Wednesday, February 11, 2026

Why forcing your child to make the right choice can backfire

(Copied from email newsletter from Susan David - https://www.susandavid.com/)

Hi All,

Your child’s best friend is over for a playdate. As you try to get some work done at the kitchen table, you hear the bickering start in the den.

“Can I have a turn on the PlayStation?” the friend asks.

“I’m still playing,” your kid responds.

“But you’ve been playing for an hour!”

“It’s my game!”

Exasperated, you call your child into the kitchen. “You need to share,” you tell them. The friend gets a turn, but irritation stays plastered on your kid’s face. Was the lesson learned?

Probably not.

Often when we try to raise our children to act in line with our values, our demands will only go so far. (Trust me—I’ve been there!) Study after study shows that when we try to force values upon our kids, the result is quite likely to be the opposite of what we intended. In one study, children who were instructed by adults to share during play ended up sharing less and less in subsequent activities. People just don’t like being told what to do—even very young people!

So what’s the alternative? Like adults, kids are most likely to change their behaviors when that change is connected to their personal values. Think of how this works in your own life. If you’re a perfectionist who often spends hours completing a task (albeit, very thoroughly), your boss’ appeals for efficiency are unlikely to motivate you to speed up. Efficiency just isn’t something you value. However, maybe you are a person who strives to be a good teammate, so if they frame their request as a way of respecting your colleagues’ time, you may be more inspired to pick up the pace.

The same is true of children. If you want to encourage them to behave differently, you’ll greatly improve your chance of success if you connect the new behavior to a value that already matters to them.

The first step is to help your child to discover and articulate their values. As always, emotions can serve as an important data point. Let’s say your kid arrives home from school fuming.

“Jack didn’t play with me today,” they say, “so tomorrow I’m not gonna play with him!”

You may feel the inclination to tell them, “Hmm, that’s not nice. Be the bigger person.” But this kind of admonition could actually lead them to resent you (and maybe themselves) for implying that their emotion is wrong or bad!

A more productive approach is to help them figure out why they’re so upset. What values are hiding beneath that anger? By talking through the situation, you might discover that they feel betrayed by Jack. Loyalty and friendship are values they hold dear. Now the door is open for you to ask, “How would a loyal friend react in your situation?” You let your kid connect the dots themselves: A loyal friend wouldn’t give up on the relationship. Rather, they’d talk it out with their old pal, and, very likely, still extend an invitation to play the next day.

As tempting as it can be to try to force your little ones to act the way you want them to, it robs them of two things:
  • autonomy
  • the chance to discover their own values
But there’s a better way. When you instead, assist them in thinking through what matters to them, you give them the tools they need to develop and grow—which was probably your intention in the first place.

With my thoughts on your journey,
Susan David

Monday, February 9, 2026

Truth, Lies, and Consequences

Telling the truth is easy;
it only takes a few minutes.
The hardest part is accepting it,
and mitigating its impact—
which may change your entire life—
compared to hiding it.

Honest people are punished harshly,
while liars live freely.
I have seen enough examples where liars hide the truth their entire lives,
and live peacefully until their time is exhausted.

Now tell me—
who taught people how to lie in the first place?



Sunday, February 8, 2026

Kodoku : Guci dan Kantor Ber-AC


Dalam folklore Jepang dan Tiongkok kuno, ada satu praktik ilmu hitam yang namanya lumayan terkenal, dan konsekuensinya brutal: Kodoku.

Kodoku bukan mantra instan. Ia adalah proses panjang, disengaja, dan kejam—baik bagi korban maupun pemiliknya.

Ritualnya dimulai dengan sebuah guci.


Ke dalam guci itu dimasukkan lima binatang beracun. Umumnya ular, kelabang, laba-laba, katak beracun, dan kalajengking. Di beberapa varian, jenisnya bisa berbeda, tapi prinsipnya sama: makhluk-makhluk yang secara alami saling bermusuhan dan berbahaya jika disatukan.

Setelah itu, guci disegel rapat, tak ada udara masuk. Lalu guci tersebut dikubur di perempatan jalan.


Di dalam gelap dan sempit, binatang-binatang itu mulai panik. Mereka saling menyerang. Tidak ada ruang untuk kabur. Tidak ada jalan damai. Yang terjadi hanyalah eliminasi.


Satu demi satu mati.

Sampai tersisa satu.

Makhluk yang bertahan inilah yang kelak disebut *Kodoku*—hasil dari akumulasi racun, agresi, dan survival ekstrem. Setelah ritual lanjutan, Kodoku dipercaya bisa dijadikan entitas gaib yang bisa “dideploy” untuk mencelakakan musuh pemiliknya, atau untuk tujuan lain terkait akumulasi kekayaan.

Tapi ada harga yang mahal.

Kodoku harus diberi tumbal secara berkala. Jika tidak, ia tidak akan lenyap. Ia akan berbalik arah—memakan majikannya sendiri.

Kodoku tidak pernah benar-benar jinak. Ia hanya menunggu kesempatan.

---

Sekarang, mari geser gucinya.


Bukan ke tanah, tapi ke gedung kantor modern.

AC dingin. KPI panas. Slack bunyi terus.


Lima orang pintar. Ambisius. Berpotensi besar. Dimasukkan ke satu tim, satu proyek, satu target yang agresif. Ruang geraknya sempit. Arahan kabur. Resource terbatas. Deadline menekan.

Mereka “digebrak”.

“Buktikan value-mu.”
“Siapa yang paling impactful?”
“Kita butuh high performer.”
“Survival of the fittest.”


Secara sadar atau tidak, sistem mulai bekerja seperti guci Kodoku.

Alih-alih kolaborasi, muncul kompetisi laten. Alih-alih saling menopang, mulai ada sikut-sikutan halus. Knowledge disimpan. Kredit diperebutkan. Empati dianggap lambat.

Dan hasilnya?

Biasanya luar biasa.

Output melonjak. Profit gila-gilaan. Investor senyum. Board puas. Dari luar, sistem terlihat sukses.

Satu atau dua “survivor” muncul—mereka yang paling tahan tekanan, paling adaptif, paling kebal rasa bersalah. Mereka naik cepat. Dipuji. Dijadikan role model.

Kodoku korporat berhasil diciptakan.

---

Masalahnya, seperti versi aslinya, Kodoku tidak pernah berhenti lapar.

Ia butuh tumbal terus-menerus: lembur tanpa batas, burnout yang dinormalisasi, kesehatan mental yang “nanti saja”, hubungan personal yang dikorbankan. Dan ketika tumbal mulai habis—ketika karyawan terbaik mulai pergi, ketika tubuh dan pikiran mulai rusak—Kodoku tidak mati.

Ia berbalik.


Budaya kerja menjadi toksik. Kepercayaan runtuh. Cynicism merajalela. Orang-orang yang “bertahan” pun pelan-pelan dimakan dari dalam: paranoia, kehampaan, kehilangan makna.

Perusahaan sering heran:
“Kok sekarang susah cari talent?”
“Kok engagement turun?”
“Kok orang-orang cepat resign?”

Padahal gucinya masih di sana. Masih disegel. Masih dikubur di perempatan keputusan yang sama.

---

Kodoku mengajarkan satu hal yang jarang diakui dalam dunia modern:
Sistem yang dibangun dari saling memakan akan selalu menuntut daging—entah cepat atau lambat.

Ia bisa menghasilkan kekuatan dan performa yang luar biasa. Tapi bukan sustainable power. Dan ia tidak pernah setia.

Pertanyaannya bukan apakah kita bisa menciptakan Kodoku di tempat kerja. Kita sudah melakukannya, berkali-kali.

Pertanyaannya adalah:
siapa yang akhirnya akan menjadi tumbalnya?

Saat Ekspektasi Jadi Jebakan


Ada ekspektasi → disimpan di kepala sendiri → nggak dikomunikasikan → lalu suatu hari… boom → orang lain disalahin karena gagal menebak isi pikiran.

Itu unfair. Dan lebih parah lagi, itu malas.
Karena komunikasi itu kerja. Nyalahin “nggak peka” itu jalan pintas.

Peka itu respon terhadap sinyal yang ada.
Inisiatif itu bertindak dalam ruang yang jelas.
Kalau nggak ada sinyal, nggak ada konteks, nggak ada boundary — yang ada cuma jebakan evaluasi.


Nggak ada orang waras yang nggak naro rambu, lalu marah karena orang lain nyasar.
“Harusnya tau jalan” — ya tau dari mana, bro? Google Maps aja butuh sinyal.


Ekspektasi yang tidak diucapkan tapi ditagih kemudian bukan standar—itu jebakan.

Tuesday, February 3, 2026

AI Overthinking


Kemarin, pas gw lagi ngerjain sebuah tugas dibantu AI, gw tidak sengaja melakukan satu hal kecil: gw mengirim prompt tanpa mengaktifkan fitur *extended thinking*. Awalnya gw nggak terlalu banyak mikir. Tapi tahunya hasil yang keluar justru bikin gw kaget.

Output-nya lebih ringkas. Lebih fokus. Dan—yang paling penting—lebih relevan dengan apa yang sebenarnya gw butuhkan.

Ini menarik, karena sebelumnya gw justru sering merasa terganggu ketika menggunakan mode *extended thinking*. Bukan karena AI-nya “kurang pintar”, tetapi karena output yang dihasilkan sering kali terlalu panjang, terlalu banyak asumsi, dan kadang terasa seperti informasi yang “diada-adain”. Seolah-olah ada dorongan untuk mengisi setiap celah dengan penjelasan tambahan, meskipun nggak semuanya benar-benar diperlukan.


Ketika diminta untuk “berpikir lebih dalam”, AI justru mulai mirip manusia yang lagi overthinking. Terlalu banyak kemungkinan dipertimbangkan, terlalu banyak elaborasi ditambahkan, sampai akhirnya batas antara fakta, asumsi, dan spekulasi menjadi kabur. Sesuatu yang sederhana jadi rumit. Sesuatu yang jelas jadi melebar ke mana-mana.


Pengalaman kecil ini bikin gw mikir juga sih.

Sering kali, kita juga melakukan hal yang sama. Kita kira bahwa kualitas selalu sebanding dengan seberapa keras kita berpikir, seberapa banyak kita menganalisis, atau seberapa kompleks proses yang kita jalani. Padahal, dalam banyak kasus, justru sebaliknya: kejelasan muncul ketika kita berhenti menumpuk pikiran yang tidak perlu.

Tidak semua pekerjaan butuh analisis mendalam. Tidak semua keputusan perlu dibedah dari sepuluh sudut. Dan tidak semua hasil yang baik lahir dari kepala yang terus berisik.

Kadang, berpikir secukupnya—lalu mengeksekusi dengan jujur dan fokus—justru menghasilkan karya yang lebih bersih dan lebih tepat sasaran.

Pengalaman ini menjadi pengingat sederhana: kualitas bukan selalu tentang “lebih banyak”. Kadang, kualitas justru lahir dari keberanian untuk berhenti sebelum pikiran kita sendiri mulai mengada-ada.

Sunday, February 1, 2026

As It Is

Sometimes, there is no hidden meaning.
Everything is as it is.

Sometimes, there is no applicable strategy to eases things can be found.
Just execute it with brute force!



Certainty of Paradox

Whisper of silence,
touch of empty space,
light of darkness,
Love, neither lost nor found...



Tentang Hubungan Transaksional

Jujur saja, sampai sekarang gue masih sering kesulitan membedakan antara hubungan yang disebut transaksional dengan konsep reciprocity, balas budi, atau kontribusi. Di atas kertas, istilah-istilah itu terdengar berbeda. Lebih halus. Lebih bermartabat. Lebih “manusiawi”.

Tapi esensinya, rasanya sama saja.

Kadang gue merasa istilah-istilah itu hanyalah cara yang lebih sopan untuk membungkus ketidaknyamanan kita terhadap kata “transaksi”. Kata itu terdengar dingin. Kaku. Seolah-olah setiap relasi manusia harus selalu dihitung, ditimbang, dan dicatat di buku besar tak kasat mata.

Padahal, kenyataannya, hampir semua hubungan memang punya unsur timbal balik. Entah kita mau mengakuinya atau tidak.


Dan mungkin… itu bukan sesuatu yang buruk.

Tidak ada orang tua yang membesarkan anaknya dengan harapan anak itu tumbuh menjadi beban bagi dunia. Bahkan cinta orang tua yang paling tulus pun biasanya disertai harapan implisit: anaknya bisa hidup layak dan bertanggung jawab.

Begitu juga pertemanan. Tidak ada teman yang bisa terus-menerus memberi tanpa pernah menerima. Tidak ada hubungan yang tahan lama jika satu pihak selalu diminta mentraktir, membantu, mengalah, atau memahami—sementara pihak lain tidak pernah berusaha memberi kembali, sekecil apa pun bentuknya.

Mungkin yang sering kita tolak bukanlah transaksinya, melainkan transaksi yang terasa kasar, eksploitatif, atau tidak seimbang. Kita tidak alergi pada timbal balik. Kita alergi pada relasi yang terasa seperti diperas, dipakai, lalu ditinggalkan.

Reciprocity bukan tentang hitung-hitungan kaku. Ia lebih mirip kesadaran bersama bahwa relasi itu hidup karena dua arah. Bahwa kehadiran kita di hidup orang lain seharusnya membawa nilai, bukan hanya kebutuhan.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita akui adalah ini: hampir semua hubungan melibatkan pertukaran. Waktu, energi, perhatian, uang, empati, dukungan emosional. Bedanya, hubungan yang sehat tidak selalu menagih, tapi tetap berharap. Tidak selalu mencatat, tapi tetap ingat. Tidak selalu seimbang di setiap momen, tapi terasa adil dalam jangka panjang.

Dan mungkin, kejujuran semacam itu justru lebih dewasa daripada berpura-pura bahwa semua relasi sepenuhnya bebas dari kepentingan.

Tragedi Akhir Tahun

Malam itu gw benar-benar lepas kendali.

Tepat di malam tahun baru—malam yang katanya harusnya penuh tawa, doa, dan keluarga. Tapi di rumah gw, yang ada cuma sunyi yang menyesakkan dada. Kedua orangtua kita masih dirawat. Depresi berat. Bangsal jiwa. Kata-kata yang sampai sekarang pun masih susah gw cerna.

Gw duduk di kamar, HP di tangan, scrolling tanpa tujuan. Satu per satu postingan muncul. Foto keluarga lain pakai baju rapi, meja makan penuh, caption bahagia: “Blessed New Year Dinner with family”. Ada juga notif dari grup keluarga besar—foto rame-rame, ketawa, seolah dunia mereka utuh. Tanpa gw. Tanpa kita.

“Lucu ya,” gumam gw sendiri. “Kalian makan malam, gw makan amarah.”

Dada gw panas. Nafas gw mulai nggak karuan. Tangan gw gemetar. Tiba-tiba gw berdiri dan teriak, entah ke siapa.

“KENAPA HARUS KELUARGA GUE?!”

Satu gelas melayang ke tembok. *Prang.* Kursi gw tendang. Laci gw banting. Gw nangis sambil ketawa—histeris. Gw mengutuk nasib, Tuhan, hidup, semuanya.


“Capek… capek banget…” suara gw pecah.

Di tengah kekacauan itu, tiba-tiba ada tangan melingkar dari belakang. Erat. Hangat. Gw kaget setengah mati.

“JANGAN—” gw hampir berontak.

Tapi pelukan itu malah makin kencang. Nggak ada kata. Nggak ada ceramah. Cuma pelukan yang bikin gw berhenti bergerak. Gw tau itu siapa.

“Kak…?” suara gw kecil.

Kak Ian nggak jawab. Dia cuma nahan gw, seolah bilang: *gw di sini*. Akhirnya gw nyerah. Badan gw lemas. Gw muter badan, mukul dadanya pakai kepalan tangan yang gemetar.

“Kenapa Kak?! Kenapa hidup segini kejam?!”
Gw nangis sekencang-kencangnya.

Kak Ian tetep diem. Dia cuma usap kepala gw pelan, terus bilang lirih,
“Udah… nggak apa-apa. Gw di sini.”

Itu doang. Tapi cukup.

Gw nangis sampai tenaga gw habis. Sampai suara gw serak. Sampai akhirnya gw cuma terisak kecil, masih dipeluk. Malam itu, Kak Ian temenin gw tidur di kamar gw. Dia duduk di samping ranjang sampai nafas gw bener-bener teratur.

Besok paginya, gw bangun dengan mata sembab. Rumah masih sunyi. Tapi ada aroma makanan.

Di dapur, Kak Ian udah rapi pakai kemeja. Di meja ada sarapan sederhana.

“Udah bangun?” katanya singkat.

“Iya…”

“Makan dulu. Gw harus ke kantor.”

Gw cuma ngangguk. Dia nggak banyak bicara. Gw tau, di balik sikapnya yang tenang, dia juga nyimpen luka yang sama dalamnya. Tapi dia milih buat kuat—buat gw.

Sebelum pergi, dia berhenti sebentar di pintu.
“Kalau hari ini berat, kabarin gw aja. Jangan dipendem sendiri.”

Pintu tertutup. Gw duduk sendiri, makan pelan-pelan, dengan dada yang masih sakit… tapi nggak sendirian.

Dan sampai sekarang, gw tau satu hal:
Gw bisa survive melewati masa tergelap dalam keluarga kami, itu karena dia.

Kak Ian.
Dan untuk itu, gw akan selalu bersyukur.

Memories of Grandpa

Gw benci kakek gw.

Itu kalimat yang paling lama tinggal di kepala gw—bukan sehari dua hari, tapi bertahun-tahun. Kayak mantra gelap yang gw ulang-ulang setiap kali ada sesuatu yang mengingatkan gw tentang keluarga gw yang jatuh, tentang rumah yang dulu katanya besar tapi cuma tersisa cerita, tentang nama keluarga yang dulu disebut orang dengan hormat tapi buat gw cuma terdengar seperti lelucon pahit.

Gimana nggak benci?

Keluarga gw bangkrut gara-gara dia. Setidaknya itu yang selalu gw percaya. Uang habis, harga diri habis, masa depan keluarga gw hancur—semuanya gara-gara satu kebiasaan yang bahkan kalau gw tulis pun rasanya jijik: dia hobi judi.

Yang paling bikin gw nggak bisa maafkan adalah satu gambar yang kebentuk di kepala gw sejak kecil. Nenek gw sakit. Terbaring. Lemah. Uang lagi seret. Tapi di tengah semua itu, kakek gw masih sempat-sempatnya main judi. Dan kata orang, dia udah begitu dari muda, dan semakin menjadi di hari tua nya. Jadi bukan “khilaf”, bukan “sekali dua kali”, tapi pola hidup.

Gw tumbuh dengan cerita-cerita itu menempel di kulit gw. Keluarga kita katanya dulu orang kaya. Bukan kaya “punya mobil satu”, tapi kaya yang membuat orang lain iri. Ironisnya, kekayaan itu bahkan nggak sempat gw nikmati sedari gw lahir—karena ketika gw lahir, keluarga gw udah keburu bangkrut.

Jadi buat gw, kakek itu bukan figur hangat yang suka bawa permen atau ngajak jalan-jalan. Kakek itu simbol. Simbol runtuhnya keluarga. Simbol penderitaan nenek. Simbol ketidakadilan hidup: orang yang bikin rusak malah tetap bisa ketawa, sementara yang menanggung akibatnya ya orang-orang kayak gw.

Singkat cerita, kakek gw meninggal.

Dan gw nggak langsung berubah jadi manusia lembut yang tiba-tiba ikhlas. Nggak. Bahkan setelah beberapa tahun sejak dia meninggal, gw masih nyimpen kebencian itu. Kadang kebencian itu muncul tanpa gw undang—pas denger orang cerita soal keluarganya yang harmonis, pas liat temen gw punya kakek yang baik, pas gw ngeliat foto keluarga orang lain dan gw ngerasa… kenapa gw dapatnya yang kayak gini?

Sampai suatu hari, kejadian kecil yang nggak gw sangka justru ngerobohin tembok yang gw bangun lama banget.

Gw lagi berberes album foto lama.

Album itu udah tua, sampulnya kusam, plastik pembungkus fotonya udah agak lengket karena umur. Gw bukanya cuma karena iseng—atau mungkin karena ada bagian dalam diri gw yang butuh sesuatu untuk dipegang, semacam bukti bahwa gw pernah punya masa kecil yang beneran terjadi, bukan cuma potongan ingatan yang samar.

Gw mulai dari halaman awal: foto-foto keluarga, beberapa wajah yang udah jarang gw denger namanya disebut. Lalu tiba-tiba gw nemu foto gw masih kecil… bersama kakek.

Gw kaget. Bukan kaget karena ada foto itu—wajar, namanya juga album keluarga. Gw kaget karena ekspresi di foto itu.


Di foto pertama, gw digendong. Kepala gw nyender di dada kakek. Mulut gw kebuka lebar, ketawa. Ketawa yang polos banget, ketawa anak kecil yang belum kenal konsep dendam. Kakek gw juga senyum—bukan senyum dibuat-buat, tapi senyum yang kelihatan… tulus. Yang kayak bilang, “Ini cucu gw.”

Gw balik halaman.

Ada foto lain, gw dipangku. Ada foto gw nempel terus sama dia, kayak dunia gw waktu itu cuma sebatas pangkuan itu. Ada foto dimana kakek gw keliatan bangga, atau minimal—hangat. Dan semakin banyak foto yang gw lihat, semakin jelas satu hal yang selama ini gw tutup rapat-rapat:

Ternyata ada masa di hidup gw dimana hubungan gw sama kakek gw nggak seburuk itu.

Dan itu bikin gw… bingung.

Karena kebencian gw selama ini terasa rapi. Terstruktur. Nyaris logis. Kakek adalah orang jahat, titik. Orang jahat nggak mungkin jadi tempat gw ketawa-ketawa. Orang jahat nggak mungkin gw peluk dengan nyaman. Orang jahat nggak mungkin bikin gw terlihat aman.

Tapi foto-foto itu ada. Nyata. Diam-diam membantah versi cerita yang gw pegang bertahun-tahun.

Halaman berikutnya yang bikin dada gw sesak adalah foto ulang tahun gw waktu masih bayi.

Gw nggak inget hari itu, jelas. Tapi di foto, ada kue. Ada balon. Ada dekor seadanya tapi niat. Dan gw tau, di masa itu ekonomi keluarga kita lagi nggak bagus. Kita udah dalam “keterbatasan”. Tapi ulang tahun gw dirayakan lumayan besar.

Gw menatap foto itu lama.

Di situ, kakek gw berdiri dekat gw. Tangannya mungkin baru aja naruh sesuatu di meja. Matanya ke arah kamera. Dan sekali lagi, ada ekspresi yang gw benci akui: ada sayang di sana.

Di titik itu, kebencian gw nggak langsung hilang. Tapi ia retak.

Karena gw dipaksa ngakuin dua kebenaran yang selama ini gw anggap mustahil berdampingan:

Gw nggak setuju sama banyak hal yang kakek gw lakukan.

Tapi fakta bahwa dia sebenarnya sayang sama gw… juga benar.

Dan dua kebenaran itu rasanya kayak batu yang saling gesek di dada gw.

Gw sedih. Gw marah. Gw malu. Gw menyesal.

Gw sedih karena gw baru “ketemu” sisi itu ketika dia udah lama nggak ada. Gw marah karena kenapa orang bisa sayang di satu sisi, tapi tega di sisi lain? Gw malu karena ternyata selama ini gw nyimpen kebencian begitu dalam, bertahun-tahun, sampai kebencian itu jadi identitas. Gw menyesal karena mungkin… mungkin ada bagian dari hidup gw yang gw sia-siain cuma karena gw terlalu sibuk memelihara dendam.

Gw tutup album itu pelan-pelan, seperti takut bunyinya terlalu keras dan membangunkan semua memori yang tadi keangkat.

Malam itu gw nggak langsung jadi orang yang pemaaf. Gw nggak tiba-tiba bilang, “Aku memaafkanmu, Kek,” dengan dramatis. Nggak. Hidup bukan film.

Tapi untuk pertama kalinya, gw ngerasain kebencian gw nggak lagi utuh. Ada lubang kecil yang masukin rasa lain: rasa kehilangan. Rasa sayang yang terlambat. Rasa “seandainya”.

Tapi ya sudah.

Hidup terus berlanjut.

Yang bisa gw lakukan sekarang cuma berdoa untuk dia—bukan karena dia sempurna, bukan karena semua kesalahannya jadi hilang, tapi karena pada akhirnya dia juga manusia. Manusia yang punya kekurangan, punya dosa, punya sisi gelap, tapi juga—entah bagaimana—punya kapasitas untuk sayang.

Dan gw berusaha untuk jadi manusia yang lebih baik daripada dia.

Bukan dengan pura-pura lupa. Bukan dengan menghapus masa lalu. Tapi dengan belajar dari reruntuhan yang dia tinggalkan.

Supaya suatu hari nanti, kalau ada orang yang membuka album foto tentang gw… mereka nggak harus merasakan kebingungan yang sama.

Gw cuma bisa bilang, “Dia pernah salah. Tapi dia berusaha.”

When You Remember

I wish that one day in your life,
you have a chance to remember,
how bright our days used to be.

I wish that one day in your life,
you have a chance to remember,
the way I teased you, the way we laugh together afterwards.

And when you remembered it all,
I wish that it would bring a smile in your face;
I pray, may you smile happily even now...