Gue enggak tahu kapan pertama kali pemikiran ini muncul.
Mungkin ini berasal dari keinginan gue untuk bisa menjadi diri sendiri. Mungkin juga karena selama hidup gue cukup sering menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan perasaan. Menyimpan pikiran. Menulis banyak hal yang tidak gue ucapkan. Menampilkan versi diri yang berbeda tergantung situasi dan orang yang gue hadapi.
Dan seperti banyak orang lain yang melakukan hal serupa, pernah ada masa ketika gue mempertanyakan diri sendiri.
Apakah ini munafik?
Apakah gue hidup dengan topeng?
Apakah gue terlalu banyak masking?
Ada semacam asumsi yang sering beredar bahwa menjadi manusia yang baik berarti harus selalu autentik, selalu jujur, selalu menunjukkan diri apa adanya. Bahwa apa yang ada di kepala harus sama persis dengan apa yang keluar dari mulut.
Namun semakin gue pikirkan, semakin gue merasa ada sesuatu yang salah dengan asumsi itu.
Karena menyembunyikan sesuatu tidak selalu buruk.
Bahkan sering kali justru sebaliknya.
Menyembunyikan sesuatu bisa menjadi tindakan yang beradab, berpendidikan, dan penuh tata krama.
Coba pikirkan tubuh manusia.
Semua orang punya alat kelamin.
Tidak ada yang salah dengan alat kelamin.
Tidak ada yang memalukan dengan keberadaannya.
Namun apakah karena itu semua orang harus berjalan telanjang setiap saat?
Tentu tidak.
Kita memakai pakaian.
Bukan karena tubuh manusia itu jahat atau salah, tetapi karena ada konteks, batasan, dan norma sosial yang membuat kita memahami kapan sesuatu layak diperlihatkan dan kapan sesuatu layak disimpan.
Menurut gue emosi bekerja dengan cara yang mirip.
Marah itu normal.
Iri itu normal.
Kecewa itu normal.
Takut itu normal.
Pikiran-pikiran gelap sesekali juga normal.
Namun normal tidak berarti harus selalu dipertontonkan.
Tidak setiap orang berhak melihat seluruh isi kepala kita.
Tidak setiap situasi membutuhkan seluruh isi hati kita.
Dan tidak setiap pikiran yang muncul pantas langsung diucapkan.
Sama seperti tubuh, ada bagian dari dunia batin yang hanya layak diperlihatkan kepada orang-orang tertentu dalam kondisi tertentu.
Mungkin kepada pasangan.
Mungkin kepada sahabat dekat.
Mungkin kepada diri sendiri ketika sedang sendirian.
Mungkin kepada jurnal pribadi seperti tulisan ini.
Dan semakin gue pikirkan, semakin gue merasa bahwa ada perbedaan besar antara kejujuran dan keterbukaan.
Kejujuran berarti apa yang kita tampilkan tidak bertentangan dengan apa yang kita yakini.
Keterbukaan berarti seberapa banyak yang kita pilih untuk tampilkan.
Dua hal itu tidak sama.
Gue bisa memilih untuk tidak menceritakan seluruh isi hati gue kepada seseorang tanpa harus berbohong kepada mereka.
Gue bisa memilih diam tanpa harus menjadi munafik.
Gue bisa memilih menyimpan sesuatu tanpa harus mengkhianati diri sendiri.
Belakangan gue teringat sebuah episode dari Kino no Tabi yang secara tidak langsung membahas hal ini.
Di sana ada sebuah kota yang terobsesi dengan kejujuran dan menjadi diri sendiri.
Mereka menciptakan semacam liquid komputer yang memungkinkan isi pikiran seseorang langsung ditransmisikan kepada orang lain.
Tidak perlu bicara.
Tidak perlu menyusun kalimat.
Tidak ada waktu untuk berpikir.
Tidak ada waktu untuk masking.
Apa yang dirasakan langsung diketahui.
Apa yang dipikirkan langsung terdengar.
Awalnya terdengar seperti utopia.
Tidak ada salah paham.
Tidak ada kebohongan.
Semua kebutuhan dan keinginan diketahui secara instan.
Namun ternyata semuanya berakhir menjadi mimpi buruk.
Karena manusia tidak hanya memiliki niat baik.
Manusia juga memiliki kemarahan sesaat.
Rasa iri.
Ketakutan.
Prasangka.
Kecurigaan.
Pikiran impulsif.
Pikiran intrusif.
Segala hal yang biasanya muncul lalu menghilang sebelum sempat diucapkan.
Di kota itu semua pikiran tersebut langsung tersebar ke mana-mana.
Setiap rasa kesal diketahui.
Setiap kebencian diketahui.
Setiap pikiran buruk diketahui.
Dan akhirnya masyarakat itu runtuh.
Orang-orang saling membunuh.
Saling menjauhi.
Yang selamat hidup terpencar jauh satu sama lain.
Mereka takut berinteraksi dengan manusia lain.
Takut melihat manusia lain.
Takut dilihat manusia lain.
Ironisnya, masyarakat yang paling mengagungkan keterbukaan total akhirnya menjadi masyarakat yang paling takut terhadap hubungan antarmanusia.
Dan mungkin karena mereka menemukan sesuatu yang sederhana.
Pikiran bukanlah tindakan.
Pikiran bukanlah keputusan.
Pikiran hanyalah bahan mentah.
Yang membedakan manusia beradab dari manusia impulsif adalah kemampuan untuk mengolah bahan mentah itu sebelum melemparkannya ke dunia.
Ada jeda yang sangat penting di antara keduanya.
Pikiran.
Refleksi.
Keputusan.
Tindakan.
Kalau jeda itu dihilangkan, manusia kehilangan sesuatu yang fundamental.
Kemampuan untuk memilih.
Jadi sekarang gue mulai melihat masking dengan cara yang berbeda.
Masking tidak selalu berarti kepalsuan.
Masking tidak selalu berarti kemunafikan.
Kadang masking adalah bentuk regulasi diri.
Kadang masking adalah bentuk kesopanan.
Kadang masking adalah bentuk kasih sayang.
Karena tidak semua yang muncul di kepala perlu keluar dari mulut.
Tidak semua yang muncul di hati perlu dilemparkan ke orang lain.
Privasi bukan musuh kejujuran.
Privasi adalah ruang yang memungkinkan kejujuran diproses sebelum dibagikan.
Sama seperti pakaian tidak membuat manusia menjadi palsu, batasan emosional juga tidak membuat manusia menjadi munafik.
Mungkin ukuran yang lebih penting bukanlah apakah gue menunjukkan semuanya.
Mungkin pertanyaannya adalah:
"Apakah apa yang gue tunjukkan bertentangan dengan siapa diri gue sebenarnya?"
Kalau jawabannya tidak, maka mungkin yang gue lakukan bukan kemunafikan.
Mungkin itu hanya kebijaksanaan dalam memilih siapa yang boleh melihat bagian mana dari diri gue.
No comments:
Post a Comment