Dalam folklore Jepang dan Tiongkok kuno, ada satu praktik ilmu hitam yang namanya lumayan terkenal, dan konsekuensinya brutal: Kodoku.
Kodoku bukan mantra instan. Ia adalah proses panjang, disengaja, dan kejam—baik bagi korban maupun pemiliknya.
Ritualnya dimulai dengan sebuah guci.
Ke dalam guci itu dimasukkan lima binatang beracun. Umumnya ular, kelabang, laba-laba, katak beracun, dan kalajengking. Di beberapa varian, jenisnya bisa berbeda, tapi prinsipnya sama: makhluk-makhluk yang secara alami saling bermusuhan dan berbahaya jika disatukan.
Setelah itu, guci disegel rapat, tak ada udara masuk. Lalu guci tersebut dikubur di perempatan jalan.
Di dalam gelap dan sempit, binatang-binatang itu mulai panik. Mereka saling menyerang. Tidak ada ruang untuk kabur. Tidak ada jalan damai. Yang terjadi hanyalah eliminasi.
Satu demi satu mati.
Sampai tersisa satu.
Makhluk yang bertahan inilah yang kelak disebut *Kodoku*—hasil dari akumulasi racun, agresi, dan survival ekstrem. Setelah ritual lanjutan, Kodoku dipercaya bisa dijadikan entitas gaib yang bisa “dideploy” untuk mencelakakan musuh pemiliknya, atau untuk tujuan lain terkait akumulasi kekayaan.
Tapi ada harga yang mahal.
Kodoku harus diberi tumbal secara berkala. Jika tidak, ia tidak akan lenyap. Ia akan berbalik arah—memakan majikannya sendiri.
Kodoku tidak pernah benar-benar jinak. Ia hanya menunggu kesempatan.
---
Sekarang, mari geser gucinya.
Bukan ke tanah, tapi ke gedung kantor modern.
AC dingin. KPI panas. Slack bunyi terus.
Lima orang pintar. Ambisius. Berpotensi besar. Dimasukkan ke satu tim, satu proyek, satu target yang agresif. Ruang geraknya sempit. Arahan kabur. Resource terbatas. Deadline menekan.
Mereka “digebrak”.
“Buktikan value-mu.”
“Siapa yang paling impactful?”
“Kita butuh high performer.”
“Survival of the fittest.”
Secara sadar atau tidak, sistem mulai bekerja seperti guci Kodoku.
Alih-alih kolaborasi, muncul kompetisi laten. Alih-alih saling menopang, mulai ada sikut-sikutan halus. Knowledge disimpan. Kredit diperebutkan. Empati dianggap lambat.
Dan hasilnya?
Biasanya luar biasa.
Output melonjak. Profit gila-gilaan. Investor senyum. Board puas. Dari luar, sistem terlihat sukses.
Satu atau dua “survivor” muncul—mereka yang paling tahan tekanan, paling adaptif, paling kebal rasa bersalah. Mereka naik cepat. Dipuji. Dijadikan role model.
Kodoku korporat berhasil diciptakan.
---
Masalahnya, seperti versi aslinya, Kodoku tidak pernah berhenti lapar.
Ia butuh tumbal terus-menerus: lembur tanpa batas, burnout yang dinormalisasi, kesehatan mental yang “nanti saja”, hubungan personal yang dikorbankan. Dan ketika tumbal mulai habis—ketika karyawan terbaik mulai pergi, ketika tubuh dan pikiran mulai rusak—Kodoku tidak mati.
Ia berbalik.
Budaya kerja menjadi toksik. Kepercayaan runtuh. Cynicism merajalela. Orang-orang yang “bertahan” pun pelan-pelan dimakan dari dalam: paranoia, kehampaan, kehilangan makna.
Perusahaan sering heran:
“Kok sekarang susah cari talent?”
“Kok engagement turun?”
“Kok orang-orang cepat resign?”
Padahal gucinya masih di sana. Masih disegel. Masih dikubur di perempatan keputusan yang sama.
---
Kodoku mengajarkan satu hal yang jarang diakui dalam dunia modern:
Sistem yang dibangun dari saling memakan akan selalu menuntut daging—entah cepat atau lambat.
Ia bisa menghasilkan kekuatan dan performa yang luar biasa. Tapi bukan sustainable power. Dan ia tidak pernah setia.
Pertanyaannya bukan apakah kita bisa menciptakan Kodoku di tempat kerja. Kita sudah melakukannya, berkali-kali.
Pertanyaannya adalah:
siapa yang akhirnya akan menjadi tumbalnya?