Hari ini gue mendengar sebuah cerita yang cukup membekas di kepala gue.
Ini bukan cerita tentang orang bodoh. Justru sebaliknya. Ini cerita tentang seorang wanita yang sukses. Kariernya bagus, posisinya tinggi, dan sepanjang hidupnya dia terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Kalau ada target, dia kejar. Kalau ada hambatan, dia cari jalan lain. Kalau ada pintu tertutup, dia cari pintu lain untuk masuk.
Dan jujur saja, mungkin pola pikir seperti itulah yang membantu dia sampai ke posisi yang sekarang.
Tapi ada satu hal yang menarik.
Dia juga punya ego yang besar. Bukan dalam arti suka menyombongkan diri, tapi lebih ke tipe orang yang sulit menerima kata "tidak". Kalau dia menginginkan sesuatu, dia akan berusaha mendapatkannya. Apa pun caranya.
Suatu hari dia jatuh hati pada seorang pria.
Masalahnya, banyak orang di sekitarnya sudah memperingatkan bahwa mereka tidak cocok. Teman-teman melihatnya. Keluarga melihatnya. Orang-orang yang mengenal keduanya melihatnya.
Mereka bukan mengatakan bahwa hubungan itu mustahil. Mereka hanya melihat ada perbedaan karakter yang cukup mendasar dan berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.
Tapi ketika seseorang sudah sangat menginginkan sesuatu, sering kali semua suara peringatan terdengar seperti gangguan.
Pada akhirnya dia berhasil mendapatkan pria tersebut.
Mereka pacaran.
Lalu menikah.
Dan setelah hidup bersama, barulah perlahan-lahan semua peringatan yang dulu terdengar berlebihan mulai terbukti.
Mereka memang tidak cocok.
Bukan karena ada yang jahat.
Bukan karena ada yang kurang.
Mereka hanya tidak cocok.
Sayangnya, kesadaran itu datang setelah semuanya terlanjur jauh.
Seiring waktu, dia mulai merasa tidak bahagia. Hubungan yang dulu diperjuangkan mati-matian justru menjadi sumber kelelahan. Lalu dia bertemu pria lain yang menurutnya jauh lebih cocok dengannya.
Hubungan itu berkembang menjadi perselingkuhan.
Dan setelah berlangsung cukup lama, dia memutuskan ingin mengakhiri pernikahannya dan bersama pria yang baru.
Di titik itulah tragedi terjadi.
Suaminya tidak bisa menerima kenyataan tersebut dan menyiram wajahnya dengan air keras.
Dalam sekejap, hidup yang selama ini dia bangun runtuh.
Wajahnya hancur.
Kariernya terdampak.
Pria yang selama ini dianggap soulmate pun akhirnya tidak mau melanjutkan hubungan dengannya.
Segalanya berubah hanya dalam hitungan detik.
Waktu mendengar cerita ini, ada satu hal yang terus terngiang di kepala gue.
Tidak semua hal yang bisa didapatkan seharusnya dipaksakan untuk didapatkan.
Sering kali orang yang sukses dalam karier membawa pola pikir yang sama ke dalam hubungan.
Ada target? Kejar.
Ada hambatan? Cari solusi.
Ada penolakan? Coba lagi.
Ada kompetitor? Kalahkan.
Di dunia profesional, pola pikir seperti ini sering menghasilkan prestasi.
Tapi hubungan manusia bukan proyek.
Perasaan bukan KPI.
Kompatibilitas bukan sesuatu yang bisa ditaklukkan dengan kemauan keras.
Kadang orang yang terbiasa menang dalam hidup mulai percaya bahwa semua hal bisa ditaklukkan dengan usaha yang cukup. Padahal ada area kehidupan yang justru membutuhkan kemampuan untuk menerima kenyataan, bukan menaklukkannya.
Ada perbedaan besar antara mencintai sesuatu dan harus memiliki sesuatu.
Kalimat:
"Gue mencintai orang ini."
dan
"Gue harus mendapatkan orang ini."
terdengar mirip, tetapi sebenarnya sangat berbeda.
Yang pertama lahir dari kasih sayang.
Yang kedua sering kali lahir dari ego.
Ketika banyak orang memperingatkan bahwa sebuah hubungan mungkin tidak sehat atau tidak cocok, mungkin kita tidak perlu langsung percaya. Orang lain juga bisa salah.
Tapi kalau hampir semua orang yang mengenal situasi tersebut mengatakan hal yang sama, mungkin ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya:
"Apa yang mereka lihat yang gue nggak lihat?"
Bukan untuk menyerahkan keputusan kepada orang lain.
Tapi untuk memastikan bahwa kita tidak sedang buta oleh keinginan kita sendiri.
Ada ironi lain yang menarik.
Wanita itu pada akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan.
Pria yang dia incar berhasil didapatkan.
Hubungan berhasil.
Pernikahan berhasil.
Target tercapai.
Tapi justru setelah target tercapai, dia menyadari bahwa target itu sendiri bukan jawaban.
Dan gue rasa ini bukan cuma soal hubungan.
Banyak orang berpikir:
"Kalau gue dapat pekerjaan itu, gue pasti bahagia."
"Kalau gue dapat pasangan itu, gue pasti bahagia."
"Kalau gue punya jabatan itu, gue pasti bahagia."
Lalu ketika semuanya berhasil didapatkan, mereka baru sadar bahwa kebahagiaan ternyata tidak otomatis datang bersama pencapaian tersebut.
Tentu saja, ada satu hal yang harus ditegaskan.
Apa pun kesalahan yang dilakukan wanita itu, perselingkuhan tetap tidak pernah menjadi pembenaran untuk kekerasan.
Penyiraman air keras adalah kejahatan.
Titik.
Tidak ada alasan yang bisa membenarkannya.
Karena pada akhirnya, cerita ini bukan tentang siapa yang lebih salah.
Bukan tentang mencari penjahat dan korban.
Melainkan tentang bagaimana serangkaian keputusan yang lahir dari ego, penyangkalan, luka batin, dan ketidakmampuan menerima kenyataan dapat membawa hidup seseorang ke arah yang tragis.
Dulu gue berpikir bahwa berkah terbesar adalah mendapatkan apa yang gue inginkan.
Sekarang gue mulai curiga bahwa sebagian berkah terbesar dalam hidup justru datang dari hal-hal yang gagal gue dapatkan.
Orang yang menolak gue.
Hubungan yang tidak jadi.
Kesempatan yang lewat.
Rencana yang gagal.
Saat itu semuanya terasa seperti kekalahan.
Tapi bertahun-tahun kemudian, sering kali gue melihat ke belakang dan berkata:
"Untung dulu nggak jadi."
Dan mungkin itu salah satu pelajaran paling sulit dalam hidup.
Kadang-kadang hidup melindungi kita bukan dengan memberikan apa yang kita minta.
Melainkan dengan menahannya dari kita.
No comments:
Post a Comment