Monday, June 8, 2026

Neraka di Hari Itu

Bau klorin dan kematian selalu memiliki cara tersendiri untuk menempel pada kulit, sekeras apa pun mereka menggosoknya di bawah pancuran air hangat komunal rumah sakit.

Baskara menatap dinding kaca ruang ICU yang buram oleh uap napasnya sendiri. Di luar, malam telah lama larut, menyisakan sunyi yang ganjil di koridor rumah sakit, namun di dalam ruangan bertekanan negatif ini, waktu seolah berhenti dalam ritme yang mengerikan. Dengung konstan dari mesin ventilator, bunyi _beep_ beraturan dari monitor vital yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi nada tunggal yang panjang, dan gesekan APD plastik yang mereka kenakan menciptakan simfoni latar belakang bagi runtuhnya dunia.

Di seberang tempat tidur pasien nomor empat, Adrian sedang memeriksa saluran infus. Matanya yang merah dan berkantung tebal tampak lelah di balik kacamata pelindung yang berembun.

Mereka tidak saling mengenal sebelum semua kegilaan ini dimulai. Baskara adalah dokter residen tahun kedua yang terjebak di pusaran arus, sementara Adrian adalah perawat senior dari divisi penanganan infeksi menular. Takdir tidak mempertemukan mereka dalam jabat tangan hangat; mereka dilemparkan bersama ke dalam parit pertempuran yang sama, mengenakan baju zirah plastik berlapis-lapis yang membuat mereka sulit bernapas.

"Saturasinya turun lagi," suara Adrian terdengar parau, teredam oleh masker N95 ganda.

Baskara mendekat, menyuntikkan dosis tambahan ke dalam flakon infus. "Tahan sampai pagi. Tolong, tahan sampai pagi," bisiknya, entah pada pasien paruh baya yang tak sadarkan diri itu, atau pada dirinya sendiri.


Ketika jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi, keheningan yang melelahkan kembali berkuasa. Pasien nomor empat stabil—untuk sementara.

Adrian menyentuh bahu Baskara, memberi isyarat tanpa kata. Mereka melangkah keluar melewati ruang dekontaminasi, melepas lapisan demi lapisan plastik dengan gerakan mekanis yang sudah dihafal di luar kepala. Kulit wajah mereka memar, menyisakan bekas kemerahan yang dalam akibat tekanan masker berjam-jam.

Di tangga darurat—satu-satunya tempat di mana mereka bisa lolos sejenak dari pengawasan kamera dan bau obat—mereka duduk berdampingan di anak tangga beton yang dingin. Dua cup kopi instan dari mesin otomatis yang sudah mendingin berada di antara mereka.

"Kamu menangis lagi di toilet bilik tiga tadi?" tanya Adrian pelan, menyalakan layar ponselnya untuk memeriksa jam.

Baskara mendengus pelan, menatap lurus ke depan. "Pasien di bed tujuh. Dia seumur dengan adikku. Kemarin dia masih sempat minta dibelikan es krim lewat panggilan video dengan ibunya. Tadi malam... dia pergi begitu saja."

Adrian tidak mengucapkan kalimat penghibur yang klise seperti 'kamu sudah melakukan yang terbaik' atau 'ini bukan salahmu'. Di tempat ini, kata-kata itu telah kehilangan maknanya dan bertransformasi menjadi racun. Sebagai gantinya, Adrian menyandarkan kepalanya ke dinding semen yang kasar, memejamkan mata, dan menyalakan sebuah aplikasi di ponselnya.

Suara gemercik air dan gemuruh petir yang lembut mengalun dari speaker kecilnya. Suara simulasi hujan.

"Kenapa selalu suara hujan?" tanya Baskara, menyesap kopinya yang terasa hambar dan pahit.

"Hanya ini yang bisa meredam bunyi 'beep' mesin ICU di kepala saya," jawab Adrian tanpa membuka mata. "Kalau saya pulang dan kamar terlalu sepi, otak saya otomatis mengarang suara alarm monitor. Suara hujan ini... membuat saya merasa masih berada di bumi, bukan di neraka."


Baskara terdiam. Di bawah pendar lampu neon tangga darurat yang berkedip-kedip, ia memperhatikan profil wajah Adrian. Mereka saling menghafal detail-detail kecil yang bahkan tidak diketahui oleh keluarga mereka di rumah: bagaimana Adrian selalu lupa makan jika shift sudah lewat dari dua belas jam, atau bagaimana Baskara akan meremas jemarinya sendiri hingga memutih setiap kali ada ambulans baru yang datang.

Di tengah dunia yang sedang sekarat, di dalam kepungan dinding-dinding rumah sakit yang mencekam, mereka menemukan sebentuk keakraban yang aneh. Itu bukan kedekatan dalam definisi biasa. Itu adalah kedekatan dari dua jiwa yang saling menyaksikan bagian paling rapuh, paling ketakutan, dan paling hancur dari satu sama lain.

Lalu, seperti badai yang perlahan kehabisan angin, pandemi itu mereda.

Gelombang pasien menyusut. Dinding kaca ICU tidak lagi buram oleh uap kecemasan. Satu per satu tempat tidur dikosongkan, bukan karena penghuninya dipindahkan ke kantung jenazah, melainkan karena mereka berjalan pulang dengan kaki sendiri. Pintu-pintu restoran kembali dibuka. Lampu-lampu kota menyala terang. Orang-orang berhamburan ke jalan tanpa masker, tertawa, berpelukan, dan memesan tiket liburan seolah-olah ingin menghapus beberapa tahun terakhir dari catatan sejarah dengan penghapus raksasa.

Dunia memilih untuk menderita amnesia kolektif. Menolak ingat adalah cara mereka untuk bertahan hidup.

Bersamaan dengan pulihnya dunia, ada sesuatu yang patah di dalam diri Baskara dan Adrian. Mereka tidak bisa kembali ke ritme hidup yang lama. Sisa-sisa trauma itu terlalu besar untuk dimuat dalam rutinitas rumah sakit yang kembali "normal".

Adrian adalah yang pertama memutuskan pergi.

"Saya mau resign, Bas," kata Adrian sore itu, di kedai kopi dekat rumah sakit yang kini sudah ramai dikunjungi mahasiswa. "Saya mau melihat dunia yang tidak berbau antiseptik."

Baskara menatap cangkir kopinya. "Mau ke mana?"

"Ke mana saja. Backpacking. Naik kereta murah, tidur di hostel yang berisik, nonton konser di bar kecil yang pengap. Saya ingin menukar suara mesin ventilator dengan suara bising kehidupan."

Baskara tersenyum tipis, ada rasa kehilangan yang menusuk ulu hatinya, namun ia mengangguk paham. "Pergilah. Kamu berhak mendapatkannya."

Beberapa bulan kemudian, Baskara menyusul. Ia meninggalkan hiruk-pikuk ibu kota, pindah ke sebuah kota kecil di pesisir Jawa yang udaranya masih berbau garam dan tanah basah. Di sana, ia menyewa sebuah ruko kecil dan membuka toko bunga. Hidupnya kini dikelilingi oleh warna-warni kelopak mawar, aroma magis dari sedap malam, dan ketenangan yang dulu terasa seperti kemewahan yang mustahil. Jika dulu tangannya terbiasa memegang defibrilator dan jarum suntik, kini jemarinya lebih akrab dengan gunting dahan dan pita rajut.

Mereka tidak pernah bertengkar. Tidak ada drama perpisahan atau janji-janji setia untuk selalu bertemu. Mereka hanya... selesai dengan babak tersebut, dan membiarkan jarak membentang di antara mereka.

Namun, komunikasi tidak sepenuhnya mati. Di era digital, mereka menjadi pengamat bisu atas kehidupan baru masing-masing.

Di layar ponsel Baskara muncul foto Adrian dengan jenggot tipis yang mulai tumbuh, berlatar belakang pegunungan bersalju di Nepal, atau foto segelas bir yang mengembun di sebuah pub remang-remang di Berlin. Baskara akan menekan tombol _like_, kadang menyisipkan emoji segelas bir atau jabat tangan.

Di layar ponsel Adrian muncul foto-foto estetis dari toko bunga Baskara. Rangkaian bunga lili putih yang cantik, atau potret Baskara yang sedang tersenyum tipis sambil memegang pot tanaman dengan latar belakang matahari terbenam di pantai. Adrian akan membalas _story_ itu dengan emoji daun hijau atau matahari.

Mereka tahu masing-masing dari mereka sedang menyembuhkan diri dengan cara yang bertolak belakang: yang satu berlari mengejar keramaian asing, yang satu bersembunyi dalam kesunyian yang akrab. Mereka saling mengawasi dari kejauhan, menjaga jarak yang aman, seolah takut jika mereka terlalu dekat, aroma klorin dan bayang-bayang masa lalu itu akan kembali tercium.

Empat tahun berlalu.

Undangan pernikahan itu datang dalam bentuk digital dengan hiasan tinta emas yang elegan. Nama pengantin wanitanya adalah Maya.

Baskara menatap nama itu cukup lama sebelum ingatannya berputar kembali ke masa lalu. Maya adalah pasien bed nomor empat. Wanita muda yang bertahan hidup setelah melewati masa kritis selama tiga minggu di ICU, wanita yang tangannya pernah digenggam oleh Adrian saat detak jantungnya melemah, dan wanita yang kepulihannya dulu mereka rayakan dengan tangisan lega di tangga darurat.

Pesta pernikahan digelar di sebuah ballroom hotel berbintang di Jakarta. Ruangan itu megah, dipenuhi lampu kristal yang memantulkan cahaya hangat, denting garpu pada piring porselen, dan tawa renyah dari ratusan tamu berpakaian necis. Musik jazz mengalun lembut dari panggung utama.

Baskara berdiri di sudut ruangan, mengenakan setelan jas formal yang terasa sedikit kaku di tubuhnya yang kini lebih santai. Ia merasa seperti alien di tengah kerumunan orang-orang yang tampak begitu bahagia dan berenergi ini.

"Toko bungamu tidak ikut dibawa ke sini?"

Sebuah suara yang sangat akrab terdengar dari arah belakang. Baskara berbalik.

Adrian berdiri di sana. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali mereka bertemu, kulitnya tampak lebih gelap terpapar matahari berbagai negara, namun sepasang matanya tetap sama. Sepasang mata yang pernah menatap ketakutan yang sama dengannya.

Baskara tertegun sejenak sebelum sebuah senyuman tulus terbit di wajahnya. "Jasmu terlalu bagus untuk ukuran seorang backpacker gembel."

Adrian tertawa, suara tawa serak yang langsung mengikis jarak empat tahun di antara mereka. "Hei, ini pernikahan Maya. Saya harus menghormati mukjizat hidupnya dengan berpakaian layak."

Mereka berjalan bersama menuju area balkon luar yang lebih sepi, menjauh dari denting sendok dan hiruk-pikuk obrolan basa-basi para tamu. Angin malam Jakarta yang hangat menyambut mereka. Di bawah sana, lampu-lampu jalanan kota metropolitan berkerlap-kerlip seperti makam bintang.

"Bagaimana Nepal?" tanya Baskara, menyandarkan kedua lengannya di pagar balkon.

"Dingin. Tapi indah," Adrian menyesap minumannya. "Bagaimana tokomu?"

"Tenang. Bunga tidak pernah komplain kalau airnya terlambat diganti."

Mereka terdiam beberapa saat. Keheningan di antara mereka tidak pernah terasa canggung; itu adalah keheningan yang nyaman, jenis keheningan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah selesai dengan badai.

Dari kaca besar balkon, mereka bisa melihat Maya. Pengantin wanita itu tampak luar biasa cantik dengan gaun putihnya, tertawa lepas sambil berdansa dengan suaminya. Wajahnya merona sehat, penuh dengan kehidupan. Tidak ada lagi selang intubasi di tenggorokannya, tidak ada lagi kabel-kabel monitor yang menempel di dadanya, tidak ada lagi sisa-sisa dari wanita ringkih yang hampir menyerah empat tahun lalu.

Adrian memutar gelas di tangannya, memperhatikan es batu yang mencair. Ia memandang berkeliling, menatap wajah-wajah ceria orang tua Maya, teman-temannya, dan para tamu undangan yang sedang bersulang.

Tiba-tiba, sebuah kesadaran yang aneh dan dingin menyergap mereka berdua.

"Kamu menyadarinya, Bas?" tanya Adrian, suaranya mendadak berubah berat.

"Apa?"

"Orang-orang di dalam ruangan ini..." Adrian memberi isyarat dengan dagunya ke arah kerumunan pesta. "Mereka semua mencintai Maya. Mereka merayakan kehidupannya. Tapi... tidak ada satu pun dari mereka yang tahu."

Baskara menatap Adrian, menunggu kelanjutan kalimatnya.

"Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bagaimana rasanya melihat tubuh Maya membiru di bawah lampu fluoresens. Tidak ada yang tahu suara parau napasnya saat mesin ventilator mengambil alih paru-parunya. Mereka tidak tahu versi Maya yang itu." Adrian menjeda, beralih menatap Baskara lurus-lurus. "Dan yang lebih aneh lagi... tidak ada orang di dunia ini sekarang, yang benar-benar mengenal versi diri kita yang hidup di masa itu."

Kata-kata Adrian menggantung di udara malam, bergetar bersama angin.

Baskara merasakan dadanya berdenyut perih. Adrian benar. Bagi orang-orang di kota kecilnya, Baskara hanyalah pria ramah pemilik toko bunga yang gemar menyiram tanaman di pagi hari. Bagi orang-orang di hostel dan bar asing, Adrian hanyalah turis petualang yang menyenangkan dengan cerita-cerita perjalanan yang seru.

Dunia telah bergerak maju. Sahabat-sahabat mereka, keluarga mereka, bahkan pasien yang mereka selamatkan, semuanya hidup di masa kini yang cerah. Mereka telah melupakan kegelapan itu.

"Hanya kita," bisik Baskara, menyadari kebenaran yang getir sekaligus menenangkan itu.

"Ya," Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan rasa pengertian yang mendalam. "Hanya kita berdua yang memegang kunci ingatan tentang siapa kita sebenarnya saat dunia sedang runtuh. Hanya kita yang tahu seberapa hancurnya kita, dan seberapa keras kita berjuang untuk tetap menjadi manusia."


Di tengah kemegahan pesta pernikahan yang bising dan penuh tawa itu, di sudut balkon yang sepi, kedua pria itu berdiri berdampingan. Mereka tidak lagi berbagi kopi instan dingin di tangga darurat, dan tidak ada lagi suara ketukan ventilator yang meneror pendengaran mereka.

Namun, di dalam keheningan malam itu, mereka tahu bahwa mereka adalah saksi hidup satu sama lain. Dua orang asing yang dipertemukan oleh tragedi, dipisahkan oleh kedamaian, namun selamanya terikat oleh sebuah rahasia yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh seluruh isi ruangan itu: bahwa mereka pernah bersama-sama berjalan melewati neraka, dan berhasil kembali sebagai pemenang, meski dengan luka yang tak kasat mata.

Manfaat Puja Ksitigarbha Bodhisattva

Saya ingin membagikan sebuah penggalan dari Sutra Ksitigarbha Bodhisattva yang menurut saya cukup penting untuk dipahami dengan benar.

Di kalangan umat Buddhis, masih cukup sering dijumpai pandangan bahwa Bodhisattva Ksitigarbha hanya berkaitan dengan orang yang telah meninggal dunia atau alam penderitaan. Bahkan ada yang beranggapan bahwa melakukan puja kepada Bodhisattva Ksitigarbha, atau memiliki altar Beliau di rumah, dapat mendatangkan kesialan maupun bencana. Pandangan-pandangan seperti ini sebenarnya tidak memiliki dasar dalam ajaran sutra.

Jika kita membaca Sutra Ksitigarbha secara langsung, justru kita menemukan bahwa Sang Buddha menjelaskan banyak manfaat yang dapat diperoleh oleh orang-orang yang menghormati, memuja, membaca, melafalkan, dan mengingat Bodhisattva Ksitigarbha. Sebagian besar manfaat tersebut bahkan berkaitan langsung dengan kehidupan saat ini, seperti perlindungan, bertambahnya kebajikan, keharmonisan keluarga, kesehatan, keselamatan, kebijaksanaan, serta kemajuan di jalan menuju Pencerahan.

Berikut adalah terjemahan bagian sutra yang menjelaskan dua puluh delapan manfaat yang akan diperoleh oleh mereka yang menghormati dan melakukan puja kepada Bodhisattva Ksitigarbha.


 

Terjemahan Penggalan Sutra

Sang Buddha bersabda kepada Bodhisattva Ākāśagarbha:

"Dengarkanlah dengan seksama, dengarkanlah dengan seksama. Aku akan menjelaskan satu per satu manfaat tersebut kepadamu.

Di masa mendatang, apabila ada putra atau putri berbudi yang melihat rupang Bodhisattva Ksitigarbha, mendengar Sutra ini, membacanya, melafalkannya, serta mempersembahkan dupa, bunga, makanan, minuman, pakaian, maupun berbagai benda berharga sebagai penghormatan dan persembahan kepada Beliau; juga memuji kebajikan-Nya, memandang-Nya dengan penuh hormat, dan bersujud kepada-Nya, maka mereka akan memperoleh dua puluh delapan manfaat berikut:

  1. Akan senantiasa dilindungi oleh para dewa dan naga.
  2. Akar-akar kebajikan mereka akan bertumbuh dari hari ke hari.
  3. Akan menghimpun sebab dan kondisi luhur menuju kesucian.
  4. Tidak akan mundur dari Jalan Bodhi menuju Pencerahan.
  5. Tidak akan kekurangan sandang dan pangan.
  6. Terhindar dari wabah penyakit yang menimpa banyak orang.
  7. Terbebas dari malapetaka yang disebabkan oleh api maupun air.
  8. Terlindung dari ancaman pencuri dan perampok.
  9. Dihormati dan dihargai oleh siapa pun yang menjumpai mereka.
  10. Mendapat bantuan serta perlindungan dari makhluk-makhluk gaib yang bajik.
  11. Bagi perempuan yang menghendakinya, dapat terlahir sebagai laki-laki pada kehidupan mendatang.
  12. Bagi perempuan yang menghendakinya, dapat terlahir dalam keluarga pemimpin, pejabat, atau orang terpandang.
  13. Memiliki rupa dan penampilan yang baik serta berwibawa.
  14. Sering terlahir di alam-alam surga.
  15. Berkesempatan menjadi pemimpin atau penguasa yang membawa manfaat bagi banyak makhluk.
  16. Memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui kehidupan-kehidupan lampau.
  17. Segala cita-cita yang selaras dengan kebajikan dapat tercapai.
  18. Keluarga dan kerabat hidup dalam keharmonisan serta kebahagiaan.
  19. Terhindar dari berbagai bencana dan kemalangan.
  20. Terbebas selamanya dari kelahiran di alam-alam penderitaan.
  21. Dalam setiap perjalanan dan usaha, tujuan dapat tercapai dengan selamat.
  22. Memperoleh mimpi yang damai, tenteram, dan membawa kebahagiaan.
  23. Sanak keluarga yang telah meninggal dapat terbebas dari penderitaan.
  24. Menikmati buah kebajikan yang telah ditanam pada kehidupan-kehidupan lampau.
  25. Dipuji dan dihormati oleh para bijaksana serta makhluk suci.
  26. Memiliki kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemampuan memahami Dharma dengan baik.
  27. Memiliki hati yang lapang, penuh welas asih, dan mampu memahami penderitaan makhluk lain.
  28. Pada akhirnya akan mencapai Kebuddhaan yang sempurna."

Catatan istilah

  • Earth Store BodhisattvaBodhisattva Ksitigarbha (lebih umum daripada "Bodhisattva Gudang Bumi")
  • BodhiJalan Bodhi menuju Pencerahan (agar maknanya lebih mudah dipahami pembaca umum)
  • Good rootsakar-akar kebajikan
  • Sagehoodkesucian atau pencapaian para suci
  • Bad karmic pathsalam-alam penderitaan (lebih natural daripada "jalur karma buruk")
  • Ghosts and spiritsmakhluk-makhluk gaib yang bajik (agar tidak menimbulkan kesan semua roh adalah negatif)
  • Ultimately realize Buddhahoodmencapai Kebuddhaan yang sempurna

Reference

https://www.cttbusa.org/ess/earthstore13.htm

Topeng, Privasi, dan Kota yang Terlalu Jujur

Gue enggak tahu kapan pertama kali pemikiran ini muncul.

Mungkin ini berasal dari keinginan gue untuk bisa menjadi diri sendiri. Mungkin juga karena selama hidup gue cukup sering menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan perasaan. Menyimpan pikiran. Menulis banyak hal yang tidak gue ucapkan. Menampilkan versi diri yang berbeda tergantung situasi dan orang yang gue hadapi.

Dan seperti banyak orang lain yang melakukan hal serupa, pernah ada masa ketika gue mempertanyakan diri sendiri.

Apakah ini munafik?

Apakah gue hidup dengan topeng?

Apakah gue terlalu banyak masking?

Ada semacam asumsi yang sering beredar bahwa menjadi manusia yang baik berarti harus selalu autentik, selalu jujur, selalu menunjukkan diri apa adanya. Bahwa apa yang ada di kepala harus sama persis dengan apa yang keluar dari mulut.

Namun semakin gue pikirkan, semakin gue merasa ada sesuatu yang salah dengan asumsi itu.

Karena menyembunyikan sesuatu tidak selalu buruk.

Bahkan sering kali justru sebaliknya.

Menyembunyikan sesuatu bisa menjadi tindakan yang beradab, berpendidikan, dan penuh tata krama.

Coba pikirkan tubuh manusia.

Semua orang punya alat kelamin.

Tidak ada yang salah dengan alat kelamin.

Tidak ada yang memalukan dengan keberadaannya.

Namun apakah karena itu semua orang harus berjalan telanjang setiap saat?

Tentu tidak.

Kita memakai pakaian.

Bukan karena tubuh manusia itu jahat atau salah, tetapi karena ada konteks, batasan, dan norma sosial yang membuat kita memahami kapan sesuatu layak diperlihatkan dan kapan sesuatu layak disimpan.

Menurut gue emosi bekerja dengan cara yang mirip.

Marah itu normal.

Iri itu normal.

Kecewa itu normal.

Takut itu normal.

Pikiran-pikiran gelap sesekali juga normal.

Namun normal tidak berarti harus selalu dipertontonkan.

Tidak setiap orang berhak melihat seluruh isi kepala kita.

Tidak setiap situasi membutuhkan seluruh isi hati kita.

Dan tidak setiap pikiran yang muncul pantas langsung diucapkan.

Sama seperti tubuh, ada bagian dari dunia batin yang hanya layak diperlihatkan kepada orang-orang tertentu dalam kondisi tertentu.

Mungkin kepada pasangan.

Mungkin kepada sahabat dekat.

Mungkin kepada diri sendiri ketika sedang sendirian.

Mungkin kepada jurnal pribadi seperti tulisan ini.

Dan semakin gue pikirkan, semakin gue merasa bahwa ada perbedaan besar antara kejujuran dan keterbukaan.

Kejujuran berarti apa yang kita tampilkan tidak bertentangan dengan apa yang kita yakini.

Keterbukaan berarti seberapa banyak yang kita pilih untuk tampilkan.

Dua hal itu tidak sama.

Gue bisa memilih untuk tidak menceritakan seluruh isi hati gue kepada seseorang tanpa harus berbohong kepada mereka.

Gue bisa memilih diam tanpa harus menjadi munafik.

Gue bisa memilih menyimpan sesuatu tanpa harus mengkhianati diri sendiri.

Belakangan gue teringat sebuah episode dari Kino no Tabi yang secara tidak langsung membahas hal ini.


Di sana ada sebuah kota yang terobsesi dengan kejujuran dan menjadi diri sendiri.

Mereka menciptakan semacam liquid komputer yang memungkinkan isi pikiran seseorang langsung ditransmisikan kepada orang lain.

Tidak perlu bicara.

Tidak perlu menyusun kalimat.

Tidak ada waktu untuk berpikir.

Tidak ada waktu untuk masking.

Apa yang dirasakan langsung diketahui.

Apa yang dipikirkan langsung terdengar.

Awalnya terdengar seperti utopia.

Tidak ada salah paham.

Tidak ada kebohongan.

Semua kebutuhan dan keinginan diketahui secara instan.

Namun ternyata semuanya berakhir menjadi mimpi buruk.

Karena manusia tidak hanya memiliki niat baik.

Manusia juga memiliki kemarahan sesaat.

Rasa iri.

Ketakutan.

Prasangka.

Kecurigaan.

Pikiran impulsif.

Pikiran intrusif.

Segala hal yang biasanya muncul lalu menghilang sebelum sempat diucapkan.

Di kota itu semua pikiran tersebut langsung tersebar ke mana-mana.

Setiap rasa kesal diketahui.

Setiap kebencian diketahui.

Setiap pikiran buruk diketahui.

Dan akhirnya masyarakat itu runtuh.

Orang-orang saling membunuh.

Saling menjauhi.

Yang selamat hidup terpencar jauh satu sama lain.

Mereka takut berinteraksi dengan manusia lain.

Takut melihat manusia lain.

Takut dilihat manusia lain.

Ironisnya, masyarakat yang paling mengagungkan keterbukaan total akhirnya menjadi masyarakat yang paling takut terhadap hubungan antarmanusia.

Dan mungkin karena mereka menemukan sesuatu yang sederhana.

Pikiran bukanlah tindakan.

Pikiran bukanlah keputusan.

Pikiran hanyalah bahan mentah.

Yang membedakan manusia beradab dari manusia impulsif adalah kemampuan untuk mengolah bahan mentah itu sebelum melemparkannya ke dunia.

Ada jeda yang sangat penting di antara keduanya.

Pikiran.

Refleksi.

Keputusan.

Tindakan.

Kalau jeda itu dihilangkan, manusia kehilangan sesuatu yang fundamental.

Kemampuan untuk memilih.

Jadi sekarang gue mulai melihat masking dengan cara yang berbeda.

Masking tidak selalu berarti kepalsuan.

Masking tidak selalu berarti kemunafikan.

Kadang masking adalah bentuk regulasi diri.

Kadang masking adalah bentuk kesopanan.

Kadang masking adalah bentuk kasih sayang.

Karena tidak semua yang muncul di kepala perlu keluar dari mulut.

Tidak semua yang muncul di hati perlu dilemparkan ke orang lain.

Privasi bukan musuh kejujuran.

Privasi adalah ruang yang memungkinkan kejujuran diproses sebelum dibagikan.

Sama seperti pakaian tidak membuat manusia menjadi palsu, batasan emosional juga tidak membuat manusia menjadi munafik.

Mungkin ukuran yang lebih penting bukanlah apakah gue menunjukkan semuanya.

Mungkin pertanyaannya adalah:

"Apakah apa yang gue tunjukkan bertentangan dengan siapa diri gue sebenarnya?"

Kalau jawabannya tidak, maka mungkin yang gue lakukan bukan kemunafikan.

Mungkin itu hanya kebijaksanaan dalam memilih siapa yang boleh melihat bagian mana dari diri gue.

Saturday, June 6, 2026

12 Great Vows of Medicine Buddha


Berikut terjemahan 12 ikrar agung Buddha Pengobatan yang mengutamakan makna dan menggunakan padanan istilah Buddhis yang lazim dalam bahasa Indonesia:



Untuk ikrar agungnya yang pertama, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga cahaya tubuhku menerangi dunia-dunia yang tak terhitung, tanpa batas, dan tak terukur; menghangatkan serta membuat semuanya bercahaya. Semoga semua makhluk dihiasi dengan tiga puluh dua tanda manusia agung dan delapan puluh tanda sekunder yang mulia, sebagaimana diriku."

Untuk ikrar agungnya yang kedua, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga tubuhku laksana permata lazurit biru yang berharga—murni luar dan dalam serta memancarkan cahaya yang tanpa noda. Semoga aku mewujudkan tubuh yang tinggi, agung, kokoh, penuh kemuliaan dan keagungan, serta dihiasi lingkaran cahaya yang begitu terang hingga melampaui sinar matahari dan bulan. Semoga cahayaku memungkinkan makhluk-makhluk yang terlahir di ruang-ruang gelap di antara dunia-dunia, maupun mereka yang hidup di dunia manusia dan bepergian pada kegelapan malam, dapat berjalan dengan sukacita dan melakukan perbuatan-perbuatan bajik."

Untuk ikrar agungnya yang ketiga, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga kebijaksanaan dan sarana-upayaku yang tak terbatas menganugerahkan kekayaan yang tak habis-habisnya kepada alam-alam makhluk yang tak terukur jumlahnya, sehingga tidak ada satu pun yang kekurangan."

Untuk ikrar agungnya yang keempat, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga semua makhluk yang menempuh jalan yang keliru diarahkan ke jalan menuju Pencerahan. Semoga mereka yang telah memasuki Jalan Para Śrāvaka maupun Jalan Para Pratyekabuddha dituntun menuju Kendaraan Agung (Mahāyāna)."

Untuk ikrar agungnya yang kelima, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga semua makhluk yang dekat denganku menjalankan perilaku suci. Demikian pula, semoga makhluk-makhluk lain yang jumlahnya tanpa batas mendengar namaku, dan melalui kekuatanku mereka berpegang teguh pada tiga ikrar serta memiliki disiplin moral yang murni dan tak tercemar. Semoga tidak seorang pun menjalankan disiplin yang keliru hingga terjatuh ke alam-alam rendah."

Untuk ikrar agungnya yang keenam, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga makhluk-makhluk yang bertubuh lemah, memiliki indra yang terganggu, berparas buruk; yang bisu, pincang, bungkuk, atau berpenyakit kulit; yang bermata satu, buta, tuli, sakit jiwa; maupun yang tubuhnya dilanda berbagai penyakit lainnya, mendengar namaku. Ketika mereka mendengarnya, semoga seluruh indra mereka menjadi sempurna dan tubuh mereka kembali utuh."

Untuk ikrar agungnya yang ketujuh, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga makhluk-makhluk yang tubuhnya terserang berbagai penyakit, yang rapuh, tanpa perlindungan, kekurangan kebutuhan hidup dan obat-obatan, tidak memiliki siapa pun yang merawat mereka, hidup dalam kemiskinan dan penderitaan, mendengar namaku. Semoga semua penyakit mereka lenyap. Semoga mereka memperoleh kesehatan dan hidup bebas dari bahaya sampai akhirnya mencapai Pencerahan."

Untuk ikrar agungnya yang kedelapan, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga para perempuan yang menderita akibat berbagai keterbatasan dan kesulitan karena terlahir sebagai perempuan, yang tidak menginginkan keadaan tersebut dan ingin terbebas darinya, dapat meninggalkan kelahiran sebagai perempuan dan terlahir sebagai laki-laki sampai mereka mencapai Pencerahan."

Untuk ikrar agungnya yang kesembilan, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga aku membebaskan semua makhluk dari belenggu Māra. Semoga mereka yang tersesat karena pandangan-pandangan yang menyimpang, bertentangan, dan kacau ditegakkan dalam Pandangan Benar. Kemudian, secara bertahap, semoga aku mengajarkan kepada mereka laku seorang Bodhisatwa."

Untuk ikrar agungnya yang kesepuluh, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga kekuatan jasa kebajikanku membebaskan dari segala bentuk bahaya makhluk-makhluk yang ketakutan karena ancaman penguasa, yang dibelenggu, dipukuli, disiksa, dijatuhi hukuman mati, dianiaya dengan berbagai tipu daya, dipermalukan, serta menderita secara jasmani, ucapan, maupun batin."

Untuk ikrar agungnya yang kesebelas, beliau bersabda:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga aku menyediakan makanan yang segar, harum, dan lezat bagi makhluk-makhluk yang terbakar oleh lapar dan dahaga, yang bersusah payah mencari makanan hingga melakukan perbuatan tidak bajik. Setelah tubuh mereka terpuaskan, semoga aku membahagiakan mereka lebih jauh lagi dengan cita rasa Dharma."

Ikrar agung kedua belas dari Yang Tathāgata adalah sebagai berikut:

"Di masa mendatang, ketika aku telah mencapai Kebuddhaan sempurna dan mewujudkan Pencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara, semoga aku menyediakan pakaian yang sesuai kebutuhan dan berwarna indah bagi makhluk-makhluk yang telanjang, tidak memiliki pakaian, miskin, menderita, dan sengsara siang maupun malam karena dingin, panas, lalat, dan serangga yang menggigit. Semoga aku memenuhi segala harapan makhluk-makhluk dengan berbagai jenis permata, perhiasan, untaian bunga, wewangian, minyak harum, musik, alat-alat musik, dan genderang yang mereka inginkan."



Catatan istilah:
  • Perfect BuddhaBuddha Sempurna / Kebuddhaan sempurna
  • Unsurpassed and perfect awakeningPencerahan Tertinggi yang sempurna tiada tara (padanan anuttarā samyaksaṃbodhi)
  • Great VehicleKendaraan Agung (Mahāyāna)
  • HearersŚrāvaka
  • Solitary BuddhasPratyekabuddha
  • Skillful meanssarana-upaya (upāya-kauśalya)
  • Correct viewPandangan Benar
  • Dharma dipertahankan sebagai istilah Buddhis baku
  • Thus-gone oneTathāgata
  • Māra dipertahankan sebagai nama diri dalam kosmologi Buddhis.


Wednesday, June 3, 2026

Reason for Writing : Living a Thousand Life

“A reader lives a thousand lives before he dies. The man who never reads lives only one.”
George R. R. Martin - A Dance with Dragons (2011)

Jika dihitung secara harfiah, umurku hanyalah sekian puluh tahun.

Namun terkadang aku merasa telah hidup jauh lebih lama dari itu.

Sejak kecil, aku menyukai cerita. Awalnya melalui komik. Kemudian video game. Terutama RPG. Aku selalu tertarik pada permainan yang tidak hanya memberiku tantangan, tetapi juga mengajakku tinggal sejenak di dunia lain.

Di sana, aku bukan sekadar pemain.

Aku adalah pengelana yang menempuh jalan panjang melintasi kerajaan yang asing. Aku adalah pahlawan yang berjuang menyelamatkan dunia. Aku adalah penyihir, ksatria, pencuri, petualang, dan terkadang bahkan tokoh yang harus menghadapi kegagalan, kehilangan, atau kematian.

Ketika sebuah permainan berakhir, aku sering merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah aku baru saja pulang dari perjalanan yang sangat jauh.

Padahal tubuhku tidak pernah ke mana-mana.

Yang bepergian adalah sebagian dari diriku.

Seiring waktu, kecintaanku pada cerita berkembang. Aku tidak hanya membaca dan memainkan cerita. Aku mulai menulisnya.


Dan ketika mulai menulis, aku menyadari sesuatu.

Karakter-karakter yang kutemui di atas kertas mungkin tidak pernah benar-benar ada. Namun mereka membawa bagian-bagian dari diriku yang nyata.

Ada tokoh yang membawa ketakutanku.

Ada tokoh yang membawa harapanku.

Ada tokoh yang mengucapkan kata-kata yang tidak pernah berhasil kuucapkan.

Ada tokoh yang menjalani kehidupan yang tidak pernah sempat kujalani.

Mungkin karena itu aku begitu terikat pada mereka.

Karena setiap cerita, pada akhirnya, adalah percakapan antara seorang penulis dengan dirinya sendiri.

Mungkin itu juga alasan lain mengapa aku begitu mencintai menulis.

Di dunia nyata, aku tidak selalu bisa menjadi diriku sepenuhnya.

Ada peran yang harus dimainkan. Ada ekspektasi yang harus dipenuhi. Ada bagian-bagian diri yang terkadang terlalu rumit, terlalu rapuh, atau terlalu sulit dijelaskan kepada orang lain.

Tetapi ketika menulis, semua itu menghilang.

Di atas halaman kosong, aku tidak perlu menyembunyikan apa pun.

Aku bisa menuangkan ketakutanku, kemarahanku, harapanku, keraguanku, bahkan bagian-bagian diriku yang mungkin tidak akan pernah benar-benar dipahami oleh siapa pun.

Melalui tokoh-tokoh yang kuciptakan, aku bisa berbicara dengan suara yang selama ini hanya hidup di dalam kepalaku.

Dan mungkin karena itu, menulis selalu terasa seperti pulang.

Karena di sanalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku sendiri secara utuh.

Melalui cerita, aku belajar memahami banyak sudut pandang yang tidak pernah kutemui dalam kehidupanku sendiri.

Aku belajar membayangkan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang berbeda.

Menjadi orang yang lahir dalam keadaan yang berbeda.

Menghadapi luka yang berbeda.

Membuat pilihan yang berbeda.

Cerita mengajarkanku bahwa manusia jauh lebih rumit daripada sekadar benar dan salah.

Dan mungkin karena itu aku mencintainya.

Terkadang aku juga bertanya pada diriku sendiri, apakah semua ini hanyalah bentuk pelarian?

Mungkin sebagian memang demikian.

Karena hidup tidak selalu mudah.

Realitas tidak selalu ramah.

Ada hari-hari ketika beban terasa terlalu berat. Ada luka yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan logika. Ada penyesalan yang tidak bisa diubah menjadi masa lalu yang berbeda.

Di saat seperti itu, aku sering kembali kepada cerita.

Bukan untuk melupakan kenyataan.

Bukan untuk berpura-pura bahwa masalah tidak ada.

Melainkan untuk beristirahat sejenak.

Untuk bernapas.

Untuk mengingat bahwa dunia selalu lebih besar daripada kesulitan yang sedang kuhadapi hari ini.

Melalui cerita, aku bisa menemukan akhir yang tidak pernah kudapatkan di dunia nyata.

Aku bisa melihat orang-orang saling memaafkan.

Aku bisa melihat mereka pulang.

Aku bisa melihat mereka menemukan cinta.

Aku bisa melihat mereka mendapatkan kesempatan kedua.

Dan terkadang, menyaksikan semua itu terasa cukup untuk membuatku bertahan sedikit lebih lama.

Namun aku tidak pernah ingin tinggal selamanya di sana.

Karena seindah apa pun dunia fantasi, aku tahu itu bukan rumahku.

Rumahku tetap berada di sini.

Di dunia nyata yang sering berantakan.

Di dunia nyata yang kadang melelahkan.

Di dunia nyata yang tidak selalu memberikan jawaban.

Aku tetap bekerja.

Aku tetap menjalani hidup.

Aku tetap menghadapi hari-hari yang harus dihadapi.

Cerita bagiku bukanlah tempat untuk menghilang.

Cerita adalah tempat untuk berteduh.

Sebuah rumah singgah.

Tempat aku beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Dan mungkin, di hari tuaku nanti, aku tidak hanya akan mengenang tahun-tahun yang kujalani sebagai diriku sendiri.

Aku juga akan mengenang semua dunia yang pernah kukunjungi.

Semua tokoh yang pernah kutemui.

Semua perjalanan yang pernah kutempuh.

Semua kehidupan yang pernah kupinjam melalui halaman-halaman buku, layar permainan, dan cerita-cerita yang kutulis sendiri.

Karena melalui semua itu, aku menyadari satu hal.

Meskipun waktu hidup manusia terbatas, cerita telah memberiku kesempatan untuk hidup lebih dari satu kehidupan.

Monday, June 1, 2026

Eldareth : Elegy for a Fleeting Moment


---

Sembilan ratus tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk mengubah megahnya menara batu menjadi debu, mendampitkan kerajaan-kerajaan besar ke dalam barisan kalimat di buku sejarah, dan mengubah nama Alarion dari seorang figur nyata menjadi bisikan doa yang penuh ketakutan sekaligus kekaguman. Bagi dunia di luar sana, waktu bergerak seperti badai yang melesat. Namun bagi Sister Marienne, waktu adalah genangan air yang tenang. Terlalu tenang, hingga hampir membusuk.

Sejak malam di mana racun sang Dark Saint menyatu dengan aliran darahnya, Marienne berhenti menua. Kulitnya tetap sehalus gadis tujuh belas tahun, namun di balik kelopak matanya, bersemayam sepasang manik mata yang telah menyaksikan sembilan abad berlalu dengan egois.

Di bawah arahannya, Ordo Lux Noctis mengalami masa keemasan dalam bidang penyembuhan. Marienne telah merampungkan ribuan riset. Ia memetakan anatomi penyakit-penyakit kuno, mengisolasi wabah baru yang bermutasi di rawa-rawa selatan, meracik ribuan resep obat, dan mendorong studi toksikologi hingga ke titik yang tak pernah dibayangkan oleh para tabib terdahulu. Baginya, memisahkan antara racun yang membunuh dan racun yang menghidupkan adalah perkara matematika dan ketepatan takaran. Puluhan ribu nyawa telah ia selamatkan dari cengkeraman maut.

Namun, dua ratus tahun terakhir ini, ada sesuatu yang mati di dalam dirinya.

Tidak ada lagi penyakit baru yang menantang akalnya. Semua formula telah mencapai batas kesempurnaan. Dunia medis melambat, menjadi repetitif, dan Marienne mulai didera kebosanan yang amat pekat. Keabadian, yang semula ia gunakan untuk mengabdi pada warisan Alarion, kini terasa seperti penjara tanpa jeruji.

Maka, ia memilih menyepi. Di sebuah pondok kayu sederhana di pedalaman hutan berlumut yang berbatasan dengan Biara Elaris, ia melewatkan hari-harinya sendirian. Hanya sesekali—ketika lonceng perak biara berdentang tiga kali menandakan keadaan darurat atau ketika ia merindukan aroma masa lalu—Marienne akan berjalan kaki kembali ke Elaris. Di sana, ia akan mengajar para murid baru, membantu membedah kasus medis yang rumit, atau sekadar berdiri berjam-jam di taman dalam biara, menatap dan menyentuh kulit kayu hitam keunguan dari pohon berduri raksasa—perwujudan fisik dari Alarion yang tetap hidup melintasi zaman.

Sore itu, musim gugur sedang melukis hutan dengan warna jingga dan emas yang redup. Marienne duduk di tepi sungai yang mengalir tak jauh dari pondoknya. Di pangkuannya terdapat sebuah kitab tua bersampul kulit rusa, namun pandangannya justru tertuju pada riak air yang memantulkan cahaya senja.


"Oi, Suster."

Sebuah suara yang renyah dan tanpa beban memecah kesunyian hutan.

Marienne tidak terkejut. Pendengarannya yang tajam sudah menangkap langkah kaki yang ceroboh itu sejak beberapa menit lalu. Ia menoleh perlahan, mendapati seorang gadis manusia berdiri di sana. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena angin, pipinya kemerahan karena berjalan jauh, dan di tangannya ada sebuah keranjang anyaman penuh berisi buah persik liar yang matang.


"Kau memanggilku... Suster?" tanya Marienne, suaranya datar, sedingin angin musim gugur.

"Ya. Karena semua orang di desa bawah tahu kalau ada suster legendaris yang hidup ratusan tahun di hutan ini," jawab gadis itu sambil melangkah mendekat tanpa ragu. Ia menjatuhkan diri begitu saja di atas batu datar di sebelah Marienne, menaruh keranjangnya di antara mereka. "Ibuku bilang Anda suka buah persik."

Marienne melirik buah-buah berbulu halus di dalam keranjang. "Aku tidak punya preferensi rasa. Lidahku sudah terlalu lama melupakan arti rasa suka."

"Oh." Gadis itu mengerutkan dahi, tidak kelihatan tersinggung sama sekali. "Berarti ibuku berbohong. Tapi tidak apa-apa, ini tetap manis kok."

Marienne menatap gadis itu dengan saksama. Ada binar yang aneh di matanya—jenis energi kehidupan yang ringkih namun menyala-nyala, sesuatu yang sudah sangat lama tidak Marienne miliki. "Kau tahu siapa aku, anak muda? Semua orang tahu darah di tubuhku adalah kutukan racun yang bisa menghentikan jantungmu sebelum rasa sakitnya sempat sampai ke otak. Kau tidak takut?"

Gadis itu tertawa kecil, sebuah bunyi yang terdengar asing di telinga Marienne yang terbiasa dengan keheningan.

"Namaku Mira," katanya sambil mengulurkan tangan, yang tentu saja tidak disambut oleh Marienne demi keselamatan gadis itu sendiri. Mira menarik tangannya kembali dengan santai. "Dan jujur saja, melihat Anda duduk sendirian di tepi sungai sambil memegang buku tua dengan wajah sekosong itu... Anda kelihatan lebih menyedihkan daripada menyeramkan."

Marienne tertegun. Untuk pertama kalinya dalam dua abad, ada seseorang yang berani mengasihani dirinya.

Sejak hari itu, kesunyian Marienne terganggu. Mira mulai sering datang ke pondoknya. Kadang gadis itu membawa seikat daun teh liar, kadang sekeranjang roti gandum yang agak gosong, dan lebih sering ia hanya datang untuk menceritakan hal-hal sepele yang terjadi di desanya—tentang bagaimana tetangganya bertengkar karena seekor kambing, atau tentang angin malam yang membuatnya bersin.

Marienne awalnya mengabaikannya. Ia menganggap Mira seperti seekor burung liar yang kebetulan singgah di jendelanya. Namun perlahan, tanpa ia sadari, ia mulai terbiasa dengan ketukan di pintunya dan suara langkah kaki yang mendekat.

Suatu sore, mereka kembali berada di tepi sungai. Mira melepas alas kakinya, membiarkan sepasang kaki manusianya yang kecil tercelup ke dalam air yang dingin.

"Aku suka sekali sungai ini," gumam Mira, memejamkan mata menikmati sensasi air.

Marienne yang berdiri di sampingnya dengan jubah suster hitamnya menatap aliran air itu dengan tatapan analitis. "Sungai ini mengalir dari mata air pegunungan utara sejak sebelum biara Elaris didirikan. Kandungan mineralnya konstan selama sembilan ratus tahun terakhir. Tidak ada yang istimewa."

Mira membuka matanya dan menoleh, menatap Marienne dengan dahi berkerut. "Suster, Anda salah. Sungai ini selalu berubah."

"Berubah?" Marienne mendengus pelan, sebuah reaksi yang jarang ia tunjukkan. "Secara hidrologis, jalurnya tetap sama selama berabad-abad."

"Bukan jalurnya, tapi airnya," sergah Mira sambil menyendok air dengan telapak tangannya, membiarkan cairan jernih itu meluncur kembali ke sungai melalui sela-sela jarinya. "Air yang mengalir dan menyentuh kakiku detik ini bukanlah air yang sama dengan yang menyentuhnya sedetik lalu. Cahaya matahari yang memantul di atasnya berbeda. Daun kering yang hanyut bersamanya juga berbeda. Sungai ini... tidak pernah sama, Suster."

Marienne terdiam. Ia memandangi riak air yang bergerak cepat.

"Kalau Anda melihat dunia ini hanya sebagai satu pola besar yang abadi," lanjut Mira dengan nada suara yang tiba-tiba melunak, "tentu saja hidup terasa membosankan. Anda hidup terlalu lama, sampai-sampai Anda melihat semuanya terlalu cepat. Anda berhenti memperhatikan detailnya."

"Aku telah mempelajari detail paling mikro dari kehidupan dan kematian, Mira," jawab Marienne, membela pengetahuannya yang berumur sembilan abad.

"Anda mempelajari strukturnya, tapi Anda tidak melihat momennya," kata Mira tegas.

Kalimat Mira malam itu terus bergema di kepala Marienne, mengusik kedamaian dingin yang selama ini ia agungkan.

Beberapa hari kemudian, Mira memaksa Marienne untuk membantunya membuat ramuan sirup obat dari buah beri hutan untuk anak-anak desa yang terserang batuk musiman. Di dapur pondok yang biasanya steril dan sunyi, kini dipenuhi oleh aroma manis buah yang direbus dan tawa Mira.

Marienne memegang pisau perak, memotong buah-buah beri dengan presisi yang luar biasa. Jarak antar potongan sama persis hingga ke milimeter terkecil—sebuah kebiasaan dari berabad-abad riset laboratorium.

"Ah, Suster, potongannya terlalu kaku!" protes Mira sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Marienne mengangkat pisaunya, menatap Mira dengan heran. "Ini ukuran yang paling optimal untuk ekstraksi sari buah tanpa merusak struktur seratnya."

"Tapi Anda memotongnya seperti orang yang sudah bosan hidup," ujar Mira jenaka namun menusuk. "Tidak ada cinta di potongannya."

"Ini obat, Mira. Bukan puisi," balas Marienne dengan nada agak terganggu.

"Obat juga butuh jiwa, Suster. Kalau Anda memotongnya hanya sebagai rutinitas mekanis, khasiatnya akan terasa hambar bagi mereka yang meminumnya. Cobalah potong sambil berpikir bahwa buah beri ini beruntung bisa menyelamatkan seorang anak kecil hari ini."

Marienne menatap buah beri merah di atas talenan kayu. Selama ratusan tahun, ia meracik obat demi kewajiban, demi melunasi utang moralnya pada Alarion, atau sekadar karena ia bisa melakukannya. Ia telah lupa bagaimana rasanya menaruh harapan emosional ke dalam sebuah cangkir obat.

Dengan ragu, ia menekan pisaunya kembali. Kali ini, ia membiarkan potongannya sedikit tidak beraturan. Ia melihat warna merahnya, mencium aromanya yang pekat, dan mendengarkan bunyi desis saat buah itu masuk ke dalam air mendidih.

Anehnya, rebusan sirup itu terasa... berbeda bagi inderanya. Lebih hidup.

Waktu terus bergulir, dan musim dingin mengetuk pintu hutan dengan jemari esnya. Bersamaan dengan turunnya salju pertama, kedatangan Mira ke pondok mulai melambat. Dan ketika gadis itu datang, suaranya tak lagi serenyah biasanya; ia mulai batuk-batuk kecil.

Awalnya Marienne mengira itu hanya flu musim dingin biasa. Ia meracik infus herbal terbaiknya, formula yang pernah menyembuhkan seluruh batalion tentara di masa lalu. Namun, batuk Mira tidak kunjung reda. Malah semakin parah, meninggalkan bercak darah di sapu tangannya.

Marienne mulai memeriksa Mira dengan seluruh pengetahuannya. Ia memeriksa denyut nadi, mendengarkan napasnya, dan menganalisis gejala tubuhnya. Namun, semakin ia memeriksa, semakin hatinya dirayapi oleh sesuatu yang sudah sembilan ratus tahun tidak ia rasakan: ketakutan.

Itu bukan wabah baru. Itu bukan racun kuno yang bisa ia netralisir. Itu adalah kegagalan bawaan dari tubuh manusia—sebuah penyakit generatif langka yang menggerogoti organ dalamnya dari dalam, sesuatu yang dalam catatan medis Marienne, tidak memiliki obat penawar. Tubuh Mira terlalu rapuh, seperti secangkir porselen yang retak perlahan.

"Jangan pasang muka menyeramkan begitu, Suster," bisik Mira suatu malam dari atas ranjang di pondok Marienne, wajahnya pucat namun senyumnya masih berusaha keras untuk hadir.

Marienne berdiri di samping tempat tidur, tangannya menggenggam botol kaca berisi ramuan langka yang baru saja ia bawa dari gudang terdalam Biara Elaris. Tangannya sedikit bergetar. "Aku adalah ketua tabib Ordo Lux Noctis. Aku telah menaklukkan ribuan penyakit. Aku tidak akan membiarkan seorang gadis manusia mati di pondokku karena batuk konyol ini."

Mira mengulurkan tangannya yang kurus, menyentuh jubah hitam Marienne. "Suster... Anda tahu betul, ada hal-hal yang tidak bisa disembuhkan oleh ilmu sains atau racun Alarion. Manusia itu seperti bunga liar di musim gugur. Kami mekar sebentar, lalu kami harus pergi."

Air mata, sesuatu yang Marienne pikir telah mengering dan membeku menjadi es berabad-abad lalu, tiba-tiba merebak di sudut matanya. "Kenapa kau bisa begitu tenang? Hidupmu bahkan belum mencapai sepersekian kecil dari usiaku!"

Mira tersenyum, matanya memantulkan cahaya perapian yang temaram. "Justru karena hidup kami sebentar, Suster... kami tidak punya waktu untuk bosan. Kami belajar untuk mencintai setiap detiknya sebelum semuanya hilang. Aku tidak menyesal. Aku senang, di bagian akhir waktuku, aku bisa mengajari seorang suster abadi bagaimana cara melihat sungai lagi."

Keesokan paginya, salju turun dengan lebat, membungkus seluruh hutan dalam selimut putih yang sunyi. Atas permintaan terakhirnya, Marienne menggendong tubuh Mira yang terasa sangat ringan menuju ke tepi sungai.

Sungai itu belum sepenuhnya membeku; airnya masih mengalir di bawah lapisan es tipis yang retak di beberapa bagian. Marienne duduk di atas sebuah batang pohon tumbang, memeluk Mira yang terbungkus mantel bulu tebal dalam pangkuannya.

Mira menatap aliran air yang bergerak di antara salju. Napasnya pendek dan terasa berat. "Suster Marienne..."

"Ya, Mira?"

"Menurutmu... apakah sungai ini akan mengingat kita?"

Marienne memandangi permukaan air yang berkilau dingin. Sembilan ratus tahun lalu, ia mungkin akan menjawab dengan dingin bahwa air tidak memiliki memori, bahwa alam tidak peduli pada eksistensi manusia. Namun kini, ia mengeratkan pelukannya pada gadis itu.

"Mungkin tidak," jawab Marienne dengan suara yang bergetar menahan isak, tersenyum kecil meniru gaya Mira dulu. "Tapi sungai ini akan tetap mengalir, membawa ingatan tentang tawa dan pai berimu menuju ke laut lepas."

Mira tertawa sangat pelan, sebuah embusan napas hangat di udara musim dingin yang beku. "Jawaban yang bagus... Sekarang, Anda benar-benar terdengar seperti orang yang hidup, Suster."

Gadis itu memejamkan matanya perlahan, menyandarkan kepalanya di bahu Marienne. Angin musim dingin berembus, menjatuhkan beberapa butir salju di atas rambut hitamnya yang kini tak lagi bergerak.

Mira telah pergi, melesat bersama aliran air yang tak pernah sama.

Satu bulan setelah musim dingin yang merenggut Mira, Sister Marienne berjalan melewati gerbang Biara Elaris. Jubahnya berkibar ditiup angin, dan para murid baru membungkuk hormat dengan penuh ketakutan saat ia lewat. Namun, ada yang berbeda dari langkah sang suster abadi hari ini; langkahnya tidak lagi terasa berat dan melelahkan, melainkan penuh kepastian.

Ia berjalan ke taman dalam biara, berhenti tepat di hadapan pohon hitam perwujudan Alarion.

Marienne mengulurkan tangannya, menyentuh batang berduri itu tanpa ragu. Getah beracun yang mengalir di dalamnya berdenyut, menyapa racun yang ada di dalam darah Marienne sendiri.

"Alarion..." bisik Marienne ke arah kulit kayu yang dingin. "Aku akhirnya mengerti apa yang salah denganku selama ini. Aku terlalu sibuk meratapi keabadian yang stagnan, sampai aku lupa bahwa esensi dari keseimbangan yang kau ajarkan adalah pergerakan."

Ia mendongak, menatap cabang-cabang pohon yang menjulang ke langit abu-abu musim dingin.

"Dunia ini tidak pernah sama tiap detiknya. Setiap pasien yang datang, setiap penyakit yang kutemui, setiap racun yang kuracik... semuanya adalah momen yang unik. Aku tidak akan lagi bersembunyi di dalam pondokku untuk melarikan diri dari waktu."

Marienne menarik tangannya kembali. Saat ia berbalik untuk berjalan menuju aula medis tempat para murid menunggunya, seberkas cahaya matahari musim dingin mendadak menembus awan tebal, menyinari taman biara.


Di belakang punggungnya, di sela-sela duri hitam pohon Alarion, sekuntum bunga kecil berwarna putih pucat mekar dengan anggun, melepaskan aroma manis yang samar ke udara. Pohon itu tidak berbicara, namun riak daunnya seolah tahu: Sister Marienne telah kembali, bukan sebagai penjaga makam yang bosan, melainkan sebagai seorang penyembuh yang akhirnya benar-benar memahami arti dari kehidupan.