Thursday, January 1, 2026

Twilight Apparition

Sore itu aku merasa kepalaku terlalu penuh. Rasanya seperti ada gulungan kabel kusut yang nyangkut di belakang mata, dan setiap tarikan napas cuma menambah kekencangannya. Aku keluar sebentar, sekadar ingin berjalan sambil mencari udara yang tidak bercampur dengan notifikasi pekerjaan.

Langit sedang berubah warna. Orange-nya lembut, emasnya hangat, dan ada sesuatu dalam cahaya itu yang tiba-tiba membuat langkahku melambat. Aku duduk di bangku taman tanpa benar-benar tahu kenapa. Angin sore menyentuh pelan, dan suara kota terdengar seperti seseorang menurunkan volumenya dari belakang layar.

Di titik itu pikiranku mulai melayang, bukan liar, tapi mengambang. Seolah ada ruang kosong yang tiba-tiba terbuka, dan aku jatuh masuk ke dalamnya dengan cara yang halus.

Di dalam ruang itu, aku melihatnya.

Seorang perempuan. Gerakannya lembut, tenang, dan serba mengalir. Dia menari di bawah cahaya senja, seakan setiap gerakan tubuhnya diukir dari warna-warna langit. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku tahu dia tersenyum. Atau mungkin itu hanya perasaan yang muncul dari cara ia bergerak.

Aneh, karena gambarnya terlalu nyata untuk disebut bayangan pikiran. Tapi terlalu sunyi untuk disebut kenyataan. Dia seperti berdiri di perbatasan antara dunia luar dan dunia dalam, dan entah bagaimana aku ikut berdiri di sana bersamanya.

Perlahan aku merasa tubuhku lenyap, seakan batas antara aku dan tarian itu memudar. Gerakannya terasa seperti bagian dari nafasku sendiri. Tidak ada waktu, atau mungkin ada, tapi dia meregang dan mengecil sesukanya. Rasanya lama… tapi saat aku berkedip, semuanya hilang begitu cepat seperti cahaya yang ditarik dari permukaan air.

Ketika kesadaranku kembali penuh, aku masih duduk di bangku yang sama. Senja masih ada di atas kepala. Tapi kepala yang tadinya sesak mendadak terasa lebih lapang. Seperti ada ruang yang baru dibersihkan.

Saat aku membuka laptop, ide-ide mengalir tanpa perlu dipaksa. Hal-hal yang sebelumnya membuatku pusing berubah menjadi rangkaian langkah sederhana. Tiba-tiba semuanya terasa bisa diselesaikan.

Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sore itu. Mungkin itu vision. Mungkin imajinasi liar yang terlalu indah untuk ditolak. Atau mungkin itu bagian dari diriku sendiri yang selama ini bersembunyi.

Tapi tiap kali aku melihat langit senja, ada sensasi yang kembali — seperti panggilan yang halus, seperti momen itu masih tertinggal di udara. Dan bagian kecil dari diriku selalu merasa bahwa tarian itu belum selesai.

Still Standing


1 Januari 2026

Hari ini kalender resmi berganti angka.
Tapi tubuh dan kepala gue tahu: pergantian tahun nggak pernah sesederhana itu.

Kalau gue menoleh ke belakang, 2025 adalah salah 1 tahun terberat yang pernah gue lewati sejauh ini.
Bukan cuma karena satu kejadian besar, tapi karena rentetan pukulan kecil dan besar yang datang silih berganti.

Gue difitnah di beberapa tempat.
Kehilangan kepercayaan, kehilangan rasa aman, kehilangan arah.
Ada hal-hal yang gue perjuangkan bertahun-tahun, runtuh begitu saja—tanpa penjelasan yang adil, tanpa penutup yang rapi.

Di banyak hari, gue cuma bertahan.
Bukan berkembang. Bukan menang. Bertahan saja sudah terasa seperti kerja penuh waktu.

Kalau ditanya apa yang masih bisa gue syukuri dari tahun itu, jawabannya sederhana tapi berat:
gue masih hidup.
Gue masih di sini.
Dan di tengah semua kekacauan itu, gue sadar—masih ada orang-orang yang memilih berdiri di sisi gue, meski dunia sedang tidak ramah.

Belakangan gue juga dengar cerita dari banyak orang.
Ternyata gue nggak sendirian.
Banyak yang menjalani 2025 dengan luka mereka masing-masing—beda bentuk, beda cerita, tapi sama-sama capek.

Jujur, ada bagian dari diri gue yang ingin menghapus saja tahun itu.
Menguburnya dalam-dalam.
Berpura-pura itu cuma mimpi buruk yang nggak perlu diingat.

Tapi ada kalimat yang terus terngiang:
sejarah yang dilupakan cenderung terulang kembali.

Mungkin 2025 memang bukan untuk dirayakan.
Tapi ia layak diingat—sebagai pengingat tentang batas, tentang rapuhnya reputasi, tentang betapa cepat hidup bisa berubah arah.

Gue nggak punya resolusi besar untuk 2026.
Nggak ada janji bombastis.
Cuma satu harapan yang sederhana dan jujur:

semoga tahun ini lebih baik.
Sedikit demi sedikit pun nggak apa-apa.

Karena setelah tahun seperti 2025, “lebih baik” saja sudah cukup berarti.