Jika dihitung secara harfiah, umurku hanyalah sekian puluh tahun.
Namun terkadang aku merasa telah hidup jauh lebih lama dari itu.
Sejak kecil, aku menyukai cerita. Awalnya melalui komik. Kemudian video game. Terutama RPG. Aku selalu tertarik pada permainan yang tidak hanya memberiku tantangan, tetapi juga mengajakku tinggal sejenak di dunia lain.
Di sana, aku bukan sekadar pemain.
Aku adalah pengelana yang menempuh jalan panjang melintasi kerajaan yang asing. Aku adalah pahlawan yang berjuang menyelamatkan dunia. Aku adalah penyihir, ksatria, pencuri, petualang, dan terkadang bahkan tokoh yang harus menghadapi kegagalan, kehilangan, atau kematian.
Ketika sebuah permainan berakhir, aku sering merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah aku baru saja pulang dari perjalanan yang sangat jauh.
Padahal tubuhku tidak pernah ke mana-mana.
Yang bepergian adalah sebagian dari diriku.
Seiring waktu, kecintaanku pada cerita berkembang. Aku tidak hanya membaca dan memainkan cerita. Aku mulai menulisnya.
Dan ketika mulai menulis, aku menyadari sesuatu.
Karakter-karakter yang kutemui di atas kertas mungkin tidak pernah benar-benar ada. Namun mereka membawa bagian-bagian dari diriku yang nyata.
Ada tokoh yang membawa ketakutanku.
Ada tokoh yang membawa harapanku.
Ada tokoh yang mengucapkan kata-kata yang tidak pernah berhasil kuucapkan.
Ada tokoh yang menjalani kehidupan yang tidak pernah sempat kujalani.
Mungkin karena itu aku begitu terikat pada mereka.
Karena setiap cerita, pada akhirnya, adalah percakapan antara seorang penulis dengan dirinya sendiri.
Mungkin itu juga alasan lain mengapa aku begitu mencintai menulis.
Di dunia nyata, aku tidak selalu bisa menjadi diriku sepenuhnya.
Ada peran yang harus dimainkan. Ada ekspektasi yang harus dipenuhi. Ada bagian-bagian diri yang terkadang terlalu rumit, terlalu rapuh, atau terlalu sulit dijelaskan kepada orang lain.
Tetapi ketika menulis, semua itu menghilang.
Di atas halaman kosong, aku tidak perlu menyembunyikan apa pun.
Aku bisa menuangkan ketakutanku, kemarahanku, harapanku, keraguanku, bahkan bagian-bagian diriku yang mungkin tidak akan pernah benar-benar dipahami oleh siapa pun.
Melalui tokoh-tokoh yang kuciptakan, aku bisa berbicara dengan suara yang selama ini hanya hidup di dalam kepalaku.
Dan mungkin karena itu, menulis selalu terasa seperti pulang.
Karena di sanalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku sendiri secara utuh.
Melalui cerita, aku belajar memahami banyak sudut pandang yang tidak pernah kutemui dalam kehidupanku sendiri.
Aku belajar membayangkan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang berbeda.
Menjadi orang yang lahir dalam keadaan yang berbeda.
Menghadapi luka yang berbeda.
Membuat pilihan yang berbeda.
Cerita mengajarkanku bahwa manusia jauh lebih rumit daripada sekadar benar dan salah.
Dan mungkin karena itu aku mencintainya.
Terkadang aku juga bertanya pada diriku sendiri, apakah semua ini hanyalah bentuk pelarian?
Mungkin sebagian memang demikian.
Karena hidup tidak selalu mudah.
Realitas tidak selalu ramah.
Ada hari-hari ketika beban terasa terlalu berat. Ada luka yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan logika. Ada penyesalan yang tidak bisa diubah menjadi masa lalu yang berbeda.
Di saat seperti itu, aku sering kembali kepada cerita.
Bukan untuk melupakan kenyataan.
Bukan untuk berpura-pura bahwa masalah tidak ada.
Melainkan untuk beristirahat sejenak.
Untuk bernapas.
Untuk mengingat bahwa dunia selalu lebih besar daripada kesulitan yang sedang kuhadapi hari ini.
Melalui cerita, aku bisa menemukan akhir yang tidak pernah kudapatkan di dunia nyata.
Aku bisa melihat orang-orang saling memaafkan.
Aku bisa melihat mereka pulang.
Aku bisa melihat mereka menemukan cinta.
Aku bisa melihat mereka mendapatkan kesempatan kedua.
Dan terkadang, menyaksikan semua itu terasa cukup untuk membuatku bertahan sedikit lebih lama.
Namun aku tidak pernah ingin tinggal selamanya di sana.
Karena seindah apa pun dunia fantasi, aku tahu itu bukan rumahku.
Rumahku tetap berada di sini.
Di dunia nyata yang sering berantakan.
Di dunia nyata yang kadang melelahkan.
Di dunia nyata yang tidak selalu memberikan jawaban.
Aku tetap bekerja.
Aku tetap menjalani hidup.
Aku tetap menghadapi hari-hari yang harus dihadapi.
Cerita bagiku bukanlah tempat untuk menghilang.
Cerita adalah tempat untuk berteduh.
Sebuah rumah singgah.
Tempat aku beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Dan mungkin, di hari tuaku nanti, aku tidak hanya akan mengenang tahun-tahun yang kujalani sebagai diriku sendiri.
Aku juga akan mengenang semua dunia yang pernah kukunjungi.
Semua tokoh yang pernah kutemui.
Semua perjalanan yang pernah kutempuh.
Semua kehidupan yang pernah kupinjam melalui halaman-halaman buku, layar permainan, dan cerita-cerita yang kutulis sendiri.
Karena melalui semua itu, aku menyadari satu hal.
Meskipun waktu hidup manusia terbatas, cerita telah memberiku kesempatan untuk hidup lebih dari satu kehidupan.
No comments:
Post a Comment