Tuesday, August 11, 2026

Di Antara Kita dan Hari Esok

Aku tidak tahu di mana aku berada. Hal pertama yang kurasakan adalah angin yang lembut menyentuh wajahku, membawa aroma bunga dan sesuatu yang samar-samar mengingatkanku pada tanah setelah hujan.

Aku sedang berdiri di tengah padang rumput yang luasnya seperti tidak berujung. Rumputnya hijau lembut, bergoyang pelan ditiup angin yang entah datang dari mana. Di sana-sini tumbuh bunga liar warna-warni, dan tidak jauh dari tempatku berdiri, ada sungai kecil yang airnya jernih mengalir tenang, memantulkan langit yang warnanya seperti sore yang tidak pernah berakhir.


Lalu aku mendengar suara langkah di belakangku.

"Woi. Ngelamun aja lu."

Suara itu. Suara yang sangat familiar, namun sudah belasan tahun tak pernah kudengar secara langsung. Aku menoleh patah-patah. Di sampingku, berdiri seorang laki-laki. Tangannya masuk ke dalam saku celana. Rambutnya sedikit berantakan diterpa angin. Aku mengenal wajah itu. Wajah yang selama bertahun-tahun berusaha kulupakan. Sahabat lamaku. Orang yang dulu pernah kuanggap sebagai saudara.

Dia menatapku, lalu tersenyum. Senyum kecil yang begitu familiar. Senyum yang entah kenapa membuat dadaku terasa sesak.

Jujur, hubungan kami terakhir kali berada di titik terhancur. Kami bertengkar hebat belasan tahun lalu, saling lempar makian, dan sejak hari itu kami sama sekali tidak pernah bersapaan. Tapi anehnya, detik ini, saat mataku menatap matanya, tak ada sedikit pun rasa benci, kesal, atau ganjalan di dadaku. Yang ada hanya rasa hangat yang aneh. Seperti bertemu seseorang yang sebenarnya sudah lama sekali kurindukan, tetapi terlalu gengsi untuk kuakui.

"Kenapa? Kaget liat muka ganteng gue?" katanya sambil tertawa pelan, lalu melangkah santai menyusuri tepi sungai.

"Ngapain lo di sini? Ini... di mana sih?" kataku, masih setengah tidak percaya.

Dia cuma mengangkat bahu, tangannya dimasukkan ke saku celana, jalan mendekat. "Nggak tahu juga. Tapi lumayan kan, pemandangannya?"

Aku menatap sekeliling lagi. Padang rumput, bunga, sungai. Indah, tapi asing. "Gue... nggak inget gimana bisa ada di sini."

"Udah, nggak usah dipikirin dulu," katanya, lalu menepuk pundakku. "Jalan aja yuk. Udah lama juga kan kita nggak jalan bareng."

Entah kenapa aku menurut saja. Kami berjalan berdampingan menyusuri tepi sungai, rumput menyentuh betis kami, angin membawa aroma bunga yang samar. Tanpa terasa, percakapan mengalir begitu saja. Kami mengenang hal-hal bodoh masa muda.

"Inget nggak," kata dia sambil menatap ke depan, "waktu kita SMA, kita pernah kabur pas jam pelajaran cuma buat beli es krim di ujung gang deket sekolah?"

Aku tertawa kecil. "Terus ketauan sama wali kelas kita, dan disuruh push up di depan kelas."

"Lo yang disuruh push up. Gue kabur duluan," dia menyeringai.

"Anjir, iya juga ya. Lo emang licik dari dulu." Kami tertawa bareng.

"Inget si doi nggak? Cinta pertama kita?" tanya dia tiba-tiba, sambil menendang kerikil kecil ke sungai.

Aku menghela napas panjang, senyum getir muncul begitu saja. "Ya! Kita berdua sama-sama naksir doi! Kita berdua saingan mati-matian, kencan bergantian, terus akhirnya sama-sama ditolak."

"Sialan banget emang tuh momen," dia ketawa. "Tapi untung kita nggak sampe berantem gara-gara itu."

"Iya. Waktu itu kita malah ketawa bareng, terus makan mie ayam sampe kekenyangan buat ngelupain sakit hati."

Kami terus jalan, cerita punya cerita mengalir begitu saja. Tentang malam-malam kami begadang nonton film horor sampai ketiduran di ruang tamu rumahnya. Tentang motor butut yang sering mogok tapi tetap kami paksa jalan sampai ke pantai. Tentang hal-hal bodoh yang cuma kami berdua yang tahu, yang kalau diceritakan ke orang lain pasti nggak akan ada yang percaya.

Sesekali kami masih seperti dulu—saling ejek, berdebat hal sepele, lalu tertawa lagi. Kami membicarakan impian-impian masa muda kami yang dulu terasa sangat nyata.


"Dulu kita yakin banget bakal terus bareng ya." gumamku pelan, menatap riak air sungai. "Kita pengen tumbuh tua bareng. Lu jadi best man di nikahan gue, gue jadi best man di nikahan lu. Tetap nongkrong walau udah sama-sama ompong... Kalau punya anak, anak kita juga harus temenan. Kalau mereka nggak mau, kita paksa." Aku tertawa.

Dia diam sebentar. Senyumnya masih ada, tapi matanya menerawang jauh. "Iya. Gue masih inget itu."

"Terus kenapa semuanya berubah?" tanyaku, akhirnya menyuarakan pertanyaan yang selama ini mengganjal. "Kenapa kita bisa sampe nggak ngomong bertahun-tahun?"

Dia tidak langsung menjawab. Dia cuma tersenyum tipis, senyum yang susah kuartikan—antara sedih dan lega di saat bersamaan. Suasana mendadak hening. Kenangan tentang konflik besar belasan tahun lalu—kesalahpahaman konyol yang memupuk gengsi hingga memisahkan kami—berkelebat sekilas.

Ada satu masa ketika semuanya berubah. Pertengkaran terbesar kami. Kata-kata yang tidak seharusnya kami ucapkan. Kesalahpahaman yang tidak pernah benar-benar diselesaikan. Ego, amarah, dan setelah itu... Kami tidak pernah benar-benar berbicara lagi.

Aku masih inget kata-kata terakhir aku ke dia waktu itu, "Gue nggak butuh sahabat kayak lo."

Tahun demi tahun berlalu. Satu tahun. Lima tahun. Sepuluh tahun. Belasan tahun.

Aku masih tidak tahu siapa yang paling salah. Mungkin kami berdua. Mungkin keadaan. Mungkin memang ada beberapa hubungan yang hancur bukan karena tidak ada kasih sayang, tetapi karena dua orang yang saling menyayangi sama-sama tidak tahu bagaimana cara menyelamatkannya.

"Udahlah," katanya akhirnya, "nggak usah dibahas sekarang."

Aku menatapnya, "Lo pernah kangen gue?"

"Lo sendiri?" Sambil dia terus berjalan.

Aku menghela napas, "Pertanyaan gue dulu."

Dia tertawa pelan, "Ya. Gue kangen lu bro."

Satu kalimat pendek, tapi entah kenapa rasanya berat sekali. Aku menunduk. "Gue juga."

Kami terus berjalan. Aku ingin bertanya lagi, tapi entah kenapa kelopak mataku terasa amat berat. Rasa kantuk yang luar biasa dahsyat menyerangku. Pandanganku kabur, kakiku lemas, dan tubuhku mulai limbung. Aku mulai merasa ngantuk, benar-benar ngantuk, seperti tubuhku perlahan menjadi ringan dan kesadaranku menjauh sedikit demi sedikit.

"Woy," Dia tiba-tiba mengguncang bahuku pelan. "Jangan sampe ketiduran di sini." Suaranya terdengar panik namun penuh penekanan.

"Sori," gumamku, mencoba fokus lagi.

Dari kejauhan, tiba-tiba aku mendengar suara. Ada suara sirene, teriakan panik, dan seseorang yang memanggil-manggil berulang kali.

Aku menoleh ke arah suara itu. "Lo denger itu?"

Dia mengangguk pelan. "Denger. Lo harus ke sana. Kejar suara itu."

Aku menatapnya, bingung. "Lo nggak ikut? Kita kan baru ketemu lagi."

Dia menggelengkan kepala. "Gue gak ikut," bisiknya halus.

Sebelum aku sempat memprotes, dia mendadak mendorong dadaku dengan sangat keras. Begitu keras sampai aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang. Sebelum tubuhku menyentuh tanah, semuanya gelap.

---

Aku tersadar dengan telinga berdenging dan debu memenuhi udara.

Aku tidak lagi di padang rumput atau di pinggir sungai. Aku terbaring di antara reruntuhan beton dan besi yang berserakan, di bawah sesuatu yang berat—yang, aku baru sadari setelah pandanganku jelas, adalah tubuh seseorang di atasku. Tubuh yang menahan reruntuhan agar tidak menimpaku. Wajahnya penuh darah, dan aku menatapnya dengan bingung.

Itu sahabat lamaku, yang tadi berjalan bersamaku di padang rumput menyusuri sungai.

Ingatanku perlahan kembali, potongan demi potongan. Aku sedang menghadiri sebuah acara di gedung ini. Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dia di sana—setelah bertahun-tahun, tiba-tiba dia berdiri di satu ruangan, dan kami saling menatap, sama-sama kaget. Sebelum kami sempat menyapa atau menghampiri, gempa dahsyat meretakkan bumi. Gedung itu rubuh.

Dan di detik-detik menakutkan itu... dia langsung menerjang tubuhku, mendorongku ke lantai, dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai untuk menahan bongkahan beton besar yang jatuh tepat di atas kami.


"Bro," suaraku serak, tenggorokanku sesak oleh debu. "Lo denger gue?"

Dia bergerak sedikit. Napasnya berat, tersengal. Darah membasahi sisi kepalanya.

"Untung... lo nggak kenapa-kenapa," bisiknya, suaranya nyaris tidak terdengar.

"Lo ngapain...?"

"Refleks." Dia tersenyum lemah.

"Jangan bercanda!" Aku mulai panik.

Dia tertawa kecil, kemudian batuk. Darah keluar dari sudut bibirnya. "Kayaknya... kita belum berubah."

"Diem dulu, jangan banyak gerak," kataku, panik, mencoba meraba sekeliling mencari celah untuk keluar, tapi reruntuhan itu terlalu berat, terlalu rapat. Dan akhirnya untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat wajah sahabatku tanpa semua tembok yang pernah kami bangun. Tanpa ego, tanpa kemarahan, tanpa masa lalu. Hanya dia dan aku.

"Tau nggak?"

"Apa?"

"Gue... gue kangen banget sama lu, bro. Bertahun-tahun gue merasa kehilangan lu... Maafin gue..."

Napasnya saat itu terbata-bata, terengah di balik debu.

"Bro, udah, jangan ngomong dulu—"

"Kalo salah satu dari kita selamat," lanjutnya, suaranya makin pelan, "atau kalo kita berdua selamat... gue pengen jalan bareng lagi. Kayak dulu. Ngobrolin masa lalu. Ngomongin hal-hal bodoh. Dan kalo masih ada kesempatan..." dia berhenti sebentar, mengatur napas, "...melihat masa depan bareng."

Aku menggenggam tangannya. Aku tertawa sambil menangis. "Kita pasti selamat. Gue janji, kita bakal jalan bareng lagi. Bertahan dulu, oke?"

Dia hanya tersenyum, matanya perlahan menutup. Setelah itu, semuanya gelap. Dan tiba-tiba saja, pembicaraan kami berlanjut di padang rumput dengan sungai yang jernih itu, sebelum akhirnya kami kembali lagi ke reruntuhan ini.

Aku mendengar suara dari kejauhan, kali ini nyata.

"ADA KORBAN! DI SINI! ADA DUA ORANG!"

Suara langkah kaki semakin dekat. Tangan-tangan menarikku keluar dari reruntuhan. Kami dievakuasi. Kami selamat! Tapi ketika aku menoleh mencari temanku, tim penyelamat sedang mengangkat tubuhnya keluar dari reruntuhan dengan hati-hati. Terlalu hati-hati. Terlalu pelan.

"Bro?" Aku memaksakan diri bangun, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuh. Salah satu petugas menahanku, wajahnya menyiratkan sesuatu yang tidak perlu diucapkan.

Aku tidak menghiraukannya. Aku merangkak mendekati tubuh dia yang terbaring di tanah, dan begitu aku melihat wajahnya dari dekat, aku tahu.

Aku menyentuh wajah dinginnya.

"Bangun!" Tidak ada jawaban.

"BANGUN JING!" Masih tidak ada jawaban.

"LO BILANG KITA BAKAL JALAN LAGI! LO BILANG KITA BAKAL NGOBROL LAGI!" Suaraku pecah.

Di tengah kerumunan orang-orang yang bekerja menyelamatkan korban lain, aku memeluk sahabatku seperti seorang anak kecil. Dan akhirnya semua air mata yang selama bertahun-tahun tidak pernah keluar, tumpah sekaligus. Air mataku jatuh tak terkendali, membasahi wajahnya yang tertutup debu.

Dan baru saat itu aku melihatnya. Dia terkulai di dekapanku dengan senyum tipis yang amat damai di wajahnya. Senyum yang sama persis seperti yang baru saja kulihat di padang rumput tadi.

"Kenapa lo masih aja kayak gini... Kenapa lo masih aja nyelametin gue..."

---

Beberapa tahun berlalu. Aku masih suka datang ke makamnya. Makamnya tidak terlalu jauh dari pohon besar yang rindang.

Hari ini aku membawa bunga dan gitar tua yang sudah lama tidak kumainkan.

"Maaf lama nggak datang." Aku tersenyum kecil.

"Padahal gue tahu sih lo nggak akan protes."

Aku duduk di depan nisannya, meletakkan bunga di atas makamnya, lalu menyetel senar seadanya, lalu memainkan lagu kesukaannya. Lagu yang dulu selalu kita nyanyikan asal-asalan setiap kali kami nongkrong sampai malam. Aku bernyanyi pelan. Tidak terlalu bagus. Dia pasti akan mengejekku kalau masih hidup. Tapi anehnya... Aku bisa membayangkan tawanya.

Setelah bait terakhir usai, aku menyandarkan gitar di samping nisan, lalu mengelus permukaan batu dingin itu dengan lembut.

"Bro..." ucapku pelan, tersenyum kecil. "Mungkin kita memang gak bisa secara fisik jalan bareng lagi. Nggak bisa saling jadi best man, nggak bisa punya keluarga dan tumbuh tua bareng seperti janji kita dulu..."

Aku menghela napas panjang, menatap ukiran namanya dengan penuh kerinduan.

"Tapi gue bakal selalu bawa kenangan tentang lo di hati gue. Selalu."

"Jadi..." Aku tersenyum, "Sampai ketemu lagi, bro."

Aku berbalik dan berjalan meninggalkan makam. Namun setelah beberapa langkah, aku berhenti untuk menoleh sekali lagi.

Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan rumput dan pepohonan di sekitar makam. Aku seperti melihat padang rumput itu lagi, tempat terakhir kami berjalan bersama. Bunga-bunga bergoyang tertiup angin. Sungai mengalir tenang. Dan di kejauhan, ada seseorang berdiri, Seorang laki-laki. Tangannya masuk ke saku celana sambil tersenyum. Senyum yang sangat kukenal. Aku tersenyum balik, lalu berjalan pulang.


---

Writer's note :

Cerita ini gw tulis based on kisah nyata dari posting IG di bawah ini :

Jujur, cerita aslinya happy ending. Entah kenapa gw jadi nulis cerita tragedi ini.

Anyway, semoga 2 sahabat di postingan asli ini, bisa tetap akur dan baik-baik sampai mereka tua.

Paling tidak, 1 milestone sudah mereka capai, mereka sudah punya keluarga masing-masing, mereka sudah sempat "jalan bareng" lagi... :)

Saturday, August 8, 2026

The Road that Becomes Home

Breeze of wind that caress my face,
Sound of laughter echoes under the sky.
They comes and ceases, within the vast space.

A spark within darkness,
An anchor in the sea.
A wake up call to return home.

Where is it?
Where is it?
A place that called home?

Ah,
When your mind is at ease,
Free from the shackles of time,
Wherever you go, that’s your home.
Every place you step in, will become a sacred space...



Tuesday, August 4, 2026

Api yang Merambat

Ada suatu masa di mana hidup gue kayak lagi dikeroyok. Bukan satu masalah datang, satu masalah pergi — nggak. Semuanya kompak dateng bareng, gantian nendang dari segala arah. Kerjaan lagi kacau. Keuangan menipis, padahal tagihan nggak pernah nanya-nanya dulu sebelum jatuh tempo. Keluarga di rumah lagi ada gesekan yang bikin capek hati. Dan di tengah semua itu, badan gue sendiri kayak ikut protes — gampang capek, susah tidur, kepala berat.

Malam itu, gue duduk di pinggir kasur sambil megang HP, nggak tau mau ngapain. Rasanya semua beban itu numpuk jadi satu batu besar di dada. Gue scroll kontak, dan mata gue berhenti di satu nama. Teman lama, yang biasanya nggak keberatan kalau diajak ngobrol berat.

Gue ketik pesan pendek.


"Lo lagi sibuk nggak?"

Nggak lama, balesan masuk.

"Nggak juga, kenapa?"

Gue tarik napas panjang sebelum ngetik lagi.

"Gue lagi berat banget. Boleh gue cerita?"

"Boleh banget. Cerita aja."

Gue mulai ngetik, tapi jari-jari gue kayak nggak secepat isi kepala. Ada terlalu banyak yang mau keluar, dan huruf-huruf di layar rasanya terlalu lambat buat nampung semuanya. Akhirnya gue kirim satu pesan lagi.

"Gue capek ngetik. Gue telepon aja ya, boleh?"

"Boleh, telepon aja."

Gue tekan tombol telepon, dan begitu suara di ujung sana kedengeran, gue langsung ngomong duluan, setengah minta izin, setengah nggak sabar.

"Gue mau venting ya. Mungkin bakal berantakan, mungkin bakal kedengeran kayak orang ngamuk. Lo kuat dengerin, kan?"

"Iya, gue kuat. Cerita aja, gue dengerin."

Dan jadilah gue venting habis-habisan. Semua yang selama ini gue tahan, keluar tanpa saringan. Gue ngomong soal kerjaan yang bikin gue ngerasa nggak dihargai, soal duit yang seret padahal kebutuhan nggak pernah mau nunggu, soal rumah yang harusnya jadi tempat pulang tapi malah jadi tempat gue ngumpulin lelah baru, soal badan yang kayak ikut-ikutan nyerah. Suara gue naik turun, kadang kedengeran marah, kadang kedengeran kayak mau nangis. Teman gue di seberang sana nggak motong, nggak nyela, cuma sesekali bilang "iya," "terus?," atau "gue di sini, lanjut aja," seolah dia lagi kasih ruang seluas-luasnya buat semua yang gue keluarin.


Gue nggak tau udah berapa lama gue ngoceh. Yang gue inget, akhirnya gue berhenti sendiri, bukan karena udah selesai omongannya, tapi karena napas gue abis. Gue diem, cuma kedengeran suara napas gue yang masih agak berat di telepon.

Teman gue juga diem. Nggak buru-buru ngomong, nggak buru-buru kasih nasihat. Cuma diem, nemenin diem gue.

Beberapa detik kayak lebih panjang dari biasanya. Terus gue yang mecahin keheningan itu.

"Eh," kata gue, suaranya masih agak serak, "kayaknya gue udah puas ngomel. Boleh nggak sekarang kita balikin suasananya? Gue pengen coba latihan bersyukur."

"Boleh banget. Mau mulai dari mana?"

Gue mikir sebentar, terus keluar aja apa yang paling deket sama gue saat itu.


"Gue mau mulai dari lo dulu," kata gue. "Makasih ya, lo udah lahir ke dunia ini. Makasih udah jadi teman gue. Dan makasih, malam ini lo mau bales chat gue, terus mau lanjut telepon, terus mau dengerin gue ngoceh sepanjang ini tanpa protes."

Di seberang sana, kedengeran suara ketawa kecil, kayak nggak nyangka gue bakal ngomong sehangat itu abis tadi ngomel-ngomel.

"Sama-sama," katanya pelan. "Gue seneng bisa ada buat lo."

Dan yang bikin gue sendiri kaget, ucapan syukur yang kecil itu — yang tadinya cuma buat satu orang yang jelas-jelas ada di depan mata, di ujung telepon — tiba-tiba aja ngalir ke mana-mana. Kayak ada pintu yang kebuka, dan gue nggak bisa berhenti.

Gue lanjut ngomong, "Makasih juga buat hari ini, buat semua hal kecil yang masih bisa gue nikmatin, walaupun banyak masalah. Makasih gue masih bisa makan, masih bisa liat langit, masih bisa denger suara lo di telepon ini."

Terus, tanpa gue rencanain, ucapan gue berubah bentuk jadi doa buat orang lain.

"Gue harap lo bahagia," kata gue. "Beneran bahagia, sampai nggak ada ruang buat susah di hati lo. Gue harap temen-temen deket gue juga bahagia. Orang-orang di sekitar gue, yang gue kenal, yang gue temuin sehari-hari, semoga mereka juga bahagia."

Gue berhenti sebentar, narik napas, terus lanjut lagi, kali ini suaranya agak pelan tapi mantap.

"Bahkan orang-orang yang nggak terlalu deket sama gue, yang mungkin gue lupa namanya besok, gue harap mereka juga bahagia. Dan orang-orang yang pernah — atau bahkan masih — musuhan sama gue, entah dulu entah sekarang, gue harap mereka juga bahagia. Sebahagia-bahagianya, sampai nggak ada sedikit pun kebencian yang bisa numbuh di kepala mereka, karena udah kepenuhan sama bahagia."

Selesai gue ngomong itu, kita berdua diem lagi. Tapi diem yang ini beda sama diem yang tadi.

Kali ini yang kaget malah teman gue.

"Anjir, Bro!" katanya, setengah ketawa, setengah nggak percaya. "Gue kaget banget, demi apa! Lu bisa selancar itu ngucapin berkat dan doa baik, sama lancarnya kayak pas lu maki-maki dunia tadi!"

Gue ikut ketawa denger komentarnya.

"Gue juga nggak nyangka," kata gue jujur. "Tadi kayak ada yang lepas, terus begitu lepas, susah berhentinya. Positifnya kayak merembet ke mana-mana."

"Untung yang merembet kali ini bukan emosi negatif," katanya, masih sambil ketawa.

Kita ngobrol santai beberapa menit lagi, ngomongin hal-hal ringan, sampai akhirnya gue pamit nutup telepon karena udah malam dan mata gue mulai berat.

Sehabis nutup telepon itu, gue duduk sebentar di pinggir kasur, mikirin apa yang baru aja kejadian. Dan gue nyadar satu hal.

Kebencian itu kayak api. Gampang banget merembet, membakar hal-hal yang bahkan nggak ada hubungannya sama sumber masalah awal. Satu kesel di kerjaan bisa bikin gue jutek ke orang rumah. Satu capek soal duit bisa bikin gue gampang tersinggung sama omongan orang yang sebenarnya nggak ada maksud apa-apa.

Tapi malam itu gue baru sadar, cinta kasih juga punya sifat yang sama. Dia juga gampang merembet. Satu rasa syukur kecil ke satu orang, bisa ngalir jadi doa buat banyak orang, bahkan buat orang yang selama ini gue anggap musuh.

Bedanya cuma satu: api kebencian membakar dan menghancurkan, sementara api cinta kasih menghangatkan dan menyembuhkan.

Dan mungkin, tinggal itu aja pilihan yang kita punya tiap hari. Bukan soal masalah yang datang bakal berhenti atau nggak, karena masalah bakal selalu ada, kadang dateng bergantian, kadang dateng bareng-bareng. Tapi soal api mana yang mau kita pantik duluan di dalam diri kita sendiri. Apa kita mau terus-terusan memantik api kebencian yang gampang menjalar dan menghanguskan apa aja di sekitarnya, atau kita coba ambil jarak sebentar, tarik napas, dan memantik api cinta kasih yang juga sama gampangnya menjalar — tapi ke arah yang menyembuhkan.

Sunday, August 2, 2026

Milarepa's Blessing for Patrons at Nya Non



Para dermawan pelindung Dharma dari Nya Non berharap Milarepa tinggal bersama mereka untuk selamanya. Milarepa menjawab,

"Aku tidak dapat tinggal di sini lama. Namun, aku akan menganugerahkan berkah umur panjang dan kesehatan kepada kalian semua. Aku juga berdoa semoga kelak kita bertemu kembali dalam keadaan yang penuh keberuntungan, dalam kondisi yang mendukung praktik Dharma."

Kemudian beliau menyanyikan lagu ini:

Di hamparan langit biru yang tak berbatas,
Matahari dan rembulan terus beredar.
Putaran mereka
Menandai silih bergantinya waktu.

Wahai langit biru,
Semoga engkau senantiasa damai dan sejahtera.
Sebab aku, sang matahari dan rembulan,
Kini akan berangkat,
Mengembara ke Empat Benua
Dengan hati yang lapang.

Di puncak gunung menjulang sebuah batu besar.
Di sekelilingnya berputar burung nasar,
Raja segala burung.
Pertemuan dan perpisahan mereka
Menjadi penanda perubahan waktu.

Wahai batu yang kukasihi,
Semoga engkau tetap teguh dan sentosa.
Sebab aku, sang burung nasar,
Kini akan membentangkan sayap
Terbang menuju keluasan angkasa.

Semoga petir tak pernah menyambarmu.
Semoga aku pun tak terjerat perangkap.

Dengan inspirasi Dharma,
Semoga kita segera bertemu kembali,
Dalam kemakmuran dan berkah.

Di bawah sana mengalir Sungai Tsang,
Tempat ikan-ikan bermata keemasan berenang.
Pertemuan dan perpisahan mereka
Menandai silih bergantinya waktu.

Wahai aliran sungai,
Semoga engkau tetap jernih dan lestari.
Sebab aku, sang ikan,
Kini akan berenang menuju Sungai Gangga
Untuk mengembara.

Semoga tak seorang pun mengeringkan aliranmu demi pengairan.
Semoga para nelayan tak pernah menangkapku dalam jala mereka.

Dengan inspirasi Dharma,
Semoga kita segera bertemu kembali,
Dalam kemakmuran dan berkah.

Di taman yang indah
Mekarlah bunga Halo.
Mengitarinya adalah kumpulan lebah Persia.
Pertemuan dan perpisahan mereka
Menandai silih bergantinya waktu.

Wahai bunga yang elok,
Semoga engkau tetap mekar dan lestari.
Sebab aku akan menyaksikan
Bunga-bunga di tepi Sungai Gangga.

Semoga hujan es tak pernah merontokkan kelopakmu.
Semoga angin tak pernah menerbangkanku jauh.

Dengan inspirasi Dharma,
Semoga kita segera bertemu kembali,
Dalam kemakmuran dan berkah.

Di sekeliling yogi Milarepa
Berkumpullah para dermawan setia dari Nya Non.
Pertemuan dan perpisahan mereka
Menandai silih bergantinya waktu.

Wahai para dermawan yang kukasihi,
Semoga kalian selalu sehat dan berbahagia,
Sebab kini aku akan berangkat
Menuju pegunungan yang jauh.

Semoga aku, sang yogi,
Terus maju di Jalan Dharma.
Dan semoga kalian semua
Dianugerahi usia panjang.

Dengan inspirasi Dharma,
Semoga kita segera bertemu kembali,
Dalam kemakmuran dan limpahan berkah.

— Milarepa

Wednesday, July 29, 2026

Unstoppable Stream

Hovering through the empty room,
sounds of ticking clock come and goes.
Time keeps flowing like stream of river,
what are we actually rushing for?



Saturday, July 25, 2026

Kalau Saya Bahkan Tidak Tahu Harus Bertanya Apa?

Beberapa hari yang lalu, di town hall kantor, ada satu momen yang membuat saya terdiam.

Pihak perusahaan sedang menjelaskan rencana besar untuk meningkatkan kompetensi seluruh karyawan. Tujuannya bagus: setiap orang diharapkan memiliki pemahaman yang lebih luas dan lebih holistik mengenai bagaimana perusahaan bekerja.

Di tengah sesi, muncul satu pesan yang mungkin terdengar sederhana.

"Kalau tidak tahu, ya bertanya."

Kalimat yang sering kita dengar.

Namun kemudian, seseorang mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan yang menurut saya luar biasa.

"Kalau saya bahkan tidak tahu apa yang harus saya tanyakan, bagaimana?"

Ruangan sempat hening sejenak.

Saya melihat ekspresi MC berubah sesaat. Mungkin pertanyaan itu di luar dugaan. Namun yang saya apresiasi, alih-alih meremehkan pertanyaan tersebut, pihak perusahaan merespons dengan cukup baik. Mereka mengatakan bahwa mulai bulan depan akan ada training yang lebih ekstensif agar setiap orang memiliki fondasi yang cukup sebelum diharapkan memahami berbagai aspek bisnis.

Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah satu sesi tanya jawab biasa.

Bagi saya, momen itu terasa sangat personal.

Karena dulu, ketika saya mengungkapkan kebingungan yang kurang lebih sama, respons yang saya terima justru sebaliknya.

Seolah-olah saya bodoh.

Seolah-olah kalau saya bahkan tidak tahu harus bertanya apa, berarti saya kurang berpikir.

Dan ternyata, bertahun-tahun kemudian, saya mendengar orang lain mengutarakan hal yang sama—dan kali ini pertanyaannya justru dianggap valid.

Rasanya seperti ada beban lama yang akhirnya sedikit terangkat.

Pertanyaan Tidak Muncul dari Ruang Kosong



Ada satu hal yang sering dilupakan ketika orang berkata, "Kalau tidak tahu ya tanya."

Pertanyaan tidak muncul begitu saja.

Pertanyaan lahir dari pemahaman.

Semakin seseorang memahami sebuah bidang, semakin spesifik pertanyaan yang bisa ia ajukan.

Sebaliknya, ketika seseorang benar-benar baru memasuki suatu domain, ia sering kali bahkan belum memiliki kerangka berpikir yang cukup untuk mengetahui apa yang belum ia ketahui.

Dalam dunia pembelajaran, kondisi ini sering disebut sebagai unknown unknowns.

Bukan sekadar "Saya belum tahu jawabannya."

Melainkan:

"Saya bahkan belum tahu bahwa ada hal yang perlu saya ketahui."

Ini adalah fase yang sangat normal ketika seseorang sedang belajar sesuatu yang benar-benar baru.

Analogi Ruang Operasi


Bayangkan seseorang yang tidak pernah kuliah kedokteran.

Lalu tiba-tiba ia didorong masuk ke ruang operasi.

Semua orang berkata,

"Kalau nggak ngerti, tanya aja."

Tanya apa?


Ia bahkan belum tahu nama alat-alat bedah.

Belum tahu anatomi tubuh manusia.

Belum tahu prosedur sterilisasi.

Belum tahu urutan operasi.

Dalam kondisi seperti itu, otak bisa membeku.

Bukan karena malas.

Bukan karena bodoh.

Tetapi karena belum memiliki fondasi.

Kalau ada yang berkata analogi ini terlalu berlebihan atau tidak apple-to-apple, saya rasa mereka justru melewatkan fungsi sebuah analogi.

Analogi bukan dibuat agar identik dalam setiap detail.

Analogi dibuat untuk menjelaskan pola berpikir yang sama dalam konteks yang berbeda.

Dan pola berpikirnya sederhana:

Tanpa fondasi, seseorang bahkan belum tahu pertanyaan apa yang layak diajukan.

"Common Sense" Sering Kali Hanya Pengalaman yang Sudah Terlupakan


Ada fenomena psikologi yang disebut curse of knowledge.

Ketika seseorang sudah sangat menguasai suatu bidang, ia mulai lupa bagaimana rasanya menjadi pemula.

Akibatnya muncul kalimat-kalimat seperti:

  • "Kan tinggal tanya."
  • "Masa nggak kepikiran?"
  • "Common sense lah."

Padahal yang mereka sebut "common sense" sering kali hanyalah pengalaman bertahun-tahun yang sudah begitu melekat hingga terasa alami.

Yang bagi mereka tampak sederhana, bagi orang baru bisa terlihat seperti hutan tanpa peta.

Senior Bukan Berarti Mahatahu


Ada anggapan lain yang menurut saya cukup berbahaya.

Karena seseorang sudah senior, maka ia seharusnya mampu mengetahui semuanya sendiri.

Saya tidak setuju.

Yang biasanya dimiliki seorang senior adalah kemampuan belajar yang lebih cepat, pengalaman yang lebih banyak, dan pola pengenalan masalah yang lebih baik.

Bukan berarti ia otomatis memahami seluruh domain baru tanpa onboarding, dokumentasi, atau pelatihan.

Seorang Senior Backend Engineer yang berpindah menjadi Product Manager tetap harus mempelajari bisnis.

Seorang Senior Product Manager yang pindah ke industri kesehatan tetap harus mempelajari regulasi.

Seorang Senior Engineer yang masuk ke perusahaan logistik tetap harus memahami proses warehouse.

Pengalaman mempercepat proses belajar.

Pengalaman tidak menghapus kebutuhan untuk belajar.

Tanggung Jawab Mentor dan Perusahaan


Menurut saya, ketika banyak orang tidak tahu harus bertanya apa, itu bukan sekadar masalah individu.

Itu bisa menjadi sinyal bahwa fondasi pembelajaran belum dibangun dengan baik.

Mentor bukan hanya menjawab pertanyaan.

Mentor membantu seseorang memahami medan yang sedang ia masuki.

Perusahaan bukan hanya menyediakan dokumentasi.

Perusahaan membantu membangun peta agar orang tahu ke mana harus melangkah.


Training yang baik bukan sekadar memberikan jawaban.

Training yang baik membantu orang menemukan pertanyaan yang bahkan belum terpikirkan sebelumnya.

Penutup


Town hall hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa puluh menit.

Namun ada satu pertanyaan yang terus terngiang di kepala saya.

"Kalau saya bahkan tidak tahu apa yang harus saya tanyakan, bagaimana?"

Sekarang saya justru melihatnya sebagai salah satu pertanyaan paling jujur yang bisa diucapkan oleh seseorang yang sedang belajar.

Karena mengakui bahwa kita memiliki blind spot membutuhkan kerendahan hati.

Dan tugas seorang mentor, senior, maupun perusahaan bukanlah mempermalukan orang yang sedang berada dalam kegelapan.

Tugas mereka adalah menyalakan lampu.


Sebab seseorang baru bisa mulai bertanya ketika ia akhirnya dapat melihat apa yang ada di hadapannya.

Berani Bukan Berarti Nggak Pernah Istirahat

Hari ini gue keingetan satu memori lama yang ternyata cukup berpengaruh ke cara gue menjalani hidup.

Dulu, waktu masih lebih muda, gue pernah mendengar dua pemuka agama dari dua agama yang berbeda menyampaikan pesan yang intinya mirip. Mereka bilang kalau orang awam sering kali menjadi pengecut. Lari dari masalah. Lari ke hobi, hiburan, musik, mabuk, nonton tanpa henti, dan segala macam distraksi.

Waktu itu gue menerima pesan itu mentah-mentah.

Kalau lagi ada masalah, berarti gue harus terus menghadapinya. Gue nggak boleh kabur. Nggak boleh mengalihkan perhatian. Nggak boleh terlalu menikmati hobi. Kalau gue berhenti mikirin masalah, berarti gue lemah.


Ternyata...

Itu justru menjadi salah satu kesalahan terbesar yang pernah gue lakukan.

Masalah yang seharusnya dipikirkan secukupnya malah gue bawa ke mana-mana. Gue mengunyahnya terus. Siang, malam, sebelum tidur, bangun tidur. Bukannya selesai, malah jadi rumination. Kebencian makin besar. Dendam makin dalam. Pikiran makin gelap.

It doesn't work.

Sampai akhirnya gue cari second opinion ke orang yang lebih berpengalaman.

Yang menarik, justru kebalikannya yang disarankan. Gue disuruh punya lebih banyak hobi, cari aktivitas yang bikin otak istirahat.

Awalnya gue agak bingung. Bukannya itu berarti lari dari masalah?

Tapi setelah gue menjalaninya, gue baru sadar sesuatu.

Ketika pikiran gue punya ruang untuk bernapas, justru gue jadi lebih mampu menghadapi masalah. Gue lebih tenang. Lebih jernih. Bahkan ibadah gue juga terasa lebih baik.

Hari ini gue juga sadar, mungkin instruksi yang dulu gue dengar sebenarnya kurang lengkap.

Masalahnya bukan pada hobinya. Masalahnya adalah kalau hobi dijadikan tempat tinggal.

Kalau setiap ada masalah, kita langsung kabur ke Netflix, game, media sosial, atau apa pun, lalu nggak pernah balik menghadapi kenyataan. Itu jelas nggak sehat.

Tapi sebaliknya juga nggak sehat. Kalau setiap hari kita memaksa diri terus memikirkan masalah tanpa pernah memberi kesempatan otak beristirahat, hasilnya juga bisa sama buruknya.

Lucunya lagi, para pemuka agama sendiri sebenarnya juga melakukan hal yang mirip.

Mereka berdoa, mereka bermeditasi, mereka retreat.

Bukankah itu juga bentuk mengambil jarak sejenak dari hiruk-pikuk masalah?


Bedanya, mereka kembali lagi.

Meditasi bukan untuk tinggal di dalam keheningan selamanya.

Doa bukan untuk menggantikan tanggung jawab.

Keduanya adalah tempat mengisi ulang tenaga supaya bisa kembali menghadapi kehidupan.

Mungkin itu pelajaran yang baru benar-benar gue pahami sekarang.

Keberanian bukan berarti menatap masalah dua puluh empat jam sehari.

Keberanian adalah tahu kapan harus berhenti sebentar, mengisi tenaga, menjernihkan pikiran, lalu kembali lagi menghadapi apa yang memang harus dihadapi.

Karena ternyata, kadang yang gue butuhkan bukan berpikir lebih keras. Tapi memberi ruang supaya pikiran gue bisa bernapas.