Thursday, May 28, 2026

Eldareth - Requiem of the Dark Saint


Seribu tahun telah berlalu sejak nama Alarion mengguncang benua Eldareth.

Waktu telah mengikis kerajaan, menenggelamkan kota-kota tua ke dalam tanah, dan mengubah nama-nama besar menjadi doa yang bahkan tak lagi dipahami maknanya. Dinasti runtuh. Bahasa berubah. Perang-perang besar tinggal menjadi fragmen legenda yang diwariskan setengah percaya.

Namun ada satu hal yang tetap bertahan melewati abad demi abad.

Ordo Lux Noctis.

Kini ordo itu tak lagi dikenal hanya sebagai penjaga mukjizat suci. Di bawah lambang matahari dan bulan yang saling melingkar, para tabib Lux Noctis mempelajari dua hal sekaligus: cara menyembuhkan… dan cara memahami racun.

Karena selama seribu tahun, dunia perlahan belajar bahwa cahaya tanpa bayangan akan membutakan. Dan bayangan tanpa cahaya hanya melahirkan kehancuran.

Di sebuah desa kecil jauh di selatan, hidup seorang anak laki-laki bernama Lucien.

Ia bukan anak yang bisa diam.

Pagi-pagi sekali ia sudah memanjat atap rumah demi mengambil jamur embun yang tumbuh di sela genting basah. Saat matahari naik, ia berlari ke hutan dengan keranjang penuh akar liar dan daun obat. Dan ketika malam tiba, saat anak-anak lain terlelap, Lucien justru duduk di samping tungku bersama kakeknya sambil mengaduk cairan herbal berwarna aneh.

“Kau salah menakar.”

Suara sang kakek terdengar datar dari balik kepulan uap.

Lucien bahkan tidak menoleh. “Enggak salah.”

“Kau menuang terlalu banyak ekstrak duskroot.”

“Memang sengaja.”

Sang kakek akhirnya mengangkat kepala. “Kau mau meracuni pasien?”

Lucien tersenyum kecil, seolah pertanyaan itu terlalu mudah.

“Kalau duskroot dicampur madu pahit lalu direbus terlalu lama, racunnya pecah. Sisanya justru bikin demam turun lebih cepat.”

Ruangan itu mendadak hening, hanya diisi bunyi kayu terbakar.

Sang kakek menatap cucunya cukup lama sebelum mengembuskan napas pelan.

Anak ini aneh.


Bukan aneh dalam arti buruk. Justru sebaliknya—terlalu cepat memahami sesuatu yang bahkan orang dewasa sering gagal pahami. Lucien tidak melihat racun sebagai sesuatu yang jahat. Baginya, racun hanyalah bentuk lain dari obat yang belum dimengerti.

Dan itu membuat sang kakek gelisah sekaligus kagum.

Karena dulu, sangat lama sekali, ia pernah mendengar cerita tentang seseorang yang berpikir seperti itu.

Tentang seorang Dark Saint.

Beberapa bulan kemudian, setelah banyak pertimbangan, sang kakek menulis sebuah surat pengantar di atas perkamen tua menggunakan tinta hitam pekat.

Surat itu ditujukan kepada Ordo Lux Noctis cabang utama di Eldareth.

Kepada mereka yang masih menjaga ajaran Sang Dark Saint.

Lucien nyaris tidak bisa tidur pada malam sebelum keberangkatannya.

Bukan karena takut.

Ia terlalu bersemangat.

Perjalanan menuju Eldareth memakan waktu berminggu-minggu. Kapal dagang yang ia tumpangi beberapa kali dihantam badai laut utara hingga seluruh lambungnya berderit seperti akan patah. Udara asin terus menempel di rambut dan pakaiannya. Banyak penumpang jatuh sakit akibat mabuk laut.

Lucien justru menikmati semuanya.

Ia menghabiskan sebagian besar waktunya bertanya pada awak kapal tentang penyakit laut, jamur yang tumbuh di kayu lambung, dan alasan luka tertentu membusuk lebih cepat di udara lembap. Kadang-kadang ia malah membantu membersihkan luka para pelaut hanya karena penasaran dengan warna infeksi mereka.

Anehnya, para awak kapal menyukainya.

Anak itu terlalu tulus untuk dianggap mengganggu.

Dan akhirnya, pada suatu sore berkabut, Lucien melihat menara-menara Ordo Lux Noctis untuk pertama kali.

Biara itu berdiri di atas bukit batu hitam yang menghadap laut utara. Kubah-kubah putih menjulang di antara menara obsidian gelap yang berkilau samar terkena cahaya senja.

Anehnya, tempat itu tidak terasa menyeramkan.

Justru damai.

Seolah cahaya dan bayangan memang sejak awal ditakdirkan berdampingan.

Para biarawan dan suster menerima Lucien dengan hangat setelah membaca surat dari kakeknya. Ia diberi kamar kecil di salah satu asrama murid—tak besar, tapi nyaman. Jendelanya menghadap taman dalam biara, dan aroma herbal samar memenuhi udara.

Namun bahkan setelah membereskan barang-barangnya, Lucien tetap tak bisa diam.

Rasa penasarannya terlalu besar.

Ia keluar lagi dan mulai menjelajahi biara sendirian.

Lorong-lorong batu membentang panjang di bawah cahaya lilin. Tangga spiral tua menghubungkan aula doa, ruang pengobatan, dan perpustakaan besar yang luasnya bahkan mungkin melebihi seluruh desanya.

Semakin jauh berjalan, mata Lucien semakin berbinar.

Sampai tanpa sadar, langkahnya membawanya ke bagian terdalam biara.

Wilayah itu sunyi.

Tak ada suara murid. Tak ada denting lonceng doa. Hanya angin dingin yang berembus perlahan melewati taman batu.

Di tengah taman itu berdiri sebuah pohon besar yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Lucien berhenti melangkah.

Batang pohon itu hitam keunguan, seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Duri-duri panjang melingkar di sepanjang batangnya seperti taring makhluk hidup. Namun daun-daunnya justru berwarna hijau keperakan dan berkilau lembut diterpa matahari sore.

Bunga-bunganya kecil dan putih pucat.

Indah.

Dan aromanya…

Lucien menarik napas perlahan.

Manis. Hangat. Sedikit pahit.

Aroma yang anehnya terasa menenangkan.

“Cantik sekali…” gumamnya pelan.

Rasa penasaran mendorongnya melangkah lebih dekat. Tangannya perlahan terangkat ke arah batang berduri itu.

Lalu seseorang menarik pergelangan tangannya dari belakang.

Gerakannya cepat.

Terlalu cepat.

Lucien refleks menoleh.

Seorang suster berdiri di belakangnya.

Rambutnya hitam panjang, dengan semburat ungu samar saat terkena cahaya senja. Wajahnya tampak muda—mungkin tak lebih dari tujuh belas tahun—namun sorot matanya terasa begitu tenang hingga sulit ditebak usianya.

Matanya terasa tua.

“Jangan disentuh,” katanya lembut.

Lucien berkedip kaget. “Eh?”

Suster itu melepaskan tangannya perlahan lalu menatap pohon di hadapan mereka.

“Getahnya menghentikan denyut jantung sebelum rasa sakit sempat mencapai otak.”

Nada suaranya tenang. Hampir lembut.

Namun entah kenapa justru membuat tengkuk Lucien meremang.

Ia spontan mundur setengah langkah.


“Serius?”

Suster itu mengangguk kecil.

“Tapi daun, bunga, dan buahnya adalah bahan obat yang sangat berharga,” lanjutnya. “Bahkan racunnya sendiri bisa menjadi obat yang luar biasa… jika diolah dengan benar.”

Lucien kembali menatap pohon itu.

Namun kali ini bukan dengan rasa takut.

Melainkan kagum.

“Jadi…” katanya perlahan, “hal paling mematikan dari pohon ini justru bisa menyelamatkan orang?”

“Ya.”

“Dan orang baru bisa memahami cara mengubah racun menjadi obat… kalau mereka benar-benar memahami betapa mematikannya racun itu?”

Untuk pertama kalinya, suster itu tersenyum tipis.

Senyum kecil yang terasa sangat sunyi.

“Kau cepat mengerti.”

Lucien tertawa kecil, sedikit malu namun jelas antusias. Entah kenapa, percakapan singkat itu terasa seperti membuka pintu baru di dalam pikirannya. Semua rasa ingin tahunya yang selama ini liar dan tak terarah mendadak terasa menemukan bentuk.

Ia membungkuk hormat.

“Terima kasih sudah menyelamatkan saya, Sister.”

Suster itu mengangguk pelan.

“Siapa nama Sister?” tanya Lucien.

Hening sesaat.

Angin berembus perlahan di antara daun-daun keperakan.

“Sister Marienne.”

Nama itu terasa asing. Namun ada sesuatu dalam cara ia mengucapkannya yang membuat nama itu terdengar berat, seolah membawa waktu yang terlalu panjang.

Tapi Lucien tidak terlalu memikirkannya.

Ia hanya tersenyum cerah.

“Saya Lucien. Mohon bimbingannya mulai sekarang!”

Lalu ia pergi dengan langkah ringan, kembali menyusuri koridor batu sambil terus menoleh kagum ke berbagai arah.

Sister Marienne memandangi punggung anak itu sampai menghilang di balik lorong.

Setelah cukup lama, barulah ia menoleh ke arah pohon besar di sampingnya.

Tatapannya melembut.

“Alarion…” bisiknya pelan.

Daun-daun pohon itu bergoyang perlahan.

Padahal angin telah berhenti.

“Satu milenium akhirnya terasa tidak sia-sia.”

Tangannya terangkat, menyentuh batang hitam penuh duri itu tanpa ragu.

Tak ada luka muncul di kulitnya.

Tak ada racun yang bereaksi.

Karena selama seribu tahun terakhir, darah yang mengalir di tubuh Sister Marienne tak lagi sepenuhnya manusia.

Pada malam kematian Alarion, racun sang Dark Saint telah menyatu ke dalam dirinya—perlahan menggantikan darah, tulang, bahkan denyut hidupnya sedikit demi sedikit. Kutukan itu seharusnya membunuhnya dalam hitungan hari.

Namun Marienne bertahan.

Dan sejak saat itu, tubuhnya menjadi sesuatu yang tak pernah benar-benar hidup… namun juga tak mampu mati.

Racun dalam dirinya kini sejenis dengan getah pohon itu.

Itulah sebabnya duri-duri Alarion tak lagi melukainya.

Karena pohon itu memang adalah Alarion.

Tubuh terakhir Sang Dark Saint telah menyatu dengan tanah Eldareth seribu tahun lalu. Dagingnya membusuk menjadi akar. Darahnya berubah menjadi racun hitam yang mengalir di dalam batang dan duri. Dan jiwanya tetap tertinggal di antara cabang-cabang yang terus hidup melewati zaman.


Lux Noctis merahasiakan kebenaran itu selama berabad-abad.

Bagi dunia, pohon tersebut hanyalah tanaman suci kuno yang dijaga para tabib ordo.

Tak ada yang tahu bahwa mereka sebenarnya sedang berdiri di hadapan jasad seorang saint.

Untuk sesaat, cahaya matahari sore menembus sela daun keperakan dan membentuk bayangan menyerupai sosok manusia berjubah panjang.

Dan untuk pertama kalinya sejak era para saint berakhir…

pohon itu kembali berbunga.

Wednesday, May 20, 2026

The Price of Glory

That day, you told me that you were victorious,
your eyes radiating a certain sorrow I can't forget.
I wonder, at what cost does your glory come?
Was it really worth the sacrifice?



Monday, May 18, 2026

Dua Mama dan Dua Papa

Gaun putih ini akhirnya benar-benar ada di badan gue. Setelah semua fitting, revisi, drama ukuran, dan panik soal dekor yang sempat bikin grup keluarga rame seminggu terakhir.

Lucu juga, sekarang gue malah duduk sendirian di depan cermin, sementara ruangan ini akhirnya sepi untuk pertama kalinya hari ini.

Sebentar lagi gue menikah. Sebentar lagi hidup gue berubah lagi.


Dan entah kenapa, di momen kayak gini, pikiran gue malah pergi jauh ke belakang ke hidup gue sendiri, ke keluarga gue.

Dari kecil, gue selalu diajarin — atau mungkin lebih tepatnya, dunia selalu ngajarin gue — kalau keluarga sempurna itu terdiri dari ayah, ibu, dan anak; Satu rumah, satu meja makan, satu foto keluarga.

Dan hidup memang kadang enggak adil.

Ada orang yang lahir di keluarga utuh. Ada yang bahkan enggak pernah sempat kenal ayahnya. Ada yang kehilangan ibunya terlalu cepat. Ada juga yang tumbuh sambil pura-pura kuat tiap kali lihat satu kursi kosong di meja makan.

Dulu waktu kecil, gue sempat takut banget waktu tahu papa dan mama gue mau cerai. Takut jadi “anak broken home.” Takut hidup gue nanti penuh pertengkaran. Takut harus milih tinggal sama siapa. Takut jadi anak yang kesepian.

Karena dari yang gue lihat waktu itu, perceraian selalu digambarkan seperti akhir dari segalanya buat seorang anak.

Tapi ternyata, hidup gue enggak seperti itu.

Papa dan mama gue memang berpisah. Tapi anehnya, mereka enggak pernah benar-benar saling membenci. Gue enggak pernah lihat mereka jelek-jelekin satu sama lain di depan gue. Enggak pernah ada perang dingin yang bikin rumah terasa sesak. Enggak ada rebutan ego.

Yang ada justru dua orang dewasa yang, meskipun gagal jadi pasangan, tapi sukses sebagai teman baik dan sebagai orang tua.

Dan makin gue gede, makin gue sadar, mungkin itu salah satu bentuk cinta paling dewasa yang pernah gue lihat.

Gue masih inget pertama kali papa ngenalin pacarnya ke gue. Papa keliatan gugup banget waktu itu.

“Kalau kamu nggak nyaman, bilang ya,” katanya hati-hati.

Tapi lucunya… gue nyaman banget malah. Mama tiri gue orangnya hangat, cerewet, dan punya kebiasaan diam-diam nambahin lauk ke piring gue kalau dia merasa gue lagi banyak pikiran.

Enggak lama kemudian, mama juga ngenalin pacarnya. Dan lucunya lagi, dia juga baik. Tipe orang yang selalu bawain charger cadangan. Selalu nyetirin kalau hujan. Dan hafal pesanan kopi gue tanpa perlu nanya lagi.

Kadang gue masih heran sendiri. Harusnya semua ini rumit. Harusnya ada drama. Harusnya gue bingung harus sayang ke siapa. Tapi hidup gue malah terasa penuh.

Waktu papa kandung gue menikah lagi, gue ikut naik ke pelaminan. Waktu mama gue menikah lagi pun sama.

Dan anehnya, gue enggak pernah merasa kehilangan siapa-siapa. Karena enggak ada yang digantikan. Hati gue cuma bertambah besar.

Yang paling lucu justru hubungan mereka semua. Mama kandung gue sama mama tiri gue malah akrab banget. Kadang mereka pergi berdua. Kadang girls night out bertiga sama gue. Kadang video call tengah malam cuma buat ngerumpiin drama absurd di grup WhatsApp keluarga.

Dan setiap kali itu terjadi, gue selalu merasa hidup gue kayak sitkom keluarga absurd yang ditulis orang iseng tapi berhati lembut.


Papa kandung gue sama papa tiri gue memang lebih canggung. Namanya juga bapak-bapak. Bonding mereka biasanya berupa ngopi bareng, ngobrol soal mobil, atau debat receh soal jalan tercepat buat pulang. Dan gue tahu, kadang mereka juga diskusi soal tumbuh kembang gue.

Jarang banget mereka jalan bertiga sama gue. Tapi pernah beberapa kali. Dan entah kenapa, momen-momen kecil kayak gitu selalu terasa hangat banget.

Mereka mungkin enggak terlalu ekspresif. Tapi gue tahu mereka saling menghormati. Dan itu terasa di interaksi dan keseharian mereka.

Gue menunduk pelan sambil mainin ujung veil gue.

Hari ini semua orang sempat bingung gara-gara satu permintaan gue. Gue mau yang nganter gue ke altar pemberkatan itu dua papa gue sekaligus.

Awalnya papa tiri gue langsung nolak halus. “Papa kandung kamu aja ya,” katanya sambil senyum kecil. “Itu memang hak beliau.”

Tapi gue langsung geleng. “Enggak bisa.”

“Kenapa?” tanya dia pelan.

Karena buat gue… memang enggak bisa.

Gimana caranya gue milih satu ayah, sementara hidup gue dibesarkan oleh dua laki-laki yang sama-sama sayang sama gue tanpa syarat?

Papa kandung gue yang ngajarin gue naik sepeda. Papa tiri gue yang nungguin gue semalaman di IGD waktu gue kena demam berdarah. Papa kandung gue yang pertama kali gendong gue. Papa tiri gue yang diam-diam nangis waktu gue diterima kerja pertama kali.

Dan gue sadar... Cinta ternyata enggak selalu biologis. Kadang cinta itu cuma konsistensi kecil yang dilakukan bertahun-tahun tanpa banyak suara.


Yang paling semangat mendukung ide gue justru kedua mama gue.

“Udah, berdua aja antar anak kita,” kata mama kandung gue.

“Iya lah,” sahut mama tiri gue cepat. “Memangnya cuma satu yang sayang sama dia?”

Bahkan papa kandung gue ikut nepuk pundak papa tiri gue sambil ketawa kecil. “Udah. Kita gantian kalau gugup.”

Dan tadi, waktu prosesi latihan kecil sebelum acara dimulai, gue hampir gagal nahan ketawa.

Di belakang gue, mama kandung sama mama tiri gue malah sibuk bergosip sambil cekikikan lihat dua bapak-bapak itu tegang luar biasa.

“Tuh kan, jalan aja masih kaku,” bisik mama tiri gue.

“Padahal yang nikah anaknya, bukan mereka,” balas mama kandung gue sambil ketawa pelan.

Dan gue cuma bisa senyum geli sambil nahan haru.

Mungkin beginilah rasanya dicintai terlalu banyak orang. Dan nanti, waktu resepsi dimulai, gue juga sudah minta satu hal lagi. Gue mau keempat orang tua gue naik bersama ke atas panggung. Bukan dipisah. Karena di hati gue, enggak pernah ada label “kandung” atau “tiri.”

Yang ada cuma orang-orang yang memilih tinggal, memilih sayang, dan memilih jadi keluarga.

Awalnya semua orang sempat ragu.

“Emang nggak aneh?” tanya salah satu panitia pelan.

Tapi yang pertama kali bilang “ayo” justru mama tiri gue.

“Naik berempat aja lah,” katanya enteng. “Sekali-sekali bikin orang bingung.”

Gue langsung ketawa waktu dengar itu.

Dan sekarang, duduk di depan cermin ini, Mata gue mulai panas. Karena gue sadar sesuatu. Di dunia yang penuh cerita tentang perpisahan, pertengkaran, dan keluarga yang saling melukai, gue justru tumbuh dengan sesuatu yang langka.

Bukan dua orang tua. Tapi empat. Dan semuanya, dengan cara mereka masing-masing, memilih buat mencintai gue dengan utuh.

Tok tok tok. Pintu ruang rias gue diketuk perlahan.

“Nadya,” suara wedding organizer terdengar lembut dari luar. “Sebentar lagi mulai ya.”

Gue menarik napas panjang, lalu berdiri pelan sambil senyum kecil ke pantulan diri gue sendiri di cermin.

“Okay,” jawab gue pelan.

Dan untuk pertama kalinya hari ini, gue merasa benar-benar siap berjalan menuju altar — diantar oleh seluruh hidup yang selama ini menjaga gue.

Sebuah Déjà Vu

Sejak kecil, sampai sekarang, gue selalu takut sama perubahan.

Setiap kali dihadapkan pada fase coming of age, lulus sekolah, atau momen harus meninggalkan zona nyaman, rasanya dada ini sesak banget. Gue tipe orang yang gampang attached sama lingkungan yang udah bikin gue merasa safe and comfort. Dulu, saking takutnya kehilangan momen-momen indah itu, gue bahkan sempat merasa down. Gue harus berjuang setengah mati cuma buat coping dengan situasi baru yang dipaksakan oleh waktu.

Gue selalu berpikir bahwa ketika sebuah fase hidup selesai, maka kebahagiaan di dalamnya juga ikut mati.

Tapi hari ini, di umur gue yang sudah menyentuh 36 tahun, pemikiran itu patah total.

Hari ini gue baru aja selesai bantu-bantu ngurusin sebuah event bazar. Konsepnya semi non-profit, jadi suasananya kerasa hangat banget. Di akhir acara, gue bareng tim volunteer sibuk beberes. Tangan gue sendiri ikut turun tangan membongkar dan merapikan mading (majalah dinding) yang dipajang selama acara.


Pas lagi keringetan sambil gulung kabel dan beresin papan mading itulah, tiba-tiba ada perasaan familiar yang menghantam gue.

Déjà vu. Rasa ini... rasanya persis banget kayak momen belasan tahun lalu.

Pikiran gue langsung terbang ke masa-masa SMA. Masa di mana gue masih jadi anak OSIS yang sibuk ngurusin Pensi (Pentas Seni). Rasa lelah yang bercampur puas, candaan random di sela-sela beres-beres, dan kebersamaan tanpa sekat dengan tim—semuanya hadir di sini. Hari ini.

Dulu gue pikir, setelah lewat umur kepala tiga, momen-momen enjoyment yang murni kayak zaman sekolah dulu bakalan hilang selamanya. Gue pikir hidup bakal berubah jadi rutinitas dewasa yang kaku dan membosankan.

Nyatanya? Enggak juga.

Hari ini gue belajar satu hal penting tentang hidup: Kita sebenarnya enggak perlu setakut itu sama perubahan.

Memang benar, ada kalanya sebuah fase bahagia itu akan berhenti.
Memang benar, kita enggak bisa selamanya tinggal di tempat yang sama.
Tapi, perubahan bukan berarti akhir dari segalanya.

Rasa itu bisa datang lagi.

Dalam bentuk lain.
Di tempat lain.
Dengan orang lain.
Di umur yang bahkan nggak pernah kita bayangin sebelumnya.

Perubahan itu cuma antrian yang silih berganti. Waktu mungkin merenggut masa lalu kita, tapi hidup selalu punya cara magis untuk membawa kita rehearsing that kind of experience, di waktu yang enggak terduga, dan dengan orang-orang yang baru.

Gue yang umur 36 tahun hari ini, berhasil ketemu lagi sama "anak OSIS" yang dulu sempat gue tangisi kepergiannya. Dia enggak hilang. Dia cuma nunggu momen yang tepat buat kembali menyapa.

Jadi, buat siapa pun yang hari ini lagi takut setengah mati menghadapi perubahan: relax. Tempatnya mungkin berubah, tapi kebahagian nya tetap sama.

Saturday, May 9, 2026

Jangan Pulang Terlalu Cepat

Malam itu pos ronda sudah dicat ulang.

Cat hijaunya masih terlalu baru. Terlalu bersih. Terlalu bukan kami.

Lampu LED putih dipasang menggantikan bohlam kuning redup yang dulu suka kedip-kedip kayak mau mati tapi keras kepala bertahan. Bangkunya juga beda. Dulu kayu panjang yang bunyinya “kriyet” tiap ada yang duduk terlalu semangat. Sekarang besi hollow. Dingin. Kaku.


Aku duduk sendiri sambil nyalain rokok.

Jam setengah dua pagi.

Kereta terakhir baru lewat beberapa menit lalu.

Dulu, jam segini justru tongkrongan lagi rame-ramenya.

Ada Rio yang ketawa paling keras sampai warga kompleks keluar ngintip. Ada Dimas yang tiap nongkrong pasti bilang dia mau kaya sebelum umur tiga puluh sambil ngutang kopi dua ribu. Ada Nando yang suka bawa gitar tapi lagu yang dimainin itu-itu aja sampai kami hafal salah nadanya.

Dan ada aku.

Anak yang bahkan rumahnya sendiri nggak pernah terasa kayak rumah.

Aku ngelihat ke ujung gang.

Kosong.

Lucu ya.

Dulu kalau ada tiga motor parkir aja udah sempit. Sekarang bahkan kalau ada mobil berhenti, masih terasa luas.

Aku hisap rokok pelan.

Angin malam lewat bawa bau tanah habis hujan dan suara televisi dari rumah warga yang belum tidur.

“Masih suka ke sini ternyata.”

Aku nengok.

Pak Hadi, penjaga ronda komplek, jalan pelan sambil bawa termos.

“Belum tidur, Pak?”

“Lah sampeyan juga belum.”

Aku ketawa kecil.

Dia duduk di sebelahku. Termos dibuka. Kopi hitam. Masih gaya lama.

“Yang lain mana?” tanyanya.

Pertanyaan paling sederhana.
Dan entah kenapa selalu paling susah dijawab.

“Udah sibuk semua.”

“Si Rio kemarin pulang bentar katanya.”

“Iya. Tapi saya nggak sempat ketemu.”

Padahal sebenarnya aku sempat lihat Instagram story Rio. Lagi nongkrong sama teman-teman kantornya di Jakarta Selatan. Tempat fancy. Lampunya remang-remang. Gelasnya mahal.

Bukan di sini.

“Dimas?” tanya Pak Hadi lagi.

“Bandung. Baru punya anak.”

“Wah…”

“Iya.”

“Nando?”

Aku diam sebentar.

“Nando udah nggak ada, Pak.”

Pak Hadi langsung pelan suaranya. “Oh iya… saya lupa.”

Aku mengangguk kecil.

Kami diam cukup lama setelah itu.

Kereta lain lewat.

Getarannya masih sama.

Dulu kami suka berhenti ngobrol tiap kereta lewat. Entah kenapa. Kayak ada aturan tidak tertulis. Baru setelah suara rel mereda, obrolan lanjut lagi.

Aneh ya.
Tubuh bisa mengingat sesuatu bahkan setelah orang-orangnya hilang.

“Dulu rame banget di sini,” kata Pak Hadi.

Aku senyum tipis.

“Pernah sampai tiga puluh orang, Pak.”

“Tiga puluh? Halah.”

“Serius.”

Dan tiba-tiba kepalaku penuh lagi sama suara-suara lama itu.


“GESER WOY GUE DUDUK.”

“Siapa yang mesen mi rebus dua?!”

“Anjing motor siapa nutup jalan?!”

“Bro dengerin gue dulu anjir ini penting.”

Tawa.

Asap rokok.

Bunyi korek.

Suara plastik kresek.

Gitar fals.

Orang curhat putus cinta jam satu pagi kayak dunia kiamat besok.

Hal-hal kecil yang dulu terasa abadi.

Padahal ternyata cuma mampir sebentar.

Aku dulu pikir tongkrongan itu tempat buat killing time.

Belakangan baru sadar:
itu tempat aku bertahan hidup.

Karena di rumah, nggak ada yang nunggu aku pulang.

Bapak pergi waktu aku SMP.
Ibu sibuk kerja sampai malam.
Kalau pulang pun kami lebih sering diam.

Rumah cuma tempat tidur dan mandi.

Tapi pos ronda ini…

Di sini orang sadar kalau aku menghilang dua hari.

Di sini ada yang nyamperin kalau aku mendadak diam.

Di sini ada yang hafal aku nggak suka bawang di nasi goreng.

Di sini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa keberadaanku punya bentuk.

Aku ingat malam waktu aku kena PHK pertama kali.

Aku duduk di pojokan sini.
Nggak ngomong apa-apa.

Rio naruh kopi depan aku tanpa banyak tanya.

Dimas bilang,
“Kalau lu miskin, kita miskin bareng lah.”

Bercanda goblok.
Tapi entah kenapa malam itu aku pulang nggak jadi nangis.

Aku juga ingat waktu Nando meninggal karena kecelakaan.

Untuk pertama kalinya pos ronda ini sunyi.

Tiga puluh orang hadir malam itu.
Tapi nggak ada yang benar-benar ngobrol.

Kami cuma duduk.

Karena ternyata umur dua puluhan adalah fase ketika kita mulai sadar:
orang bisa benar-benar hilang.

Setelah Nando pergi…
tongkrongan mulai berubah.

Nggak langsung bubar.
Nggak dramatis.

Cuma…
pelan-pelan berkurang.

Satu kerja shift malam.
Satu pindah kota.
Satu menikah.
Satu sibuk pacaran.
Satu capek.

Dan anehnya, nggak ada yang sadar kapan tepatnya semua selesai.

Suatu hari kami masih lengkap.

Tahu-tahu beberapa bulan kemudian,
yang datang tinggal empat.

Lalu dua.

Lalu aku sendirian.

Aku pernah marah soal itu.

Dalam hati aku pikir:
“Kok kalian bisa ninggalin tempat ini gitu aja?”

Tapi makin gede aku makin ngerti.

Mereka bukan ninggalin tempat ini.

Mereka cuma lanjut hidup.

Dan mungkin…
aku satu-satunya yang terlalu takut melangkah pergi.

Pak Hadi berdiri pelan sambil nepuk pundakku.

“Sudah larut. Pulang sana.”

Aku ketawa kecil.

“Iya, Pak.”

Dia jalan pergi pelan-pelan.

Aku masih duduk beberapa menit lagi.

Ngelihat rel kereta.
Ngelihat jalan kosong.
Ngelihat pos ronda yang sekarang terasa seperti museum kecil buat versi muda diriku sendiri.

Lalu aku sadar sesuatu.

Selama ini aku pikir aku datang ke sini buat mengenang mereka.

Padahal sebenarnya…

aku datang ke sini supaya aku bisa ketemu diriku yang dulu.
Versi diriku yang pernah merasa punya keluarga.

Aku matiin rokok.

Berdiri.

Dan tepat sebelum pergi, aku dengar suara anak-anak ketawa dari ujung gang.

Sekelompok anak SMA datang naik motor.

Berisik.
Ketawanya terlalu keras.
Salah satu dari mereka bawa gitar.

Aku hampir ketawa sendiri.


“Bang, masih boleh nongkrong di sini nggak?” tanya salah satu dari mereka.

Aku nengok ke pos ronda.

Lalu ke mereka.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

tempat ini nggak terasa sedih.

Aku geser sedikit dari bangku.

“Boleh,” kataku.
“Asal jangan pulang cepet.”

Hidup Berdampingan dengan AI

Beberapa bulan terakhir, AI semakin tidak terpisahkan dari dunia kerja.
Dan jujur saja, gue termasuk orang yang menggunakannya hampir setiap hari.

Mulai dari hal kecil seperti menulis dokumentasi, membalas email, merapikan chat, sampai pekerjaan yang lebih kompleks seperti membuat PRD, merangkum meeting, bahkan menyusun tiket Jira. Sebagai product manager, AI perlahan berubah dari “alat tambahan” menjadi bagian dari workflow sehari-hari.

Tapi bersamaan dengan itu, muncul juga banyak suara skeptis.

Katanya:
  • “Nanti orang jadi nggak bisa mikir.”
  • “Nanti orang ketergantungan.”
  • “Kalau AI hilang, mereka nggak bisa kerja.”

Dan entah kenapa, argumen seperti ini terasa sangat familiar.

Karena sepanjang sejarah manusia, setiap penemuan baru selalu dianggap ancaman oleh generasi sebelumnya.

Konon, Socrates pernah mengkritik penemuan kertas karena takut manusia jadi tidak mampu menghafal. Bayangkan itu. Hari ini kita menganggap tulisan dan kertas sebagai fondasi peradaban. Tidak ada yang berkata, “Anak zaman sekarang lemah karena tidak menghafal semuanya.”


Dulu orang harus menyalakan api dengan gesekan kayu.
Sekarang chef profesional memakai kompor modern.
Apakah itu membuat mereka bukan chef sungguhan?

Dulu programmer harus bekerja dengan dokumentasi fisik dan trial-error yang jauh lebih lambat. Hari ini internet menjadi bagian vital dalam pekerjaan mereka. Apakah itu berarti programmer modern tidak kompeten?

Menurut gue, ketergantungan terhadap teknologi bukan tanda kemunduran. Itu tanda bahwa manusia sedang berevolusi bersama alat yang mereka ciptakan.

Setiap teknologi baru selalu mengambil alih pekerjaan yang repetitif, melelahkan, atau memakan waktu. Dan itu bukan hal buruk. Justru di situlah manusia punya kesempatan untuk naik level.

Kalkulator tidak menghancurkan matematika.
Internet tidak menghancurkan pengetahuan.
Dan AI tidak otomatis menghancurkan kemampuan berpikir manusia.

Yang berubah adalah fokusnya.

Kalau dulu orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis ulang dokumen, sekarang mereka bisa memakai waktu itu untuk berpikir strategis. Kalau dulu meeting notes harus dirapikan manual, sekarang energi itu bisa dipakai untuk diskusi yang lebih bermakna.

Teknologi selalu menggeser “nilai” manusia ke level yang lebih tinggi.

Masalahnya, banyak orang melihat AI sebagai pengganti manusia, padahal dalam banyak kasus AI lebih mirip amplifier. Ia mempercepat apa yang sudah kita lakukan.


Tentu ada risiko. Tentu ada orang yang akhirnya terlalu bergantung dan berhenti berpikir kritis. Tapi itu bukan kesalahan AI. Sama seperti internet bukan penyebab orang malas membaca mendalam, atau kalkulator bukan penyebab orang gagal memahami konsep matematika.

Masalah utamanya tetap ada pada cara manusia menggunakannya.

Menurut gue, daripada sibuk mencibir generasi yang tumbuh bersama teknologi baru, mungkin lebih baik kita mulai bertanya:

“Apa yang bisa gue pelajari dari perubahan ini?”

Karena sejarah menunjukkan satu hal yang cukup konsisten:
Perkembangan teknologi tidak pernah berhenti hanya karena manusia takut.

Pada akhirnya, manusia yang bertahan bukan yang paling keras menolak perubahan.
Tapi mereka yang belajar beradaptasi tanpa kehilangan kemampuan berpikirnya.

Dan mungkin, itu tantangan sebenarnya di era AI:
Bukan bagaimana hidup tanpa AI.
Tapi bagaimana tetap menjadi manusia yang berpikir di tengah dunia yang semakin dipenuhi otomatisasi.

Wednesday, May 6, 2026

Di Antara Doa yang Tertunda

“If they must be saved by someone in the body of an Elder, he will manifest in the body of an Elder and speak Dharma for them. ~ Saddharma Pundarika Sutra, Universal Gate of Avalokitesvara”

Hari itu hari Minggu.
Aku pulang dari wihara dengan hati yang masih berisik.

Di luar, langit biasa saja. Tidak ada tanda-tanda keajaiban. Tapi di dalam kepala, rasanya seperti ada ribuan suara yang saling bertabrakan—tentang kerjaan yang tidak beres, uang yang makin menipis, konflik keluarga, dan fitnah yang entah dari mana datangnya.

Aku bahkan sempat berhenti berdoa.

Bukan karena aku tidak percaya.
Tapi karena aku terlalu lelah untuk melakukannya.

Dua minggu penuh, aku tidak menyentuh doa sama sekali. Tidak ada puja, tidak ada mantra, tidak ada apa-apa. Seolah-olah aku menarik diri dari sesuatu yang dulu menjadi bagian paling stabil dalam hidupku.

Hari itu, aku memaksakan diri datang ke wihara.
Entah kenapa.
Mungkin hanya karena aku tidak ingin benar-benar kehilangan semuanya.

Selesai puja Avalokitesvara Bodhisattva, pembacaan Saddharma Pundarika, bab Universal Gate, aku tidak merasa tercerahkan. Tidak ada rasa damai yang tiba-tiba turun dari langit. Yang ada hanya… sedikit ruang kosong di antara kekacauan.

Cukup untuk bernapas.


Aku memesan Gojek untuk pulang.

Sepanjang perjalanan, aku diam. Angin menyentuh wajahku, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikiran yang masih berlarian ke mana-mana.

Sampai tiba-tiba—

“Dek…”

Aku sedikit kaget.
Driver di depan membuka suara tanpa aku mulai percakapan.

“Iya, Pak?”

Dia terdiam sebentar, seolah ragu dengan kata-katanya sendiri.

“Sesedikit apa pun waktu yang kamu punya… coba sempatkan buat baca doa.”

Aku langsung terdiam.

Itu bukan kalimat yang biasanya keluar dari percakapan random.
Dan entah kenapa… kalimat itu terasa terlalu tepat.

Aku tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena… kena.

“Pak,” kataku pelan, “jujur aja ya… saya belakangan ini malah nggak bisa doa sama sekali.”

Dia tidak langsung menjawab.
Aku melanjutkan, tanpa benar-benar sadar kenapa aku bisa sejujur itu ke orang asing.

“Saya lagi banyak masalah. Kerjaan, keluarga… bahkan ada yang fitnah kalau saya ambil komisi yang saya nggak pernah saya ambil. Jadi kayak… ya udah, saya drop aja.”

Motor tetap melaju.
Beberapa detik hening.

Lalu dia bicara lagi, kali ini suaranya sedikit berubah.

“Dek… saya merinding ini.”

Aku mengernyit. “Hah?”

“Saya nggak tahu kenapa tadi ngomong begitu. Tiba-tiba aja keluar. Padahal…” dia tertawa kecil, getir, “kalau dibilang pantas ngasih nasihat, saya ini jauh dari pantas.”


Aku diam, mendengarkan.

“Dulu waktu muda… saya udah coba semua kenakalan. Judi, minum, perempuan… lengkap.”
Dia berhenti sejenak.
“Makanya saya juga bingung kenapa bisa ngomong kayak gitu ke kamu.”

Aku menatap punggungnya sebentar, lalu tersenyum tipis.

“Pak,” kataku, “nasihat baik itu datang dari mana aja. Nggak harus dari orang yang sempurna.”

Dia tidak menjawab, tapi aku bisa merasakan suasana di antara kami berubah. Tidak canggung, tidak aneh. Justru… hangat.

Beberapa saat kemudian, aku mengeluarkan sesuatu dari kantongku.

“Ini, Pak,” kataku sambil sedikit mengangkat tangan. “Saya sebenarnya selalu bawa ini.”

Sebuah mala kecil melingkar di telapak tanganku.

(Catatan : Ini wrist mala milik saya pribadi yg dimaksud dalam cerita ini)

Dia melirik lewat spion, lalu tersenyum.

“Wah… bagus itu tasbihnya, Dek.”

Aku mengangguk.

“Tapi ya itu, Pak. Bawa doang. Dipakainya jarang.”

Dia tertawa pelan.

“Nggak apa-apa. Mulai aja dari sedikit. Lagi nunggu, lagi diam… ya baca sedikit. Nggak harus nunggu waktu khusus.”

Aku tidak menjawab.

Tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu… pikiranku tidak berisik.

Seolah-olah ada satu kalimat sederhana yang berhasil menahan semuanya agar tidak tumpah keluar.

Motor terus berjalan, sampai akhirnya kami tiba di depan rumahku.

Aku turun, membayar, lalu menatap beliau sekali lagi.

“Makasih ya, Pak.”

Dia mengangguk.
Tapi sebelum aku benar-benar masuk, dia berkata satu hal lagi:

“Saya juga nggak tahu kenapa tadi ngomong begitu, Dek. Tapi… semoga kamu baik-baik saja.”

Aku tersenyum.

“Iya, Pak. Semoga.”

---

Malam itu, aku duduk sendirian.

Tidak ada altar yang megah.
Tidak ada ritual panjang.

Hanya aku… dan satu mala kecil di tangan.

Aku menarik napas pelan.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua minggu—

aku membaca satu mantra.

Pendek.
Sederhana.
Tidak sempurna.

Tapi cukup.


---

Sejak hari itu, aku tidak langsung berubah.

Masalahku tidak hilang.
Dunia tidak tiba-tiba menjadi lebih ramah.

Tapi setiap ada jeda kecil—menunggu, duduk, atau bahkan saat pikiranku mulai berlari—aku kembali ke mantra itu.

Sedikit demi sedikit, seperti menyalakan kembali api yang hampir padam.

Sampai suatu hari, tanpa aku sadari…

aku kembali duduk di depan altar, melakukan puja dengan lebih utuh.

Bukan karena aku dipaksa.
Tapi karena aku sudah cukup kuat untuk kembali.

---

Kadang aku masih berpikir tentang hari itu.

Tentang seorang pria tua di atas motor, yang berkata sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak sepenuhnya mengerti.

Tentang bagaimana sebuah kalimat sederhana bisa menjadi jembatan di saat aku hampir tenggelam.

Dan dalam diam, aku percaya—

Berkah Avalokitesvara tidak selalu datang dengan cara yang megah.

Kadang, ia hanya datang sebagai suara biasa…
dari seseorang yang kebetulan duduk di depanmu,

di tengah perjalanan pulang.


"Complete with all merit and virtue, His kind eyes watching living beings. Going throughout countries in the ten directions, He manifests everywhere in all places. ~ Saddharma Pundarika Sutra, Universal Gate of Avalokitesvara"