Index of Eldareth saga : https://magister9.blogspot.com/2026/06/the-eldareth-saga.html
Hutan di pinggiran Biara Elaris sore itu terasa begitu mencekam. Marienne, anak yatim piatu yang sebelumnya dirawat oleh panti asuhan di biara Elaris, yang kala itu sudah mengenakan jubah putih polos seorang Sister Trainee, mendekap keranjang rotannya dengan tangan bergetar. Di sekelilingnya, sepasang demi sepasang mata merah menyala menembus semak-semak. Serigala-serigala liar bertubuh besar telah mengepungnya, menggeram rendah, siap mengoyak mangsa yang tak berdaya.
Dalam kepanikan yang memuncak, Marienne melangkah mundur. Krak! Kakinya menginjak ranting kering. Suara kecil itu memecah kesunyian, dan sedetik sebelum kawanan serigala itu melompat menerkam, sekelebat bayangan hitam melesat secepat kilat.
Sepasang lengan yang kokoh namun dingin tiba-tiba mendekap tubuh Marienne, menariknya ke dalam pelukan yang protektif. Aroma herbal yang pekat langsung memenuhi indra penciumannya. Itu Alarion.
"Tutup matamu, Marienne! Sebisa mungkin, tutup telingamu!" bisik Alarion tajam, langsung di telinga gadis itu.
Marienne memejamkan mata rapat-rapat dan menekan kedua telinganya dengan telapak tangan sekuat tenaga. Di dalam kegelapan pandangannya, ia mendengar suara sret tajam—Alarion menggores tangannya sendiri, membiarkan darah sang Dark Saint mengalir.
Kemudian, sebuah lantunan dimulai:
Di atas nadi yang fana, kutumpahkan darah ini sebagai cermin atas segala luka.
Wahai Nokhtar, Bayang dari Luxius, biarkan keheningan-Mu yang dingin merayap.
Hentikan napas yang bergerak, runtuhkan terang yang membutakan dunia.
Tarik jiwa mereka ke dalam hampa, renggut dalam pelukan-Mu yang gulita!
Itu adalah nyanyian kutukan. Seharusnya, melodi itu membawa teror dan kematian. Namun, sekeras apa pun Marienne berusaha menyumbat telinganya, getaran suara Alarion tetap menyusup masuk melalui celah jemarinya. Anehnya, di balik rasa takut yang mencekam, Marienne justru merasa nyanyian kutukan itu begitu indah. Sebuah simfoni gelap yang megah, magis, dan memikat.
Namun, keindahan itu menuntut harga yang mengerikan.
Begitu baris terakhir selesai dilantunkan, keheningan total mencekik hutan. Kawanan serigala itu ambruk, mati seketika tanpa luka luar. Rumput hijau di bawah kaki mereka menghitam, dan pepohonan di sekitar Alarion langsung layu, mengering seolah energinya dihisap habis.
Alarion membalikkan badannya dengan napas terengah-engah, berniat memeriksa keadaan Marienne. Namun, wajah sang Dark Saint seketika berubah pucat pasi. Marienne sudah terkapar di atas tanah yang layu, tubuhnya kejang-kejang hebat. Darah segar mengalir deras dari kedua matanya, hidungnya, mulutnya, bahkan dari lubang telinganya. Efek sisa dari nyanyian kutukan itu terlalu masif untuk ukuran manusia biasa.
"Marienne!" Teriak Alarion penuh kepanikan yang jarang ia tunjukkan. Tanpa memedulikan jubahnya yang ternoda, ia segera menggendong tubuh lemah gadis itu dan berlari sekencang mungkin menuju tempat pengobatan di dalam Biara Elaris.
Tiga hari lamanya Marienne terjebak dalam koma. Tiga hari pula ruang pengobatan biara diselimuti aura ketegangan, sebab sang Dark Saint sendiri tak pernah sedetik pun beranjak dari sisi ranjang Marienne. Alarion terus berjaga, menolak beristirahat, dan berulang kali menanyakan perkembangan kondisi Marienne kepada para tabib dengan nada cemas yang tertahan.
Pada hari keempat, kelopak mata Marienne bergerak perlahan. Saat matanya terbuka sepenuhnya, sosok pertama yang ia lihat adalah Alarion, duduk di sampingnya dengan wajah yang tampak begitu lelah dan dipenuhi rasa bersalah.
"Kau sudah sadar," suara Alarion terdengar berat. Ia menghela napas panjang, menatap tangannya sendiri dengan getir. "Kekuatan seorang Dark Saint ternyata begitu dahsyat... bahkan telinga yang tertutup rapat dan mata yang terpejam tidak mampu membendungnya. Aku sangat menyesal, Marienne. Karena aku, kau harus terluka parah seperti ini."
Marienne, meski tubuhnya masih lemas, memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya. Ia menggeleng perlahan. "Jangan menyalahkan diri Anda, Tuan Alarion... Itu bukan salah Anda sama sekali. Itu adalah pilihan terbaik yang bisa kita ambil saat itu. Jika Anda tidak datang dan melantunkan nyanyian itu, mungkin saat ini saya sudah habis dimakan serigala."
Alarion menatap Marienne dalam-dalam, lalu dengan gerakan perlahan dan hati-hati—seolah takut tangannya akan menyakiti gadis itu lagi—ia mengusap rambut Marienne sebentar. "Lain kali, kamu harus lebih hati-hati. Dan sebisa mungkin... jangan pernah berdekatan denganku lagi," ucapnya lirih sebelum akhirnya berdiri dan berlalu meninggalkan ruangan.
Setelah Alarion pergi, Marienne mencoba menggerakkan tubuhnya. Di situlah ia menyadari sesuatu yang aneh.
Sejak kecil, Marienne terlahir dengan beberapa kecacatan fisik. Paru-parunya lemah, membuatnya sering kehabisan napas. Mata kirinya selalu kabur, dan telinga kirinya pun agak tuli. Namun saat ia menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa lapang dan kuat. Ketika ia menutup mata kanannya, pandangan mata kirinya ternyata begitu jernih. Telinga kirinya pun kini bisa mendengar detak jarum jam di sudut ruangan dengan sangat jelas.
Hantaman kutukan Alarion justru menyembuhkan semua cacat bawaannya.
Marienne tercengang. Ia mengingat kembali sensasi luar biasa saat nyanyian kutukan itu menembus indranya. Rasa terbakar, sesak, dan mual yang ia rasakan sebelum tidak sadarkan diri... rasanya sangat familiar. Sesaat kemudian, memorinya berputar ke masa kecilnya, saat ia memakan beberapa jenis buah liar dan mengalami keracunan kombinasi beberapa racun. Tentu saja, keracunan masa lalu itu tidak ada apa-apanya dibanding kutukan dahsyat Alarion, tapi secara biologis, efek samping dan sensasi tubuhnya benar-benar mirip!
Sebuah kesimpulan radikal melesat di kepala Marienne: Jika efek kutukan sang Dark Saint bekerja layaknya racun yang menyerang sistem tubuh, dan dosis yang 'tepat' justru merestrukturisasi organku yang rusak hingga sembuh... bukankah itu berarti racun pun punya potensi untuk menjadi obat?
Sejak hari itu, Marienne terobsesi. Peringatan Alarion untuk menjauh justru ia abaikan sepenuhnya. Ia mulai menenggelamkan diri dalam ilmu toksikologi—sebuah bidang yang dianggap tabu, menjijikkan, dan dilarang keras untuk dibicarakan secara terbuka oleh para tabib ortodoks di Biara Elaris.
"Suster Trainee tidak boleh menyentuh catatan zat berbahaya!" usir seorang tabib tua suatu kali.
Namun Marienne tidak kenal kata menyerah. Di malam hari, ia mengendap-endap mengumpulkan catatan kecil yang dibuang, mencuri dengar pembicaraan para tabib, dan mengamati tanaman-tanaman beracun di halaman belakang. Tak jarang, ia sengaja mencegat Alarion di koridor biara atau di tepi danau, menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan aneh.
"Tuan Alarion, saat darah Anda mengalir untuk mengutuk, apakah detak jantung Anda melambat?"
"Tuan Alarion, apakah rasa dingin dari sihir Anda bisa membekukan cairan tubuh, atau hanya menghentikan sirkulasinya?"
Alarion awalnya hanya merespons dengan tatapan dingin atau usiran halus, namun kegigihan Marienne yang keras kepala perlahan membuat sang Dark Saint menyerah dan sesekali menjawab pertanyaan teoretis gadis itu. Marienne semakin yakin dengan hipotesisnya: garis batas antara penawar dan pembunuh hanyalah masalah takaran dan kombinasi.
Beberapa bulan berlalu. Sore itu, Marienne sedang duduk di bangku taman biara, merapikan lembaran-lembaran catatan toksikologinya yang semakin tebal. Pena bulunya menari-nari, mengkategorikan jenis racun dan potensi medisnya.
Tiba-tiba, suasana tenang itu pecah oleh suara tangisan histeris dari gerbang biara.
Marienne menoleh. Dari kejauhan, seorang pria tua berpakaian kumal tampak berlari tertatih-tatih sambil menggendong seorang anak kecil. Anak itu terlihat sangat sekarat—tubuhnya lemas bak kain basah, napasnya putus-putus, dan wajahnya membiru.
Pria tua itu langsung ambruk bersujud di hadapan Alarion yang kebetulan sedang berjalan di dekat sana.
"Tuan... tolong... aku tahu Anda bukan lagi Saint yang dulu... Tapi aku tak tahu ke mana lagi harus pergi!" ratap pria tua itu sambil mencium lantai batu, memohon mukjizat yang mustahil.
Alarion mundur selangkah, menatap telapak tangannya sendiri dengan sorot mata yang penuh kepedihan. "Aku tidak bisa menyembuhkan," ucap Alarion, suaranya terdengar begitu hampa dan pahit. "Doaku membawa kutukan. Sentuhanku hanya akan membuat anakmu mati lebih cepat."
Melihat keputusasaan di depan matanya, jantung Marienne berdegup kencang. Ia melihat gejala pada anak itu—napas yang tercekik, penyempitan saluran udara yang ekstrem. Ini adalah serangan akut yang hanya bisa distimulasi balik oleh zat yang sangat keras.
Marienne langsung membereskan catatannya, bangkit berdiri, dan berlari sekencang mungkin menghampiri orang tua itu dan Alarion.
"Tunggu!" seru Marienne terengah-engah, memotong keputusasaan yang menggantung di udara.
Alarion menatap Marienne dengan dahi berkerut, memberi isyarat agar gadis itu mundur demi keselamatannya sendiri. Namun Marienne justru melangkah maju, berlutut di samping anak yang sekarat itu, lalu mendongak menatap Alarion dengan mata yang berbinar penuh keyakinan.
"Penyakit anak ini... tubuhnya mengalami kegagalan sistem, Tuan Alarion. Dan sihir penyembuhan biasa tidak akan bisa menembus sumbatan di dadanya," kata Marienne tegas. "Kita butuh sesuatu yang ekstrem untuk mengejutkan sistem tubuhnya agar kembali bekerja. Sesuatu yang menyerupai racun tanaman Werewolf’s Bane, tapi tanaman itu mustahil ditemukan di musim seperti ini..."
Marienne menarik napas dalam, memantapkan hatinya untuk sebuah eksperimen gila yang selama ini hanya ada di atas kertas catatannya.
"Biarkan saya yang mengobati anak ini... dengan racun murni dari kutukan Anda, Tuan Alarion..."