Pagi ini aku tiba-tiba teringat pada sebuah pengalaman yang mungkin pernah dialami oleh hampir semua anak yang tumbuh pada era sebelum internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat itu, hiburan datang dari televisi. Kami tidak bisa memilih apa yang ingin ditonton kapan saja. Kami hanya bisa menunggu. Menunggu episode berikutnya dari acara favorit kami tayang minggu depan, atau bahkan lebih lama lagi.
Di antara jeda itulah sesuatu yang menarik terjadi.
Kami berimajinasi.
Ketika sebuah episode berakhir, kisahnya tidak benar-benar berhenti di dalam kepala kami. Justru sebaliknya. Kisah itu terus hidup dan berkembang melalui khayalan kami sendiri. Kami tidak sekadar mengingat cerita yang sudah ditonton; kami masuk ke dalamnya.
Aku ingat bagaimana aku sering membayangkan diriku sebagai Serge dari Chrono Cross. Namun yang menarik, aku tidak hanya membayangkan diriku sebagai Serge. Perlahan-lahan, dunia di sekelilingku juga berubah. Rumah tempat tinggalku bukan lagi sekadar rumah biasa; ia menjadi bagian dari El Nido. Orang-orang yang kutemui bukan lagi sekadar tetangga atau anggota keluarga; mereka menjadi penduduk dari Arni Village atau tempat-tempat lain di dunia Chrono Cross.
Hal yang sama terjadi ketika aku mengidolakan Vahn dari Legend of Legaia. Rumahku terasa seperti Rim Elm. Jalanan yang kulewati menjadi bagian dari dunia Legaia yang dipenuhi Mist. Orang-orang di sekelilingku seakan menjadi karakter yang hidup di dalam semesta yang sama.
Aku yakin banyak anak lain mengalami hal serupa. Mungkin mereka membayangkan diri sebagai Spider-Man, Superman, Sherlock Holmes, atau tokoh favorit lainnya. Tokohnya berbeda, tetapi mekanismenya sama. Mereka membayangkan diri menjadi sosok yang mereka kagumi. Mereka mencoba berpikir seperti tokoh itu, berbicara seperti tokoh itu, bertindak seperti tokoh itu. Bahkan lingkungan di sekitar mereka perlahan menyatu dengan dunia tempat tokoh tersebut berasal.
Saat itu aku mengira semua itu hanyalah permainan anak-anak.
Namun setelah dewasa dan mempelajari berbagai tradisi spiritual, terutama praktik-praktik dalam Vajrayana Buddhism seperti Yidam Yoga atau Generation Stage, aku mulai melihat sesuatu yang mengejutkan.
Prinsip dasarnya ternyata sangat mirip.
Dalam praktik tersebut, seseorang membayangkan dirinya sebagai Buddha atau Bodhisattva tertentu. Ia membayangkan lingkungannya sebagai mandala suci. Ia membayangkan setiap makhluk yang ditemuinya sebagai penghuni mandala tersebut. Hari demi hari, ia berlatih untuk berpikir, berbicara, dan bertindak sesuai kualitas-kualitas tercerahkan yang ingin diwujudkannya.
Dan tiba-tiba aku menyadari bahwa anak-anak sebenarnya melakukan sesuatu yang serupa secara alami.
Mereka memilih seorang tokoh yang mereka kagumi. Mereka membayangkan diri menjadi tokoh tersebut. Mereka membayangkan dunia di sekitar mereka sebagai dunia sang tokoh. Mereka hidup di dalam identitas itu selama berjam-jam setiap hari.
Perbedaannya mungkin hanya pada objek yang dipilih.
Anak kecil bermain menjadi pahlawan.
Praktisi spiritual berlatih menjadi Buddha.
Namun keduanya sama-sama menggunakan imajinasi sebagai sarana transformasi diri.
Namun setelah merenungkannya lebih jauh, aku juga menyadari bahwa ada perbedaan yang cukup fundamental di antara keduanya.
Ketika seorang anak membayangkan dirinya sebagai Spider-Man, Superman, atau tokoh fiksi lainnya, ia sedang mengidentifikasi dirinya dengan sosok yang lahir dari kreativitas seorang pengarang. Tokoh-tokoh tersebut mungkin membawa nilai-nilai luhur seperti keberanian, pengorbanan, atau keadilan, tetapi keberadaan mereka sendiri berada di ranah fiksi. Mereka adalah kemungkinan yang dibayangkan.
Tentu saja, siapa yang tahu? Mungkin di suatu tempat, di alam semesta lain dengan hukum-hukum yang berbeda, sosok-sosok seperti itu benar-benar dapat eksis. Mungkin ada dunia di mana kemampuan-kemampuan luar biasa tersebut merupakan sesuatu yang nyata. Namun itu semua berada di luar jangkauan pengalaman kita saat ini. Kita tidak pernah menyaksikannya secara langsung di dunia yang kita tinggali sekarang.
Di sinilah aku melihat perbedaan yang sangat menarik dengan praktik visualisasi dalam Buddhisme.
Ketika seorang praktisi Vajrayana membayangkan dirinya sebagai Buddha atau Bodhisattva, ia tidak sedang mengidentifikasi dirinya dengan karakter fiksi yang diciptakan untuk sebuah cerita. Setidaknya dalam pemahaman Buddhis, ia sedang mengidentifikasi dirinya dengan sebuah kemungkinan yang telah terbukti.
Siddhartha Gautama bukanlah tokoh dongeng. Ia adalah sosok historis yang hidup, berjalan di bumi ini, menghadapi penderitaan manusia, menjalani pencarian spiritual, dan akhirnya mencapai apa yang disebut sebagai Kebuddhaan.
Dengan kata lain, praktik tersebut bukan sekadar latihan membayangkan sesuatu yang indah. Ia adalah latihan untuk menyelaraskan diri dengan sebuah capaian yang, menurut tradisi Buddhis, pernah diwujudkan oleh manusia nyata.
Karena itu, visualisasi dalam Vajrayana terasa berbeda bagiku. Ia bukan sekadar permainan imajinasi. Ia lebih menyerupai sebuah pengingat bahwa kualitas-kualitas tercerahkan yang divisualisasikan bukanlah fantasi yang mustahil dicapai. Ada seseorang yang telah menunjukkan bahwa jalan itu dapat ditempuh.
Dalam konteks ini, Buddha menjadi semacam bukti hidup bahwa transformasi batin yang radikal bukan hanya konsep atau harapan kosong. Ia adalah preseden.
Dan mungkin itulah mengapa praktik tersebut memiliki daya yang begitu besar. Bukan karena seseorang sedang berpura-pura menjadi sesuatu yang tidak ada, melainkan karena ia sedang melatih dirinya untuk bergerak menuju sesuatu yang pernah diwujudkan oleh seorang manusia.
Yang lebih menarik lagi adalah kenyataan bahwa proses tersebut tampaknya benar-benar meninggalkan jejak pada perkembangan seseorang. Anak-anak yang mengagumi sosok pemberani sering kali belajar keberanian. Anak-anak yang mengagumi sosok baik hati sering kali belajar belas kasih. Mereka mungkin tidak menyerap semuanya secara sempurna, tetapi sedikit demi sedikit kualitas-kualitas itu meresap ke dalam diri mereka.
Mungkin karena anak-anak belum memiliki identitas yang terlalu kaku. Mereka masih lentur. Mereka masih terbuka. Mereka masih mampu tenggelam sepenuhnya ke dalam sebuah pengalaman.
Ketika dewasa, kita sering meremehkan imajinasi dengan mengatakan, “Itu hanya khayalan.”
Namun semakin kupikirkan, semakin aku merasa bahwa imajinasi bukan sekadar pelarian dari kenyataan. Imajinasi adalah salah satu cara manusia membentuk kenyataan batinnya.
Arsitek membangun gedung yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasinya.
Seniman melahirkan karya yang sebelumnya hanya hidup dalam pikirannya.
Ilmuwan membayangkan teori sebelum menemukan buktinya.
Praktisi spiritual membayangkan pencerahan sebelum mewujudkannya.
Mungkin semua perubahan besar dalam hidup manusia selalu diawali oleh kemampuan untuk membayangkan sesuatu yang belum ada.
Karena itu aku mulai memahami mengapa berbagai tradisi spiritual begitu menghargai kualitas-kualitas yang dimiliki anak kecil. Bukan karena anak kecil naif atau tidak tahu apa-apa. Melainkan karena mereka memiliki kemampuan yang luar biasa untuk percaya, untuk kagum, untuk hadir sepenuhnya, dan untuk hidup di dalam kemungkinan.
Seorang anak melihat sebuah kardus dan berkata, “Ini kapal bajak laut.”
Seorang dewasa melihat kardus yang sama dan berkata, “Ini hanya kardus.”
Mungkin perbedaannya bukan pada benda yang dilihat, melainkan pada cara memandang dunia.
Dan mungkin itulah pelajaran yang perlahan kusadari hari ini.
Ketika kecil, saat aku berlari-lari membayangkan diriku sebagai Serge atau Vahn, aku tidak sedang melarikan diri dari dunia nyata. Aku sedang memberi makna pada dunia nyata. Jalan yang sama terasa lebih hidup. Pepohonan yang sama terasa lebih misterius. Dunia yang sama terasa lebih luas dan penuh petualangan.
Bertahun-tahun kemudian, ketika mempelajari praktik-praktik spiritual yang menggunakan visualisasi dan identifikasi diri sebagai sarana transformasi batin, aku merasakan sesuatu yang aneh sekaligus akrab.
Seolah ada bagian dalam diriku yang berkata:
“Aku pernah melakukan ini sebelumnya.”
Bukan di ruang meditasi.
Bukan di kuil.
Bukan dalam ritual apa pun.
Melainkan saat menjadi seorang anak kecil yang sedang bermain.
---
Manopubbaṅgamā dhammā,
Manoseṭṭhā manomayā;
Manasā ce pasannena,
Bhāsati vā karoti vā;
Tato naṃ sukhamanveti,
Chāyāva anapāyinī
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
Pikiran adalah pemimpin,
Pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni,
Maka kebahagiaan akan mengikutinya,
Bagaikan bayang-bayang yang tak akan meninggalkan bendanya
Manoseṭṭhā manomayā;
Manasā ce pasannena,
Bhāsati vā karoti vā;
Tato naṃ sukhamanveti,
Chāyāva anapāyinī
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
Pikiran adalah pemimpin,
Pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni,
Maka kebahagiaan akan mengikutinya,
Bagaikan bayang-bayang yang tak akan meninggalkan bendanya
Dhammapada - Yamaka Vagga - 2
No comments:
Post a Comment