Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, sebuah kedai kecil di sudut jalan itu sudah harum oleh aroma roti yang baru dipanggang. Uap tipis naik dari panggangan, dan di balik etalase kaca berjajar roti isi yang tersusun rapi. Pemiliknya seorang bapak yang sudah berumur. Rambutnya hampir seluruhnya memutih, tapi tangannya masih cekatan mengiris, menata, dan membungkus.
Salah satu pelanggan setianya adalah seorang mahasiswa perantauan. Hampir tiap pagi ia datang, memesan roti isi yang sama, lalu duduk di bangku kayu dekat jendela. Ia makan pelan-pelan sambil membuka catatan kuliah, sementara kota di luar sana mulai riuh.
Lama-lama, Bapak itu hafal segalanya. Ia tahu pesanan si anak, tahu jam datangnya, bahkan tahu kapan anak itu sedang begadang karena matanya sayu. Kadang roti isinya ia beri tambahan sedikit tanpa bilang-bilang. "Namanya juga anak rantau," pikirnya. "Jauh dari rumah, jangan sampai kurang makan."
Lalu suatu hari, kebiasaan itu berubah.
Si mahasiswa masih datang, tapi ia tidak lagi duduk di bangku dekat jendela. Ia memesan, membayar, lalu pergi membawa bungkusan. Hari berikutnya sama. Hari berikutnya lagi juga sama.
Awalnya Bapak itu berpikir mungkin anak itu sedang sibuk, ada tugas atau ujian. Tapi seminggu berlalu, lalu dua minggu, dan bangku kayu di dekat jendela tetap kosong. Ada yang mengganjal di hatinya, seperti kursi di meja makan keluarga yang tiba-tiba tak lagi terisi.
Suatu pagi, saat menyerahkan bungkusan itu, ia akhirnya bertanya.
"Nak, Bapak perhatikan sekarang kamu sering bungkus, nggak makan di sini lagi. Ada apa? Ada yang kurang dari kedai Bapak? Atau kamu cuma sedang sibuk saja?"
Si mahasiswa tampak kaget. Wajahnya memerah, dan ia buru-buru menggeleng. "Nggak, Pak! Bukan gitu sama sekali. Rotinya enak, saya suka banget."
Anak itu menggaruk tengkuknya, ragu sejenak, lalu menjelaskan, "Jadi begini, Pak. Belakangan saya dapat resep acar fermentasi. Rasanya cocok banget di lidah saya, dan pas sekali kalau dimasukin ke roti isi Bapak. Tapi saya nggak enak hati kalau harus ngeluarin makanan dari luar di kedai ini. Jadi saya bungkus dulu, terus cari tempat di pinggir jalan buat nambahin acarnya sendiri."
Bapak itu terdiam sebentar. Lalu senyumnya perlahan mengembang, hangat dan penuh rasa geli. Ia bersandar di meja kasir, matanya berbinar penasaran. "Coba ceritakan, acarnya itu bikinnya gimana? Bahannya apa saja?"
Si mahasiswa sempat bingung, tapi lalu ia menjelaskan. Ia menyebutkan bahan-bahannya satu per satu, takaran garamnya, lama fermentasinya, dan cara menyimpannya. Bapak itu mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, seolah sedang menghafal sesuatu yang berharga.
Anak itu tidak tahu, itu bukan sekadar rasa ingin tahu.
Beberapa hari kemudian, di dapur kecil di belakang kedai, sebuah toples kaca berisi acar mulai berfermentasi diam-diam. Bapak itu mengikuti resep si anak dengan teliti dan mencicipinya dengan sabar sampai rasanya pas.
Pagi itu, seperti biasa, si mahasiswa datang dengan langkah agak terburu-buru. Ia sudah siap memesan dan membawa pulang bungkusannya. Tapi sebelum ia sempat bicara, Bapak itu sudah menyodorkan sebuah roti isi.
"Ini, coba dulu," katanya, matanya berkilat jahil. "Di dalamnya sudah Bapak tambahkan acar. Bapak bikin sesuai resep kamu. Coba cicipi, mirip nggak sama buatan kamu sendiri?"
Si mahasiswa terpaku menatap roti itu. Ia menerimanya dengan kedua tangan, lalu menggigitnya perlahan. Asam yang segar, sedikit gurih, dan renyah yang pas berpadu dengan isi roti yang sudah ia kenal setiap pagi. Rasanya sama persis dengan yang ia buat sendiri.
"Gimana?" tanya Bapak itu, separuh menahan senyum.
"Mirip, Pak," jawab anak itu dengan suara sedikit bergetar. "Mirip banget. Persis."
"Ok deh..." Bapak itu tertawa kecil, puas. "Mulai sekarang kamu nggak perlu repot-repot lagi. Nggak usah bikin acar banyak-banyak di kamar kos, nggak usah bawa-bawa toples. Duduk saja di sini seperti biasa. Acarnya sudah ada."
Mahasiswa itu tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokannya terasa penuh. Ia hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih dengan suara pelan.
Pagi itu, ia kembali duduk di bangku kayu dekat jendela. Cahaya matahari jatuh di atas mejanya, dan di tangannya ada roti isi yang sudah dilengkapi acar buatan orang yang menganggapnya seperti anak sendiri. Di kota yang jauh dari rumah itu, ia merasa untuk sesaat betul-betul di rumah.
No comments:
Post a Comment