Monday, June 1, 2026

Eldareth : Elegy for a Fleeting Moment

---

Sembilan ratus tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk mengubah megahnya menara batu menjadi debu, mendampitkan kerajaan-kerajaan besar ke dalam barisan kalimat di buku sejarah, dan mengubah nama Alarion dari seorang figur nyata menjadi bisikan doa yang penuh ketakutan sekaligus kekaguman. Bagi dunia di luar sana, waktu bergerak seperti badai yang melesat. Namun bagi Sister Marienne, waktu adalah genangan air yang tenang. Terlalu tenang, hingga hampir membusuk.

Sejak malam di mana racun sang Dark Saint menyatu dengan aliran darahnya, Marienne berhenti menua. Kulitnya tetap sehalus gadis tujuh belas tahun, namun di balik kelopak matanya, bersemayam sepasang manik mata yang telah menyaksikan sembilan abad berlalu dengan egois.

Di bawah arahannya, Ordo Lux Noctis mengalami masa keemasan dalam bidang penyembuhan. Marienne telah merampungkan ribuan riset. Ia memetakan anatomi penyakit-penyakit kuno, mengisolasi wabah baru yang bermutasi di rawa-rawa selatan, meracik ribuan resep obat, dan mendorong studi toksikologi hingga ke titik yang tak pernah dibayangkan oleh para tabib terdahulu. Baginya, memisahkan antara racun yang membunuh dan racun yang menghidupkan adalah perkara matematika dan ketepatan takaran. Puluhan ribu nyawa telah ia selamatkan dari cengkeraman maut.

Namun, dua ratus tahun terakhir ini, ada sesuatu yang mati di dalam dirinya.

Tidak ada lagi penyakit baru yang menantang akalnya. Semua formula telah mencapai batas kesempurnaan. Dunia medis melambat, menjadi repetitif, dan Marienne mulai didera kebosanan yang amat pekat. Keabadian, yang semula ia gunakan untuk mengabdi pada warisan Alarion, kini terasa seperti penjara tanpa jeruji.

Maka, ia memilih menyepi. Di sebuah pondok kayu sederhana di pedalaman hutan berlumut yang berbatasan dengan Biara Elaris, ia melewatkan hari-harinya sendirian. Hanya sesekali—ketika lonceng perak biara berdentang tiga kali menandakan keadaan darurat atau ketika ia merindukan aroma masa lalu—Marienne akan berjalan kaki kembali ke Elaris. Di sana, ia akan mengajar para murid baru, membantu membedah kasus medis yang rumit, atau sekadar berdiri berjam-jam di taman dalam biara, menatap dan menyentuh kulit kayu hitam keunguan dari pohon berduri raksasa—perwujudan fisik dari Alarion yang tetap hidup melintasi zaman.

Sore itu, musim gugur sedang melukis hutan dengan warna jingga dan emas yang redup. Marienne duduk di tepi sungai yang mengalir tak jauh dari pondoknya. Di pangkuannya terdapat sebuah kitab tua bersampul kulit rusa, namun pandangannya justru tertuju pada riak air yang memantulkan cahaya senja.


"Oi, Suster."

Sebuah suara yang renyah dan tanpa beban memecah kesunyian hutan.

Marienne tidak terkejut. Pendengarannya yang tajam sudah menangkap langkah kaki yang ceroboh itu sejak beberapa menit lalu. Ia menoleh perlahan, mendapati seorang gadis manusia berdiri di sana. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena angin, pipinya kemerahan karena berjalan jauh, dan di tangannya ada sebuah keranjang anyaman penuh berisi buah persik liar yang matang.


"Kau memanggilku... Suster?" tanya Marienne, suaranya datar, sedingin angin musim gugur.

"Ya. Karena semua orang di desa bawah tahu kalau ada suster legendaris yang hidup ratusan tahun di hutan ini," jawab gadis itu sambil melangkah mendekat tanpa ragu. Ia menjatuhkan diri begitu saja di atas batu datar di sebelah Marienne, menaruh keranjangnya di antara mereka. "Ibuku bilang Anda suka buah persik."

Marienne melirik buah-buah berbulu halus di dalam keranjang. "Aku tidak punya preferensi rasa. Lidahku sudah terlalu lama melupakan arti rasa suka."

"Oh." Gadis itu mengerutkan dahi, tidak kelihatan tersinggung sama sekali. "Berarti ibuku berbohong. Tapi tidak apa-apa, ini tetap manis kok."

Marienne menatap gadis itu dengan saksama. Ada binar yang aneh di matanya—jenis energi kehidupan yang ringkih namun menyala-nyala, sesuatu yang sudah sangat lama tidak Marienne miliki. "Kau tahu siapa aku, anak muda? Semua orang tahu darah di tubuhku adalah kutukan racun yang bisa menghentikan jantungmu sebelum rasa sakitnya sempat sampai ke otak. Kau tidak takut?"

Gadis itu tertawa kecil, sebuah bunyi yang terdengar asing di telinga Marienne yang terbiasa dengan keheningan.

"Namaku Mira," katanya sambil mengulurkan tangan, yang tentu saja tidak disambut oleh Marienne demi keselamatan gadis itu sendiri. Mira menarik tangannya kembali dengan santai. "Dan jujur saja, melihat Anda duduk sendirian di tepi sungai sambil memegang buku tua dengan wajah sekosong itu... Anda kelihatan lebih menyedihkan daripada menyeramkan."

Marienne tertegun. Untuk pertama kalinya dalam dua abad, ada seseorang yang berani mengasihani dirinya.

Sejak hari itu, kesunyian Marienne terganggu. Mira mulai sering datang ke pondoknya. Kadang gadis itu membawa seikat daun teh liar, kadang sekeranjang roti gandum yang agak gosong, dan lebih sering ia hanya datang untuk menceritakan hal-hal sepele yang terjadi di desanya—tentang bagaimana tetangganya bertengkar karena seekor kambing, atau tentang angin malam yang membuatnya bersin.

Marienne awalnya mengabaikannya. Ia menganggap Mira seperti seekor burung liar yang kebetulan singgah di jendelanya. Namun perlahan, tanpa ia sadari, ia mulai terbiasa dengan ketukan di pintunya dan suara langkah kaki yang mendekat.

Suatu sore, mereka kembali berada di tepi sungai. Mira melepas alas kakinya, membiarkan sepasang kaki manusianya yang kecil tercelup ke dalam air yang dingin.

"Aku suka sekali sungai ini," gumam Mira, memejamkan mata menikmati sensasi air.

Marienne yang berdiri di sampingnya dengan jubah suster hitamnya menatap aliran air itu dengan tatapan analitis. "Sungai ini mengalir dari mata air pegunungan utara sejak sebelum biara Elaris didirikan. Kandungan mineralnya konstan selama sembilan ratus tahun terakhir. Tidak ada yang istimewa."

Mira membuka matanya dan menoleh, menatap Marienne dengan dahi berkerut. "Suster, Anda salah. Sungai ini selalu berubah."

"Berubah?" Marienne mendengus pelan, sebuah reaksi yang jarang ia tunjukkan. "Secara hidrologis, jalurnya tetap sama selama berabad-abad."

"Bukan jalurnya, tapi airnya," sergah Mira sambil menyendok air dengan telapak tangannya, membiarkan cairan jernih itu meluncur kembali ke sungai melalui sela-sela jarinya. "Air yang mengalir dan menyentuh kakiku detik ini bukanlah air yang sama dengan yang menyentuhnya sedetik lalu. Cahaya matahari yang memantul di atasnya berbeda. Daun kering yang hanyut bersamanya juga berbeda. Sungai ini... tidak pernah sama, Suster."

Marienne terdiam. Ia memandangi riak air yang bergerak cepat.

"Kalau Anda melihat dunia ini hanya sebagai satu pola besar yang abadi," lanjut Mira dengan nada suara yang tiba-tiba melunak, "tentu saja hidup terasa membosankan. Anda hidup terlalu lama, sampai-sampai Anda melihat semuanya terlalu cepat. Anda berhenti memperhatikan detailnya."

"Aku telah mempelajari detail paling mikro dari kehidupan dan kematian, Mira," jawab Marienne, membela pengetahuannya yang berumur sembilan abad.

"Anda mempelajari strukturnya, tapi Anda tidak melihat momennya," kata Mira tegas.

Kalimat Mira malam itu terus bergema di kepala Marienne, mengusik kedamaian dingin yang selama ini ia agungkan.

Beberapa hari kemudian, Mira memaksa Marienne untuk membantunya membuat ramuan sirup obat dari buah beri hutan untuk anak-anak desa yang terserang batuk musiman. Di dapur pondok yang biasanya steril dan sunyi, kini dipenuhi oleh aroma manis buah yang direbus dan tawa Mira.

Marienne memegang pisau perak, memotong buah-buah beri dengan presisi yang luar biasa. Jarak antar potongan sama persis hingga ke milimeter terkecil—sebuah kebiasaan dari berabad-abad riset laboratorium.

"Ah, Suster, potongannya terlalu kaku!" protes Mira sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Marienne mengangkat pisaunya, menatap Mira dengan heran. "Ini ukuran yang paling optimal untuk ekstraksi sari buah tanpa merusak struktur seratnya."

"Tapi Anda memotongnya seperti orang yang sudah bosan hidup," ujar Mira jenaka namun menusuk. "Tidak ada cinta di potongannya."

"Ini obat, Mira. Bukan puisi," balas Marienne datar.

"Obat juga butuh jiwa, Suster. Kalau Anda memotongnya hanya sebagai rutinitas mekanis, khasiatnya akan terasa hambar bagi mereka yang meminumnya. Cobalah potong sambil berpikir bahwa buah beri ini beruntung bisa menyelamatkan seorang anak kecil hari ini."

Marienne menatap buah beri merah di atas talenan kayu. Selama ratusan tahun, ia meracik obat demi kewajiban, demi melunasi utang moralnya pada Alarion, atau sekadar karena ia bisa melakukannya. Ia telah lupa bagaimana rasanya menaruh harapan emosional ke dalam sebuah cangkir obat.

Dengan ragu, ia menekan pisaunya kembali. Kali ini, ia membiarkan potongannya sedikit tidak beraturan. Ia melihat warna merahnya, mencium aromanya yang pekat, dan mendengarkan bunyi desis saat buah itu masuk ke dalam air mendidih.

Anehnya, rebusan sirup itu terasa... berbeda bagi inderanya. Lebih hidup.

Waktu terus bergulir, dan musim dingin mengetuk pintu hutan dengan jemari esnya. Bersamaan dengan turunnya salju pertama, kedatangan Mira ke pondok mulai melambat. Dan ketika gadis itu datang, suaranya tak lagi serenyah biasanya; ia mulai batuk-batuk kecil.

Awalnya Marienne mengira itu hanya flu musim dingin biasa. Ia meracik infus herbal terbaiknya, formula yang pernah menyembuhkan seluruh batalion tentara di masa lalu. Namun, batuk Mira tidak kunjung reda. Malah semakin parah, meninggalkan bercak darah di sapu tangannya.

Marienne mulai memeriksa Mira dengan seluruh pengetahuannya. Ia memeriksa denyut nadi, mendengarkan napasnya, dan menganalisis gejala tubuhnya. Namun, semakin ia memeriksa, semakin hatinya dirayapi oleh sesuatu yang sudah sembilan ratus tahun tidak ia rasakan: ketakutan.

Itu bukan wabah baru. Itu bukan racun kuno yang bisa ia netralisir. Itu adalah kegagalan bawaan dari tubuh manusia—sebuah penyakit generatif langka yang menggerogoti organ dalamnya dari dalam, sesuatu yang dalam catatan medis Marienne, tidak memiliki obat penawar. Tubuh Mira terlalu rapuh, seperti secangkir porselen yang retak perlahan.

"Jangan pasang muka menyeramkan begitu, Suster," bisik Mira suatu malam dari atas ranjang di pondok Marienne, wajahnya pucat namun senyumnya masih berusaha keras untuk hadir.

Marienne berdiri di samping tempat tidur, tangannya menggenggam botol kaca berisi ramuan langka yang baru saja ia bawa dari gudang terdalam Biara Elaris. Tangannya sedikit bergetar. "Aku adalah ketua tabib Ordo Lux Noctis. Aku telah menaklukkan ribuan penyakit. Aku tidak akan membiarkan seorang gadis manusia mati di pondokku karena batuk konyol ini."

Mira mengulurkan tangannya yang kurus, menyentuh jubah hitam Marienne. "Suster... Anda tahu betul, ada hal-hal yang tidak bisa disembuhkan oleh ilmu sains atau racun Alarion. Manusia itu seperti bunga liar di musim gugur. Kami mekar sebentar, lalu kami harus pergi."

Air mata, sesuatu yang Marienne pikir telah mengering dan membeku menjadi es berabad-abad lalu, tiba-tiba merebak di sudut matanya. "Kenapa kau bisa begitu tenang? Hidupmu bahkan belum mencapai sepersekian kecil dari usiaku!"

Mira tersenyum, matanya memantulkan cahaya perapian yang temaram. "Justru karena hidup kami sebentar, Suster... kami tidak punya waktu untuk bosan. Kami belajar untuk mencintai setiap detiknya sebelum semuanya hilang. Aku tidak menyesal. Aku senang, di bagian akhir waktuku, aku bisa mengajari seorang suster abadi bagaimana cara melihat sungai lagi."

Keesokan paginya, salju turun dengan lebat, membungkus seluruh hutan dalam selimut putih yang sunyi. Atas permintaan terakhirnya, Marienne menggendong tubuh Mira yang terasa sangat ringan menuju ke tepi sungai.

Sungai itu belum sepenuhnya membeku; airnya masih mengalir di bawah lapisan es tipis yang retak di beberapa bagian. Marienne duduk di atas sebuah batang pohon tumbang, memeluk Mira yang terbungkus mantel bulu tebal dalam pangkuannya.

Mira menatap aliran air yang bergerak di antara salju. Napasnya pendek dan terasa berat. "Suster Marienne..."

"Ya, Mira?"

"Menurutmu... apakah sungai ini akan mengingat kita?"

Marienne memandangi permukaan air yang berkilau dingin. Sembilan ratus tahun lalu, ia mungkin akan menjawab dengan dingin bahwa air tidak memiliki memori, bahwa alam tidak peduli pada eksistensi manusia. Namun kini, ia mengeratkan pelukannya pada gadis itu.

"Mungkin tidak," jawab Marienne dengan suara yang bergetar menahan isak, tersenyum kecil meniru gaya Mira dulu. "Tapi sungai ini akan tetap mengalir, membawa ingatan tentang tawa dan pai berimu menuju ke laut lepas."

Mira tertawa sangat pelan, sebuah embusan napas hangat di udara musim dingin yang beku. "Jawaban yang bagus... Sekarang, Anda benar-benar terdengar seperti orang yang hidup, Suster."

Gadis itu memejamkan matanya perlahan, menyandarkan kepalanya di bahu Marienne. Angin musim dingin berembus, menjatuhkan beberapa butir salju di atas rambut hitamnya yang kini tak lagi bergerak.

Mira telah pergi, melesat bersama aliran air yang tak pernah sama.

Satu bulan setelah musim dingin yang merenggut Mira, Sister Marienne berjalan melewati gerbang Biara Elaris. Jubahnya berkibar ditiup angin, dan para murid baru membungkuk hormat dengan penuh ketakutan saat ia lewat. Namun, ada yang berbeda dari langkah sang suster abadi hari ini; langkahnya tidak lagi terasa berat dan melelahkan, melainkan penuh kepastian.

Ia berjalan ke taman dalam biara, berhenti tepat di hadapan pohon hitam perwujudan Alarion.

Marienne mengulurkan tangannya, menyentuh batang berduri itu tanpa ragu. Getah beracun yang mengalir di dalamnya berdenyut, menyapa racun yang ada di dalam darah Marienne sendiri.

"Alarion..." bisik Marienne ke arah kulit kayu yang dingin. "Aku akhirnya mengerti apa yang salah denganku selama ini. Aku terlalu sibuk meratapi keabadian yang stagnan, sampai aku lupa bahwa esensi dari keseimbangan yang kau ajarkan adalah pergerakan."

Ia mendongak, menatap cabang-cabang pohon yang menjulang ke langit abu-abu musim dingin.

"Dunia ini tidak pernah sama tiap detiknya. Setiap pasien yang datang, setiap penyakit yang kutemui, setiap racun yang kuracik... semuanya adalah momen yang unik. Aku tidak akan lagi bersembunyi di dalam pondokku untuk melarikan diri dari waktu."

Marienne menarik tangannya kembali. Saat ia berbalik untuk berjalan menuju aula medis tempat para murid menunggunya, seberkas cahaya matahari musim dingin mendadak menembus awan tebal, menyinari taman biara.


Di belakang punggungnya, di sela-sela duri hitam pohon Alarion, sekuntum bunga kecil berwarna putih pucat mekar dengan anggun, melepaskan aroma manis yang samar ke udara. Pohon itu tidak berbicara, namun riak daunnya seolah tahu: Sister Marienne telah kembali, bukan sebagai penjaga makam yang bosan, melainkan sebagai seorang penyembuh yang akhirnya benar-benar memahami arti dari kehidupan.