Tuesday, August 25, 2026

A Gentle Sinner - A Desime Fanfic


Fanfiction dari Deadly Sevens Inside Me

---

Di tempat yang tidak mengenal pagi dan malam, para roh berkumpul. Tidak ada lantai maupun langit. Hanya kehampaan luas tempat konsep-konsep kuno memiliki kesadaran dan mengambil bentuk sebagai roh.

Justice berdiri di tengah lingkaran, di sebelahnya, Redemption menundukkan kepala dengan wajah muram, dan Kindness menggenggam kedua tangannya sendiri.

Jauh di belakang mereka, bersandar pada kehampaan seolah-olah sedang menunggu pertunjukan dimulai, berdiri sebuah sosok yang tersenyum; Murder.

Di hadapan mereka semua, sebuah bayangan sedang bersiap digantung. Seorang anak kecil dengan rambut putih. Tubuhnya mungil, lehernya terikat.

Tidak ada tangisan, ataupun jeritan. Tidak ada permohonan. Hanya sepasang mata yang menatap langit dengan tenang.

"Dia tidak takut," bisik Kindness.

Justice menyipitkan mata, "Dia seharusnya takut."

"Dia akan mati," kata Redemption pelan.

Murder tertawa kecil, "Justru itu."

Semua roh menoleh kepadanya, Murder tersenyum, "Dia pikir kematian adalah kedamaian."

Lalu tali itu ditarik dan tubuh kecil itu terangkat. Untuk pertama kalinya, semua roh melihat sesuatu yang membuat mereka tidak dapat berkata-kata. Elian tersenyum.

"Sebentar lagi... Aku bisa tidur seperti Papa dan Mama." Napasnya terputus-putus... Kemudian dunia manusia menghilang dari matanya. Namun bagi para roh, kisah Elian baru saja dimulai.


---

Sebelum tangannya mengenal darah dan namanya dikenal sebagai Sinner, Elian hanyalah seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah rumah kecil di pinggir kota.

Perang telah berakhir beberapa tahun sebelumnya, namun perang tidak pernah benar-benar meninggalkan manusia. Ia hanya berganti wujud.

Ayah Elian adalah seorang veteran. Dahulu, ia pulang sebagai pahlawan. Namun sekarang, ia pulang sebagai seorang lelaki yang tidak pernah benar-benar meninggalkan medan perang.


Suara pintu dibanting dapat membuatnya berteriak; Suara benda jatuh dapat membuatnya membentak; Dan sedikit kesalahan saja bisa membuat tangannya terangkat.

"Diam!" Plak!

Elian jatuh ke lantai, dan ibunya langsung berlari. "Elian!"

"Jangan sentuh dia!" Sang ayah berdiri dengan napas berat.

"Aku sudah bilang jangan melawan!"

Elian memegang pipinya, "Maaf, Pa..."

Ibunya memeluknya, "Sudah..."

"Aku nggak bermaksud..."

"Ibu tahu." Seraya memeluk Elian.

Di dalam kehampaan, Kindness memperhatikan, "Dia tidak membenci ayahnya."

---

Ibu Elian adalah kebalikan dari suaminya. Jika suaminya membawa sisa-sisa perang ke dalam rumah, perempuan itu membawa sedikit kedamaian dari dunia luar.

Tetangga yang terluka datang kepadanya, ia obati. Anak tetangga yang kelaparan datang, ia beri makan. Orang tua yang tidak mampu membeli obat datang, ia membantu sebisanya.

Ia tidak bisa membantu banyak, karena keluarganya sendiri juga miskin. Namun jika ada sedikit kelebihan, ia selalu membaginya.

Suatu sore, seorang tetangga tua datang, "Maaf, Bu. Anak saya belum makan."

Ibu Elian melihat panci, kemudian mengambil sebagian makanan. Elian yang sedang duduk di meja langsung menatap ibunya, "Ma..."

"Kenapa?"

"Jangan kasih semuanya."

Ibunya tersenyum, "Iya, ibu nggak kasih semuanya."

"Nanti Papa marah?"

"Ibu tahu."

"Terus kenapa dikasih?"

Ibunya berlutut di hadapannya, "Karena mereka lapar."

Elian terdiam, "Tapi kita juga lapar."

"Makanya Ibu cuma kasih sedikit." Ia mengusap rambut putih-keperakan Elian, "Kita masih punya cukup untuk makan malam."

Elian memandangi makanan yang dibungkus ibunya, "Kenapa Ibu selalu menolong orang?"

Ibunya tersenyum, "Karena kalau kita melihat orang lain kesusahan, hati kita juga ikut sakit."

"Kenapa?"

"Karena kita manusia."

Elian tidak mengerti, dan ibunya melanjutkan, "Kalau kamu bisa membuat orang lain sedikit lebih bahagia tanpa membuat dirimu sendiri menderita, lakukan."


Elian menunduk, "Kalau nanti Papa marah?"

Ibunya terdiam sesaat, kemudian tersenyum, "Kalau Papa marah, biar ibu yang hadapi."

"Kalau ibu dipukul?"

"Nggak apa-apa, biar ibu yang hadapi Elian..."

"Ibu nanti sakit."

Sang ibu memeluk anaknya, "Kalau kamu melihat orang lain sakit, jangan belajar untuk menjadi orang yang tidak peduli hanya supaya kamu tidak ikut sakit."

Kalimat itu tinggal di dalam hati Elian, dan jauh di dalam jiwanya, sesuatu terbangun. Kindness membuka matanya, "Anak ini memiliki resonansi denganku."

Justice mengangguk, "Dia memiliki benih kebajikan yang kuat."

Murder, yang sejak tadi diam, hanya memandangi Elian.

Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang.

---

Malam itu hujan turun. Ayah Elian pulang dalam keadaan mabuk. Langkahnya berat, botol bir masih berada di tangannya. "Di mana makan malam?"

Ibu Elian segera berdiri, "Sebentar, segera kusiapkan."

Sang ayah melihat meja, kemudian melihat sebuah panci yang hanya 3/4 terisi. Wajahnya berubah, "Kamu kasih makanan lagi?"

Ibu Elian diam.

"Jawab!"

"...sedikit."

Brak! Botol menghantam meja. Elian yang berada di sudut ruangan langsung menutup telinganya, "Jangan, Pa..."

"Diam!"

Ayahnya mendekati ibunya, "Kita sendiri kekurangan!"

"Aku tahu."

"Terus kamu kasih makanan kita?!"

"Ini masih cukup untuk kita makan bertiga..."

"Jangan bantah aku!" Botol di tangan lelaki itu pecah. Suara pecahannya membuat Elian membuka mata. Ayahnya menggenggam pecahan botol, dan ibu Elian mundur.

"Jangan..."

"Diam!"

"Papa!"

Ayahnya mengangkat tangan, dan sesuatu bergerak di balik bayangannya. Anger, roh amarah merayap di dalam dirinya. Di sampingnya, Drunken berbisik seperti asap. Dan di belakang semuanya — Murder tersenyum, "Sudah waktunya."

Kindness berteriak, "Jangan!"

Murder menoleh, "Kenapa?"

"Ini bukan jalan anak itu!"

"Dia akan membunuh istrinya."

"Kalau begitu kita seharusnya hentikan!"

Murder tertawa, "Aku bukan Justice!"

Elian melihat ayahnya mengangkat pecahan botol, sementara ibunya menangis, "Elian... jangan lihat."

Tapi kali ini Elian tidak menutup matanya. Ia tidak sanggup. Ia melihat ketakutan di wajah ibunya, dan sesuatu di dalam dirinya pecah. Bukan kebencian ataupun kemarahan; Hanya sebuah pikiran sederhana: "Mama akan sakit."

Tangannya menemukan pisau di meja selagi ayahnya melangkah maju. Elian bergerak, dan pisau itu menembus punggung ayahnya. Sang lelaki terdiam, matanya melebar, "El...ian?"

Tubuhnya terhuyung. Ia berbalik. Elian menangis, "Papa..."

Pisau itu masih berada di tangannya, sementara ayahnya mulai mengangkat tangan. Namun tidak pernah sempat menyentuh anaknya. Elian menusuk sekali lagi tepat ke dada. Kemudian tubuh lelaki itu akhirnya terjatuh.

Elian memandangi ayahnya. Darah perlahan menyebar di lantai; Namun wajah ayahnya... damai. Tidak marah, tidak berteriak, tidak lagi bisa memukul.

Elian berlutut, "Papa?"

Tidak ada jawaban. Ia menoleh kepada ibunya yang berdiri membeku. Air mata mengalir dari kedua matanya sambil memandang suaminya, dan kemudian dia memandang anaknya.

"Elian..." Sang ibu menutup mulutnya. Ia menangis, "Apa yang kamu lakukan?"

Elian menggenggam pisaunya, "Papa mau bunuh Mama."

Ibunya jatuh berlutut, "Aku tahu..."

"Aku nggak mau Mama sakit."

"Ibu tahu..."

"Mama marah?"

Sang ibu menatap anaknya. Bagaimana mungkin ia marah? Bagaimana mungkin seorang ibu membenci anak yang baru saja menyelamatkan hidupnya? Namun bagaimana mungkin seorang istri tidak berduka ketika melihat suaminya mati? Kedua perasaan itu bertabrakan di dalam dirinya.

Cinta, duka, syukur, ngeri, semua perasaan bercampur aduk sekaligus.

Kindness menangis, "Jangan biarkan dia sendirian."

Redemption maju, "Dia membutuhkan pengampunan."

Justice melangkah, "Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."

Murder memperhatikan Elian. Untuk pertama kalinya, ia melihat sebuah celah. Bukan kebencian ataupun dendam. Melainkan kepolosan yang jauh lebih berbahaya.

Elian menatap wajah ayahnya, "Papa tidur..."

Ia menyentuh pipinya, "Papa kelihatan damai."


Murder berbisik, "Ya."

Elian menoleh, "Damai..."

Murder tersenyum, "Begitulah."

Kindness berteriak, "Jangan dengarkan dia!"

Namun Elian sudah terlalu lelah, ia menatap ibunya, "Mama..."

Ibunya membuka kedua tangannya, menyambut Elian yang berlari ke pelukannya, "Maaf..."

Ibunya memeluknya erat, "Elian..."

"Aku nggak mau Mama sakit."

Ibunya menangis, "Ibu tahu."

"Kalau Mama tidur..." Elian mengusap wajah ibunya, "...Mama juga nggak akan sakit lagi."

Mata sang ibu melebar, "Elian..."

Pisau itu bergerak sekali. Sang ibu terdiam. Elian memeluknya, "Sabar ya, Ma."

Tubuh ibunya perlahan melemas.

"Mungkin sakitnya cuma sebentar..." Air mata jatuh dari wajah Elian. "Tapi nanti Mama bisa seperti Papa; Tertidur dengan damai."

Ia tersenyum di pelukan sang ibu. Dan ketika napas terakhirnya hilang, Elian tetap berada di dalam pelukan itu. Murder berdiri tepat di belakangnya.

---

Malam itu, Elian mengatur tubuh kedua orang tuanya. Ia menarik tangan ayahnya, kemudian tangan ibunya, dan menyatukan keduanya. Lalu ia berbaring di antara mereka, "Aku juga capek."

Ia memejamkan mata, "Selamat tidur, Papa."

Ia berpindah sedikit, "Selamat tidur, Mama."

Kemudian Elian tertidur.


Dan ketika ia tertidur — di sekeliling tubuh kecil yang tertidur di antara dua jenazah itu, tercipta selubung tenang, hangat, hampir seperti selimut. Roh Peace, yang jarang campur tangan dalam urusan manusia, entah bagaimana telah tertarik oleh keheningan aneh di hati Elian dan memilih menjaga tidurnya. Peace menatapnya, "Aku akan menjaganya selama dia tidur."

Redemption datang, wajahnya penuh kecemasan, "Kita harus membawanya."

Justice menimpali, "Dia telah melakukan pembunuhan."

Kindness berbicara kepada seluruh roh yang hadir, "Kumohon, datanglah dan perbaiki ini, selamatkan sisa dari anak itu yang masih bisa diselamatkan!"

Redemption berlutut di hadapan jiwa Elian, "Elian."

Anak itu masih tertidur.

"Bangunlah."

Tidak ada jawaban.

"Apakah kamu menyesal?"

Elian membuka mata dan ia tampak bingung.

"Menyesal?"

"Atas apa yang kamu lakukan."

Elian berpikir, kemudian menggeleng, "Papa dan Mama sekarang nggak sakit."

Redemption terdiam. "Apakah kamu merasa bersalah?"

Elian menggeleng lagi, "Kenapa harus merasa bersalah?"

Justice maju, "Karena kau membunuh mereka."

Elian menatap Justice, "Aku cuma bikin mereka berhenti sakit."

Justice terdiam. Kindness memandang Redemption. Redemption memandang Justice. Tidak ada yang memiliki jawaban.

Kemudian Peace berdiri di depan Elian, "Biarkan dia tidur dahulu."

Dan malam itu, Justice tidak dapat menyentuhnya. Bukan karena Elian lebih kuat. Melainkan karena di dalam dirinya tidak ada kebencian yang bisa dihukum.

Tidak ada niat jahat maupun dendam. Tidak ada kesadaran bahwa dirinya telah melakukan dosa. Hanya seorang anak yang mengira bahwa kematian adalah bentuk terakhir dari belas kasih dan kebaikan.

---

Pagi berikutnya, seorang petugas keamanan menemukan Elian yang sedang tertidur di antara dua jenazah.

"Astaga..."

Ia segera memanggil bantuan. Polisi datang, namun tidak ada tanda perampokan yang jelas. Anak itu tidak mengatakan apa-apa. Ketika ditanya siapa yang membunuh orang tuanya, Elian hanya menjawab: "Mereka sudah tidur."

Petugas mengira anak itu trauma. Tidak ada yang tahu kebenarannya. Elian dibawa ke panti asuhan, dan di sana, ia dikenal sebagai anak yang ceria. Ia murah senyum, aktif bermain, banyak membantu anak-anak lain, bahkan sering membagikan makanannya.


"Elian, kenapa kamu kasih punyamu?"

"Karena kamu belum makan."

"Tapi nanti kamu lapar."

Elian tersenyum, "Kalau masih ada, kita bagi."

Kindness tersenyum dari kejauhan, "Masih ada sisa kebaikan di hatinya..."

---

Tidak lama kemudian Elian menyadari sesuatu. Anak-anak di panti sering sakit. Mereka kurus, pucat, batuk, dan sering demam. Namun para pengurus panti selalu tampak sehat.

Suatu malam, Elian melihat seorang pengurus mengambil sebagian besar makanan dari gudang. Ia menyimpannya sendiri, kemudian makanan yang tersisa diberikan kepada anak-anak.

Elian memperhatikan, "Kenapa makanan yang dibagikan cuma sedikit?"

Pengurus itu membentak, "Diam."

Elian mengangguk, "Baik..."

Beberapa hari kemudian, ia melihat sesuatu yang lebih buruk. Seorang pengurus menambahkan sesuatu ke makanan. Seorang anak bertanya, "Itu apa?"

"Ini obat. Supaya kamu cepat sembuh..."

Elian memperhatikan anak itu. Malamnya anak tersebut demam tinggi dan Elian duduk di samping tempat tidurnya, "Kamu sakit?"

"Iya..."

"Takut?"

"Sedikit."

Elian memegang tangannya sambil tersenyum, "Nggak apa-apa. Sebentar lagi semuanya akan membaik..."

Di balik senyumnya, Murder berbisik, "Dia mulai mengerti."

Kindness merinding, "Tidak!"

Murder menjawab, "Dia tidak membenci mereka. Dan itu justru yang membuatnya mengerikan."

---

Elian kemudian mengetahui semuanya. Para pengurus mencuri uang, makanan dijual, dan anak-anak sengaja dibuat tampak sakit agar para donatur iba. Dan anak-anak yang terlalu sakit... dibiarkan mati begitu saja.

Elian duduk sendirian malam itu, mengingat wajah damai ayahnya. Lalu ia mengingat wajah damai ibunya. Kemudian ia melihat anak-anak panti; Mereka kesakitan.

Ia berpikir lama, lalu tersenyum. "Mereka juga capek."

Kindness menangis, "Jangan..."

Redemption berteriak, "Elian!"

Justice berdiri, "Ini dosa."

Murder hanya tertawa. "Dia bahkan tidak merasa sedang melakukan dosa."

---

Malam itu Elian mengendap ke dapur, memperhatikan makanan terbaik yang disimpan para pengurus. Ia mencampurkannya dengan racun.

Kemudian satu per satu para pengurus makan, "Enak sekali."

Elian hanya tersenyum sambil mengintip mereka. Beberapa menit kemudian, mereka mulai terbatuk-batuk, kemudian jatuh satu demi satu.

Elian memandangi mereka. Ia tidak merasa takut ataupun marah. Tidak merasa puas dalam arti manusia biasa. Ia hanya berpikir: Mereka tidak akan bisa menyakiti anak-anak lagi.

Kemudian ia melihat anak-anak panti yang kelaparan dan pucat. Beberapa bahkan sudah hampir mati karena racun dosis kecil yang diberikan para pengurus selama berbulan-bulan.

Elian mengambil makanan, dan seorang anak memandangnya, "Elian? Ini makanan apa?"

"Ini makanan yang enak. Cobalah..."

Anak itu tersenyum, "Makasih."

Elian menyuapinya. Satu anak; Kemudian anak berikutnya; Kemudian anak berikutnya lagi. Beberapa menit kemudian, mereka mulai merasa lemah.

"Kepalaku pusing..."

Elian memeluknya, "Sabar."

Anak itu memandangnya, "Aku takut."

Elian mengusap rambutnya, "Jangan takut."

"Tapi sakit."

"Sebentar lagi akan sembuh." Elian memeluknya lebih erat. "Sebentar lagi kamu bisa tidur, kemudian kamu nggak akan sakit lagi. Seperti papa dan mamaku..."


Anak itu tersenyum lemah kemudian menutup mata sementara Elian terus memeluknya. Satu demi satu anak-anak itu pergi, dan Elian tidak menangis. Ia hanya menata tubuh mereka dengan rapi, seperti seseorang yang sedang menidurkan saudara-saudaranya, "Selamat tidur."

Kindness jatuh berlutut, "Tidak..."

Redemption menatap Elian dengan mata penuh kesedihan, "Dia masih mengira ini kebaikan."

Justice mengepalkan tangan, "Namun darah mereka ada di tangannya."

Murder berdiri di samping Elian dan berkata: "Dan itulah mengapa dia milikku."

---

Petugas keamanan akhirnya menemukan semuanya. Elian ditangkap dan orang-orang berteriak.

Monster.
Pembunuh.
Setan.

Namun Elian hanya memandang mereka dengan bingung, "Kenapa mereka marah?"

"Karena kau membunuh banyak orang!"

Elian menunduk, "Tapi mereka sudah tidak sakit."

"Kau membunuh anak-anak!"

"Mereka memang sudah sakit."

"Itu bukan alasan!"

Elian terdiam. Ia benar-benar tidak mengerti. Dan kemudian hukuman mati dijatuhkan.

Di hari eksekusi, Elian berjalan menuju tiang gantungan tanpa perlawanan, tanpa tangisan, ataupun permohonan.

Seorang penjaga bertanya: "Kamu tidak takut?"

Elian menggeleng, "Kenapa harus takut? Sebentar lagi aku akan tertidur dan mendapat wajah yang sama dengan mereka semua..."

Penjaga itu mengerutkan kening, "Tidur?"

Elian tersenyum, "Iya."

Ia melihat langit. "Mungkin aku bisa bertemu Papa dan Mama kembali..."

Kindness menatapnya dari alam roh, "Elian..."

Redemption berbisik, "Masih ada waktu."

Justice menggeleng, "Sudah terlambat."

Redemption menatapnya, "Apakah benar-benar terlambat?"

Justice diam. Karena untuk pertama kalinya dalam keberadaannya, Justice tidak yakin bagaimana cara menghakimi seseorang yang bahkan tidak memahami kejahatan.

Tali dipasang, Elian memejamkan mata.

"Semoga semua orang... Dapat menemukan kedamaian di dalam tidurnya..."

Tali ditarik; tubuh kecil itu terangkat. Dan dunia manusia kembali sunyi.

---

Di alam setelah kematian, jiwa Elian berdiri sendirian. Kindness menghampirinya terlebih dahulu, "Elian."

Anak itu tersenyum. Ia mengenali cahaya itu. "Oh. Kamu yang waktu itu."

Kindness berlutut, "Ikutlah denganku."

Elian menatapnya, "Ke mana?"

"Tempat di mana kau tidak perlu menyakiti siapa pun lagi."

Elian tersenyum, "Berarti aku sudah tidak perlu membuat orang berhenti sakit?"

Kindness terdiam.

Redemption datang, "Elian."

Anak itu menatapnya, "Apakah kamu menyesal?"

Elian berpikir, kemudian menggeleng.

"Aku tidak tahu."

"Apakah kamu mengakui bahwa yang kamu lakukan adalah dosa?"

Elian menunduk, "Aku tidak mengerti."

Justice datang, "Kalau begitu, aku akan memberitahumu."

Namun Peace berdiri di antara mereka, "Cukup!"

Justice memandangnya, "Dia telah membunuh. Lalu mengapa aku tidak dapat menghakiminya?"

Peace menatapnya, "Karena di dalam hatinya tidak ada kebencian."

Justice terdiam, sementara kindness menangis.

"Dan itu justru masalahnya." Murder berjalan keluar dari kegelapan mendekati Elian.

"Ikutlah denganku. Hanya akulah yang bisa memahami apa yang kamu cari — kedamaian, dengan caramu sendiri yang salah kaprah dan mengerikan itu."

Elian menatapnya, "Siapa kamu?"

Murder tersenyum, "Aku adalah alasan mengapa semua orang yang kau cintai akhirnya tidur."

Elian terdiam, kemudian ia mengulurkan tangan. Murder menggenggamnya, dan pada saat itu — Bayangan hitam menyelimuti tubuh mungilnya. Matanya terbuka, dan tidak lagi sebagai mata seorang anak yang baru saja mati. Melainkan sebagai mata sebuah dosa kuno yang akhirnya menemukan wadah sempurna. Murder menyatu dengan sosok Elian.


Murder-Elian mengangkat tangan, "Perkenalkan... Ini adalah Sinner-ku yang paling terkemuka... Mulai hari ini, aku dan dia adalah satu..."

Ia tersenyum kepada para roh. Kindness menatap Murder-Elian dengan air mata, "Dia seharusnya menjadi salah satu dari kami... Jagalah dia," bisiknya akhirnya, kalah namun tak sepenuhnya putus asa. "Walau bagaimanapun, aku tetap sebagian dari dirinya..."

"Aku tahu," jawab Murder dalam wujud Elian. "Itulah sebabnya wujud kami akan selalu tampak begitu... tenang. Begitu polos. Sebuah paradoks yang bahkan aku sendiri tak sepenuhnya mengerti."

---

Dan begitulah Elian, akhirnya menjadi legenda di antara para roh. Di antara para sinner yang pernah menjadi wujud manusia dari roh dosa pembunuhan, tak ada yang lebih dibanggakan selain seorang bocah berambut putih dengan wajah yang tak pernah kehilangan ketenangannya — bahkan di ujung tali gantungan sekalipun.

Anak yang mencari kedamaian dengan cara yang paling gelap, dan menemukan kegelapan itu memeluknya balik.

Setiap kali Murder mengambil wujudnya, para roh selalu merasa sesuatu yang ganjil, karena Murder tidak terlihat seperti monster. Ia terlihat seperti seorang anak kecil dengan senyum polos.

Dan ketika ia tersenyum, ia selalu mengatakan hal yang sama, "Jangan takut. Aku cuma mau membantu."

Kindness membenci kalimat itu. Redemption takut mendengarnya. Justice tidak pernah mampu menjawabnya. Peace selalu menangis ketika mendengarnya.

Sedangkan Murder dalam wujud Elian selalu tersenyum polos. Karena tidak ada Sinner lain yang mampu memahami dirinya sedalam Elian.

Elian tidak membunuh karena kebencian ataupun keserakahan. Bukan karena kemarahan atau karena dendam. Ia membunuh karena ia percaya bahwa kematian adalah bentuk terakhir dari belas kasih.

Dan mungkin itulah alasan mengapa Murder memilihnya. Bukan karena Elian adalah anak yang paling jahat, melainkan karena Elian mampu melakukan dosa paling mengerikan karena kebaikan hatinya.

Di dalam jiwa Elian, Kindness masih ada. Peace masih menjaganya. Redemption masih menunggunya. Justice masih mengawasinya. Dan Murder tidak pernah meninggalkannya.

Karena di dalam diri seorang anak yang hanya ingin semua orang berhenti merasa sakit, Murder menemukan wadah yang sempurna. Seorang Sinner yang tidak membutuhkan kebencian untuk membunuh atau kemarahan untuk menghancurkan. Seorang Sinner yang tidak membutuhkan alasan apapun.

Hanya sebuah senyum, dan sebuah kalimat sederhana:


"Sabar ya."
"Sebentar lagi sakitnya hilang."
"Kalian akan tidur dengan damai."

Di antara seluruh Sinner yang pernah dilahirkan oleh dosa - Elian dikenang sebagai The Greatest Sinner of Murder.

---

Writer's note

13 Agustus 2016, pertama kali webtoon ini release. Dan webtoon ini selalu menjadi salah 1 webtoon lokal favorit penulis.

Dalam lore di webtoon Desime ini, para roh, apakah dari golongan "virtue" atau roh kebajikan, maupun "sins" atau roh dosa - selalu bisa mengambil wujud dari para saint atau sinner mereka yg terkemuka. Dengan kata lain, yang sifat dominan nya ber-resonasi dengan para roh kebajikan atau roh dosa tersebut.

Back then, penulis tertarik sama sosok roh "Murder", karena wujud manusia roh murder ini adalah anak kecil yang polos. Even roh murder sendiri selalu digambarkan kekanak-kanakan dan clumsy.

Dalam hati penulis, "Ini anak masih kecil bikin dosa kayak gimana yah sampai jadi sinner nya Murder yang paling terkemuka?"

Semalem penulis baru tahu, ternyata Desime dibuat sekuel nya dalam series "Aftermath". Dan kenangan penulis akan Murder pun bangkit lagi. Selagi penulis rebahan di ranjang, imajinasi penulis mulai melayang, dan membayangkan sosok anak berambut putih itu... Bagaimana dia hidup... Apa yang dia alami... Dan perbuatan dosa apa yang dia lakukan...

Lalu lahirlah fanfiction ini.

Fanfiction ini sendiri memiliki nuansa yg berbeda dari komik original maupun sequel nya. Kalau komik original nya lebih lighthearted dan mungkin juga "warming" - fanfic ini punya nuansa gelap. Sisi lain dari dialog para roh yang tidak muncul di komik original nya.

Nevertheless, penulis berharap sedikitnya fanfic ini bisa sedikit menghibur, skaligus merayakan 10 tahun Desime. Dan mungkin juga fanfic ini bisa mengisi jawaban atas pertanyaan banyak orang di periode 2016-202 itu, "Ini anak sebenernya bikin dosa apa sih? Psikopat yah?"

Anyway, penulis menulis cerita ini sambil dengerin lagu ini... Mungkin pembaca juga bisa membaca ulang keselurhan cerita ini sambil mendengarkannya juga...

Gentle Hands

Saturday, August 22, 2026

Di Antara Kita dan Hari Esok: Lingkaran Waktu


---

Sore itu langit oranye, dan aku baru saja mengalami salah satu momen paling memalukan dalam hidupku.

Aku berjalan keluar dari gerbang sekolah dengan langkah lemas, menendang-nendang kerikil kecil yang berserakan di trotoar. Tas kugendong asal di sebelah bahu, sementara pikiranku masih dipenuhi percakapan beberapa menit lalu.

Aku sudah mempersiapkan semuanya.

Sudah berhari-hari memikirkan apa yang mau kukatakan. Bahkan sempat latihan di depan kaca, meskipun pada akhirnya semua kalimat yang sudah kususun hilang begitu saja ketika berhadapan dengannya.

Aku duduk di pinggir lapangan basket sekolah, kepala tertunduk, ketika kudengar langkah kaki mendekat, lalu suara yang sudah sangat kuhafal.

"Woi. Ngapain lu di sini sendirian? Kayak abis diputusin."

Dan di sebelahku, sahabatku sudah berdiri sambil nyengir lebar, lengkap dengan gaya sok kerennya dengan tangan dimasukkan ke saku celana.

"Bukan diputusin," gumamku. "Kan belum jadian. Ditolak, mentah-mentah anjir. Katanya dia mau fokus belajar dulu."

Dia diam sebentar. Lalu—bukannya menghibur—dia malah ketawa. Ketawa keras banget sampai orang-orang di lapangan menoleh.

"BUAHAHAHA! Sumpah? Alasan klasik banget! Fokus belajar muka lo! Orang tadi pagi aja gue liat dia lagi gosip di kantin"

"Anjir, lu ketawain gue?"

"Sori sori," katanya, masih cekikikan sambil duduk di sampingku, "abisnya lucu aja bayangin muka lu waktu ditolak."

"Sialan lu emang." Aku menendang kerikil kecil ke arahnya, meleset. "Udah, gantian lu dong yang curhat. Biar impas."

Dia menggaruk belakang kepalanya, agak salah tingkah. Itu tanda dia lagi menyembunyikan sesuatu. Kemudian dia langsung mengelap air mata di sudut matanya karena kebanyakan ketawa, lalu menyeringai licik. "Gue udah nembak dia duluan tadi pas jam istirahat pertama!"

Butuh dua detik penuh buat informasi itu masuk ke kepalaku. "HAH?"

"Barusan. Sebelum lu." Dia nyengir, tapi matanya melirik was-was, siap kabur kalau perlu.

"Terus dijawab apa?!"

"Sama! Ditolak juga! Katanya mau fokus ibadah!"

Aku menatapnya lama, campur aduk antara kesal, gemas, dan mau ketawa. Tanpa mikir panjang, tangan gue langsung melayang, BUGH! Pukulan ringan mendarat telak di bahu kirinya.

"Aduh, sakit, bego!" protesnya sambil ngusap lengan.

"Ngeselin lo ya!" kataku, masih setengah ketawa setengah kesel. Kita berdua akhirnya saling bersandar di punggung satu sama lain, menyipitkan mata menatap langit siang yang terik, sama-sama merenungi nasib dua cowok apes yang baru aja ditolak cewek yang sama di hari yang sama.

"Lu tuh emang licik dari dulu," kataku, masih setengah ketawa setengah kesel. "Sama kayak waktu kita kabur pas jam pelajaran buat beli es krim, terus ujung-ujungnya yang dihukum push up di depan kelas cuma gue doang. Lu malah udah ngacir duluan."

"Ya abis lu lambat larinya," dia nyengir tanpa rasa bersalah sama sekali.

"Kan waktu itu gue ada urusan."

"Urusan apaan? Kabur dari sekolah!"

"Ya itu urusan gue."

Aku meninju lengannya lagi.

Dia menghindar sambil tertawa.

"Udah, udah!"

Kami duduk begitu saja beberapa saat, menonton anak-anak lain main basket, membiarkan rasa malu tadi perlahan menguap dibawa angin sore.


"Dah lah," katanya sambil menepuk paha. "Daripada kita meratapi nasib di sekolah, mending naik motor ke pantai. Angin laut enak nih buat ngilangin stres."

"Lu yakin?"

Dia mengangguk mantap.

Aku melihat motornya. Motor tua yang catnya sudah mulai kusam, knalpotnya kadang mengeluarkan suara aneh, dan entah kenapa setiap kali dikendarai selalu ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Aku menghela napas, "Kalau mogok gimana?"

Dia tersenyum, "Ya kita dorong."

"Ya udah." Jawabku pada akhirnya. Dan begitulah, tanpa rencana matang, tanpa alasan yang benar-benar jelas selain ingin melupakan hari yang memalukan ini, kami berboncengan motor menuju pantai.

Beberapa menit kemudian kami sudah berada di jalan. Dia yang mengendarai motor, sementara aku duduk di belakang, dan entah kenapa mood ku tiba-tiba naik. Aku mulai teriak-teriak nggak jelas ke angin, menyanyikan lagu yang bahkan aku sendiri nggak hafal liriknya.

"WOI DIEM!" dia setengah teriak sambil nyetir, melihatku dari kaca spion dengan muka panik. "Orang-orang ngeliatin, dikira lu abis kabur dari rumah sakit jiwa!"

"BIARIN! GUE LAGI BAHAGIA!"

"BAHAGIA APAAN, BARU AJA DITOLAK CEWEK!"

Aku kembali berteriak tanpa alasan yang jelas, dan dia membalas dengan menggeleng-gelengkan kepala.

"Gue nyesel ngajak lu."

"Udah telat!"

Kami terus melaju, sampai akhirnya... motor tiba-tiba tersendat, lalu mati begitu saja di tengah jalan yang mulai sepi.

"WOI, KOK MATI?!"

"Ya gue juga nggak tau, anjir!" Dia turun, mencoba menyalakan lagi, gagal berkali-kali sampai akhirnya menyerah dan menghela napas panjang.

"Mogok, Bro," bisiknya pasrah.

"ELU SIH! Motor dinosaurus gini masih dipaksa jalan!" Aku marah-marah sambil turun dari motor.

"Terus gimana ini?!" Aku ikut turun, menatap motor itu seperti menatap pengkhianat.

"Yaudah, mau gimana lagi. Ya dituntun lah, masa digendong."

Akhirnya kita berdua menuntun motor tua itu bareng-bareng di pinggir jalan, sambil saling menyalahkan sepanjang perjalanan - sampai tiba-tiba langit yang tadinya oranye berubah gelap dan hujan deras turun begitu saja, tanpa aba-aba.


"ANJIR HUJAN! GARA-GARA IDE SIAPA NIH?!"

"IDE GUE!" Katanya tanpa penyesalan.

Kita tidak punya jas hujan, tidak punya tempat berteduh. Akhirnya kita menerobos hujan deras sambil tertawa seperti orang gila.

Setelah perjalanan panjang, basah kuyup, lelah, dan entah sudah berapa kali memaki motor tua itu, kami sampai juga di pantai. Motor kami parkirkan secara asal di dekat warung-warung kecil, lalu berlari menuju pasir.

Tanpa banyak bicara, kami langsung menerjang ombak. Air laut menghantam kaki kami, aku berteriak. Dia juga ikut berteriak. Kami saling menyipratkan air seperti dua anak kecil yang tidak punya masalah apa pun di dunia.

Untuk beberapa jam, aku bahkan lupa bahwa beberapa jam sebelumnya aku baru saja ditolak. Lupa soal sekolah, lupa soal tugas, lupa soal masa depan. Yang ada cuma kami berdua, laut, angin, dan langit sore.

"Enak juga ya," katanya sambil merebahkan diri di pasir basah, menatap langit yang mulai menampakkan sedikit warna jingga di sela awan.

"Iya," jawabku, ikut rebahan di sampingnya. "Padahal tadi rasanya pengen ngilang aja dari muka bumi."

Kami tertawa kecil, lalu diam sejenak menikmati suara ombak.

Perutku tiba-tiba berbunyi keras.

"Anjir, laper," kataku.

"Ada warung mie ayam tuh, deket motor kita." Dia menunjuk sebuah warung kecil beratap terpal biru, lampunya baru saja dinyalakan si pemilik warung.

Kami berjalan ke sana sambil mengeringkan diri seadanya, memesan dua mangkuk mie ayam, kemudian duduk di bangku kayu panjang berhadapan. Entah kenapa itu justru jadi momen paling nyaman hari itu.

Dua mangkuk mie ayam datang beberapa menit kemudian. Aku langsung menyeruput kuahnya.


"Asli, ini mie ayam terenak setelah kita ditolak cewek," kataku.

Dia mengangguk, "Makanya. Kalau patah hati, makan."

Beberapa saat kami hanya menikmati mie ayam dalam diam.

"Eh," katanya di sela suapan, "lu kepikiran nggak sih, kita bakal kayak gimana ya kalau udah tua nanti?"

"Maksudnya?"

"Ya... masa depan lah. Lu kepikiran nggak jadi apa? Nikah sama siapa? Segala macem." Tanyanya tiba-tiba. Tatapannya menerawang ke luar tenda, menatap kegelapan laut.

Aku menyeruput kuah mie sebentar, berpikir. "Nggak tau juga sih. Tapi kayaknya... gue pengen lu jadi best man gue pas nikahan. Dan pas lu nikah, gue juga mau jadi best man lu."

Dia menatapku, lalu nyengir lebar. "Setuju. Dan kalau kita udah sama-sama punya anak—"

"Anak kita harus temenan," potongku cepat, seolah pikiran kami memang selalu nyambung. "Kalau nggak mau pun, kita paksa!"

"Gila! Kita aja sering berantem."

Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

"Terus kalau kita udah tua?" Tanyaku lagi.

"Kalau udah tua, udah ompong, keriput, kita harus tetap nongkrong bareng. Ngopi-ngopi sore sambil ngetawain keputusasaan kita hari ini," balasnya.

"Setuju banget." Aku mengangkat sendok seolah itu gelas untuk bersulang, dan dia menyentuhkannya dengan sendoknya sendiri, konyol tapi entah kenapa terasa serius juga.

Untuk sesaat, kami hanya saling menatap sambil tersenyum. Masa depan terasa begitu jauh. Begitu luas. Seolah masih ada waktu yang tidak terbatas untuk kami.

Tapi kemudian, senyumnya agak mengendur. Suaranya merendah, ada nada halus yang aneh di sana. Dia menatap laut. "Tapi ya, mudah-mudahan jangan sampai salah satu dari kita pergi duluan. Mudah-mudahan umur kita panjang"

Aku menatapnya, agak bingung dengan perubahan mood tiba-tiba itu. Entah kenapa kalimat itu membuatku sedikit merinding. "Lu ngomong apaan sih. Tiba-tiba serius amat."

"Nggak apa-apa," dia buru-buru tersenyum lagi, seperti menutupi sesuatu. "Cuma kepikiran aja. Moga-moga kita umur panjang, terus bisa liat masa depan kita masing-masing."

Aku tertawa, memukul pelan bahunya. "Ya jelas lah, umur panjang. Emang lu mau ninggalin gue duluan? Nggak akan gue izinin."

Dia tertawa juga, dan momen aneh itu berlalu begitu saja, tenggelam dalam obrolan-obrolan konyol lainnya, ditemani suara ombak dan hujan yang perlahan berhenti sepenuhnya, menyisakan langit yang mulai dipenuhi bintang.

Kami kembali menatap laut. Tidak ada yang tahu berapa panjang sebenarnya waktu yang kami punya. Saat itu, aku tidak memikirkannya. Bagiku, masa depan masih terasa seperti sesuatu yang pasti datang. Dan kami yakin akan berada di sana bersama.

---

"Terus, terus," katanya tidak sabar, "Habis itu Om bayarin mie ayamnya gak?"


Bertahun-tahun kemudian, aku berdiri lagi di depan makamnya, tapi kali ini tidak sendirian.

Di sampingku, anak perempuanku—yang sudah menginjak usia remaja, dengan gaya bicara yang jauh lebih ceplas-ceplos daripada aku waktu seusianya—berjongkok, memperhatikan nama yang terukir di batu itu dengan penasaran. Wajahnya mirip banget denganku, tapi senyumnya... senyumnya mengingatkanku pada seseorang.

Aku tersenyum ringan, membelai rambut anak perempuanku itu. "Ya dibayarin lah. Masa Papa yang bayar, kan motor dia yang mogok."

Anakku tertawa keras setelah mendengar semua cerita barusan, sampai harus menutup mulutnya sendiri. Aku menghela napas, menatap batu nisan itu dengan perasaan campur aduk antara haru dan hangat.

Anakku terdiam sebentar, senyumnya perlahan berubah lebih lembut, matanya sedikit berkaca-kaca meski masih tersenyum.

"Sayang ya," gumamnya, "jadinya kan nggak kesampaian. Aku nggak bisa temenan sama anaknya Om."

"Iya," aku mengelus rambutnya kembali. "Tapi setidaknya, kamu sekarang tahu, seperti apa dia orangnya."

Anakku mengangguk, lalu mengulurkan tangan, mengelus permukaan nisan itu pelan, seperti mengelus kepala seseorang yang sedang tertidur.

"Ternyata Om tuh kayak gitu ya orangnya... Kayaknya Om seru... Makasih ya, Om," bisiknya, "udah nemenin Papa waktu masih muda dulu. Makasih udah jadi sahabat terbaik Papa."

Aku hanya menatap semua itu dalam diam, dengan senyum tipis dan mata yang mulai memanas. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dada. Sedih, tentu saja. Tapi anehnya, kali ini tidak terasa sesakit dulu. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan rerumputan di sekitar makam, seolah menjawab ucapan anakku barusan.

"Pa," anakku berdiri, menepuk lututnya, mood-nya kembali ringan seketika seperti biasa. "Aku jadi laper gara-gara denger cerita soal mie ayam tadi."

Aku tertawa. "Mau makan mie ayam?"

"Iya! Sekalian buat mengenang si Om," katanya sambil nyengir lebar, persis seperti seseorang yang pernah kukenal dulu.

Aku tertawa kecil, mengacak pelan rambutnya. "Yuk. Papa tahu tempat mie ayam yang enak gak jauh dari sini."

Kami berjalan meninggalkan makam, dan sebelum benar-benar pergi, aku menoleh sekali lagi ke arah makam itu.

Makam itu masih terlihat di antara pepohonan. Dalam hati, aku merasa lega. Kami memang tidak pernah sempat memenuhi semua janji masa muda kami. Kami tidak pernah menjadi best man satu sama lain, kami tidak pernah tumbuh tua bersama. Anak kami juga tidak pernah menjadi teman seperti yang dulu kami bayangkan di pinggir pantai.

Tapi setidaknya... Aku masih bisa membawa kenangan tentang dirinya. Dan sekarang, kenangan itu tidak lagi hanya milikku. Aku sudah memperkenalkan sahabat terbaikku kepada anakku.

Mungkin itu bukan masa depan yang dulu kami bayangkan. Tapi mungkin... Ini adalah salah satu cara kecil untuk menepati janji.

Aku tersenyum, lalu berbalik dan menyusul putriku. Kami berjalan pulang bersama. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa seperti benar-benar menatap masa depan bersamanya.


---

Writer's note :

Jadi gw nulis cerita ini, entah ini bisa disebut sequel, atau prequel, atau keduanya, karena terlalu banyak complaint di cerita original nya, yg link nya gw taro di awal cerita. Kata orang2, terlalu sedih.

Sejujurnya, original story nya pun merupakan cerita paling sedih yang pernah gw tulis. Even gw sempet terbawa suasana ketika menulisnya, dan setelah mempublikasikan nya.

Jadi makanya gw tulis cerita ini, untuk sedikit uplifting the mood.

Also, kisah asli yg menginspirasi series ini - aslinya happy ending kok. I hope this fact juga bisa membantu uplifting the mood. Gw taro kisah asli yg menginspirasi kedua kisah ini di bagian "writer's note" di bagian cerita original.

Finally, gw harap siapapun yg membaca kedua cerita ini, yang saat ini sedang berkonflik dengan sahabat, keluarga, atau saudara, dapat menemukan resolusi tebaik... Untuk melangkah menuju masa depan...

I wish you all happiness...

Theme song yg gw dengerin sambil baca ulang seluruh series ini :

Lian Xi

Monday, August 17, 2026

Boundary and Empathy


Gw sering liat atau mengalami sendiri, kalo gw mulai pasang boundary, gw dibilang egois.

Boundary yang sehat sering terasa egois bagi orang yang selama ini diuntungkan oleh ketiadaan boundary kita.

Misalnya selama ini gw selalu available. Orang bisa curhat kapan aja, minta bantuan kapan aja, ngajak gw masuk ke konfliknya, atau bahkan ngomong seenaknya karena mereka tahu gw bakal memahami alasan mereka.

Begitu suatu hari gw bilang gw nggak bisa terlibat dalam masalah ini, mereka langsung mencap gw egois. Padahal gw nggak mengambil sesuatu dari mereka. Gw cuma berhenti memberikan sesuatu yang sebelumnya gw berikan secara berlebihan.

Lalu soal empati, memahami alasan seseorang tidak sama dengan menyetujui perilakunya.

Gw bisa simultaneously memegang dua hal: "Gw ngerti kenapa lo melakukan ini." dan "Gw tetap nggak mau diperlakukan seperti itu." Itu bukan kontradiksi, itu justru emotional maturity.

Ketika orang lain menganggap boundary kita adalah keegoisan, cobalah untuk bertanya ke diri sendiri terlebih dahulu: "Apakah gw sedang melakukan sesuatu yang tidak adil kepada orang lain, atau apakah gw hanya berhenti melakukan sesuatu yang mereka sudah terbiasa gw lakukan?" Karena dua hal itu sangat berbeda.

Kadang-kadang kita memang perlu introspeksi kalau boundary kita terlalu keras. Tapi kadang-kadang orang cuma kecewa karena akses mereka terhadap gw sekarang punya pintu.

Pintu itu bukan tanda bahwa gw jahat. Tapi itu tanda bahwa sebuah rumah punya pemilik.

Bantuan dan Kewajiban

Illustration: a man helping a hungry ghost

Ada satu nasihat religius yang sejak dulu sering kita dengar: kalau berbuat baik, jangan terlalu banyak dipamerkan. Kebaikan sebaiknya dilakukan dengan tulus, tanpa menunggu pujian, tanpa mencari pengakuan, dan kalau memungkinkan, bahkan tanpa diketahui oleh orang lain.

Selama ini nasihat tersebut sering dipahami sebagai cara untuk menjaga hati agar tidak menjadi sombong. Jangan sampai setelah membantu orang, kita kemudian merasa lebih tinggi daripada orang yang kita bantu. Jangan sampai kebaikan berubah menjadi alat untuk mencari validasi.

Tetapi semakin dewasa, gua mulai melihat kemungkinan lain.

Mungkin menyembunyikan kebaikan bukan hanya tentang melindungi orang lain dari rasa malu, atau melindungi diri kita dari kesombongan.

Mungkin, dalam banyak keadaan, menyembunyikan kebaikan juga merupakan cara untuk melindungi si pemberi kebaikan itu sendiri.

Sebab ada sesuatu yang sering tidak kita sadari: kebaikan yang dilakukan berulang-ulang dapat mengubah cara orang lain memandangnya.

Hari ini kita memberi sesuatu karena kita ingin membantu. Besok kita membantu lagi. Lusa kita membantu lagi.

Lama-lama, bantuan tersebut tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang diberikan. Ia mulai dianggap sebagai suatu kewajiban, dan di situlah masalahnya dimulai.

Ada orang yang memang pada dasarnya tidak tahan melihat orang lain kesulitan. Ketika melihat teman sedang kekurangan, ia membantu. Melihat keluarga membutuhkan sesuatu, ia turun tangan. Melihat orang lain tidak punya tenaga untuk menyelesaikan sesuatu, ia menawarkan tenaganya.

Kadang bukan karena orang tersebut punya banyak uang. Bukan pula karena hidupnya selalu mudah. Ia hanya punya kecenderungan untuk berkata, “Ya sudah, gue bantu.” Dan karena ia sudah terbiasa membantu, orang-orang di sekitarnya pun terbiasa menerima.

Awalnya mungkin tidak ada masalah, Semua orang tahu bahwa bantuan itu adalah pemberian. Tetapi setelah dilakukan berkali-kali, batas antara "dia membantu gue" dan "dia memang harus membantu gue" bisa menjadi semakin tipis.

Seseorang yang sebelumnya merasa bersyukur karena mendapatkan bantuan, perlahan dapat mulai menganggap bantuan tersebut sebagai bagian dari kehidupannya.

Bukan lagi "gift", melainkan "entitlement".
Bukan lagi, "Untung ada dia." Melainkan, "Kenapa sekarang dia tidak melakukan itu?"

Dan ketika pertanyaan kedua mulai muncul, hubungan antara pemberi dan penerima sebenarnya sudah berubah.

Yang menarik, perubahan tersebut sering kali terjadi tanpa ada kesepakatan apa pun.

Tidak pernah ada kontrak ataupun janji. Tidak pernah ada kalimat, “Saya akan membantu kamu setiap bulan selama lima tahun.”

Tetapi karena seseorang sudah melakukannya berkali-kali, orang lain mulai menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang permanen.

Padahal manusia berubah, kondisi ekonomi berubah, prioritas berubah, energi berubah, hubungan berubah, bahkan niat kita pun bisa berubah.

Apa yang sanggup kita lakukan tahun lalu belum tentu sanggup kita lakukan hari ini, dan sebenarnya, itu bukan sesuatu yang jahat.

Kita berhak berhenti memberikan sesuatu yang sebelumnya kita berikan secara sukarela. 

Sayangnya, dalam praktiknya, hal ini tidak selalu dipandang demikian. Seseorang yang selama bertahun-tahun membantu orang lain, lalu suatu hari memutuskan untuk berhenti, bisa tiba-tiba dicap sebagai orang jahat.

"Dulu dia baik, sekarang berubah."
"Dulu dia selalu membantu, sekarang pelit."
"Dulu gampang dimintai tolong, sekarang susah."

Ironisnya, seluruh kebaikan yang pernah dilakukan sebelumnya seolah-olah menguap begitu saja hanya karena satu keputusan untuk berkata: "Tidak kali ini."

Bahkan terkadang bukan hanya "tidak kali ini", bisa saja seseorang sudah tidak ingin membantu lagi, dan itu pun sebenarnya tetap merupakan haknya.

Ada fenomena yang menurut gua cukup menyedihkan dalam hubungan antarmanusia: kita sering lebih mudah mengingat ketika seseorang berhenti memberi daripada mengingat berapa banyak yang sudah ia berikan sebelumnya.

Sepuluh kali dibantu bisa kalah oleh satu kali penolakan.
Seratus kali ditolong bisa kalah oleh satu kali ketika orang tersebut mengatakan, "Maaf, kali ini gue nggak bisa."

Seolah-olah seluruh rekam jejak kebaikan seseorang mendapatkan masa berlaku. Selama dia masih memberikan apa yang kita harapkan, dia orang baik. Begitu dia berhenti memenuhi ekspektasi kita, statusnya berubah.

Padahal orang tersebut tidak melakukan tindakan kriminal. Dia tidak mencuri, tidak menipu, tidak dengan sengaja berusaha menyakiti.

Dia hanya berhenti memberikan sesuatu yang sebelumnya memang dia berikan secara sukarela, dan yang lebih menyakitkan, dalam situasi tertentu, rasa kehilangan dari pihak penerima dapat berubah menjadi kemarahan.

Dari "kok sekarang nggak dibantu?" menjadi "dia tega."
Dari "kenapa berhenti?" menjadi "dia jahat."

Dan dalam kasus yang lebih ekstrem, kekecewaan tersebut bahkan dapat berkembang menjadi penghinaan, fitnah, intimidasi, atau penyerangan terhadap orang yang sebelumnya justru banyak membantu.

Di titik itu kita perlu bertanya: Kapan sebenarnya kebaikan berhenti menjadi kebaikan dan mulai berubah menjadi kewajiban?

Mungkin karena alasan itulah saya semakin memahami kenapa ada ajaran untuk tidak terlalu mengumumkan kebaikan kita.

Bukan berarti setiap kebaikan harus dirahasiakan. Bukan berarti kita tidak boleh berbagi cerita tentang hal baik yang kita lakukan. Dan tentu saja bukan berarti orang yang membutuhkan pertolongan harus dibiarkan sendirian.

Tetapi ada perbedaan besar antara "membantu seseorang" dan "membangun ekspektasi bahwa kita akan selalu menjadi orang yang membantu mereka."

Ketika bantuan kita terlalu terlihat, terlalu sering dipublikasikan, atau terlalu konsisten diberikan dalam pola yang sama, tanpa sadar kita mungkin sedang menciptakan sebuah ekspektasi.

Orang lain mulai mengantisipasi bantuan tersebut, dan ketika sesuatu sudah diantisipasi, kehilangan sesuatu tersebut terasa seperti kehilangan hak.

Padahal sejak awal, itu bukan hak mereka. Itu adalah kemurahan hati kita.

Karena itu, menurut gua, belajar berbuat baik juga berarti belajar "selektif dalam berbuat baik."

Bukan berarti menjadi pelit atau jadi dingin. Bukan berarti menutup hati. Justru sebaliknya, kalau kita memang ingin terus menjadi orang yang mampu membantu orang lain dalam jangka panjang, kita harus belajar menjaga sumber daya kita sendiri.

Kita perlu bertanya:
"Kepada siapa saya ingin memberikan bantuan ini?"
"Apakah orang tersebut benar-benar membutuhkan?"
"Apakah bantuan saya benar-benar menyelesaikan masalah?"
"Apakah saya sedang membantu, atau justru membuat seseorang menjadi semakin bergantung?
"Apakah bantuan ini dilakukan karena saya memang ingin membantu, atau karena saya takut dianggap jahat kalau menolak?"

Dan yang tidak kalah penting:
"Sejauh apa bantuan ini perlu diketahui orang lain?"

Tidak semua kebaikan membutuhkan penonton, tidak semua bantuan membutuhkan pengumuman. Tidak semua orang perlu tahu berapa banyak yang sudah kita keluarkan.

Kadang-kadang semakin sedikit orang yang tahu, semakin sehat hubungan antara pemberi dan penerima, krena penerima tetap bisa merasakan rasa terima kasih tanpa merasa memiliki akses permanen terhadap kita, dan pemberi pun tetap bisa membantu tanpa terjebak dalam peran sebagai “orang yang selalu bisa diandalkan untuk apa pun.”

Menjadi baik tidak sama dengan selalu tersedia. Ini mungkin salah satu kesalahpahaman terbesar tentang kebaikan.

Orang baik boleh berkata tidak, orang baik boleh lelah.
Orang baik boleh punya batas, orang baik boleh memprioritaskan dirinya sendiri.
Orang baik boleh berubah pikiran, orang baik bahkan boleh memutuskan bahwa setelah sekian lama membantu seseorang, sekarang waktunya berhenti.

Kebaikan tidak menghapus hak seseorang untuk memiliki batas, dan bantuan yang diberikan dengan tulus tidak otomatis menciptakan utang seumur hidup dari penerimanya.

Begitu pula sebaliknya: seseorang yang pernah menerima bantuan kita tidak otomatis menjadi orang jahat hanya karena suatu hari ia tidak mampu membalasnya.

Hubungan yang sehat seharusnya tidak dibangun di atas neraca:
"Gue sudah melakukan X untuk lo, maka sekarang lo harus melakukan Y untuk gue."

Kalau begitu, itu bukan lagi kebaikan, itu namanya transaksi berbalut balas budi.

Mungkin pada akhirnya, yang perlu kita pelajari bukanlah untuk berhenti berbuat baik, melainkan belajar berbuat baik tanpa menghancurkan diri sendiri.

Berikan ketika kita mampu, bantu ketika memang diperlukan. Pilih orang-orang yang memang layak mendapatkan kepercayaan kita, pahami perbedaan antara membantu seseorang berdiri dan terus-menerus menggendong seseorang.

Dan kalau suatu hari kita tidak mampu lagi memberikan bantuan yang sama, jangan merasa bahwa kita sedang melakukan dosa hanya karena berkata: "Maaf, kali ini saya tidak bisa."

Sebab kebaikan yang pernah kita lakukan tidak seharusnya menjadi kontrak yang mengikat kita selamanya. Dan mungkin justru di situlah makna lain dari “menyembunyikan kebaikan” menjadi masuk akal.

Bukan hanya supaya kita tidak sombong, tetapi supaya kebaikan kita tetap menjadi "pemberian", bukan berubah menjadi "kewajiban", supaya orang lain tidak menganggap kemurahan hati kita sebagai hak mereka.

Dan supaya ketika suatu hari kita harus berhenti memberi, kita tidak tiba-tiba kehilangan hak untuk menjadi manusia biasa. Karena pada akhirnya, orang yang baik tetaplah manusia, yang punya batas, yang bisa lelah, yang juga punya kebutuhan, dan ia juga berhak berkata: "Tidak."

The Song that Understands Me

Gue suka sama lagu-lagu yang either liriknya menggambarkan keputusasaan, atau nada lagunya terdengar desperate, atau bahkan gabungan keduanya.

Bukan karena gue selalu ingin mendengarkan sesuatu yang sedih. Bukan juga karena gue menikmati penderitaan. Ada sesuatu yang lebih sederhana dari itu: gue merasa familiar dengan emosi yang ada di dalamnya.

Hopelessness. Desperation. Putus asa.


Kalau gue harus memilih satu emosi yang paling sering gue rasakan sepanjang hidup gue, mungkin itu adalah keputusasaan.

Ada masa-masa di mana keputusasaan itu bentuknya sangat jelas. Gue tahu apa yang gue inginkan, tapi rasanya terlalu jauh untuk dicapai. Gue tahu apa yang salah, tapi nggak tahu bagaimana cara memperbaikinya. Gue tahu gue ingin keluar dari suatu keadaan, tapi semua jalan keluar yang gue lihat terasa tertutup.

Tapi ada juga masa ketika keputusasaan itu nggak punya bentuk yang jelas. Nggak ada satu kejadian besar yang bisa gue tunjuk dan bilang, “Nah, ini masalahnya.”

Cuma ada perasaan seperti... gue sudah mencoba. Gue sudah berusaha. Gue sudah bertahan. Gue sudah menyesuaikan diri. Gue sudah mencoba memahami orang lain. Gue sudah mencoba menjadi lebih baik. Gue sudah mencoba menjadi lebih kuat.

Tapi kenapa rasanya tetap begini-begini saja?

Mungkin itu sebabnya gue suka lagu yang terdengar desperate. Ada sesuatu yang sangat jujur dari suara seseorang yang terdengar seperti sudah berada di ujung batasnya.

Bukan suara yang tenang, bukan suara seseorang yang sudah berdamai dengan keadaan. Tapi suara seseorang yang benar-benar ingin sesuatu, sampai-sampai keinginannya terdengar seperti permohonan.

Kadang bahkan bukan liriknya yang membuat gue merasa demikian. Bisa cuma cara penyanyinya menarik napas. Cara suaranya pecah di nada tertentu. Cara musiknya semakin lama semakin intens, seolah-olah ada sesuatu yang sedang dikejar dan kalau sesuatu itu tidak ditemukan sekarang, semuanya akan runtuh.

Dan anehnya, gue suka itu. Karena ada perasaan seperti, “Yes. That's exactly how it feels.”

Musik sering kali melakukan sesuatu yang nggak bisa dilakukan oleh bahasa biasa. Kalau gue bilang, “Gue sedih,” itu cuma menjelaskan sebuah keadaan.

Tapi ketika gue mendengar seseorang menyanyikan sesuatu dengan suara yang nyaris seperti berteriak, atau instrumennya semakin lama semakin penuh dan kacau, gue nggak cuma mendengar kesedihan.

Gue mendengar kegelisahan, gue mendengar keinginan untuk diselamatkan, gue mendengar seseorang yang masih berharap, meskipun dia sendiri mungkin sudah nggak percaya bahwa harapan itu akan datang.

Dan mungkin itu bagian yang paling menarik. Desperation sebenarnya masih mengandung harapan. Orang yang benar-benar sudah nggak menginginkan apa-apa mungkin tidak akan desperate.


Desperation muncul karena masih ada sesuatu yang sangat kita inginkan, tapi kita merasa semakin kecil kemungkinan mendapatkannya.

Makanya lagu-lagu desperate terasa sangat manusiawi buat gue, karena di balik keputusasaan selalu ada sesuatu yang pernah kita harapkan.

Cinta yang ingin dipertahankan;
Tempat yang ingin kita tuju;
Seseorang yang ingin memahami kita;
Kehidupan yang kita bayangkan akan kita jalani.

Atau mungkin cuma keinginan sederhana untuk suatu hari nanti bisa bangun dan merasa bahwa hidup ini nggak seberat biasanya.

Dan mungkin selama hidup gue, gue terlalu sering berada di titik di antara “gue masih berharap” dan “gue sudah nggak percaya harapan itu akan terjadi.”

Jadi ketika gue menemukan sebuah lagu yang berada di titik emosional yang sama, rasanya seperti menemukan seseorang yang berbicara dalam bahasa yang gue mengerti.

Bukan karena lagu itu menyelesaikan masalah gue. Bukan juga karena setelah mendengarnya semuanya menjadi lebih baik. Tapi setidaknya selama beberapa menit, gue nggak merasa sendirian dengan perasaan itu.

Ada seseorang di luar sana—entah penyanyinya, penulis lagunya, atau bahkan karakter fiktif yang sedang diceritakan dalam lagu—yang juga pernah merasakan sesuatu yang kurang lebih sama.

Dan mungkin itu alasan sebenarnya kenapa gue menyukai lagu-lagu seperti itu.

Gue nggak selalu mencari musik untuk membuat gue bahagia; Kadang gue cuma mencari musik yang cukup jujur untuk menemani gue ketika gue sedang tidak bahagia.

Karena ada perbedaan besar antara merasa sedih sendirian dengan merasa sedih sambil mendengar seseorang berkata, lewat musik, “Gue tahu rasanya.”

Dan untuk seseorang yang sepanjang hidupnya cukup familiar dengan hopelessness, kadang itu sudah lebih dari cukup. Bukan penyelamatan ataupun solusi.


Cuma companionship.

Teman duduk di sebelah gue selama beberapa menit, ketika hidup terasa terlalu berat untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Rose of Jericho - Simbol dari Harapan dan Penantian

Kemarin gua baca cerita random di internet, tapi entah kenapa nempel banget di kepala gua.

Ceritanya gini: ada orang terima paket nyasar. Pas dibuka, isinya kayak gumpalan daun kering gitu. Dia langsung parno, mikir ini ganja. Sempet mau lapor polisi, tapi dia taking a pause dulu — foto isi paketnya, upload ke internet, tanya orang-orang: "ini apa sih, bener ganja bukan?"

Terus ada satu scientist, kayaknya biologist, yang jawab. Dia bilang itu bukan narkoba. Itu namanya "Rose of Jericho". Bunga yang bisa bertahan hidup di tengah kekeringan ekstrem — dia masuk fase hibernasi, menggulung diri, dan kelihatan kayak gumpalan daun mati. Orang itu disuruh coba rendam "gumpalan daun" itu ke baskom air.


Foto dari the real Rose of Jericho - ketika dalam keadaan kering dan mekar

Dan benar saja. Dalam beberapa hari, gumpalang daun itu kembali segar. Mekar lagi.

Jujur ini triggering buat gua — tapi triggering yang bagus. Karena gua ngeliat ini persis kayak posisi kita sekarang, di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang lagi kayak gini. Kadang kita merasa udah kering, udah kayak "daun mati", ga ada progress, ga ada yang tumbuh. Tapi mungkin itu bukan tanda kita udah mati. Mungkin itu tanda bahwa kita cuma butuh untuk hibernasi.

Rose of Jericho ga maksa dirinya mekar di tengah kekeringan. Dia preserve dirinya sendiri, menunggu air datang. Dan pada saat air itu datang — dia ga butuh waktu lama buat balik hidup lagi.

Mungkin itu yang harus kita lakukan sekarang. Bukan memaksakan diri buat "mekar" di kondisi yang belum mendukung. Tapi tetep bertahan, preserve energi, preserve value diri sendiri, sambil menunggu momennya dateng. Bukan berarti pasrah atau diem saja — tapi lebih ke: percaya bahwa fase kering ini ada ujungnya, dan pada saat ujungnya datang, kita harus siap buat langsung tumbuh lagi, bukan malah sudah keburu hancur duluan karena maksain diri.

Rose of Jericho itu bukan simbol keputus-asaan. Dia simbol dari penantian dan strategi.

Gua mau coba pegang ini terus selama masa-masa yang lagi ga gampang ini.

Friday, August 14, 2026

The Beauty of Otherwise

There is a beauty within every situation.

The beauty of white snow upon winter,
The beauty of colorful flowers upon spring.
the beauty of falling leaves upon fall,
The beauty of clear weather upon summer.

There is a beauty within movement and stillness,
There is a beauty within solitude and togethernes.

Alas, some people only craves one kind of beauty,
without ever appreciating the others.


---

Writer's note :
This writing was spontaneously written during a conversation with a friend.
We are talking about the beauty of solitude.