Thursday, January 1, 2026

Still Standing


1 Januari 2026

Hari ini kalender resmi berganti angka.
Tapi tubuh dan kepala gue tahu: pergantian tahun nggak pernah sesederhana itu.

Kalau gue menoleh ke belakang, 2025 adalah salah 1 tahun terberat yang pernah gue lewati sejauh ini.
Bukan cuma karena satu kejadian besar, tapi karena rentetan pukulan kecil dan besar yang datang silih berganti.

Gue difitnah di beberapa tempat.
Kehilangan kepercayaan, kehilangan rasa aman, kehilangan arah.
Ada hal-hal yang gue perjuangkan bertahun-tahun, runtuh begitu saja—tanpa penjelasan yang adil, tanpa penutup yang rapi.

Di banyak hari, gue cuma bertahan.
Bukan berkembang. Bukan menang. Bertahan saja sudah terasa seperti kerja penuh waktu.

Kalau ditanya apa yang masih bisa gue syukuri dari tahun itu, jawabannya sederhana tapi berat:
gue masih hidup.
Gue masih di sini.
Dan di tengah semua kekacauan itu, gue sadar—masih ada orang-orang yang memilih berdiri di sisi gue, meski dunia sedang tidak ramah.

Belakangan gue juga dengar cerita dari banyak orang.
Ternyata gue nggak sendirian.
Banyak yang menjalani 2025 dengan luka mereka masing-masing—beda bentuk, beda cerita, tapi sama-sama capek.

Jujur, ada bagian dari diri gue yang ingin menghapus saja tahun itu.
Menguburnya dalam-dalam.
Berpura-pura itu cuma mimpi buruk yang nggak perlu diingat.

Tapi ada kalimat yang terus terngiang:
sejarah yang dilupakan cenderung terulang kembali.

Mungkin 2025 memang bukan untuk dirayakan.
Tapi ia layak diingat—sebagai pengingat tentang batas, tentang rapuhnya reputasi, tentang betapa cepat hidup bisa berubah arah.

Gue nggak punya resolusi besar untuk 2026.
Nggak ada janji bombastis.
Cuma satu harapan yang sederhana dan jujur:

semoga tahun ini lebih baik.
Sedikit demi sedikit pun nggak apa-apa.

Karena setelah tahun seperti 2025, “lebih baik” saja sudah cukup berarti.

No comments: