Monday, February 9, 2026

Truth, Lies, and Consequences

Telling the truth is easy;
it only takes a few minutes.
The hardest part is accepting it,
and mitigating its impact—
which may change your entire life—
compared to hiding it.

Honest people are punished harshly,
while liars live freely.
I have seen enough examples where liars hide the truth their entire lives,
and live peacefully until their time is exhausted.

Now tell me—
who taught people how to lie in the first place?



Sunday, February 8, 2026

Kodoku : Guci dan Kantor Ber-AC


Dalam folklore Jepang dan Tiongkok kuno, ada satu praktik ilmu hitam yang namanya lumayan terkenal, dan konsekuensinya brutal: Kodoku.

Kodoku bukan mantra instan. Ia adalah proses panjang, disengaja, dan kejam—baik bagi korban maupun pemiliknya.

Ritualnya dimulai dengan sebuah guci.


Ke dalam guci itu dimasukkan lima binatang beracun. Umumnya ular, kelabang, laba-laba, katak beracun, dan kalajengking. Di beberapa varian, jenisnya bisa berbeda, tapi prinsipnya sama: makhluk-makhluk yang secara alami saling bermusuhan dan berbahaya jika disatukan.

Setelah itu, guci disegel rapat, tak ada udara masuk. Lalu guci tersebut dikubur di perempatan jalan.


Di dalam gelap dan sempit, binatang-binatang itu mulai panik. Mereka saling menyerang. Tidak ada ruang untuk kabur. Tidak ada jalan damai. Yang terjadi hanyalah eliminasi.


Satu demi satu mati.

Sampai tersisa satu.

Makhluk yang bertahan inilah yang kelak disebut *Kodoku*—hasil dari akumulasi racun, agresi, dan survival ekstrem. Setelah ritual lanjutan, Kodoku dipercaya bisa dijadikan entitas gaib yang bisa “dideploy” untuk mencelakakan musuh pemiliknya, atau untuk tujuan lain terkait akumulasi kekayaan.

Tapi ada harga yang mahal.

Kodoku harus diberi tumbal secara berkala. Jika tidak, ia tidak akan lenyap. Ia akan berbalik arah—memakan majikannya sendiri.

Kodoku tidak pernah benar-benar jinak. Ia hanya menunggu kesempatan.

---

Sekarang, mari geser gucinya.


Bukan ke tanah, tapi ke gedung kantor modern.

AC dingin. KPI panas. Slack bunyi terus.


Lima orang pintar. Ambisius. Berpotensi besar. Dimasukkan ke satu tim, satu proyek, satu target yang agresif. Ruang geraknya sempit. Arahan kabur. Resource terbatas. Deadline menekan.

Mereka “digebrak”.

“Buktikan value-mu.”
“Siapa yang paling impactful?”
“Kita butuh high performer.”
“Survival of the fittest.”


Secara sadar atau tidak, sistem mulai bekerja seperti guci Kodoku.

Alih-alih kolaborasi, muncul kompetisi laten. Alih-alih saling menopang, mulai ada sikut-sikutan halus. Knowledge disimpan. Kredit diperebutkan. Empati dianggap lambat.

Dan hasilnya?

Biasanya luar biasa.

Output melonjak. Profit gila-gilaan. Investor senyum. Board puas. Dari luar, sistem terlihat sukses.

Satu atau dua “survivor” muncul—mereka yang paling tahan tekanan, paling adaptif, paling kebal rasa bersalah. Mereka naik cepat. Dipuji. Dijadikan role model.

Kodoku korporat berhasil diciptakan.

---

Masalahnya, seperti versi aslinya, Kodoku tidak pernah berhenti lapar.

Ia butuh tumbal terus-menerus: lembur tanpa batas, burnout yang dinormalisasi, kesehatan mental yang “nanti saja”, hubungan personal yang dikorbankan. Dan ketika tumbal mulai habis—ketika karyawan terbaik mulai pergi, ketika tubuh dan pikiran mulai rusak—Kodoku tidak mati.

Ia berbalik.


Budaya kerja menjadi toksik. Kepercayaan runtuh. Cynicism merajalela. Orang-orang yang “bertahan” pun pelan-pelan dimakan dari dalam: paranoia, kehampaan, kehilangan makna.

Perusahaan sering heran:
“Kok sekarang susah cari talent?”
“Kok engagement turun?”
“Kok orang-orang cepat resign?”

Padahal gucinya masih di sana. Masih disegel. Masih dikubur di perempatan keputusan yang sama.

---

Kodoku mengajarkan satu hal yang jarang diakui dalam dunia modern:
Sistem yang dibangun dari saling memakan akan selalu menuntut daging—entah cepat atau lambat.

Ia bisa menghasilkan kekuatan dan performa yang luar biasa. Tapi bukan sustainable power. Dan ia tidak pernah setia.

Pertanyaannya bukan apakah kita bisa menciptakan Kodoku di tempat kerja. Kita sudah melakukannya, berkali-kali.

Pertanyaannya adalah:
siapa yang akhirnya akan menjadi tumbalnya?

Saat Ekspektasi Jadi Jebakan


Ada ekspektasi → disimpan di kepala sendiri → nggak dikomunikasikan → lalu suatu hari… boom → orang lain disalahin karena gagal menebak isi pikiran.

Itu unfair. Dan lebih parah lagi, itu malas.
Karena komunikasi itu kerja. Nyalahin “nggak peka” itu jalan pintas.

Peka itu respon terhadap sinyal yang ada.
Inisiatif itu bertindak dalam ruang yang jelas.
Kalau nggak ada sinyal, nggak ada konteks, nggak ada boundary — yang ada cuma jebakan evaluasi.


Nggak ada orang waras yang nggak naro rambu, lalu marah karena orang lain nyasar.
“Harusnya tau jalan” — ya tau dari mana, bro? Google Maps aja butuh sinyal.


Ekspektasi yang tidak diucapkan tapi ditagih kemudian bukan standar—itu jebakan.

Tuesday, February 3, 2026

AI Overthinking


Kemarin, pas gw lagi ngerjain sebuah tugas dibantu AI, gw tidak sengaja melakukan satu hal kecil: gw mengirim prompt tanpa mengaktifkan fitur *extended thinking*. Awalnya gw nggak terlalu banyak mikir. Tapi tahunya hasil yang keluar justru bikin gw kaget.

Output-nya lebih ringkas. Lebih fokus. Dan—yang paling penting—lebih relevan dengan apa yang sebenarnya gw butuhkan.

Ini menarik, karena sebelumnya gw justru sering merasa terganggu ketika menggunakan mode *extended thinking*. Bukan karena AI-nya “kurang pintar”, tetapi karena output yang dihasilkan sering kali terlalu panjang, terlalu banyak asumsi, dan kadang terasa seperti informasi yang “diada-adain”. Seolah-olah ada dorongan untuk mengisi setiap celah dengan penjelasan tambahan, meskipun nggak semuanya benar-benar diperlukan.


Ketika diminta untuk “berpikir lebih dalam”, AI justru mulai mirip manusia yang lagi overthinking. Terlalu banyak kemungkinan dipertimbangkan, terlalu banyak elaborasi ditambahkan, sampai akhirnya batas antara fakta, asumsi, dan spekulasi menjadi kabur. Sesuatu yang sederhana jadi rumit. Sesuatu yang jelas jadi melebar ke mana-mana.


Pengalaman kecil ini bikin gw mikir juga sih.

Sering kali, kita juga melakukan hal yang sama. Kita kira bahwa kualitas selalu sebanding dengan seberapa keras kita berpikir, seberapa banyak kita menganalisis, atau seberapa kompleks proses yang kita jalani. Padahal, dalam banyak kasus, justru sebaliknya: kejelasan muncul ketika kita berhenti menumpuk pikiran yang tidak perlu.

Tidak semua pekerjaan butuh analisis mendalam. Tidak semua keputusan perlu dibedah dari sepuluh sudut. Dan tidak semua hasil yang baik lahir dari kepala yang terus berisik.

Kadang, berpikir secukupnya—lalu mengeksekusi dengan jujur dan fokus—justru menghasilkan karya yang lebih bersih dan lebih tepat sasaran.

Pengalaman ini menjadi pengingat sederhana: kualitas bukan selalu tentang “lebih banyak”. Kadang, kualitas justru lahir dari keberanian untuk berhenti sebelum pikiran kita sendiri mulai mengada-ada.

Sunday, February 1, 2026

As It Is

Sometimes, there is no hidden meaning.
Everything is as it is.

Sometimes, there is no applicable strategy to eases things can be found.
Just execute it with brute force!



Certainty of Paradox

Whisper of silence,
touch of empty space,
light of darkness,
Love, neither lost nor found...



Tentang Hubungan Transaksional

Jujur saja, sampai sekarang gue masih sering kesulitan membedakan antara hubungan yang disebut transaksional dengan konsep reciprocity, balas budi, atau kontribusi. Di atas kertas, istilah-istilah itu terdengar berbeda. Lebih halus. Lebih bermartabat. Lebih “manusiawi”.

Tapi esensinya, rasanya sama saja.

Kadang gue merasa istilah-istilah itu hanyalah cara yang lebih sopan untuk membungkus ketidaknyamanan kita terhadap kata “transaksi”. Kata itu terdengar dingin. Kaku. Seolah-olah setiap relasi manusia harus selalu dihitung, ditimbang, dan dicatat di buku besar tak kasat mata.

Padahal, kenyataannya, hampir semua hubungan memang punya unsur timbal balik. Entah kita mau mengakuinya atau tidak.


Dan mungkin… itu bukan sesuatu yang buruk.

Tidak ada orang tua yang membesarkan anaknya dengan harapan anak itu tumbuh menjadi beban bagi dunia. Bahkan cinta orang tua yang paling tulus pun biasanya disertai harapan implisit: anaknya bisa hidup layak dan bertanggung jawab.

Begitu juga pertemanan. Tidak ada teman yang bisa terus-menerus memberi tanpa pernah menerima. Tidak ada hubungan yang tahan lama jika satu pihak selalu diminta mentraktir, membantu, mengalah, atau memahami—sementara pihak lain tidak pernah berusaha memberi kembali, sekecil apa pun bentuknya.

Mungkin yang sering kita tolak bukanlah transaksinya, melainkan transaksi yang terasa kasar, eksploitatif, atau tidak seimbang. Kita tidak alergi pada timbal balik. Kita alergi pada relasi yang terasa seperti diperas, dipakai, lalu ditinggalkan.

Reciprocity bukan tentang hitung-hitungan kaku. Ia lebih mirip kesadaran bersama bahwa relasi itu hidup karena dua arah. Bahwa kehadiran kita di hidup orang lain seharusnya membawa nilai, bukan hanya kebutuhan.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita akui adalah ini: hampir semua hubungan melibatkan pertukaran. Waktu, energi, perhatian, uang, empati, dukungan emosional. Bedanya, hubungan yang sehat tidak selalu menagih, tapi tetap berharap. Tidak selalu mencatat, tapi tetap ingat. Tidak selalu seimbang di setiap momen, tapi terasa adil dalam jangka panjang.

Dan mungkin, kejujuran semacam itu justru lebih dewasa daripada berpura-pura bahwa semua relasi sepenuhnya bebas dari kepentingan.