Wednesday, February 11, 2026

Why forcing your child to make the right choice can backfire

(Copied from email newsletter from Susan David - https://www.susandavid.com/)

Hi All,

Your child’s best friend is over for a playdate. As you try to get some work done at the kitchen table, you hear the bickering start in the den.

“Can I have a turn on the PlayStation?” the friend asks.

“I’m still playing,” your kid responds.

“But you’ve been playing for an hour!”

“It’s my game!”

Exasperated, you call your child into the kitchen. “You need to share,” you tell them. The friend gets a turn, but irritation stays plastered on your kid’s face. Was the lesson learned?

Probably not.

Often when we try to raise our children to act in line with our values, our demands will only go so far. (Trust me—I’ve been there!) Study after study shows that when we try to force values upon our kids, the result is quite likely to be the opposite of what we intended. In one study, children who were instructed by adults to share during play ended up sharing less and less in subsequent activities. People just don’t like being told what to do—even very young people!

So what’s the alternative? Like adults, kids are most likely to change their behaviors when that change is connected to their personal values. Think of how this works in your own life. If you’re a perfectionist who often spends hours completing a task (albeit, very thoroughly), your boss’ appeals for efficiency are unlikely to motivate you to speed up. Efficiency just isn’t something you value. However, maybe you are a person who strives to be a good teammate, so if they frame their request as a way of respecting your colleagues’ time, you may be more inspired to pick up the pace.

The same is true of children. If you want to encourage them to behave differently, you’ll greatly improve your chance of success if you connect the new behavior to a value that already matters to them.

The first step is to help your child to discover and articulate their values. As always, emotions can serve as an important data point. Let’s say your kid arrives home from school fuming.

“Jack didn’t play with me today,” they say, “so tomorrow I’m not gonna play with him!”

You may feel the inclination to tell them, “Hmm, that’s not nice. Be the bigger person.” But this kind of admonition could actually lead them to resent you (and maybe themselves) for implying that their emotion is wrong or bad!

A more productive approach is to help them figure out why they’re so upset. What values are hiding beneath that anger? By talking through the situation, you might discover that they feel betrayed by Jack. Loyalty and friendship are values they hold dear. Now the door is open for you to ask, “How would a loyal friend react in your situation?” You let your kid connect the dots themselves: A loyal friend wouldn’t give up on the relationship. Rather, they’d talk it out with their old pal, and, very likely, still extend an invitation to play the next day.

As tempting as it can be to try to force your little ones to act the way you want them to, it robs them of two things:
  • autonomy
  • the chance to discover their own values
But there’s a better way. When you instead, assist them in thinking through what matters to them, you give them the tools they need to develop and grow—which was probably your intention in the first place.

With my thoughts on your journey,
Susan David

Monday, February 9, 2026

Truth, Lies, and Consequences

Telling the truth is easy;
it only takes a few minutes.
The hardest part is accepting it,
and mitigating its impact—
which may change your entire life—
compared to hiding it.

Honest people are punished harshly,
while liars live freely.
I have seen enough examples where liars hide the truth their entire lives,
and live peacefully until their time is exhausted.

Now tell me—
who taught people how to lie in the first place?



Sunday, February 8, 2026

Kodoku : Guci dan Kantor Ber-AC


Dalam folklore Jepang dan Tiongkok kuno, ada satu praktik ilmu hitam yang namanya lumayan terkenal, dan konsekuensinya brutal: Kodoku.

Kodoku bukan mantra instan. Ia adalah proses panjang, disengaja, dan kejam—baik bagi korban maupun pemiliknya.

Ritualnya dimulai dengan sebuah guci.


Ke dalam guci itu dimasukkan lima binatang beracun. Umumnya ular, kelabang, laba-laba, katak beracun, dan kalajengking. Di beberapa varian, jenisnya bisa berbeda, tapi prinsipnya sama: makhluk-makhluk yang secara alami saling bermusuhan dan berbahaya jika disatukan.

Setelah itu, guci disegel rapat, tak ada udara masuk. Lalu guci tersebut dikubur di perempatan jalan.


Di dalam gelap dan sempit, binatang-binatang itu mulai panik. Mereka saling menyerang. Tidak ada ruang untuk kabur. Tidak ada jalan damai. Yang terjadi hanyalah eliminasi.


Satu demi satu mati.

Sampai tersisa satu.

Makhluk yang bertahan inilah yang kelak disebut *Kodoku*—hasil dari akumulasi racun, agresi, dan survival ekstrem. Setelah ritual lanjutan, Kodoku dipercaya bisa dijadikan entitas gaib yang bisa “dideploy” untuk mencelakakan musuh pemiliknya, atau untuk tujuan lain terkait akumulasi kekayaan.

Tapi ada harga yang mahal.

Kodoku harus diberi tumbal secara berkala. Jika tidak, ia tidak akan lenyap. Ia akan berbalik arah—memakan majikannya sendiri.

Kodoku tidak pernah benar-benar jinak. Ia hanya menunggu kesempatan.

---

Sekarang, mari geser gucinya.


Bukan ke tanah, tapi ke gedung kantor modern.

AC dingin. KPI panas. Slack bunyi terus.


Lima orang pintar. Ambisius. Berpotensi besar. Dimasukkan ke satu tim, satu proyek, satu target yang agresif. Ruang geraknya sempit. Arahan kabur. Resource terbatas. Deadline menekan.

Mereka “digebrak”.

“Buktikan value-mu.”
“Siapa yang paling impactful?”
“Kita butuh high performer.”
“Survival of the fittest.”


Secara sadar atau tidak, sistem mulai bekerja seperti guci Kodoku.

Alih-alih kolaborasi, muncul kompetisi laten. Alih-alih saling menopang, mulai ada sikut-sikutan halus. Knowledge disimpan. Kredit diperebutkan. Empati dianggap lambat.

Dan hasilnya?

Biasanya luar biasa.

Output melonjak. Profit gila-gilaan. Investor senyum. Board puas. Dari luar, sistem terlihat sukses.

Satu atau dua “survivor” muncul—mereka yang paling tahan tekanan, paling adaptif, paling kebal rasa bersalah. Mereka naik cepat. Dipuji. Dijadikan role model.

Kodoku korporat berhasil diciptakan.

---

Masalahnya, seperti versi aslinya, Kodoku tidak pernah berhenti lapar.

Ia butuh tumbal terus-menerus: lembur tanpa batas, burnout yang dinormalisasi, kesehatan mental yang “nanti saja”, hubungan personal yang dikorbankan. Dan ketika tumbal mulai habis—ketika karyawan terbaik mulai pergi, ketika tubuh dan pikiran mulai rusak—Kodoku tidak mati.

Ia berbalik.


Budaya kerja menjadi toksik. Kepercayaan runtuh. Cynicism merajalela. Orang-orang yang “bertahan” pun pelan-pelan dimakan dari dalam: paranoia, kehampaan, kehilangan makna.

Perusahaan sering heran:
“Kok sekarang susah cari talent?”
“Kok engagement turun?”
“Kok orang-orang cepat resign?”

Padahal gucinya masih di sana. Masih disegel. Masih dikubur di perempatan keputusan yang sama.

---

Kodoku mengajarkan satu hal yang jarang diakui dalam dunia modern:
Sistem yang dibangun dari saling memakan akan selalu menuntut daging—entah cepat atau lambat.

Ia bisa menghasilkan kekuatan dan performa yang luar biasa. Tapi bukan sustainable power. Dan ia tidak pernah setia.

Pertanyaannya bukan apakah kita bisa menciptakan Kodoku di tempat kerja. Kita sudah melakukannya, berkali-kali.

Pertanyaannya adalah:
siapa yang akhirnya akan menjadi tumbalnya?

Saat Ekspektasi Jadi Jebakan


Ada ekspektasi → disimpan di kepala sendiri → nggak dikomunikasikan → lalu suatu hari… boom → orang lain disalahin karena gagal menebak isi pikiran.

Itu unfair. Dan lebih parah lagi, itu malas.
Karena komunikasi itu kerja. Nyalahin “nggak peka” itu jalan pintas.

Peka itu respon terhadap sinyal yang ada.
Inisiatif itu bertindak dalam ruang yang jelas.
Kalau nggak ada sinyal, nggak ada konteks, nggak ada boundary — yang ada cuma jebakan evaluasi.


Nggak ada orang waras yang nggak naro rambu, lalu marah karena orang lain nyasar.
“Harusnya tau jalan” — ya tau dari mana, bro? Google Maps aja butuh sinyal.


Ekspektasi yang tidak diucapkan tapi ditagih kemudian bukan standar—itu jebakan.

Tuesday, February 3, 2026

AI Overthinking


Kemarin, pas gw lagi ngerjain sebuah tugas dibantu AI, gw tidak sengaja melakukan satu hal kecil: gw mengirim prompt tanpa mengaktifkan fitur *extended thinking*. Awalnya gw nggak terlalu banyak mikir. Tapi tahunya hasil yang keluar justru bikin gw kaget.

Output-nya lebih ringkas. Lebih fokus. Dan—yang paling penting—lebih relevan dengan apa yang sebenarnya gw butuhkan.

Ini menarik, karena sebelumnya gw justru sering merasa terganggu ketika menggunakan mode *extended thinking*. Bukan karena AI-nya “kurang pintar”, tetapi karena output yang dihasilkan sering kali terlalu panjang, terlalu banyak asumsi, dan kadang terasa seperti informasi yang “diada-adain”. Seolah-olah ada dorongan untuk mengisi setiap celah dengan penjelasan tambahan, meskipun nggak semuanya benar-benar diperlukan.


Ketika diminta untuk “berpikir lebih dalam”, AI justru mulai mirip manusia yang lagi overthinking. Terlalu banyak kemungkinan dipertimbangkan, terlalu banyak elaborasi ditambahkan, sampai akhirnya batas antara fakta, asumsi, dan spekulasi menjadi kabur. Sesuatu yang sederhana jadi rumit. Sesuatu yang jelas jadi melebar ke mana-mana.


Pengalaman kecil ini bikin gw mikir juga sih.

Sering kali, kita juga melakukan hal yang sama. Kita kira bahwa kualitas selalu sebanding dengan seberapa keras kita berpikir, seberapa banyak kita menganalisis, atau seberapa kompleks proses yang kita jalani. Padahal, dalam banyak kasus, justru sebaliknya: kejelasan muncul ketika kita berhenti menumpuk pikiran yang tidak perlu.

Tidak semua pekerjaan butuh analisis mendalam. Tidak semua keputusan perlu dibedah dari sepuluh sudut. Dan tidak semua hasil yang baik lahir dari kepala yang terus berisik.

Kadang, berpikir secukupnya—lalu mengeksekusi dengan jujur dan fokus—justru menghasilkan karya yang lebih bersih dan lebih tepat sasaran.

Pengalaman ini menjadi pengingat sederhana: kualitas bukan selalu tentang “lebih banyak”. Kadang, kualitas justru lahir dari keberanian untuk berhenti sebelum pikiran kita sendiri mulai mengada-ada.

Sunday, February 1, 2026

As It Is

Sometimes, there is no hidden meaning.
Everything is as it is.

Sometimes, there is no applicable strategy to eases things can be found.
Just execute it with brute force!



Certainty of Paradox

Whisper of silence,
touch of empty space,
light of darkness,
Love, neither lost nor found...



Tentang Hubungan Transaksional

Jujur saja, sampai sekarang gue masih sering kesulitan membedakan antara hubungan yang disebut transaksional dengan konsep reciprocity, balas budi, atau kontribusi. Di atas kertas, istilah-istilah itu terdengar berbeda. Lebih halus. Lebih bermartabat. Lebih “manusiawi”.

Tapi esensinya, rasanya sama saja.

Kadang gue merasa istilah-istilah itu hanyalah cara yang lebih sopan untuk membungkus ketidaknyamanan kita terhadap kata “transaksi”. Kata itu terdengar dingin. Kaku. Seolah-olah setiap relasi manusia harus selalu dihitung, ditimbang, dan dicatat di buku besar tak kasat mata.

Padahal, kenyataannya, hampir semua hubungan memang punya unsur timbal balik. Entah kita mau mengakuinya atau tidak.


Dan mungkin… itu bukan sesuatu yang buruk.

Tidak ada orang tua yang membesarkan anaknya dengan harapan anak itu tumbuh menjadi beban bagi dunia. Bahkan cinta orang tua yang paling tulus pun biasanya disertai harapan implisit: anaknya bisa hidup layak dan bertanggung jawab.

Begitu juga pertemanan. Tidak ada teman yang bisa terus-menerus memberi tanpa pernah menerima. Tidak ada hubungan yang tahan lama jika satu pihak selalu diminta mentraktir, membantu, mengalah, atau memahami—sementara pihak lain tidak pernah berusaha memberi kembali, sekecil apa pun bentuknya.

Mungkin yang sering kita tolak bukanlah transaksinya, melainkan transaksi yang terasa kasar, eksploitatif, atau tidak seimbang. Kita tidak alergi pada timbal balik. Kita alergi pada relasi yang terasa seperti diperas, dipakai, lalu ditinggalkan.

Reciprocity bukan tentang hitung-hitungan kaku. Ia lebih mirip kesadaran bersama bahwa relasi itu hidup karena dua arah. Bahwa kehadiran kita di hidup orang lain seharusnya membawa nilai, bukan hanya kebutuhan.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita akui adalah ini: hampir semua hubungan melibatkan pertukaran. Waktu, energi, perhatian, uang, empati, dukungan emosional. Bedanya, hubungan yang sehat tidak selalu menagih, tapi tetap berharap. Tidak selalu mencatat, tapi tetap ingat. Tidak selalu seimbang di setiap momen, tapi terasa adil dalam jangka panjang.

Dan mungkin, kejujuran semacam itu justru lebih dewasa daripada berpura-pura bahwa semua relasi sepenuhnya bebas dari kepentingan.

Tragedi Akhir Tahun

Malam itu gw benar-benar lepas kendali.

Tepat di malam tahun baru—malam yang katanya harusnya penuh tawa, doa, dan keluarga. Tapi di rumah gw, yang ada cuma sunyi yang menyesakkan dada. Kedua orangtua kita masih dirawat. Depresi berat. Bangsal jiwa. Kata-kata yang sampai sekarang pun masih susah gw cerna.

Gw duduk di kamar, HP di tangan, scrolling tanpa tujuan. Satu per satu postingan muncul. Foto keluarga lain pakai baju rapi, meja makan penuh, caption bahagia: “Blessed New Year Dinner with family”. Ada juga notif dari grup keluarga besar—foto rame-rame, ketawa, seolah dunia mereka utuh. Tanpa gw. Tanpa kita.

“Lucu ya,” gumam gw sendiri. “Kalian makan malam, gw makan amarah.”

Dada gw panas. Nafas gw mulai nggak karuan. Tangan gw gemetar. Tiba-tiba gw berdiri dan teriak, entah ke siapa.

“KENAPA HARUS KELUARGA GUE?!”

Satu gelas melayang ke tembok. *Prang.* Kursi gw tendang. Laci gw banting. Gw nangis sambil ketawa—histeris. Gw mengutuk nasib, Tuhan, hidup, semuanya.


“Capek… capek banget…” suara gw pecah.

Di tengah kekacauan itu, tiba-tiba ada tangan melingkar dari belakang. Erat. Hangat. Gw kaget setengah mati.

“JANGAN—” gw hampir berontak.

Tapi pelukan itu malah makin kencang. Nggak ada kata. Nggak ada ceramah. Cuma pelukan yang bikin gw berhenti bergerak. Gw tau itu siapa.

“Kak…?” suara gw kecil.

Kak Ian nggak jawab. Dia cuma nahan gw, seolah bilang: *gw di sini*. Akhirnya gw nyerah. Badan gw lemas. Gw muter badan, mukul dadanya pakai kepalan tangan yang gemetar.

“Kenapa Kak?! Kenapa hidup segini kejam?!”
Gw nangis sekencang-kencangnya.

Kak Ian tetep diem. Dia cuma usap kepala gw pelan, terus bilang lirih,
“Udah… nggak apa-apa. Gw di sini.”

Itu doang. Tapi cukup.

Gw nangis sampai tenaga gw habis. Sampai suara gw serak. Sampai akhirnya gw cuma terisak kecil, masih dipeluk. Malam itu, Kak Ian temenin gw tidur di kamar gw. Dia duduk di samping ranjang sampai nafas gw bener-bener teratur.

Besok paginya, gw bangun dengan mata sembab. Rumah masih sunyi. Tapi ada aroma makanan.

Di dapur, Kak Ian udah rapi pakai kemeja. Di meja ada sarapan sederhana.

“Udah bangun?” katanya singkat.

“Iya…”

“Makan dulu. Gw harus ke kantor.”

Gw cuma ngangguk. Dia nggak banyak bicara. Gw tau, di balik sikapnya yang tenang, dia juga nyimpen luka yang sama dalamnya. Tapi dia milih buat kuat—buat gw.

Sebelum pergi, dia berhenti sebentar di pintu.
“Kalau hari ini berat, kabarin gw aja. Jangan dipendem sendiri.”

Pintu tertutup. Gw duduk sendiri, makan pelan-pelan, dengan dada yang masih sakit… tapi nggak sendirian.

Dan sampai sekarang, gw tau satu hal:
Gw bisa survive melewati masa tergelap dalam keluarga kami, itu karena dia.

Kak Ian.
Dan untuk itu, gw akan selalu bersyukur.

Memories of Grandpa

Gw benci kakek gw.

Itu kalimat yang paling lama tinggal di kepala gw—bukan sehari dua hari, tapi bertahun-tahun. Kayak mantra gelap yang gw ulang-ulang setiap kali ada sesuatu yang mengingatkan gw tentang keluarga gw yang jatuh, tentang rumah yang dulu katanya besar tapi cuma tersisa cerita, tentang nama keluarga yang dulu disebut orang dengan hormat tapi buat gw cuma terdengar seperti lelucon pahit.

Gimana nggak benci?

Keluarga gw bangkrut gara-gara dia. Setidaknya itu yang selalu gw percaya. Uang habis, harga diri habis, masa depan keluarga gw hancur—semuanya gara-gara satu kebiasaan yang bahkan kalau gw tulis pun rasanya jijik: dia hobi judi.

Yang paling bikin gw nggak bisa maafkan adalah satu gambar yang kebentuk di kepala gw sejak kecil. Nenek gw sakit. Terbaring. Lemah. Uang lagi seret. Tapi di tengah semua itu, kakek gw masih sempat-sempatnya main judi. Dan kata orang, dia udah begitu dari muda, dan semakin menjadi di hari tua nya. Jadi bukan “khilaf”, bukan “sekali dua kali”, tapi pola hidup.

Gw tumbuh dengan cerita-cerita itu menempel di kulit gw. Keluarga kita katanya dulu orang kaya. Bukan kaya “punya mobil satu”, tapi kaya yang membuat orang lain iri. Ironisnya, kekayaan itu bahkan nggak sempat gw nikmati sedari gw lahir—karena ketika gw lahir, keluarga gw udah keburu bangkrut.

Jadi buat gw, kakek itu bukan figur hangat yang suka bawa permen atau ngajak jalan-jalan. Kakek itu simbol. Simbol runtuhnya keluarga. Simbol penderitaan nenek. Simbol ketidakadilan hidup: orang yang bikin rusak malah tetap bisa ketawa, sementara yang menanggung akibatnya ya orang-orang kayak gw.

Singkat cerita, kakek gw meninggal.

Dan gw nggak langsung berubah jadi manusia lembut yang tiba-tiba ikhlas. Nggak. Bahkan setelah beberapa tahun sejak dia meninggal, gw masih nyimpen kebencian itu. Kadang kebencian itu muncul tanpa gw undang—pas denger orang cerita soal keluarganya yang harmonis, pas liat temen gw punya kakek yang baik, pas gw ngeliat foto keluarga orang lain dan gw ngerasa… kenapa gw dapatnya yang kayak gini?

Sampai suatu hari, kejadian kecil yang nggak gw sangka justru ngerobohin tembok yang gw bangun lama banget.

Gw lagi berberes album foto lama.

Album itu udah tua, sampulnya kusam, plastik pembungkus fotonya udah agak lengket karena umur. Gw bukanya cuma karena iseng—atau mungkin karena ada bagian dalam diri gw yang butuh sesuatu untuk dipegang, semacam bukti bahwa gw pernah punya masa kecil yang beneran terjadi, bukan cuma potongan ingatan yang samar.

Gw mulai dari halaman awal: foto-foto keluarga, beberapa wajah yang udah jarang gw denger namanya disebut. Lalu tiba-tiba gw nemu foto gw masih kecil… bersama kakek.

Gw kaget. Bukan kaget karena ada foto itu—wajar, namanya juga album keluarga. Gw kaget karena ekspresi di foto itu.


Di foto pertama, gw digendong. Kepala gw nyender di dada kakek. Mulut gw kebuka lebar, ketawa. Ketawa yang polos banget, ketawa anak kecil yang belum kenal konsep dendam. Kakek gw juga senyum—bukan senyum dibuat-buat, tapi senyum yang kelihatan… tulus. Yang kayak bilang, “Ini cucu gw.”

Gw balik halaman.

Ada foto lain, gw dipangku. Ada foto gw nempel terus sama dia, kayak dunia gw waktu itu cuma sebatas pangkuan itu. Ada foto dimana kakek gw keliatan bangga, atau minimal—hangat. Dan semakin banyak foto yang gw lihat, semakin jelas satu hal yang selama ini gw tutup rapat-rapat:

Ternyata ada masa di hidup gw dimana hubungan gw sama kakek gw nggak seburuk itu.

Dan itu bikin gw… bingung.

Karena kebencian gw selama ini terasa rapi. Terstruktur. Nyaris logis. Kakek adalah orang jahat, titik. Orang jahat nggak mungkin jadi tempat gw ketawa-ketawa. Orang jahat nggak mungkin gw peluk dengan nyaman. Orang jahat nggak mungkin bikin gw terlihat aman.

Tapi foto-foto itu ada. Nyata. Diam-diam membantah versi cerita yang gw pegang bertahun-tahun.

Halaman berikutnya yang bikin dada gw sesak adalah foto ulang tahun gw waktu masih bayi.

Gw nggak inget hari itu, jelas. Tapi di foto, ada kue. Ada balon. Ada dekor seadanya tapi niat. Dan gw tau, di masa itu ekonomi keluarga kita lagi nggak bagus. Kita udah dalam “keterbatasan”. Tapi ulang tahun gw dirayakan lumayan besar.

Gw menatap foto itu lama.

Di situ, kakek gw berdiri dekat gw. Tangannya mungkin baru aja naruh sesuatu di meja. Matanya ke arah kamera. Dan sekali lagi, ada ekspresi yang gw benci akui: ada sayang di sana.

Di titik itu, kebencian gw nggak langsung hilang. Tapi ia retak.

Karena gw dipaksa ngakuin dua kebenaran yang selama ini gw anggap mustahil berdampingan:

Gw nggak setuju sama banyak hal yang kakek gw lakukan.

Tapi fakta bahwa dia sebenarnya sayang sama gw… juga benar.

Dan dua kebenaran itu rasanya kayak batu yang saling gesek di dada gw.

Gw sedih. Gw marah. Gw malu. Gw menyesal.

Gw sedih karena gw baru “ketemu” sisi itu ketika dia udah lama nggak ada. Gw marah karena kenapa orang bisa sayang di satu sisi, tapi tega di sisi lain? Gw malu karena ternyata selama ini gw nyimpen kebencian begitu dalam, bertahun-tahun, sampai kebencian itu jadi identitas. Gw menyesal karena mungkin… mungkin ada bagian dari hidup gw yang gw sia-siain cuma karena gw terlalu sibuk memelihara dendam.

Gw tutup album itu pelan-pelan, seperti takut bunyinya terlalu keras dan membangunkan semua memori yang tadi keangkat.

Malam itu gw nggak langsung jadi orang yang pemaaf. Gw nggak tiba-tiba bilang, “Aku memaafkanmu, Kek,” dengan dramatis. Nggak. Hidup bukan film.

Tapi untuk pertama kalinya, gw ngerasain kebencian gw nggak lagi utuh. Ada lubang kecil yang masukin rasa lain: rasa kehilangan. Rasa sayang yang terlambat. Rasa “seandainya”.

Tapi ya sudah.

Hidup terus berlanjut.

Yang bisa gw lakukan sekarang cuma berdoa untuk dia—bukan karena dia sempurna, bukan karena semua kesalahannya jadi hilang, tapi karena pada akhirnya dia juga manusia. Manusia yang punya kekurangan, punya dosa, punya sisi gelap, tapi juga—entah bagaimana—punya kapasitas untuk sayang.

Dan gw berusaha untuk jadi manusia yang lebih baik daripada dia.

Bukan dengan pura-pura lupa. Bukan dengan menghapus masa lalu. Tapi dengan belajar dari reruntuhan yang dia tinggalkan.

Supaya suatu hari nanti, kalau ada orang yang membuka album foto tentang gw… mereka nggak harus merasakan kebingungan yang sama.

Gw cuma bisa bilang, “Dia pernah salah. Tapi dia berusaha.”

When You Remember

I wish that one day in your life,
you have a chance to remember,
how bright our days used to be.

I wish that one day in your life,
you have a chance to remember,
the way I teased you, the way we laugh together afterwards.

And when you remembered it all,
I wish that it would bring a smile in your face;
I pray, may you smile happily even now...



Wednesday, January 28, 2026

Harga dari Ketenangan

Beberapa waktu belakangan ini, gue berhadapan dengan pegawai frontliner yang melakukan kesalahan. Bukan kesalahan besar. Biasanya cuma selisih kecil—beberapa ribu rupiah. Jumlah yang, kalau mau jujur, lebih kecil dari ongkos mental buat ribut panjang lebar.

Ada satu pola menarik yang gue lihat, terutama di anak-anak muda sekarang.

Mereka nggak ribet crosscheck ke sana-sini. Nggak panik. Nggak defensif. Kalau kerugiannya masih bisa mereka tanggung sendiri, mereka pilih beresin di tempat. Bayar sendiri. Selesai.

Awalnya, refleks generasi lama—termasuk mungkin gue juga—akan bilang: “Ini orang kurang teliti.”
Atau: “Harusnya dicek dong, biar jelas salah siapa.”

Tapi makin sering gue lihat kejadian kayak gini, makin kerasa ada perspektif lain yang lebih dalam.

Buat mereka, beberapa ribu rupiah itu kalah penting dibanding peace of mind.


Daripada pusing ngecek ulang, manggil supervisor, bongkar log, debat 15 menit buat sesuatu yang nilainya recehan, mereka memilih mengorbankan uang kecil demi ketenangan batin. Secara ekonomi mungkin “nggak optimal”. Tapi secara mental? Sangat rasional.

Pernah juga suatu kali, setelah dicek ulang, ternyata justru gue yang salah. Dan tentu aja, gue balikin reimburse-nya. Fair is fair. Tapi poinnya bukan soal siapa yang salah. Poinnya adalah: mereka nggak langsung berangkat dari asumsi “gue harus menang”.

Mereka berangkat dari pertanyaan yang lebih sederhana:
“Worth it nggak energi gue buat ini?”

Dan jujur aja, itu sikap yang patut diacungi jempol.

Kita hidup di dunia yang terlalu sering ngajarin kita buat always be right, always escalate, always fight for every cent. Padahal nggak semua hal layak diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Ada kalanya, melepaskan sedikit itu justru bentuk kebijaksanaan.

Tentu, ini ada batasnya. Kalau kesalahannya ratusan ribu atau jutaan, ceritanya lain. Itu bukan lagi soal peace of mind, tapi soal sistem, akuntabilitas, dan fairness. Tapi selama masih di wilayah kecil—receh secara nominal, mahal secara mental—mungkin kita memang perlu belajar dari generasi ini.

Belajar merelakan sedikit.
Belajar memilih mana yang perlu diperjuangkan, dan mana yang cukup dilepaskan.

Karena kadang, menang itu bukan soal uang yang kembali. Tapi soal kepala yang tetap adem dan hati yang nggak keruh.

Satu Klik Terakhir

Beberapa hari lalu gue baca satu cerita yang bikin was-was, bukan karena plot twist-nya, tapi karena betapa sepele pemicunya.

Ada seseorang yang lagi gedebak-gedebuk mau transfer duit perusahaan. Urusan penting, nominal besar, waktu mepet. Semua kelihatan normal. Tampilan web-banking familiar. Flow yang sudah dihafal di luar kepala.

Masalahnya cuma satu: URL-nya beda satu huruf.

Satu huruf. Bukan domain aneh, bukan tampilan mencurigakan. Website-nya bahkan meng-copy tampilan web-banking resmi hampir sempurna. Logo sama. Warna sama. Layout sama. Otak kita langsung masuk autopilot: “Oh ini web-nya.”

Begitu semua credential dimasukkan, ceritanya selesai. Dalam hitungan menit, rekening itu dikuras habis oleh fraudster.


Di titik ini, pertanyaan klasik selalu muncul:
“Siapa yang salah?”

Jawaban jujurnya pahit: nggak ada satu villain tunggal. Yang ada cuma kombinasi antara kebiasaan, kecepatan, dan sedikit kelengahan.

Di zaman sekarang, beda satu huruf atau satu angka itu bukan typo lagi. Itu sudah berarti salah alamat. Dunia digital itu presisi dingin. Dia nggak peduli niat kita baik, buru-buru, atau lagi capek. Sistem cuma kenal dua status: benar atau salah.

Masalahnya, manusia hidup dari kebiasaan. Begitu sesuatu terasa familiar, kita berhenti mengecek. Kita mengandalkan otot ingatan, bukan kesadaran penuh. Dan di situlah celahnya.

Ironisnya, bahkan chef profesional—orang yang sudah masak ribuan kali—masih cicipin masakannya sendiri sebelum disajikan. Bukan karena dia ragu sama skill-nya, tapi justru karena dia paham: keakraban adalah musuh diam-diam dari ketelitian.

Hal yang sama berlaku saat kita berhadapan dengan pekerjaan yang “sensitif”: transfer uang, akses sistem, approval penting, atau keputusan yang dampaknya panjang. Di momen seperti ini, distraksi sekecil apa pun itu mahal. Notifikasi, chat masuk, multitasking sok jago—semuanya memperbesar peluang salah langkah.

Di era teknologi yang serba cepat ini, satu klik bisa jadi final. Nggak ada tombol undo. Nggak ada “eh bentar salah”. Yang ada cuma konsekuensi.

Jadi mungkin pelajaran paling membosankan tapi paling penting adalah ini:
jangan merasa aman hanya karena sudah terbiasa. Justru di titik itulah kehati-hatian harus dinaikkan levelnya.

Pelan sedikit nggak apa-apa. Cek ulang bukan tanda bodoh. Fokus penuh bukan lebay. Karena kadang, selisih satu huruf saja sudah cukup untuk mengakhiri segalanya.

Friday, January 23, 2026

Simpul yang Keburu Dikencengin

Ada jenis masalah yang non-reversible. Bukan karena orangnya bodoh, tapi karena urutannya salah dari awal.

Lo nggak bisa:
  • Narik benang asal-asalan,
  • Bikin simpul makin kenceng,
  • Terus bilang, “yaudah sekarang pelan-pelan aja, waktunya gue tambahin.”

Damage sudah terjadi. Dan orang sering gagal ngerti ini karena mereka mikir waktu itu kayak saldo—tinggal ditambah. Padahal di kerja knowledge-based, waktu itu vektor, bukan angka. Arah awal salah, magnitudo nambah malah makin nyasar.

Ada kerjaan yang harus dimulai benar, atau lebih baik ditunda daripada dipercepat salah. Tapi budaya “gedebak-gedebuk dulu, benerin belakangan” itu sayangnya populer, karena kelihatannya heroik di slide deck.

Kadang ketawa itu cuma tanda orang udah berhenti berharap lingkungan akan rasional.



Sunday, January 4, 2026

Calculated Risk

Dalam hidup, risiko itu selalu ada. Bahkan ketika kita merasa sedang “aman”, sebenarnya kita cuma memilih risiko yang lebih familiar. Bertahan di pekerjaan yang bikin lelah adalah risiko. Menunda keputusan penting karena takut salah juga risiko. Diam pun bukan bebas risiko—dia hanya risiko yang menyamar sebagai kenyamanan.

Masalahnya, banyak dari kita diajarkan bahwa risiko adalah sesuatu yang harus dihindari. Sejak kecil kita didorong untuk memilih jalan yang paling stabil, paling bisa diprediksi, paling minim gejolak. Tidak salah. Stabilitas penting. Tapi ada harga yang sering luput dibicarakan: stagnasi.

Mengambil risiko bukan berarti nekat atau lompat tanpa parasut. "Calculated risk" berarti kita sadar apa yang dipertaruhkan, apa yang mungkin kita dapatkan, dan apa yang siap kita tanggung kalau hasilnya tidak sesuai harapan. Ada proses berpikir, ada pertimbangan, ada kesiapan mental. Bukan impuls, tapi juga bukan kelumpuhan karena terlalu banyak analisis.


Pertumbuhan hampir selalu lahir dari wilayah yang tidak sepenuhnya nyaman. Belajar skill baru berarti siap terlihat bodoh di awal. Pindah arah karier berarti siap kehilangan sebagian identitas lama. Membuka diri dalam relasi berarti siap terluka. Tapi justru di ruang-ruang itulah kita bertemu versi diri yang lebih jujur dan lebih matang.

“No risk, no growth” terdengar klise, tapi ada kebenaran yang keras di sana. Otot tidak tumbuh tanpa beban. Pikiran tidak berkembang tanpa tantangan. Hidup tidak melebar tanpa keberanian untuk melangkah keluar dari pola lama. Pertanyaannya bukan apakah kita akan menghadapi risiko—karena itu pasti. Pertanyaannya: risiko mana yang kita pilih, dan untuk hidup seperti apa.

Berani mengambil "calculated risk" bukan soal menjadi nekat. Itu berarti menghormati potensi diri sendiri. Mengakui bahwa kita layak mencoba, layak gagal, dan layak tumbuh. Karena pada akhirnya, penyesalan terbesar jarang datang dari hal yang kita coba dan gagal, tapi dari hal yang tidak pernah kita berani mulai.

Saturday, January 3, 2026

Dance of the Twilight

Sore itu aku merasa kepalaku terlalu penuh. Rasanya seperti ada gulungan kabel kusut yang nyangkut di belakang mata, dan setiap tarikan napas cuma menambah kekencangannya. Aku keluar sebentar, sekadar ingin berjalan sambil mencari udara yang tidak bercampur dengan notifikasi pekerjaan.

Langit sedang berubah warna. Orange-nya lembut, emasnya hangat, dan ada sesuatu dalam cahaya itu yang tiba-tiba membuat langkahku melambat. Aku duduk di bangku taman tanpa benar-benar tahu kenapa. Angin sore menyentuh pelan, dan suara kota terdengar seperti seseorang menurunkan volumenya dari belakang layar.

Di titik itu pikiranku mulai melayang, bukan liar, tapi mengambang. Seolah ada ruang kosong yang tiba-tiba terbuka, dan aku jatuh masuk ke dalamnya dengan cara yang halus.

Di dalam ruang itu, aku melihatnya.


Seorang perempuan. Gerakannya lembut, tenang, dan serba mengalir. Dia menari di bawah cahaya senja, seakan setiap gerakan tubuhnya diukir dari warna-warna langit. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku tahu dia tersenyum. Atau mungkin itu hanya perasaan yang muncul dari cara ia bergerak.

Aneh, karena gambarnya terlalu nyata untuk disebut bayangan pikiran. Tapi terlalu sunyi untuk disebut kenyataan. Dia seperti berdiri di perbatasan antara dunia luar dan dunia dalam, dan entah bagaimana aku ikut berdiri di sana bersamanya.

Perlahan aku merasa tubuhku lenyap, seakan batas antara aku dan tarian itu memudar. Gerakannya terasa seperti bagian dari nafasku sendiri. Tidak ada waktu, atau mungkin ada, tapi dia meregang dan mengecil sesukanya. Rasanya lama… tapi saat aku berkedip, semuanya hilang begitu cepat seperti cahaya yang ditarik dari permukaan air.

Ketika kesadaranku kembali penuh, aku masih duduk di bangku yang sama. Senja masih ada di atas kepala. Tapi kepala yang tadinya sesak mendadak terasa lebih lapang. Seperti ada ruang yang baru dibersihkan.

Saat aku membuka laptop, ide-ide mengalir tanpa perlu dipaksa. Hal-hal yang sebelumnya membuatku pusing berubah menjadi rangkaian langkah sederhana. Tiba-tiba semuanya terasa bisa diselesaikan.

Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sore itu. Mungkin itu vision. Mungkin imajinasi liar yang terlalu indah untuk ditolak. Atau mungkin itu bagian dari diriku sendiri yang selama ini bersembunyi.

Tapi tiap kali aku melihat langit senja, ada sensasi yang kembali — seperti panggilan yang halus, seperti momen itu masih tertinggal di udara. Dan bagian kecil dari diriku selalu merasa bahwa tarian itu belum selesai.

Thursday, January 1, 2026

Still Standing


1 Januari 2026

Hari ini kalender resmi berganti angka.
Tapi tubuh dan kepala gue tahu: pergantian tahun nggak pernah sesederhana itu.

Kalau gue menoleh ke belakang, 2025 adalah salah 1 tahun terberat yang pernah gue lewati sejauh ini.
Bukan cuma karena satu kejadian besar, tapi karena rentetan pukulan kecil dan besar yang datang silih berganti.

Gue difitnah di beberapa tempat.
Kehilangan kepercayaan, kehilangan rasa aman, kehilangan arah.
Ada hal-hal yang gue perjuangkan bertahun-tahun, runtuh begitu saja—tanpa penjelasan yang adil, tanpa penutup yang rapi.

Di banyak hari, gue cuma bertahan.
Bukan berkembang. Bukan menang. Bertahan saja sudah terasa seperti kerja penuh waktu.

Kalau ditanya apa yang masih bisa gue syukuri dari tahun itu, jawabannya sederhana tapi berat:
gue masih hidup.
Gue masih di sini.
Dan di tengah semua kekacauan itu, gue sadar—masih ada orang-orang yang memilih berdiri di sisi gue, meski dunia sedang tidak ramah.

Belakangan gue juga dengar cerita dari banyak orang.
Ternyata gue nggak sendirian.
Banyak yang menjalani 2025 dengan luka mereka masing-masing—beda bentuk, beda cerita, tapi sama-sama capek.

Jujur, ada bagian dari diri gue yang ingin menghapus saja tahun itu.
Menguburnya dalam-dalam.
Berpura-pura itu cuma mimpi buruk yang nggak perlu diingat.

Tapi ada kalimat yang terus terngiang:
sejarah yang dilupakan cenderung terulang kembali.

Mungkin 2025 memang bukan untuk dirayakan.
Tapi ia layak diingat—sebagai pengingat tentang batas, tentang rapuhnya reputasi, tentang betapa cepat hidup bisa berubah arah.

Gue nggak punya resolusi besar untuk 2026.
Nggak ada janji bombastis.
Cuma satu harapan yang sederhana dan jujur:

semoga tahun ini lebih baik.
Sedikit demi sedikit pun nggak apa-apa.

Karena setelah tahun seperti 2025, “lebih baik” saja sudah cukup berarti.