Aku tidak tahu di mana aku berada. Hal pertama yang kurasakan adalah angin yang lembut menyentuh wajahku, membawa aroma bunga dan sesuatu yang samar-samar mengingatkanku pada tanah setelah hujan.
Aku sedang berdiri di tengah padang rumput yang luasnya seperti tidak berujung. Rumputnya hijau lembut, bergoyang pelan ditiup angin yang entah datang dari mana. Di sana-sini tumbuh bunga liar warna-warni, dan tidak jauh dari tempatku berdiri, ada sungai kecil yang airnya jernih mengalir tenang, memantulkan langit yang warnanya seperti sore yang tidak pernah berakhir.
"Woi. Ngelamun aja lu."
Suara itu. Suara yang sangat familiar, namun sudah belasan tahun tak pernah kudengar secara langsung. Aku menoleh patah-patah. Di sampingku, berdiri seorang laki-laki. Tangannya masuk ke dalam saku celana. Rambutnya sedikit berantakan diterpa angin. Aku mengenal wajah itu. Wajah yang selama bertahun-tahun berusaha kulupakan. Sahabat lamaku. Orang yang dulu pernah kuanggap sebagai saudara.
Dia menatapku, lalu tersenyum. Senyum kecil yang begitu familiar. Senyum yang entah kenapa membuat dadaku terasa sesak.
Jujur, hubungan kami terakhir kali berada di titik terhancur. Kami bertengkar hebat belasan tahun lalu, saling lempar makian, dan sejak hari itu kami sama sekali tidak pernah bersapaan. Tapi anehnya, detik ini, saat mataku menatap matanya, tak ada sedikit pun rasa benci, kesal, atau ganjalan di dadaku. Yang ada hanya rasa hangat yang aneh. Seperti bertemu seseorang yang sebenarnya sudah lama sekali kurindukan, tetapi terlalu gengsi untuk kuakui.
"Kenapa? Kaget liat muka ganteng gue?" katanya sambil tertawa pelan, lalu melangkah santai menyusuri tepi sungai.
"Ngapain lo di sini? Ini... di mana sih?" kataku, masih setengah tidak percaya.
Dia cuma mengangkat bahu, tangannya dimasukkan ke saku celana, jalan mendekat. "Nggak tahu juga. Tapi lumayan kan, pemandangannya?"
Aku menatap sekeliling lagi. Padang rumput, bunga, sungai. Indah, tapi asing. "Gue... nggak inget gimana bisa ada di sini."
"Udah, nggak usah dipikirin dulu," katanya, lalu menepuk pundakku. "Jalan aja yuk. Udah lama juga kan kita nggak jalan bareng."
Entah kenapa aku menurut saja. Kami berjalan berdampingan menyusuri tepi sungai, rumput menyentuh betis kami, angin membawa aroma bunga yang samar. Tanpa terasa, percakapan mengalir begitu saja. Kami mengenang hal-hal bodoh masa muda.
"Inget nggak," kata dia sambil menatap ke depan, "waktu kita SMA, kita pernah kabur pas jam pelajaran cuma buat beli es krim di ujung gang deket sekolah?"
Aku tertawa kecil. "Terus ketauan sama wali kelas kita, dan disuruh push up di depan kelas."
"Lo yang disuruh push up. Gue kabur duluan," dia menyeringai.
"Anjir, iya juga ya. Lo emang licik dari dulu." Kami tertawa bareng.
"Inget si doi nggak? Cinta pertama kita?" tanya dia tiba-tiba, sambil menendang kerikil kecil ke sungai.
Aku menghela napas panjang, senyum getir muncul begitu saja. "Ya! Kita berdua sama-sama naksir doi! Kita berdua saingan mati-matian, kencan bergantian, terus akhirnya sama-sama ditolak."
"Sialan banget emang tuh momen," dia ketawa. "Tapi untung kita nggak sampe berantem gara-gara itu."
"Iya. Waktu itu kita malah ketawa bareng, terus makan mie ayam sampe kekenyangan buat ngelupain sakit hati."
Kami terus jalan, cerita punya cerita mengalir begitu saja. Tentang malam-malam kami begadang nonton film horor sampai ketiduran di ruang tamu rumahnya. Tentang motor butut yang sering mogok tapi tetap kami paksa jalan sampai ke pantai. Tentang hal-hal bodoh yang cuma kami berdua yang tahu, yang kalau diceritakan ke orang lain pasti nggak akan ada yang percaya.
Sesekali kami masih seperti dulu—saling ejek, berdebat hal sepele, lalu tertawa lagi. Kami membicarakan impian-impian masa muda kami yang dulu terasa sangat nyata.
"Dulu kita yakin banget bakal terus bareng ya." gumamku pelan, menatap riak air sungai. "Kita pengen tumbuh tua bareng. Lu jadi best man di nikahan gue, gue jadi best man di nikahan lu. Tetap nongkrong walau udah sama-sama ompong... Kalau punya anak, anak kita juga harus temenan. Kalau mereka nggak mau, kita paksa." Aku tertawa.
Dia diam sebentar. Senyumnya masih ada, tapi matanya menerawang jauh. "Iya. Gue masih inget itu."
"Terus kenapa semuanya berubah?" tanyaku, akhirnya menyuarakan pertanyaan yang selama ini mengganjal. "Kenapa kita bisa sampe nggak ngomong bertahun-tahun?"
Dia tidak langsung menjawab. Dia cuma tersenyum tipis, senyum yang susah kuartikan—antara sedih dan lega di saat bersamaan. Suasana mendadak hening. Kenangan tentang konflik besar belasan tahun lalu—kesalahpahaman konyol yang memupuk gengsi hingga memisahkan kami—berkelebat sekilas.
Ada satu masa ketika semuanya berubah. Pertengkaran terbesar kami. Kata-kata yang tidak seharusnya kami ucapkan. Kesalahpahaman yang tidak pernah benar-benar diselesaikan. Ego, amarah, dan setelah itu... Kami tidak pernah benar-benar berbicara lagi.
Aku masih inget kata-kata terakhir aku ke dia waktu itu, "Gue nggak butuh sahabat kayak lo."
Tahun demi tahun berlalu. Satu tahun. Lima tahun. Sepuluh tahun. Belasan tahun.
Aku masih tidak tahu siapa yang paling salah. Mungkin kami berdua. Mungkin keadaan. Mungkin memang ada beberapa hubungan yang hancur bukan karena tidak ada kasih sayang, tetapi karena dua orang yang saling menyayangi sama-sama tidak tahu bagaimana cara menyelamatkannya.
"Udahlah," katanya akhirnya, "nggak usah dibahas sekarang."
Aku menatapnya, "Lo pernah kangen gue?"
"Lo sendiri?" Sambil dia terus berjalan.
Aku menghela napas, "Pertanyaan gue dulu."
Dia tertawa pelan, "Ya. Gue kangen lu bro."
Satu kalimat pendek, tapi entah kenapa rasanya berat sekali. Aku menunduk. "Gue juga."
Kami terus berjalan. Aku ingin bertanya lagi, tapi entah kenapa kelopak mataku terasa amat berat. Rasa kantuk yang luar biasa dahsyat menyerangku. Pandanganku kabur, kakiku lemas, dan tubuhku mulai limbung. Aku mulai merasa ngantuk, benar-benar ngantuk, seperti tubuhku perlahan menjadi ringan dan kesadaranku menjauh sedikit demi sedikit.
"Woy," Dia tiba-tiba mengguncang bahuku pelan. "Jangan sampe ketiduran di sini." Suaranya terdengar panik namun penuh penekanan.
"Sori," gumamku, mencoba fokus lagi.
Dari kejauhan, tiba-tiba aku mendengar suara. Ada suara sirene, teriakan panik, dan seseorang yang memanggil-manggil berulang kali.
Aku menoleh ke arah suara itu. "Lo denger itu?"
Dia mengangguk pelan. "Denger. Lo harus ke sana. Kejar suara itu."
Aku menatapnya, bingung. "Lo nggak ikut? Kita kan baru ketemu lagi."
Dia menggelengkan kepala. "Gue gak ikut," bisiknya halus.
Sebelum aku sempat memprotes, dia mendadak mendorong dadaku dengan sangat keras. Begitu keras sampai aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang. Sebelum tubuhku menyentuh tanah, semuanya gelap.
---
Aku tersadar dengan telinga berdenging dan debu memenuhi udara.
Aku tidak lagi di padang rumput atau di pinggir sungai. Aku terbaring di antara reruntuhan beton dan besi yang berserakan, di bawah sesuatu yang berat—yang, aku baru sadari setelah pandanganku jelas, adalah tubuh seseorang di atasku. Tubuh yang menahan reruntuhan agar tidak menimpaku. Wajahnya penuh darah, dan aku menatapnya dengan bingung.
Itu sahabat lamaku, yang tadi berjalan bersamaku di padang rumput menyusuri sungai.
Ingatanku perlahan kembali, potongan demi potongan. Aku sedang menghadiri sebuah acara di gedung ini. Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dia di sana—setelah bertahun-tahun, tiba-tiba dia berdiri di satu ruangan, dan kami saling menatap, sama-sama kaget. Sebelum kami sempat menyapa atau menghampiri, gempa dahsyat meretakkan bumi. Gedung itu rubuh.
Dan di detik-detik menakutkan itu... dia langsung menerjang tubuhku, mendorongku ke lantai, dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai untuk menahan bongkahan beton besar yang jatuh tepat di atas kami.
Dia bergerak sedikit. Napasnya berat, tersengal. Darah membasahi sisi kepalanya.
"Untung... lo nggak kenapa-kenapa," bisiknya, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Lo ngapain...?"
"Refleks." Dia tersenyum lemah.
"Jangan bercanda!" Aku mulai panik.
Dia tertawa kecil, kemudian batuk. Darah keluar dari sudut bibirnya. "Kayaknya... kita belum berubah."
"Diem dulu, jangan banyak gerak," kataku, panik, mencoba meraba sekeliling mencari celah untuk keluar, tapi reruntuhan itu terlalu berat, terlalu rapat. Dan akhirnya untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat wajah sahabatku tanpa semua tembok yang pernah kami bangun. Tanpa ego, tanpa kemarahan, tanpa masa lalu. Hanya dia dan aku.
"Tau nggak?"
"Apa?"
"Gue... gue kangen banget sama lu, bro. Bertahun-tahun gue merasa kehilangan lu... Maafin gue..."
Napasnya saat itu terbata-bata, terengah di balik debu.
"Bro, udah, jangan ngomong dulu—"
"Kalo salah satu dari kita selamat," lanjutnya, suaranya makin pelan, "atau kalo kita berdua selamat... gue pengen jalan bareng lagi. Kayak dulu. Ngobrolin masa lalu. Ngomongin hal-hal bodoh. Dan kalo masih ada kesempatan..." dia berhenti sebentar, mengatur napas, "...melihat masa depan bareng."
Aku menggenggam tangannya. Aku tertawa sambil menangis. "Kita pasti selamat. Gue janji, kita bakal jalan bareng lagi. Bertahan dulu, oke?"
Dia hanya tersenyum, matanya perlahan menutup. Setelah itu, semuanya gelap. Dan tiba-tiba saja, pembicaraan kami berlanjut di padang rumput dengan sungai yang jernih itu, sebelum akhirnya kami kembali lagi ke reruntuhan ini.
Aku mendengar suara dari kejauhan, kali ini nyata.
"ADA KORBAN! DI SINI! ADA DUA ORANG!"
Suara langkah kaki semakin dekat. Tangan-tangan menarikku keluar dari reruntuhan. Kami dievakuasi. Kami selamat! Tapi ketika aku menoleh mencari temanku, tim penyelamat sedang mengangkat tubuhnya keluar dari reruntuhan dengan hati-hati. Terlalu hati-hati. Terlalu pelan.
"Bro?" Aku memaksakan diri bangun, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuh. Salah satu petugas menahanku, wajahnya menyiratkan sesuatu yang tidak perlu diucapkan.
Aku tidak menghiraukannya. Aku merangkak mendekati tubuh dia yang terbaring di tanah, dan begitu aku melihat wajahnya dari dekat, aku tahu.
Aku menyentuh wajah dinginnya.
"Bangun!" Tidak ada jawaban.
"BANGUN JING!" Masih tidak ada jawaban.
"LO BILANG KITA BAKAL JALAN LAGI! LO BILANG KITA BAKAL NGOBROL LAGI!" Suaraku pecah.
Di tengah kerumunan orang-orang yang bekerja menyelamatkan korban lain, aku memeluk sahabatku seperti seorang anak kecil. Dan akhirnya semua air mata yang selama bertahun-tahun tidak pernah keluar, tumpah sekaligus. Air mataku jatuh tak terkendali, membasahi wajahnya yang tertutup debu.
Dan baru saat itu aku melihatnya. Dia terkulai di dekapanku dengan senyum tipis yang amat damai di wajahnya. Senyum yang sama persis seperti yang baru saja kulihat di padang rumput tadi.
"Kenapa lo masih aja kayak gini... Kenapa lo masih aja nyelametin gue..."
---
Beberapa tahun berlalu. Aku masih suka datang ke makamnya. Makamnya tidak terlalu jauh dari pohon besar yang rindang.
Hari ini aku membawa bunga dan gitar tua yang sudah lama tidak kumainkan.
"Maaf lama nggak datang." Aku tersenyum kecil.
"Padahal gue tahu sih lo nggak akan protes."
Aku duduk di depan nisannya, meletakkan bunga di atas makamnya, lalu menyetel senar seadanya, lalu memainkan lagu kesukaannya. Lagu yang dulu selalu kita nyanyikan asal-asalan setiap kali kami nongkrong sampai malam. Aku bernyanyi pelan. Tidak terlalu bagus. Dia pasti akan mengejekku kalau masih hidup. Tapi anehnya... Aku bisa membayangkan tawanya.
Setelah bait terakhir usai, aku menyandarkan gitar di samping nisan, lalu mengelus permukaan batu dingin itu dengan lembut.
"Bro..." ucapku pelan, tersenyum kecil. "Mungkin kita memang gak bisa secara fisik jalan bareng lagi. Nggak bisa saling jadi best man, nggak bisa punya keluarga dan tumbuh tua bareng seperti janji kita dulu..."
Aku menghela napas panjang, menatap ukiran namanya dengan penuh kerinduan.
"Tapi gue bakal selalu bawa kenangan tentang lo di hati gue. Selalu."
"Jadi..." Aku tersenyum, "Sampai ketemu lagi, bro."
Aku berbalik dan berjalan meninggalkan makam. Namun setelah beberapa langkah, aku berhenti untuk menoleh sekali lagi.
Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan rumput dan pepohonan di sekitar makam. Aku seperti melihat padang rumput itu lagi, tempat terakhir kami berjalan bersama. Bunga-bunga bergoyang tertiup angin. Sungai mengalir tenang. Dan di kejauhan, ada seseorang berdiri, Seorang laki-laki. Tangannya masuk ke saku celana sambil tersenyum. Senyum yang sangat kukenal. Aku tersenyum balik, lalu berjalan pulang.
Writer's note :
Cerita ini gw tulis based on kisah nyata dari posting IG di bawah ini :
Jujur, cerita aslinya happy ending. Entah kenapa gw jadi nulis cerita tragedi ini.
Anyway, semoga 2 sahabat di postingan asli ini, bisa tetap akur dan baik-baik sampai mereka tua.
Paling tidak, 1 milestone sudah mereka capai, mereka sudah punya keluarga masing-masing, mereka sudah sempat "jalan bareng" lagi... :)