik senyumnya, Murder berbisik, "Dia mulai mengerti."

Kindness merinding, "Tidak!"

Murder menjawab, "Dia tidak membenci mereka. Dan itu justru yang membuatnya mengerikan."

---

Elian kemudian mengetahui semuanya. Para pengurus mencuri uang, makanan dijual, dan anak-anak sengaja dibuat tampak sakit agar para donatur iba. Dan anak-anak yang terlalu sakit... dibiarkan mati begitu saja.

Elian duduk sendirian malam itu, mengingat wajah damai ayahnya. Lalu ia mengingat wajah damai ibunya. Kemudian ia melihat anak-anak panti; Mereka kesakitan.

Ia berpikir lama, lalu tersenyum. "Mereka juga capek."

Kindness menangis, "Jangan..."

Redemption berteriak, "Elian!"

Justice berdiri, "Ini dosa."

Murder hanya tertawa. "Dia bahkan tidak merasa sedang melakukan dosa."

---

Malam itu Elian mengendap ke dapur, memperhatikan makanan terbaik yang disimpan para pengurus. Ia mencampurkannya dengan racun.

Kemudian satu per satu para pengurus makan, "Enak sekali."

Elian hanya tersenyum sambil mengintip mereka. Beberapa menit kemudian, mereka mulai terbatuk-batuk, kemudian jatuh satu demi satu.

Elian memandangi mereka. Ia tidak merasa takut ataupun marah. Tidak merasa puas dalam arti manusia biasa. Ia hanya berpikir: Mereka tidak akan bisa menyakiti anak-anak lagi.

Kemudian ia melihat anak-anak panti yang kelaparan dan pucat. Beberapa bahkan sudah hampir mati karena racun dosis kecil yang diberikan para pengurus selama berbulan-bulan.

Elian mengambil makanan, dan seorang anak memandangnya, "Elian? Ini makanan apa?"

"Ini makanan yang enak. Cobalah..."

Anak itu tersenyum, "Makasih kak Elian."

Elian menyuapinya. Satu anak; Kemudian anak berikutnya; Kemudian anak berikutnya lagi. Beberapa menit kemudian, mereka mulai merasa lemah.

"Kepalaku pusing..."

Elian memeluknya, "Sabar."

Anak itu memandangnya, "Aku takut."

Elian mengusap rambutnya, "Jangan takut."

"Tapi sakit."

"Sebentar lagi akan sembuh." Elian memeluknya lebih erat. "Sebentar lagi kamu bisa tidur, kemudian kamu nggak akan sakit lagi. Seperti papa dan mamaku..."


Anak itu tersenyum lemah kemudian menutup mata sementara Elian terus memeluknya. Satu demi satu anak-anak itu pergi, dan Elian tidak menangis. Ia hanya menata tubuh mereka dengan rapi, seperti seseorang yang sedang menidurkan saudara-saudaranya, "Selamat tidur."

Kindness jatuh berlutut, "Tidak..."

Redemption menatap Elian dengan mata penuh kesedihan, "Dia masih mengira ini kebaikan."

Justice mengepalkan tangan, "Namun darah mereka ada di tangannya."

Murder berdiri di samping Elian dan berkata: "Dan itulah mengapa dia milikku."

---

Petugas keamanan akhirnya menemukan semuanya. Elian ditangkap dan orang-orang berteriak.

Monster.
Pembunuh.
Setan.

Namun Elian hanya memandang mereka dengan bingung, "Kenapa mereka marah?"

"Karena kau membunuh banyak orang!"

Elian menunduk, "Tapi mereka sudah tidak sakit."

"Kau membunuh anak-anak!"

"Mereka memang sudah sakit."

"Itu bukan alasan!"

Elian terdiam. Ia benar-benar tidak mengerti. Dan kemudian hukuman mati dijatuhkan.

Di hari eksekusi, Elian berjalan menuju tiang gantungan tanpa perlawanan, tanpa tangisan, ataupun permohonan.

Seorang penjaga bertanya: "Kamu tidak takut?"

Elian menggeleng, "Kenapa harus takut? Sebentar lagi aku akan tertidur dan mendapat wajah yang sama dengan mereka semua..."

Penjaga itu mengerutkan kening, "Tidur?"

Elian tersenyum sambil melihat langit, "Iya. Mungkin aku bisa bertemu Papa dan Mama kembali..."

Kindness menatapnya dari alam roh, "Elian..."

Redemption berbisik, "Masih ada waktu."

Justice menggeleng, "Sudah terlambat."

Redemption menatapnya, "Apakah benar-benar terlambat?"

Justice diam. Karena untuk pertama kalinya dalam keberadaannya, Justice tidak yakin bagaimana cara menghakimi seseorang yang bahkan tidak memahami kejahatan.

Tali dipasang, Elian memejamkan mata, "Semoga semua orang... Dapat menemukan kedamaian di dalam tidurnya..."

Tali ditarik; tubuh kecil itu terangkat. Dan dunia manusia kembali sunyi.

---

Di alam setelah kematian, jiwa Elian berdiri sendirian. Kindness menghampirinya terlebih dahulu, "Elian."

Anak itu tersenyum. Ia mengenali cahaya itu. "Oh. Kamu yang waktu itu."

Kindness berlutut, "Ikutlah denganku."

Elian menatapnya, "Ke mana?"

"Tempat di mana kau tidak perlu menyakiti siapa pun lagi."

Elian tersenyum, "Berarti aku sudah tidak perlu membuat orang berhenti sakit?"

Kindness terdiam.

Redemption datang, "Elian."

Anak itu menatapnya, "Apakah kamu menyesal?"

Elian berpikir, kemudian menggeleng.

"Aku tidak tahu."

"Apakah kamu mengakui bahwa yang kamu lakukan adalah dosa?"

Elian menunduk, "Aku tidak mengerti."

Justice datang, "Kalau begitu, aku akan memberitahumu."

Namun Peace berdiri di antara mereka, "Cukup!"

Justice memandangnya, "Dia telah membunuh. Lalu mengapa aku tidak dapat menghakiminya?"

Peace menatapnya, "Karena di dalam hatinya tidak ada kebencian."

Justice terdiam, sementara kindness menangis.

"Dan itu justru masalahnya." Murder berjalan keluar dari kegelapan mendekati Elian, "Ikutlah denganku. Hanya akulah yang bisa memahami apa yang kamu cari — kedamaian, dengan caramu sendiri yang salah kaprah dan mengerikan itu."

Elian menatapnya, "Siapa kamu?"

Murder tersenyum, "Aku adalah alasan mengapa semua orang yang kau cintai akhirnya tidur."

Elian terdiam, kemudian ia mengulurkan tangan. Murder menggenggamnya, dan pada saat itu — Bayangan hitam menyelimuti tubuh mungilnya. Matanya terbuka, dan tidak lagi sebagai mata seorang anak yang baru saja mati. Melainkan sebagai mata sebuah dosa kuno yang akhirnya menemukan wadah sempurna. Murder menyatu dengan sosok Elian.


Murder-Elian mengangkat tangan, "Perkenalkan... Ini adalah Sinner-ku yang paling terkemuka... Mulai hari ini, aku dan dia adalah satu..."

Ia tersenyum kepada para roh. Kindness menatap Murder-Elian dengan air mata, "Dia seharusnya menjadi salah satu dari kami... Jagalah dia," bisiknya akhirnya, kalah namun tak sepenuhnya putus asa. "Walau bagaimanapun, aku tetap sebagian dari dirinya..."

"Aku tahu," jawab Murder dalam wujud Elian. "Itulah sebabnya wujud kami akan selalu tampak begitu... tenang. Begitu polos. Sebuah paradoks yang bahkan aku sendiri tak sepenuhnya mengerti."

---

Dan begitulah Elian, akhirnya menjadi legenda di antara para roh. Di antara para sinner yang pernah menjadi wujud manusia dari roh dosa pembunuhan, tak ada yang lebih dibanggakan selain seorang bocah berambut putih dengan wajah yang tak pernah kehilangan ketenangannya — bahkan di ujung tali gantungan sekalipun.

Anak yang mencari kedamaian dengan cara yang paling gelap, dan menemukan kegelapan itu memeluknya balik.

Setiap kali Murder mengambil wujudnya, para roh selalu merasa sesuatu yang ganjil, karena Murder tidak terlihat seperti monster. Ia terlihat seperti seorang anak kecil dengan senyum polos.

Dan ketika ia tersenyum, ia selalu mengatakan hal yang sama, "Jangan takut. Aku cuma mau membantu."

Kindness membenci kalimat itu. Redemption takut mendengarnya. Justice tidak pernah mampu menjawabnya. Peace selalu menangis ketika mendengarnya.

Sedangkan Murder dalam wujud Elian selalu tersenyum polos. Karena tidak ada Sinner lain yang mampu memahami dirinya sedalam Elian.

Elian tidak membunuh karena kebencian ataupun keserakahan. Bukan karena kemarahan atau karena dendam. Ia membunuh karena ia percaya bahwa kematian adalah bentuk terakhir dari belas kasih.

Dan mungkin itulah alasan mengapa Murder memilihnya. Bukan karena Elian adalah anak yang paling jahat, melainkan karena Elian mampu melakukan dosa paling mengerikan karena kebaikan hatinya.

Di dalam jiwa Elian, Kindness masih ada. Peace masih menjaganya. Redemption masih menunggunya. Justice masih mengawasinya. Dan Murder tidak pernah meninggalkannya.

Karena di dalam diri seorang anak yang hanya ingin semua orang berhenti merasa sakit, Murder menemukan wadah yang sempurna. Seorang Sinner yang tidak membutuhkan kebencian untuk membunuh atau kemarahan untuk menghancurkan. Seorang Sinner yang tidak membutuhkan alasan apapun.

Hanya sebuah senyum, dan sebuah kalimat sederhana:


"Sabar ya."
"Sebentar lagi sakitnya hilang."
"Kalian akan tidur dengan damai."

Di antara seluruh Sinner yang pernah dilahirkan oleh dosa - Elian dikenang sebagai The Greatest Sinner of Murder.

---

Writer's note

13 Agustus 2016, pertama kali webtoon ini release. Dan webtoon ini selalu menjadi salah 1 webtoon lokal favorit penulis.

Dalam lore di webtoon Desime ini, para roh, apakah dari golongan "virtue" atau roh kebajikan, maupun "sins" atau roh dosa - selalu bisa mengambil wujud dari para saint atau sinner mereka yg terkemuka. Dengan kata lain, yang sifat dominan nya ber-resonasi dengan para roh kebajikan atau roh dosa tersebut.

Back then, penulis tertarik sama sosok roh "Murder", karena wujud manusia roh murder ini adalah anak kecil yang polos. Even roh murder sendiri selalu digambarkan kekanak-kanakan dan clumsy.

Dalam hati penulis, "Ini anak masih kecil bikin dosa kayak gimana yah sampai jadi sinner nya Murder yang paling terkemuka?"

Semalem penulis baru tahu, ternyata Desime dibuat sekuel nya dalam series "Aftermath". Dan kenangan penulis akan Murder pun bangkit lagi. Selagi penulis rebahan di ranjang, imajinasi penulis mulai melayang, dan membayangkan sosok anak berambut putih itu... Bagaimana dia hidup... Apa yang dia alami... Dan perbuatan dosa apa yang dia lakukan...

Lalu lahirlah fanfiction ini.

Fanfiction ini sendiri memiliki nuansa yg berbeda dari komik original maupun sequel nya. Kalau komik original nya lebih lighthearted dan mungkin juga "warming" - fanfic ini punya nuansa gelap. Sisi lain dari dialog para roh yang tidak muncul di komik original nya.

Nevertheless, penulis berharap sedikitnya fanfic ini bisa sedikit menghibur, skaligus merayakan 10 tahun Desime. Dan mungkin juga fanfic ini bisa mengisi jawaban atas pertanyaan banyak orang di periode 2016-2020 itu, "Ini anak sebenernya bikin dosa apa sih? Psikopat yah?"

Anyway, penulis menulis cerita ini sambil dengerin lagu ini... Mungkin pembaca juga bisa membaca ulang keselurhan cerita ini sambil mendengarkannya juga...

Gentle Hands

Saturday, August 22, 2026

Di Antara Kita dan Hari Esok: Lingkaran Waktu


---

Sore itu langit oranye, dan aku baru saja mengalami salah satu momen paling memalukan dalam hidupku.

Aku berjalan keluar dari gerbang sekolah dengan langkah lemas, menendang-nendang kerikil kecil yang berserakan di trotoar. Tas kugendong asal di sebelah bahu, sementara pikiranku masih dipenuhi percakapan beberapa menit lalu.

Aku sudah mempersiapkan semuanya.

Sudah berhari-hari memikirkan apa yang mau kukatakan. Bahkan sempat latihan di depan kaca, meskipun pada akhirnya semua kalimat yang sudah kususun hilang begitu saja ketika berhadapan dengannya.

Aku duduk di pinggir lapangan basket sekolah, kepala tertunduk, ketika kudengar langkah kaki mendekat, lalu suara yang sudah sangat kuhafal.

"Woi. Ngapain lu di sini sendirian? Kayak abis diputusin."

Dan di sebelahku, sahabatku sudah berdiri sambil nyengir lebar, lengkap dengan gaya sok kerennya dengan tangan dimasukkan ke saku celana.

"Bukan diputusin," gumamku. "Kan belum jadian. Ditolak, mentah-mentah anjir. Katanya dia mau fokus belajar dulu."

Dia diam sebentar. Lalu—bukannya menghibur—dia malah ketawa. Ketawa keras banget sampai orang-orang di lapangan menoleh.

"BUAHAHAHA! Sumpah? Alasan klasik banget! Fokus belajar muka lo! Orang tadi pagi aja gue liat dia lagi gosip di kantin"

"Anjir, lu ketawain gue?"

"Sori sori," katanya, masih cekikikan sambil duduk di sampingku, "abisnya lucu aja bayangin muka lu waktu ditolak."

"Sialan lu emang." Aku menendang kerikil kecil ke arahnya, meleset. "Udah, gantian lu dong yang curhat. Biar impas."

Dia menggaruk belakang kepalanya, agak salah tingkah. Itu tanda dia lagi menyembunyikan sesuatu. Kemudian dia langsung mengelap air mata di sudut matanya karena kebanyakan ketawa, lalu menyeringai licik. "Gue udah nembak dia duluan tadi pas jam istirahat pertama!"

Butuh dua detik penuh buat informasi itu masuk ke kepalaku. "HAH?"

"Barusan. Sebelum lu." Dia nyengir, tapi matanya melirik was-was, siap kabur kalau perlu.

"Terus dijawab apa?!"

"Sama! Ditolak juga! Katanya mau fokus ibadah!"

Aku menatapnya lama, campur aduk antara kesal, gemas, dan mau ketawa. Tanpa mikir panjang, tangan gue langsung melayang, BUGH! Pukulan ringan mendarat telak di bahu kirinya.

"Aduh, sakit, bego!" protesnya sambil ngusap lengan.

"Ngeselin lo ya!" kataku, masih setengah ketawa setengah kesel. Kita berdua akhirnya saling bersandar di punggung satu sama lain, menyipitkan mata menatap langit siang yang terik, sama-sama merenungi nasib dua cowok apes yang baru aja ditolak cewek yang sama di hari yang sama.

"Lu tuh emang licik dari dulu," kataku, masih setengah ketawa setengah kesel. "Sama kayak waktu kita kabur pas jam pelajaran buat beli es krim, terus ujung-ujungnya yang dihukum push up di depan kelas cuma gue doang. Lu malah udah ngacir duluan."

"Ya abis lu lambat larinya," dia nyengir tanpa rasa bersalah sama sekali.

"Kan waktu itu gue ada urusan."

"Urusan apaan? Kabur dari sekolah!"

"Ya itu urusan gue."

Aku meninju lengannya lagi.

Dia menghindar sambil tertawa.

"Udah, udah!"

Kami duduk begitu saja beberapa saat, menonton anak-anak lain main basket, membiarkan rasa malu tadi perlahan menguap dibawa angin sore.


"Dah lah," katanya sambil menepuk paha. "Daripada kita meratapi nasib di sekolah, mending naik motor ke pantai. Angin laut enak nih buat ngilangin stres."

"Lu yakin?"

Dia mengangguk mantap.

Aku melihat motornya. Motor tua yang catnya sudah mulai kusam, knalpotnya kadang mengeluarkan suara aneh, dan entah kenapa setiap kali dikendarai selalu ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Aku menghela napas, "Kalau mogok gimana?"

Dia tersenyum, "Ya kita dorong."

"Ya udah." Jawabku pada akhirnya. Dan begitulah, tanpa rencana matang, tanpa alasan yang benar-benar jelas selain ingin melupakan hari yang memalukan ini, kami berboncengan motor menuju pantai.

Beberapa menit kemudian kami sudah berada di jalan. Dia yang mengendarai motor, sementara aku duduk di belakang, dan entah kenapa mood ku tiba-tiba naik. Aku mulai teriak-teriak nggak jelas ke angin, menyanyikan lagu yang bahkan aku sendiri nggak hafal liriknya.

"WOI DIEM!" dia setengah teriak sambil nyetir, melihatku dari kaca spion dengan muka panik. "Orang-orang ngeliatin, dikira lu abis kabur dari rumah sakit jiwa!"

"BIARIN! GUE LAGI BAHAGIA!"

"BAHAGIA APAAN, BARU AJA DITOLAK CEWEK!"

Aku kembali berteriak tanpa alasan yang jelas, dan dia membalas dengan menggeleng-gelengkan kepala.

"Gue nyesel ngajak lu."

"Udah telat!"

Kami terus melaju, sampai akhirnya... motor tiba-tiba tersendat, lalu mati begitu saja di tengah jalan yang mulai sepi.

"WOI, KOK MATI?!"

"Ya gue juga nggak tau, anjir!" Dia turun, mencoba menyalakan lagi, gagal berkali-kali sampai akhirnya menyerah dan menghela napas panjang.

"Mogok, Bro," bisiknya pasrah.

"ELU SIH! Motor dinosaurus gini masih dipaksa jalan!" Aku marah-marah sambil turun dari motor.

"Terus gimana ini?!" Aku ikut turun, menatap motor itu seperti menatap pengkhianat.

"Yaudah, mau gimana lagi. Ya dituntun lah, masa digendong."

Akhirnya kita berdua menuntun motor tua itu bareng-bareng di pinggir jalan, sambil saling menyalahkan sepanjang perjalanan - sampai tiba-tiba langit yang tadinya oranye berubah gelap dan hujan deras turun begitu saja, tanpa aba-aba.


"ANJIR HUJAN! GARA-GARA IDE SIAPA NIH?!"

"IDE GUE!" Katanya tanpa penyesalan.

Kita tidak punya jas hujan, tidak punya tempat berteduh. Akhirnya kita menerobos hujan deras sambil tertawa seperti orang gila.

Setelah perjalanan panjang, basah kuyup, lelah, dan entah sudah berapa kali memaki motor tua itu, kami sampai juga di pantai. Motor kami parkirkan secara asal di dekat warung-warung kecil, lalu berlari menuju pasir.

Tanpa banyak bicara, kami langsung menerjang ombak. Air laut menghantam kaki kami, aku berteriak. Dia juga ikut berteriak. Kami saling menyipratkan air seperti dua anak kecil yang tidak punya masalah apa pun di dunia.

Untuk beberapa jam, aku bahkan lupa bahwa beberapa jam sebelumnya aku baru saja ditolak. Lupa soal sekolah, lupa soal tugas, lupa soal masa depan. Yang ada cuma kami berdua, laut, angin, dan langit sore.

"Enak juga ya," katanya sambil merebahkan diri di pasir basah, menatap langit yang mulai menampakkan sedikit warna jingga di sela awan.

"Iya," jawabku, ikut rebahan di sampingnya. "Padahal tadi rasanya pengen ngilang aja dari muka bumi."

Kami tertawa kecil, lalu diam sejenak menikmati suara ombak.

Perutku tiba-tiba berbunyi keras.

"Anjir, laper," kataku.

"Ada warung mie ayam tuh, deket motor kita." Dia menunjuk sebuah warung kecil beratap terpal biru, lampunya baru saja dinyalakan si pemilik warung.

Kami berjalan ke sana sambil mengeringkan diri seadanya, memesan dua mangkuk mie ayam, kemudian duduk di bangku kayu panjang berhadapan. Entah kenapa itu justru jadi momen paling nyaman hari itu.

Dua mangkuk mie ayam datang beberapa menit kemudian. Aku langsung menyeruput kuahnya.


"Asli, ini mie ayam terenak setelah kita ditolak cewek," kataku.

Dia mengangguk, "Makanya. Kalau patah hati, makan."

Beberapa saat kami hanya menikmati mie ayam dalam diam.

"Eh," katanya di sela suapan, "lu kepikiran nggak sih, kita bakal kayak gimana ya kalau udah tua nanti?"

"Maksudnya?"

"Ya... masa depan lah. Lu kepikiran nggak jadi apa? Nikah sama siapa? Segala macem." Tanyanya tiba-tiba. Tatapannya menerawang ke luar tenda, menatap kegelapan laut.

Aku menyeruput kuah mie sebentar, berpikir. "Nggak tau juga sih. Tapi kayaknya... gue pengen lu jadi best man gue pas nikahan. Dan pas lu nikah, gue juga mau jadi best man lu."

Dia menatapku, lalu nyengir lebar. "Setuju. Dan kalau kita udah sama-sama punya anak—"

"Anak kita harus temenan," potongku cepat, seolah pikiran kami memang selalu nyambung. "Kalau nggak mau pun, kita paksa!"

"Gila! Kita aja sering berantem."

Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

"Terus kalau kita udah tua?" Tanyaku lagi.

"Kalau udah tua, udah ompong, keriput, kita harus tetap nongkrong bareng. Ngopi-ngopi sore sambil ngetawain keputusasaan kita hari ini," balasnya.

"Setuju banget." Aku mengangkat sendok seolah itu gelas untuk bersulang, dan dia menyentuhkannya dengan sendoknya sendiri, konyol tapi entah kenapa terasa serius juga.

Untuk sesaat, kami hanya saling menatap sambil tersenyum. Masa depan terasa begitu jauh. Begitu luas. Seolah masih ada waktu yang tidak terbatas untuk kami.

Tapi kemudian, senyumnya agak mengendur. Suaranya merendah, ada nada halus yang aneh di sana. Dia menatap laut. "Tapi ya, mudah-mudahan jangan sampai salah satu dari kita pergi duluan. Mudah-mudahan umur kita panjang"

Aku menatapnya, agak bingung dengan perubahan mood tiba-tiba itu. Entah kenapa kalimat itu membuatku sedikit merinding. "Lu ngomong apaan sih. Tiba-tiba serius amat."

"Nggak apa-apa," dia buru-buru tersenyum lagi, seperti menutupi sesuatu. "Cuma kepikiran aja. Moga-moga kita umur panjang, terus bisa liat masa depan kita masing-masing."

Aku tertawa, memukul pelan bahunya. "Ya jelas lah, umur panjang. Emang lu mau ninggalin gue duluan? Nggak akan gue izinin."

Dia tertawa juga, dan momen aneh itu berlalu begitu saja, tenggelam dalam obrolan-obrolan konyol lainnya, ditemani suara ombak dan hujan yang perlahan berhenti sepenuhnya, menyisakan langit yang mulai dipenuhi bintang.

Kami kembali menatap laut. Tidak ada yang tahu berapa panjang sebenarnya waktu yang kami punya. Saat itu, aku tidak memikirkannya. Bagiku, masa depan masih terasa seperti sesuatu yang pasti datang. Dan kami yakin akan berada di sana bersama.

---

"Terus, terus," katanya tidak sabar, "Habis itu Om bayarin mie ayamnya gak?"


Bertahun-tahun kemudian, aku berdiri lagi di depan makamnya, tapi kali ini tidak sendirian.

Di sampingku, anak perempuanku—yang sudah menginjak usia remaja, dengan gaya bicara yang jauh lebih ceplas-ceplos daripada aku waktu seusianya—berjongkok, memperhatikan nama yang terukir di batu itu dengan penasaran. Wajahnya mirip banget denganku, tapi senyumnya... senyumnya mengingatkanku pada seseorang.

Aku tersenyum ringan, membelai rambut anak perempuanku itu. "Ya dibayarin lah. Masa Papa yang bayar, kan motor dia yang mogok."

Anakku tertawa keras setelah mendengar semua cerita barusan, sampai harus menutup mulutnya sendiri. Aku menghela napas, menatap batu nisan itu dengan perasaan campur aduk antara haru dan hangat.

Anakku terdiam sebentar, senyumnya perlahan berubah lebih lembut, matanya sedikit berkaca-kaca meski masih tersenyum.

"Sayang ya," gumamnya, "jadinya kan nggak kesampaian. Aku nggak bisa temenan sama anaknya Om."

"Iya," aku mengelus rambutnya kembali. "Tapi setidaknya, kamu sekarang tahu, seperti apa dia orangnya."

Anakku mengangguk, lalu mengulurkan tangan, mengelus permukaan nisan itu pelan, seperti mengelus kepala seseorang yang sedang tertidur.

"Ternyata Om tuh kayak gitu ya orangnya... Kayaknya Om seru... Makasih ya, Om," bisiknya, "udah nemenin Papa waktu masih muda dulu. Makasih udah jadi sahabat terbaik Papa."

Aku hanya menatap semua itu dalam diam, dengan senyum tipis dan mata yang mulai memanas. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dada. Sedih, tentu saja. Tapi anehnya, kali ini tidak terasa sesakit dulu. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan rerumputan di sekitar makam, seolah menjawab ucapan anakku barusan.

"Pa," anakku berdiri, menepuk lututnya, mood-nya kembali ringan seketika seperti biasa. "Aku jadi laper gara-gara denger cerita soal mie ayam tadi."

Aku tertawa. "Mau makan mie ayam?"

"Iya! Sekalian buat mengenang si Om," katanya sambil nyengir lebar, persis seperti seseorang yang pernah kukenal dulu.

Aku tertawa kecil, mengacak pelan rambutnya. "Yuk. Papa tahu tempat mie ayam yang enak gak jauh dari sini."

Kami berjalan meninggalkan makam, dan sebelum benar-benar pergi, aku menoleh sekali lagi ke arah makam itu.

Makam itu masih terlihat di antara pepohonan. Dalam hati, aku merasa lega. Kami memang tidak pernah sempat memenuhi semua janji masa muda kami. Kami tidak pernah menjadi best man satu sama lain, kami tidak pernah tumbuh tua bersama. Anak kami juga tidak pernah menjadi teman seperti yang dulu kami bayangkan di pinggir pantai.

Tapi setidaknya... Aku masih bisa membawa kenangan tentang dirinya. Dan sekarang, kenangan itu tidak lagi hanya milikku. Aku sudah memperkenalkan sahabat terbaikku kepada anakku.

Mungkin itu bukan masa depan yang dulu kami bayangkan. Tapi mungkin... Ini adalah salah satu cara kecil untuk menepati janji.

Aku tersenyum, lalu berbalik dan menyusul putriku. Kami berjalan pulang bersama. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa seperti benar-benar menatap masa depan bersamanya.


---

Writer's note :

Jadi gw nulis cerita ini, entah ini bisa disebut sequel, atau prequel, atau keduanya, karena terlalu banyak complaint di cerita original nya, yg link nya gw taro di awal cerita. Kata orang2, terlalu sedih.

Sejujurnya, original story nya pun merupakan cerita paling sedih yang pernah gw tulis. Even gw sempet terbawa suasana ketika menulisnya, dan setelah mempublikasikan nya.

Jadi makanya gw tulis cerita ini, untuk sedikit uplifting the mood.

Also, kisah asli yg menginspirasi series ini - aslinya happy ending kok. I hope this fact juga bisa membantu uplifting the mood. Gw taro kisah asli yg menginspirasi kedua kisah ini di bagian "writer's note" di bagian cerita original.

Finally, gw harap siapapun yg membaca kedua cerita ini, yang saat ini sedang berkonflik dengan sahabat, keluarga, atau saudara, dapat menemukan resolusi tebaik... Untuk melangkah menuju masa depan...

I wish you all happiness...

Theme song yg gw dengerin sambil baca ulang seluruh series ini :

Lian Xi