Gue keingetan sama reality show lama, Nanny 911.
Konsepnya sederhana. Ada keluarga yang sudah berantakan, orang tua kewalahan, anak-anak sulit diatur, lalu datang seorang nanny profesional untuk membantu membereskan semuanya.
Tapi yang paling membekas di kepala gue bukan metode parenting-nya. Bukan hukuman, reward, atau teknik komunikasi yang diajarkan.
Yang paling membekas justru reaksi para orang tua ketika diperlihatkan rekaman video diri mereka sendiri.
Ada yang melihat dirinya membentak anak.
Ada yang melihat dirinya mengabaikan anak.
Ada yang melihat dirinya terus-terusan marah tanpa henti.
Lalu responsnya sering kali sama:
“No. Itu bukan saya.”
Padahal jelas-jelas itu dia.
Wajahnya dia.
Suaranya dia.
Tubuhnya dia.
Tapi dia tetap bilang itu bukan dirinya.
Dulu gue sempat heran.
Gimana mungkin seseorang bisa melihat dirinya sendiri di video lalu bilang, “Itu bukan gue”?
Sekarang gue rasa gue mulai paham.
Karena mungkin kita semua melakukan hal yang sama.
⸻
Manusia hidup dari sudut pandang orang pertama.
Kita tidak pernah benar-benar melihat diri kita sendiri.
Kita hanya merasakan isi kepala kita.
Kita tahu niat kita.
Kita tahu alasan kita.
Kita tahu kelelahan kita.
Kita tahu frustrasi kita.
Kita tahu luka-luka yang kita bawa.
Tapi orang lain tidak melihat semua itu.
Mereka hanya melihat perilaku kita.
Mereka hanya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kita.
Mereka hanya menerima dampaknya.
Dan sering kali ada jarak yang sangat besar antara niat dan dampak.
Di kepala seseorang:
“Gue cuma lagi tegas.”
Di kepala orang lain:
“Dia sedang memaki gue.”
Di kepala seseorang:
“Gue cuma lagi kasih masukan.”
Di kepala orang lain:
“Gue sedang direndahkan.”
Di kepala seseorang:
“Gue cuma lagi capek.”
Di kepala orang lain:
“Dia selalu marah.”
⸻
Kadang gue berpikir, mungkin salah satu keterbatasan terbesar manusia adalah kita tidak bisa melihat diri kita sendiri secara langsung.
Kita bisa melihat wajah kita di cermin.
Tapi kita tidak bisa melihat bagaimana rasanya menjadi orang yang harus berhadapan dengan kita.
Kita tidak bisa melihat bagaimana nada suara kita terdengar.
Bagaimana ekspresi wajah kita terbaca.
Bagaimana komentar-komentar kecil kita menumpuk menjadi luka bagi orang lain.
Bagaimana kebiasaan yang menurut kita normal ternyata membuat orang lain berjalan di atas kulit telur.
Kita tidak melihat itu.
Kita hanya melihat versi internal diri kita.
⸻
Mungkin itu sebabnya banyak orang menolak feedback.
Bukan karena mereka jahat.
Bukan karena mereka tidak peduli.
Tapi karena menerima feedback tertentu berarti menerima kenyataan yang menyakitkan.
Kalau rekaman itu memang gue…
Kalau cerita mereka memang benar…
Kalau pengalaman mereka memang valid…
Maka mungkin selama ini gue sudah menyakiti orang lain lebih dari yang gue sadari.
Dan itu bukan hal yang mudah untuk diterima.
Jauh lebih mudah mengatakan:
“Mereka terlalu sensitif.”
“Mereka salah paham.”
“Itu bukan maksud gue.”
“Itu bukan gue.”
⸻
Yang ironis adalah, semakin yakin seseorang bahwa dirinya pasti benar, semakin kecil kemungkinan dia melihat dirinya dengan jernih.
Karena tidak ada manusia yang bisa menjadi hakim yang sepenuhnya objektif atas dirinya sendiri.
Kita semua punya blind spot.
Punya pembenaran.
Punya narasi.
Punya cerita yang kita ulang terus-menerus di dalam kepala sampai akhirnya terdengar seperti kebenaran mutlak.
Padahal belum tentu.
⸻
Kadang gue bertanya-tanya.
Kalau hidup ini punya fitur replay seperti rekaman CCTV…
Kalau kita bisa duduk dan melihat kembali semua percakapan kita dari sudut pandang orang ketiga…
Berapa banyak momen yang akan membuat kita berkata:
“Anjir.”
“Ternyata gue ngomong kayak gitu ya.”
“Ternyata ekspresi gue kayak gitu ya.”
“Ternyata gue nyakitin orang segitunya ya.”
“Ternyata gue juga punya andil dalam masalah ini.”
⸻
Mungkin pertumbuhan tidak selalu dimulai dari belajar hal baru.
Mungkin kadang pertumbuhan dimulai ketika kita akhirnya berani melihat diri sendiri tanpa pembelaan.
Tanpa alasan.
Tanpa narasi.
Tanpa pembenaran.
Hanya melihat.
Dan mengakui.
“Ya. Itu memang gue.”
Karena selama seseorang masih berkata “itu bukan gue”, tidak ada yang bisa berubah.
Tapi ketika seseorang akhirnya bisa berkata “ya, itu gue - dan gue salah”, mungkin dari situlah perubahan yang sebenarnya dimulai.
No comments:
Post a Comment