Ada satu pandangan yang sudah lama bikin gue geleng-geleng kepala.
Pandangan ini biasanya muncul dari generasi yang sangat menjunjung tinggi otoritas, terutama otoritas orang tua dan guru. Menurut mereka, anak-anak tidak boleh terlalu bebas mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Bahkan ada yang percaya bahwa membiarkan anak menulis jurnal pribadi adalah ide buruk.
Alasannya?
Karena kalau anak dibiarkan menulis apa yang dia rasakan, termasuk kemarahan, kekecewaan, atau kebenciannya terhadap orang tua dan guru, maka emosi itu akan semakin besar. Anak akan menjadi pembangkang. Anak akan belajar melawan otoritas.
Karena itulah di banyak keluarga Asia, jurnal anak sering dianggap bukan sebagai ruang pribadi yang harus dihormati, melainkan sebagai barang yang boleh dibuka kapan saja. Bukan untuk memahami apa yang sedang dirasakan anak, melainkan untuk mencari "bukti".
Lalu ketika ditemukan tulisan seperti:
"Aku benci ayahku."
"Aku kesal sama ibuku."
"Guruku tidak adil."
Yang terjadi bukan dialog.
Yang terjadi adalah interogasi.
Anak dipanggil.
Anak dimarahi.
Anak dicap kurang ajar.
Anak dianggap tidak tahu terima kasih.
Lalu keluar kalimat-kalimat klasik:
"Kamu sudah bagus dilahirkan."
"Kamu sudah bagus disekolahkan."
"Kamu sudah bagus dibesarkan."
"Kamu kurang bersyukur."
"Kamu kurang ajar."
Dan seterusnya.
Yang menarik, menurut gue ada kesalahan logika yang sangat besar di sini.
Mereka melihat jurnal yang berisi kemarahan, lalu menyimpulkan bahwa jurnal itulah penyebab kemarahan.
Padahal bisa jadi kenyataannya justru kebalikannya.
Anak tidak marah karena menulis jurnal.
Anak menulis jurnal karena dia sudah marah.
Jurnal hanya menjadi tempat yang aman untuk mengeluarkan apa yang selama ini tidak bisa dia katakan secara langsung.
Ini seperti orang yang demam.
Ketika termometer menunjukkan suhu 39 derajat, kita tidak menyalahkan termometernya.
Termometer hanya menunjukkan apa yang memang sudah ada.
Begitu juga jurnal.
Jurnal bukan pencipta emosi.
Jurnal hanya mengungkapkan emosi yang sudah ada sejak awal.
Bahkan dalam banyak kasus, jurnal justru berfungsi sebagai katup pelepas tekanan.
Bayangkan sebuah panci berisi air yang terus dipanaskan.
Jika uapnya bisa keluar perlahan, tekanannya akan berkurang.
Tapi jika tutupnya dikunci rapat sementara api tetap menyala, cepat atau lambat tekanannya akan menjadi semakin besar.
Yang sering meledak bukan emosi yang diekspresikan.
Yang sering meledak adalah emosi yang dipaksa diam selama bertahun-tahun.
Banyak orang dewasa tampaknya percaya bahwa jika anak tidak diizinkan marah, maka kemarahan itu akan hilang.
Sayangnya emosi tidak bekerja seperti itu.
Emosi yang ditekan tidak hilang.
Dia hanya pindah tempat.
Masuk ke bawah sadar.
Mengendap.
Menumpuk.
Dan suatu hari bisa muncul dalam bentuk yang jauh lebih merusak.
Kadang menjadi depresi.
Kadang menjadi kecemasan.
Kadang menjadi kebohongan.
Kadang menjadi sikap pasif-agresif.
Kadang menjadi ledakan besar ketika anak itu sudah dewasa.
Ada hal lain yang menurut gue sangat penting untuk dibedakan.
Merasa marah tidak sama dengan bertindak kasar.
Anak boleh marah.
Anak boleh kecewa.
Anak boleh merasa diperlakukan tidak adil.
Perasaan-perasaan itu valid.
Yang perlu diarahkan adalah bagaimana dia mengekspresikannya.
Masalahnya, banyak orang tua mencampuradukkan perasaan dan perilaku.
Begitu anak mengungkapkan kemarahan, kemarahannya langsung dianggap sebagai bentuk pembangkangan.
Padahal dua hal itu berbeda.
Seseorang bisa menghormati orang tuanya sekaligus marah kepada orang tuanya.
Seseorang bisa menghormati gurunya sekaligus menganggap gurunya melakukan kesalahan.
Menghormati tidak berarti kehilangan hak untuk berpikir.
Menghormati tidak berarti kehilangan hak untuk merasakan.
Menghormati tidak berarti kehilangan hak untuk berbeda pendapat.
Yang ironis adalah ketika jurnal anak dibaca diam-diam lalu digunakan sebagai senjata untuk menyerangnya.
Menurut gue, tindakan seperti itu justru merusak sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar isi jurnal itu sendiri.
Yaitu kepercayaan.
Karena ketika seorang anak sadar bahwa ruang pribadinya tidak aman, dia tidak belajar menjadi lebih jujur.
Dia belajar menjadi lebih tertutup.
Dia belajar menyembunyikan sesuatu dengan lebih baik.
Dia belajar bahwa berkata jujur itu berbahaya.
Dan itu adalah pelajaran yang sangat mahal.
Kalau suatu hari nanti gue punya anak, gue jauh lebih memilih menemukan tulisan:
"Hari ini gue kesel banget sama bokap."
Daripada dua puluh tahun kemudian mendengar kalimat:
"Gue nggak pernah merasa aman untuk bicara sama bokap."
Karena kalimat pertama masih membuka pintu komunikasi.
Kalimat kedua biasanya muncul ketika pintu itu sudah lama ditutup.
Menurut gue, tujuan membesarkan anak bukanlah menciptakan manusia yang selalu patuh.
Tujuannya adalah menciptakan manusia yang mampu berpikir, mampu merasakan, mampu menilai sesuatu secara kritis, dan tetap memiliki empati terhadap orang lain.
Dan untuk mencapai itu, mereka harus diberi ruang untuk berekspresi.
Bukan dibungkam.
Karena kebebasan berekspresi yang sehat tidak melahirkan pemberontak.
Yang sering melahirkan pemberontakan justru lingkungan yang menghukum kejujuran dan menganggap setiap kritik sebagai ancaman terhadap otoritas.
Kadang-kadang yang paling ditakuti oleh sebagian orang dewasa bukanlah kemarahan anak.
Melainkan kejujuran anak.
No comments:
Post a Comment