Friday, July 17, 2026

Musim Terakhir di Panti Asuhan

Aku sering bertanya-tanya, kapan tepatnya rumah itu berhenti menjadi rumahku.

Barangkali jawabannya bukan pada hari ketika aku pergi meninggalkannya, melainkan jauh sebelumnya, ketika orang-orang mulai memandangku seolah aku adalah tamu yang terlalu lama menetap di tempat yang bukan lagi milikku.

Aku dibesarkan di Panti Asuhan oleh seorang perempuan yang kami semua panggil Suster Bernadette. Beliau bukan ibu kandung kami, tetapi bagiku, beliau adalah orang pertama yang mengajarkan bahwa keluarga tidak selalu lahir dari darah yang sama, melainkan dari orang-orang yang memilih untuk saling menjaga ketika dunia tidak lagi memiliki tempat bagi mereka.


Aku adalah anak paling tua di antara angkatan pertama. Ketika adik-adikku masih sibuk bermain di halaman, aku sudah belajar memperbaiki genting yang bocor bersama tukang bangunan. Ketika mereka tertidur pulas, aku membantu Suster Bernadette menghitung uang donasi yang jumlahnya sering kali tidak cukup untuk membeli beras hingga akhir bulan. Ketika mereka sakit, aku bergantian berjaga di samping tempat tidur mereka sambil berharap demam itu turun sebelum matahari terbit.

Aku tidak pernah menganggap semua itu sebagai pengorbanan. Bagiku, rumah itu adalah hidupku sendiri.

Waktu terus berjalan hingga kami semua tumbuh dewasa. Sebagian besar angkatan pertama memilih tetap tinggal untuk membantu mengurus panti, sementara beberapa lainnya bekerja di luar tetapi masih sering pulang. Tidak lama kemudian, anak-anak yang dulu kami besarkan perlahan menjadi orang dewasa. Mereka adalah angkatan kedua, anak-anak yang dulu kami ajari membaca, mengikat tali sepatu, dan menghadapi rasa takut ketika petir mengguncang malam.

Segalanya berubah setelah Suster Bernadette meninggal dunia.

Tidak ada lagi satu suara yang mampu menyatukan kami ketika perbedaan mulai muncul. Angkatan kedua membawa banyak gagasan baru yang sebenarnya tidak buruk. Mereka ingin panti lebih modern, lebih profesional, dan lebih mandiri. Pada awalnya aku justru bangga melihat mereka memiliki keberanian untuk bermimpi lebih besar daripada kami.

Namun entah sejak kapan, bisik-bisik mulai terdengar di lorong-lorong yang dulu terasa begitu akrab.

“Aku dengar kakak-kakak angkatan pertama masih ingin mengendalikan semua keputusan.”

“Mereka tidak rela melepas kekuasaan.”

“Panti ini seperti milik mereka sendiri.”

Aku bahkan tidak tahu dari mana semua cerita itu berasal. Tidak ada seorang pun yang pernah bertanya langsung kepadaku apakah semua itu benar. Orang-orang hanya mulai menjaga jarak sedikit demi sedikit, seolah fitnah memiliki kaki yang jauh lebih cepat daripada kejujuran.

Suatu sore aku mencoba berbicara kepada salah seorang adik yang dulu sering tertidur di pundakku ketika kami pulang dari gereja.

“Apa memang selama ini kamu melihatku seperti itu?” tanyaku sambil menatapnya.

Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata lirih, “Aku tidak tahu harus percaya siapa, Kak. Semua orang mengatakan hal yang sama, dan aku tidak ingin membuat keadaan menjadi lebih buruk.”

Aku tersenyum kecil, tetapi di dalam dada ada sesuatu yang runtuh tanpa suara.

Bukan karena ia membenciku. Melainkan karena ternyata belasan tahun kebersamaan kami tidak cukup untuk mengalahkan beberapa minggu penuh prasangka.

Pertemuan demi pertemuan berubah menjadi perdebatan. Setiap kalimat yang keluar dari mulutku dianggap sebagai upaya mempertahankan kendali. Setiap usulan dipandang sebagai siasat tersembunyi. Semakin aku mencoba menjelaskan diriku, semakin orang yakin bahwa aku sedang membela kepentinganku sendiri.

Pada akhirnya kami menyerah.

Angkatan pertama memilih pergi satu per satu. Tidak ada upacara perpisahan, tidak ada pelukan, dan tidak ada janji untuk saling mengunjungi. Kami hanya menghilang ke arah yang berbeda, seolah rumah yang selama ini kami bangun bersama tidak pernah benar-benar ada.

Mereka melanjutkan hidup masing-masing, sementara aku tidak. Aku membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berat daripada koper - Aku membawa pulang kepahitan.

Malam demi malam aku membayangkan wajah-wajah mereka yang dulu kupanggil adik. Di dalam pikiranku, kemarahan itu tumbuh menjadi sesuatu yang bahkan membuatku takut mengenali diriku sendiri. Pernah terlintas keinginan yang begitu mengerikan hingga aku sendiri gemetar mengakuinya. Aku ingin mereka merasakan luka yang sama seperti yang kurasakan. Aku ingin membakar tangan dan kaki mereka dengan bara dan dupa, supaya mereka tahu seperti apa rasanya ketika seluruh hidupmu dipelintir menjadi sebuah tuduhan.

Aku tidak pernah melakukan hal itu. Namun kenyataan bahwa aku pernah menginginkannya membuatku merasa telah kehilangan diriku sendiri.

Lalu pada suatu malam, bertahun-tahun setelah semuanya berakhir, aku bermimpi.

Aku berdiri kembali di halaman panti yang sangat kukenal. Pohon mangga tua masih berdiri di sudut halaman, angin masih membawa aroma tanah yang sama, dan di teras depan berdiri seseorang yang sudah lama kurindukan - Suster Bernadette.


Beliau tersenyum seperti biasanya, senyum yang selalu berhasil membuatku merasa pulang.

Aku berlari memeluk beliau tanpa mampu berkata apa pun.

Beliau mengusap kepalaku perlahan sebelum berkata, “Kamu masih membawa beban itu, ya?”

Air mataku mengalir begitu saja.

“Mereka menghancurkan semuanya, Suster. Mereka membuatku terlihat seperti orang yang selama ini hanya mengejar kuasa. Mereka tidak pernah percaya kepadaku.”

Beliau mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.

Setelah aku selesai menangis, beliau memandangku dengan kelembutan yang sama seperti puluhan tahun lalu.

“Mereka masih anak-anak, Nak.”

“Tidak, Suster. Mereka sudah dewasa.”

“Usia bisa bertambah, tetapi hati membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk menjadi dewasa.”

Aku menunduk.

Beliau lalu mengambil sebuah wadah berisi arang yang masih menyala. Di atasnya terdapat dupa yang perlahan mengeluarkan asap tipis. Sebelum sempat kutanyakan apa yang sedang beliau lakukan, beliau meletakkan telapak tangannya sendiri tepat di atas bara yang membara itu.

“Suster!”

Aku berteriak dan mencoba menarik tangan beliau, tetapi beliau tetap tersenyum.

“Suster jangan…”


Kalimatku berhenti karena aku melihat kulit tangan beliau perlahan menghitam.

“Aku tahu kamu ingin memberikan rasa sakit itu kepada mereka,” ucap beliau dengan suara yang begitu tenang hingga membuat dadaku semakin sesak. “Kalau memang rasa sakit itu harus ditanggung oleh seseorang, biarlah aku yang lebih dahulu menanggungnya.”

Aku menangis sejadi-jadinya.

“Suster… jangan… ini bukan salah Suster.”

Beliau hanya menggeleng pelan.

“Biarlah orangtua yang menanggung kesalahan anak-anak nya yang belum dewasa. Tidak ada luka yang benar-benar sembuh jika terus diwariskan. Kamu anakku. Merekapun adalah anakku...”

Di belakang beliau berdiri banyak anak-anak yang tidak pernah kukenal. Wajah mereka asing, pakaian mereka sederhana, dan usia mereka beragam. Satu per satu mereka maju mendekati bara yang sama.

Saat itulah aku menyadari bahwa kami tidak lagi sendirian.

Mereka meletakkan tangan mereka di atas arang yang masih menyala.

Tidak ada seorang pun yang menjerit, tidak ada wajah yang dipenuhi kebencian.

Yang kulihat hanyalah ketenangan yang sulit dijelaskan.

Salah seorang anak kecil memandangku sambil tersenyum.

“Kak, kami akan menanggung penderitaan ini bersamamu, supaya Kakak tidak perlu lagi memikul semuanya sendirian.”

Entah mengapa, kalimat sederhana itu menghancurkan sesuatu yang selama bertahun-tahun membeku di dalam diriku.

Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa selama ini aku terus menggenggam bara itu dengan tanganku sendiri.

Bukan mereka yang membuat tanganku terbakar setiap hari. Aku sendiri yang tidak pernah mau melepaskannya.

Ketika aku terbangun, bantal di bawah kepalaku sudah basah oleh air mata.


Tidak ada lagi halaman panti.
Tidak ada lagi bara.
Tidak ada lagi Suster Bernadette.

Namun entah bagaimana, ada sesuatu yang tertinggal bersamaku.

Aku belum bisa berkata bahwa aku telah memaafkan mereka sepenuhnya. Barangkali luka selama puluhan tahun memang tidak sembuh hanya dalam semalam.

Namun sejak mimpi itu, setiap kali kebencian datang mengetuk pintu hatiku, aku selalu teringat pada sepasang tangan yang dengan rela menyentuh bara, bukan untuk menghukum siapa pun, melainkan agar aku tidak lagi hidup sebagai tawanan dari rasa sakitku sendiri.

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah kasih yang sesungguhnya.
Kasih yang tidak memilih siapa yang paling benar.
Kasih yang memilih memikul luka, agar orang lain tidak perlu terus mewariskannya.

Saturday, July 4, 2026

Pesan di Tengah Malam

Gue masih ingat malam itu karena semuanya terasa terlalu biasa. Habis mandi, gue udah pakai kaos oblong yang mulai pudar warnanya, bikin kopi sachet yang bahkan belum sempat gue minum, lalu rebahan sambil scrolling HP tanpa tujuan. Jam udah lewat tengah malam, notifikasi mulai sepi, dan rasanya dunia lagi sama tenangnya seperti malam-malam sebelumnya.

Lalu nama dia muncul di layar.


"Thanks ya, bro. Makasih udah jadi sahabat gue."

Cuma itu.

Pendek. Terlalu pendek.

Kalau itu dikirim sama orang lain, mungkin gue cuma bakal bales, "Apaan sih tiba-tiba?" sambil ketawa. Tapi yang ngirim adalah dia. Orang yang beberapa tahun lalu pernah cerita gimana rasanya bangun tiap pagi cuma karena tubuhnya belum menyerah, sementara pikirannya sudah menyerah jauh lebih dulu. Orang yang pernah bilang ke gue kalau depresi itu licik, karena kadang justru bikin seseorang kelihatan lebih tenang tepat sebelum mengambil keputusan yang paling buruk.

Jantung gue langsung turun ke perut.

Gue nelepon.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Nggak diangkat.

"Goblok..." gumam gue sambil buru-buru nyari sandal. Lalu gue buang lagi sandalnya karena malah bikin lama. Gue cuma nyamber hoodie tipis, dompet, kunci motor, terus berhenti di depan pintu.

Motor.

Sial.

Kalau nyalain motor, gue harus buka pagar, keluarin motor, nutup pagar lagi. Terlalu lama.

Rumah dia cuma sekitar sepuluh menit kalau lari.

Gue langsung lari.


Sepanjang jalan gue nggak peduli orang ngelihat gue kayak orang gila. Nafas udah ngos-ngosan, dada panas, kaki mulai berat, tapi kepala gue isinya cuma satu.

"Jangan. Tolong jangan."

"Goblok... bangsat... jangan bikin gue telat..." kata gue di sela-sela napas yang udah berantakan.

Setiap beberapa puluh meter gue coba nelepon lagi. Tetap nggak ada jawaban. Tiap nada sambung yang nggak diangkat bikin bayangan di kepala gue makin liar. Gue mulai ngebayangin hal-hal yang bahkan nggak mau gue pikirin.

"Angkat, anjing... angkat..."

Begitu sampai depan rumahnya, lampu teras udah mati. Seluruh rumah kelihatan gelap. Gue bahkan nggak sempat mikir buat pencet bel. Kaki gue langsung muter ke samping rumah menuju jendela kamarnya yang selama ini selalu dia buka kalau malam lagi panas.

Gue gedor jendelanya sekuat tenaga.

BRAK! BRAK! BRAK!

"WOI!"

Nggak ada jawaban.

Gue gedor lagi sampai telapak tangan gue mulai sakit.

"WOI! BUKA! CEPET!"

Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki yang diseret pelan. Tirai bergeser sedikit, lalu wajah kusut dengan rambut acak-acakan muncul dari balik kaca.

Dia nyipit sambil garuk kepala.

"...Hah?"

Begitu jendelanya kebuka, dia nguap lebar.

"Bro... lu ngapain?"

Gue nggak jawab.

Gue langsung narik jendelanya lebih lebar, naik sedikit, terus masuk begitu aja sampai hampir nyenggol meja belajarnya.


Dia bengong.

"WOI! Lu kenapa?"

Gue pegang dua bahunya.

"Lu nggak apa-apa kan?"

"...Hah?"

"Lu nggak ngapa-ngapain kan?"

Dia ngedip dua kali, masih setengah tidur.

"Apaan sih?"

"Gue dapet chat dari lu."

"Oh..."

"OH APANYA?!"

Dia masih melongo beberapa detik sebelum akhirnya sadar.

"...Yang 'makasih udah jadi sahabat gue' itu?"

"IYA YANG ITU!"

Hening.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Terus, sialnya, dia malah ketawa.

Bukan ketawa keras, tapi ketawa yang makin lama makin nggak bisa berhenti.

"Anjir..." katanya sambil nutup muka. "Gue tadi lagi main Gravity Shot."

"Gue nggak peduli lu lagi main apa!"

"Gravity Shoot, bro. Game di HP."

"GUE JUGA NGGAK PEDULI NAMA GIMNYA!"

Dia ketawa sampai duduk di lantai.

"Gue tadi habis menang streak panjang. Tiba-tiba kepikiran aja, 'wah, hidup gue lumayan ya sekarang'. Terus gue jadi pengen bilang makasih ke beberapa orang. Ya salah satunya lu."

Gue masih berdiri sambil ngos-ngosan. Rasanya antara pengen mukul dia, meluk dia, atau pingsan sekalian.

"Lu sadar nggak sih chat kayak gitu tuh serem?"

"Sumpah nggak kepikiran."

"Gue nelepon tujuh kali."

"Hah?"

"DELAPAN KALI KALI INI."

Dia baru lihat HP yang ternyata masih di mode silent di atas kasur.

"Oh..."

"Oh katanya."

Mukanya langsung berubah. Ketawanya pelan-pelan hilang.

"...Sorry, bro."

Gue akhirnya duduk di lantai juga. Nafas gue masih belum normal.

"Kok lu bisa langsung kepikiran sejauh itu?"

Gue diam beberapa saat.

Karena jawabannya terlalu sederhana.

"Karena gue masih inget waktu lu cerita soal masa-masa itu."

Dia ikut diam.

Angin malam masuk pelan lewat jendela yang masih terbuka.

Setelah cukup lama nggak ada yang ngomong, dia nyeletuk pelan.

"Gue udah jauh lebih baik sekarang."

"Gue tahu."

"Tapi lu masih takut."

"Iya."

Dia mengangguk kecil.

"...Makasih."

"Gue benci kalau lu ngomong makasih malam-malam."

Dia ketawa lagi, kali ini pelan.

"Noted."

Orang tuanya sempat kebangun gara-gara ribut di kamar. Setelah gue jelasin sambil setengah malu, bokapnya cuma geleng-geleng kepala lalu bilang, "Ya udah, sekalian aja nginep."

Kami akhirnya duduk di lantai sambil minum teh hangat yang dibikinin nyokapnya. Obrolannya ngalir ke mana-mana. Dari kerjaan yang bikin capek, game yang lagi kami mainkan, sampai film jelek yang entah kenapa tetap kami tonton sampai habis. Sesekali kami ketawa, sesekali diam. Nggak ada pembicaraan besar yang dramatis, cuma dua sahabat yang sama-sama sadar kalau malam itu hampir berubah jadi mimpi buruk hanya karena satu kalimat yang terlalu singkat.

Sebelum tidur, lampu kamar udah dimatiin dan cuma cahaya jalan yang masuk dari sela gorden.

Tiba-tiba dia ngomong.

"Bro."

"Hm?"

"Makasih ya."

Gue langsung noleh.

Dia buru-buru nambahin, "Yang ini konteksnya jelas."

Gue ngakak sambil melempar bantal ke mukanya.

"Besok kalau mau bilang makasih lagi, bilangnya siang bolong aja."

"Deal."


Paginya, semuanya kembali terasa biasa. Kami sarapan, bokapnya sempat ngeledek gue karena datang lewat jendela, nyokapnya masih ketawa tiap lihat muka kami yang kurang tidur, dan dia nganter gue sampai depan pagar.

Sebelum gue pulang, dia nepuk bahu gue pelan.

"Gue serius ya."

"Apa?"

"Enak juga ternyata punya orang yang bakal lari malam-malam cuma gara-gara satu chat."

Gue nyengir.

"Jangan dibiasain. Capek."

Dia ketawa.

Gue juga.

Di jalan pulang gue baru sadar kalau kaki gue lecet, telapak tangan gue merah gara-gara gedor jendela, dan kopi yang gue bikin semalam pasti masih ada di meja rumah dalam keadaan dingin.


Rasanya semua itu sepele.

Karena kalau malam itu ternyata dugaan gue benar, gue bakal rela lari lebih jauh, lebih cepat, dan lebih sering daripada harus hidup dengan penyesalan bahwa gue memilih menganggap satu pesan itu sebagai sesuatu yang biasa.

Wednesday, July 1, 2026

Reactivity

Ada satu perubahan cara gue memandang manusia yang baru terasa setelah bertambah usia. Dulu, setiap tindakan yang terasa mengancam atau tidak menghormati cenderung langsung diterjemahkan sebagai sinyal bahaya. Prinsipnya sederhana: kalau ada yang membentak, balas lebih keras. Kalau ada yang menyerang, lumpuhkan sebelum diserang lagi. Kalau ada ancaman, jangan memberi kesempatan sedikit pun. Meskipun prinsip itu tidak selalu diwujudkan dalam tindakan, pola berpikirnya tetap sama: setiap ancaman harus segera direspons dengan kekuatan yang lebih besar.


Cara berpikir seperti itu tidak muncul begitu saja. Bagi seseorang yang tumbuh terbiasa menghadapi penolakan, invalidasi, emosi yang intens, ditambah karakteristik personal yang membuat dorongan emosional sering kali muncul jauh lebih cepat daripada kemampuan untuk mengeremnya, dunia memang mudah terlihat seperti tempat yang penuh ancaman. Pengalaman menghadapi situasi yang benar-benar berbahaya, termasuk pernah berada dalam ancaman serius, semakin memperkuat keyakinan bahwa menunggu bisa menjadi kesalahan yang fatal.

Namun, semakin banyak bertemu orang dalam lingkungan profesional, semakin terlihat bahwa tidak semua situasi memiliki tingkat urgensi yang sama. Ada orang yang pada pertemuan pertama melakukan sesuatu yang terasa kurang menyenangkan, tetapi karena situasinya menuntut profesionalisme, respons impulsif akhirnya tertahan. Menariknya, setelah hubungan berjalan lebih lama, ternyata orang tersebut justru membawa jauh lebih banyak kebaikan daripada kekurangannya. Mungkin kebiasaan yang kurang berkenan itu hanya satu-dua hal kecil. Mungkin hanya sedang lelah, sedang khilaf, atau sekadar memiliki gaya komunikasi yang berbeda.

Kalau pada saat itu respons yang diberikan adalah membalas dengan kekuatan yang lebih besar, besar kemungkinan hubungan tersebut akan rusak selamanya. Padahal, kerugiannya jauh lebih besar daripada ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh satu kejadian tadi.

Dari situ muncul cara pandang yang berbeda. Bukan berarti setiap perlakuan buruk harus ditoleransi, apalagi membiarkan diri terus-menerus dirugikan. Namun, penilaian terhadap seseorang sebaiknya tidak dibangun hanya dari satu sampel perilaku. Yang jauh lebih penting adalah melihat polanya.


Dalam banyak hal, perilaku manusia lebih mirip sebuah eksperimen daripada sebuah foto. Seorang ilmuwan tidak akan menyusun kesimpulan hanya dari satu kali percobaan. Eksperimen diulang berkali-kali sampai terlihat apakah hasilnya konsisten atau hanya kebetulan. Cara yang sama juga layak diterapkan ketika menilai karakter seseorang. Satu tindakan buruk belum tentu menunjukkan karakter yang buruk, sebagaimana satu tindakan baik juga belum tentu membuktikan bahwa seseorang memang baik.


Yang membedakan adalah konsistensi.

Kalau dari waktu ke waktu pola yang muncul didominasi oleh perilaku yang merugikan orang lain, menjaga jarak menjadi pilihan yang masuk akal. Bahkan saat orang tersebut masih memiliki manfaat tertentu dalam hubungan profesional, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan konfrontasi. Menjaga batas yang sehat sering kali sudah cukup tanpa perlu memutus hubungan secara dramatis.

Sebaliknya, kalau sebagian besar pola yang terlihat justru menunjukkan niat baik, integritas, dan manfaat yang jauh lebih besar daripada kekurangannya, maka satu-dua sifat yang mengganggu menjadi relatif tidak signifikan. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari kekurangan. Justru sedikit ketidaksempurnaan itu sering kali menjadi bagian alami dari sebuah hubungan, seperti sedikit rasa asin dalam makanan manis yang justru membuat rasa manisnya menjadi lebih terasa.


Perubahan terbesar gue bukan terletak pada menjadi lebih lembut atau lebih pasif, melainkan pada perubahan cara mengambil kesimpulan. Dulu, satu kejadian sering kali sudah cukup untuk menjatuhkan vonis. Sekarang, ada kesadaran bahwa karakter seseorang baru benar-benar terlihat setelah cukup banyak data terkumpul. Penilaian yang baik membutuhkan waktu, observasi, dan keberanian untuk menunda reaksi sampai pola mulai terlihat dengan jelas.

Mungkin pelajaran yang paling berharga bukan tentang menjadi lebih mudah memaafkan, melainkan tentang membedakan mana ancaman yang benar-benar nyata dan mana yang hanya tampak seperti ancaman karena pengalaman masa lalu. Tidak semua situasi adalah pertaruhan hidup dan mati. Tidak semua kesalahan adalah tanda bahwa seseorang memang buruk. Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanyalah sedikit waktu untuk mengamati, sebelum memutuskan apakah seseorang layak didekati, dijaga jaraknya, atau benar-benar ditinggalkan.

Hanya Terlihat Bodoh, atau Bodoh Beneran?

Waktu kita masih lebih muda, gue ada kecenderungan untuk mengasumsikan kompetensi. Sering gue berpikir, "Ah, mungkin dia tahu sesuatu yang gue nggak tahu." Itu sebenarnya sikap yang cukup sehat, karena bikin kita rendah hati dan nggak gampang meremehkan orang.

Tapi setelah berkali-kali ketemu orang yang memang mengambil keputusan buruk, mengabaikan data, menolak belajar, atau mengulang kesalahan yang sama... asumsi itu mulai retak.


Ada perbedaan antara:
  • Terlihat bodoh karena kita belum tahu alasan di balik tindakannya.
  • Mengambil keputusan yang buruk karena informasi yang dia punya terbatas.
  • Memang tidak kompeten, dan bahkan tidak sadar bahwa dirinya tidak kompeten.

Nah, kategori terakhir itu memang ada. Dan jumlahnya mungkin lebih banyak daripada yang dulu kita bayangkan. Dalam psikologi bahkan ada konsep Dunning–Kruger effect, yaitu ketika orang yang kemampuan atau pengetahuannya rendah justru cenderung melebih-lebihkan kemampuannya sendiri. Jadi bukan cuma salah, tapi juga merasa dirinya benar.

Yang menurut gue perlu dijaga adalah jangan sampai bergeser ke ekstrem sebaliknya, yaitu:
"Kalau dia kelihatan bodoh, berarti pasti bodoh."

Karena itu juga bisa menjebak kita. Ada kalanya seseorang memang kelihatan membuat keputusan aneh, padahal dia punya constraint yang kita nggak tahu, atau dia sedang mengoptimalkan tujuan yang berbeda.

Jadi sekarang gue lebih suka pakai prinsip yang agak pragmatis:
Mulailah dengan memberi benefit of the doubt, tapi jangan mempertahankannya tanpa batas.

Kalau sekali-dua kali orang membuat keputusan yang terlihat aneh, ya cari tahu dulu konteksnya.

Kalau setelah berkali-kali:
  • dia menolak bukti,
  • mengulang kesalahan yang sama,
  • tidak pernah belajar,
  • dan hasilnya konsisten buruk,

ya... saat itu lebih realistis menerima bahwa tingkat kompetensinya memang rendah di area tersebut. Bukan berarti dia bodoh sebagai manusia secara keseluruhan—setiap orang punya domain kuat dan lemah—tetapi untuk urusan itu, memang tidak bijak mengandalkan dia.

Perubahan cara pandang ini juga mencerminkan sesuatu yang sering terjadi pada orang yang lama bekerja di dunia produk atau manajemen. Di awal karier, kita cenderung menganggap semua keputusan pasti didasarkan pada pertimbangan matang. Setelah melihat organisasi dari dekat, kita baru sadar bahwa banyak keputusan ternyata lahir dari kombinasi ego, bias, politik kantor, kebiasaan lama, atau sekadar kurangnya kemampuan berpikir sistematis.

Itu memang membuat pandangan jadi lebih realistis. Tantangannya adalah tetap mempertahankan rasa ingin tahu, supaya kita tidak kehilangan kemampuan untuk terkejut ketika ternyata seseorang yang awalnya kita nilai rendah justru punya alasan yang valid.