Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan pohon-pohon tua, lahirlah seorang anak perempuan bernama Hazel.
Hari kelahirannya seharusnya jadi hari bahagia. Tapi di dalam rumah sederhana itu, ada satu hati yang tidak ikut bersukacita.
Ayahnya menginginkan anak laki-laki.
Bukan karena ia membenci perempuan, tapi karena ia percaya—laki-laki lebih kuat, lebih bisa diandalkan, lebih bisa meneruskan hidup. Maka ketika bidan berkata, “Perempuan, Pak,” senyum itu muncul, tapi tak pernah benar-benar sampai ke hati.
Sejak kecil, Hazel tumbuh dalam keheningan yang aneh.
Ayahnya tidak pernah memarahinya. Tidak juga menyakitinya. Tapi juga tidak pernah benar-benar melihatnya.
Ia hanya eksis.
---
Suatu sore, Hazel duduk di teras rumah, mendengar ayahnya berbicara dengan tetangga.
“Kalau anak saya laki-laki, mungkin sudah saya ajari manjat pohon. Bantu di kebun. Jadi anak yang tangguh.”
Hazel menunduk. Jemarinya meremas ujung bajunya.
Sejak hari itu, sesuatu berubah.
---
Rambut panjangnya dipotong sendiri dengan gunting dapur. Hasilnya tidak rapi, tapi cukup pendek untuk membuatnya terlihat berbeda.
Ia mulai memanjat pohon jambu di belakang rumah, jatuh berkali-kali, lututnya penuh luka.
Ia ikut anak-anak laki-laki bermain di sawah, berlari tanpa alas kaki, tertawa keras meski dadanya sesak.
Ia belajar mengangkat karung, membantu di kebun, mengerjakan hal-hal yang menurutnya akan membuat ayahnya bangga.
Setiap malam, ia berharap mungkin besok Ayah akan tersenyum.
---
Tapi besok selalu sama.
Ayahnya tetap duduk diam, makan tanpa banyak bicara, lalu pergi tanpa benar-benar menatapnya.
Bahkan ketika Hazel mendapat nilai tertinggi di sekolah, hanya ada anggukan singkat.
“Bagus.”
Hanya itu.
---
Tahun demi tahun berlalu.
Hazel tumbuh. Tapi hatinya seperti berhenti di satu tempat—tempat di mana ia masih menunggu.
---
Suatu hari, desa itu mengadakan festival tahunan. Salah satu acaranya adalah pemilihan “Putri Desa”.
Para ibu datang ke rumah Hazel.
“Kamu harus ikut, Zel. Kamu cantik. Semua orang bilang begitu.”
Hazel tertawa kecil. Hampir seperti mengejek dirinya sendiri.
Cantik?
Ia bahkan lupa bagaimana rasanya menjadi perempuan.
“Aku nggak cocok,” katanya pelan.
Tapi warga terus membujuk. Ibunya menatapnya dengan harap.
Akhirnya, dengan setengah hati, Hazel mengangguk.
---
Hari itu tiba.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Hazel mengenakan gaun. Rambutnya dirapikan. Wajahnya dihias sederhana.
Di cermin, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
"Ini aku?" batinnya.
---
Ketika namanya diumumkan sebagai pemenang, tepuk tangan bergema di seluruh lapangan desa.
Hazel berdiri kaku.
Ia tersenyum… tapi di dalam, ada rasa takut yang aneh.
"Kalau Ayah melihatku seperti ini, apa dia akan kecewa?"
---
Arak-arakan dimulai.
Hazel duduk di atas kendaraan sederhana yang dihias bunga. Orang-orang bersorak, melambaikan tangan.
Di tengah keramaian itu, matanya mencari satu sosok.
Dan ia menemukannya.
Di antara kerumunan, berdiri Ayahnya.
Untuk pertama kalinya, Ayah tidak terlihat dingin.
Ia menatap Hazel.
Dan ia menangis.
---
Hazel tertegun.
Dunia seakan melambat.
Air mata itu jatuh tanpa ditahan. Bukan tangis biasa—tapi tangis yang seperti menyimpan banyak tahun di dalamnya.
Hazel tidak mengerti.
Ia hanya bisa menatap balik, jantungnya berdegup keras.
---
Setelah arak-arakan selesai, Hazel turun dengan langkah ragu.
Ayahnya berdiri di sana.
Dekat.
Lebih dekat dari yang pernah ia rasakan selama ini.
Untuk sesaat, tidak ada kata-kata.
Lalu, Ayah melangkah maju, dan memeluknya.
Erat.
Hangat.
---
“Maaf…” bisiknya.
Suara yang belum pernah Hazel dengar sebelumnya—rapuh.
Hazel membeku.
Semua luka, semua usaha, semua harapan yang pernah ia simpan… seperti pecah dalam satu momen itu.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Tangannya perlahan membalas pelukan itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dilihat.
Bukan sebagai sosok anak laki-laki yang berusaha ia jadikan.
Bukan sebagai seseorang yang harus berubah.
Tapi sebagai dirinya apa adanya.