Gaun putih ini akhirnya benar-benar ada di badan gue. Setelah semua fitting, revisi, drama ukuran, dan panik soal dekor yang sempat bikin grup keluarga rame seminggu terakhir.
Lucu juga, sekarang gue malah duduk sendirian di depan cermin, sementara ruangan ini akhirnya sepi untuk pertama kalinya hari ini.
Sebentar lagi gue menikah. Sebentar lagi hidup gue berubah lagi.
Dan entah kenapa, di momen kayak gini, pikiran gue malah pergi jauh ke belakang ke hidup gue sendiri, ke keluarga gue.
Dari kecil, gue selalu diajarin — atau mungkin lebih tepatnya, dunia selalu ngajarin gue — kalau keluarga sempurna itu terdiri dari ayah, ibu, dan anak; Satu rumah, satu meja makan, satu foto keluarga.
Dan hidup memang kadang enggak adil.
Ada orang yang lahir di keluarga utuh. Ada yang bahkan enggak pernah sempat kenal ayahnya. Ada yang kehilangan ibunya terlalu cepat. Ada juga yang tumbuh sambil pura-pura kuat tiap kali lihat satu kursi kosong di meja makan.
Dulu waktu kecil, gue sempat takut banget waktu tahu papa dan mama gue mau cerai. Takut jadi “anak broken home.” Takut hidup gue nanti penuh pertengkaran. Takut harus milih tinggal sama siapa. Takut jadi anak yang kesepian.
Karena dari yang gue lihat waktu itu, perceraian selalu digambarkan seperti akhir dari segalanya buat seorang anak.
Tapi ternyata, hidup gue enggak seperti itu.
Papa dan mama gue memang berpisah. Tapi anehnya, mereka enggak pernah benar-benar saling membenci. Gue enggak pernah lihat mereka jelek-jelekin satu sama lain di depan gue. Enggak pernah ada perang dingin yang bikin rumah terasa sesak. Enggak ada rebutan ego.
Yang ada justru dua orang dewasa yang, meskipun gagal jadi pasangan, tapi sukses sebagai teman baik dan sebagai orang tua.
Dan makin gue gede, makin gue sadar, mungkin itu salah satu bentuk cinta paling dewasa yang pernah gue lihat.
Gue masih inget pertama kali papa ngenalin pacarnya ke gue. Papa keliatan gugup banget waktu itu.
“Kalau kamu nggak nyaman, bilang ya,” katanya hati-hati.
Tapi lucunya… gue nyaman banget malah. Mama tiri gue orangnya hangat, cerewet, dan punya kebiasaan diam-diam nambahin lauk ke piring gue kalau dia merasa gue lagi banyak pikiran.
Enggak lama kemudian, mama juga ngenalin pacarnya. Dan lucunya lagi, dia juga baik. Tipe orang yang selalu bawain charger cadangan. Selalu nyetirin kalau hujan. Dan hafal pesanan kopi gue tanpa perlu nanya lagi.
Kadang gue masih heran sendiri. Harusnya semua ini rumit. Harusnya ada drama. Harusnya gue bingung harus sayang ke siapa. Tapi hidup gue malah terasa penuh.
Waktu papa kandung gue menikah lagi, gue ikut naik ke pelaminan. Waktu mama gue menikah lagi pun sama.
Dan anehnya, gue enggak pernah merasa kehilangan siapa-siapa. Karena enggak ada yang digantikan. Hati gue cuma bertambah besar.
Yang paling lucu justru hubungan mereka semua. Mama kandung gue sama mama tiri gue malah akrab banget. Kadang mereka pergi berdua. Kadang girls night out bertiga sama gue. Kadang video call tengah malam cuma buat ngerumpiin drama absurd di grup WhatsApp keluarga.
Dan setiap kali itu terjadi, gue selalu merasa hidup gue kayak sitkom keluarga absurd yang ditulis orang iseng tapi berhati lembut.
Papa kandung gue sama papa tiri gue memang lebih canggung. Namanya juga bapak-bapak. Bonding mereka biasanya berupa ngopi bareng, ngobrol soal mobil, atau debat receh soal jalan tercepat buat pulang. Dan gue tahu, kadang mereka juga diskusi soal tumbuh kembang gue.
Jarang banget mereka jalan bertiga sama gue. Tapi pernah beberapa kali. Dan entah kenapa, momen-momen kecil kayak gitu selalu terasa hangat banget.
Mereka mungkin enggak terlalu ekspresif. Tapi gue tahu mereka saling menghormati. Dan itu terasa di interaksi dan keseharian mereka.
Gue menunduk pelan sambil mainin ujung veil gue.
Hari ini semua orang sempat bingung gara-gara satu permintaan gue. Gue mau yang nganter gue ke altar pemberkatan itu dua papa gue sekaligus.
Awalnya papa tiri gue langsung nolak halus. “Papa kandung kamu aja ya,” katanya sambil senyum kecil. “Itu memang hak beliau.”
Tapi gue langsung geleng. “Enggak bisa.”
“Kenapa?” tanya dia pelan.
Karena buat gue… memang enggak bisa.
Gimana caranya gue milih satu ayah, sementara hidup gue dibesarkan oleh dua laki-laki yang sama-sama sayang sama gue tanpa syarat?
Papa kandung gue yang ngajarin gue naik sepeda. Papa tiri gue yang nungguin gue semalaman di IGD waktu gue kena demam berdarah. Papa kandung gue yang pertama kali gendong gue. Papa tiri gue yang diam-diam nangis waktu gue diterima kerja pertama kali.
Dan gue sadar... Cinta ternyata enggak selalu biologis. Kadang cinta itu cuma konsistensi kecil yang dilakukan bertahun-tahun tanpa banyak suara.
“Udah, berdua aja antar anak kita,” kata mama kandung gue.
“Iya lah,” sahut mama tiri gue cepat. “Memangnya cuma satu yang sayang sama dia?”
Bahkan papa kandung gue ikut nepuk pundak papa tiri gue sambil ketawa kecil. “Udah. Kita gantian kalau gugup.”
Dan tadi, waktu prosesi latihan kecil sebelum acara dimulai, gue hampir gagal nahan ketawa.
Di belakang gue, mama kandung sama mama tiri gue malah sibuk bergosip sambil cekikikan lihat dua bapak-bapak itu tegang luar biasa.
“Tuh kan, jalan aja masih kaku,” bisik mama tiri gue.
“Padahal yang nikah anaknya, bukan mereka,” balas mama kandung gue sambil ketawa pelan.
Dan gue cuma bisa senyum geli sambil nahan haru.
Mungkin beginilah rasanya dicintai terlalu banyak orang. Dan nanti, waktu resepsi dimulai, gue juga sudah minta satu hal lagi. Gue mau keempat orang tua gue naik bersama ke atas panggung. Bukan dipisah. Karena di hati gue, enggak pernah ada label “kandung” atau “tiri.”
Yang ada cuma orang-orang yang memilih tinggal, memilih sayang, dan memilih jadi keluarga.
Awalnya semua orang sempat ragu.
“Emang nggak aneh?” tanya salah satu panitia pelan.
Tapi yang pertama kali bilang “ayo” justru mama tiri gue.
“Naik berempat aja lah,” katanya enteng. “Sekali-sekali bikin orang bingung.”
Gue langsung ketawa waktu dengar itu.
Dan sekarang, duduk di depan cermin ini, Mata gue mulai panas. Karena gue sadar sesuatu. Di dunia yang penuh cerita tentang perpisahan, pertengkaran, dan keluarga yang saling melukai, gue justru tumbuh dengan sesuatu yang langka.
Bukan dua orang tua. Tapi empat. Dan semuanya, dengan cara mereka masing-masing, memilih buat mencintai gue dengan utuh.
Tok tok tok. Pintu ruang rias gue diketuk perlahan.
“Nadya,” suara wedding organizer terdengar lembut dari luar. “Sebentar lagi mulai ya.”
Gue menarik napas panjang, lalu berdiri pelan sambil senyum kecil ke pantulan diri gue sendiri di cermin.
“Okay,” jawab gue pelan.
Dan untuk pertama kalinya hari ini, gue merasa benar-benar siap berjalan menuju altar — diantar oleh seluruh hidup yang selama ini menjaga gue.