Tuesday, February 3, 2026

AI Overthinking

Kemarin, pas gw lagi ngerjain sebuah tugas dibantu AI, gw tidak sengaja melakukan satu hal kecil: gw mengirim prompt tanpa mengaktifkan fitur *extended thinking*. Awalnya gw nggak terlalu banyak mikir. Tapi tahunya hasil yang keluar justru bikin gw kaget.

Output-nya lebih ringkas. Lebih fokus. Dan—yang paling penting—lebih relevan dengan apa yang sebenarnya gw butuhkan.

Ini menarik, karena sebelumnya gw justru sering merasa terganggu ketika menggunakan mode *extended thinking*. Bukan karena AI-nya “kurang pintar”, tetapi karena output yang dihasilkan sering kali terlalu panjang, terlalu banyak asumsi, dan kadang terasa seperti informasi yang “diada-adain”. Seolah-olah ada dorongan untuk mengisi setiap celah dengan penjelasan tambahan, meskipun nggak semuanya benar-benar diperlukan.

Ketika diminta untuk “berpikir lebih dalam”, AI justru mulai mirip manusia yang lagi overthinking. Terlalu banyak kemungkinan dipertimbangkan, terlalu banyak elaborasi ditambahkan, sampai akhirnya batas antara fakta, asumsi, dan spekulasi menjadi kabur. Sesuatu yang sederhana jadi rumit. Sesuatu yang jelas jadi melebar ke mana-mana.

Pengalaman kecil ini bikin gw mikir juga sih.

Sering kali, kita juga melakukan hal yang sama. Kita kira bahwa kualitas selalu sebanding dengan seberapa keras kita berpikir, seberapa banyak kita menganalisis, atau seberapa kompleks proses yang kita jalani. Padahal, dalam banyak kasus, justru sebaliknya: kejelasan muncul ketika kita berhenti menumpuk pikiran yang tidak perlu.

Tidak semua pekerjaan butuh analisis mendalam. Tidak semua keputusan perlu dibedah dari sepuluh sudut. Dan tidak semua hasil yang baik lahir dari kepala yang terus berisik.

Kadang, berpikir secukupnya—lalu mengeksekusi dengan jujur dan fokus—justru menghasilkan karya yang lebih bersih dan lebih tepat sasaran.

Pengalaman ini menjadi pengingat sederhana: kualitas bukan selalu tentang “lebih banyak”. Kadang, kualitas justru lahir dari keberanian untuk berhenti sebelum pikiran kita sendiri mulai mengada-ada.

No comments: