Wednesday, July 1, 2026

Reactivity

Ada satu perubahan cara gue memandang manusia yang baru terasa setelah bertambah usia. Dulu, setiap tindakan yang terasa mengancam atau tidak menghormati cenderung langsung diterjemahkan sebagai sinyal bahaya. Prinsipnya sederhana: kalau ada yang membentak, balas lebih keras. Kalau ada yang menyerang, lumpuhkan sebelum diserang lagi. Kalau ada ancaman, jangan memberi kesempatan sedikit pun. Meskipun prinsip itu tidak selalu diwujudkan dalam tindakan, pola berpikirnya tetap sama: setiap ancaman harus segera direspons dengan kekuatan yang lebih besar.


Cara berpikir seperti itu tidak muncul begitu saja. Bagi seseorang yang tumbuh terbiasa menghadapi penolakan, invalidasi, emosi yang intens, ditambah karakteristik personal yang membuat dorongan emosional sering kali muncul jauh lebih cepat daripada kemampuan untuk mengeremnya, dunia memang mudah terlihat seperti tempat yang penuh ancaman. Pengalaman menghadapi situasi yang benar-benar berbahaya, termasuk pernah berada dalam ancaman serius, semakin memperkuat keyakinan bahwa menunggu bisa menjadi kesalahan yang fatal.

Namun, semakin banyak bertemu orang dalam lingkungan profesional, semakin terlihat bahwa tidak semua situasi memiliki tingkat urgensi yang sama. Ada orang yang pada pertemuan pertama melakukan sesuatu yang terasa kurang menyenangkan, tetapi karena situasinya menuntut profesionalisme, respons impulsif akhirnya tertahan. Menariknya, setelah hubungan berjalan lebih lama, ternyata orang tersebut justru membawa jauh lebih banyak kebaikan daripada kekurangannya. Mungkin kebiasaan yang kurang berkenan itu hanya satu-dua hal kecil. Mungkin hanya sedang lelah, sedang khilaf, atau sekadar memiliki gaya komunikasi yang berbeda.

Kalau pada saat itu respons yang diberikan adalah membalas dengan kekuatan yang lebih besar, besar kemungkinan hubungan tersebut akan rusak selamanya. Padahal, kerugiannya jauh lebih besar daripada ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh satu kejadian tadi.

Dari situ muncul cara pandang yang berbeda. Bukan berarti setiap perlakuan buruk harus ditoleransi, apalagi membiarkan diri terus-menerus dirugikan. Namun, penilaian terhadap seseorang sebaiknya tidak dibangun hanya dari satu sampel perilaku. Yang jauh lebih penting adalah melihat polanya.


Dalam banyak hal, perilaku manusia lebih mirip sebuah eksperimen daripada sebuah foto. Seorang ilmuwan tidak akan menyusun kesimpulan hanya dari satu kali percobaan. Eksperimen diulang berkali-kali sampai terlihat apakah hasilnya konsisten atau hanya kebetulan. Cara yang sama juga layak diterapkan ketika menilai karakter seseorang. Satu tindakan buruk belum tentu menunjukkan karakter yang buruk, sebagaimana satu tindakan baik juga belum tentu membuktikan bahwa seseorang memang baik.


Yang membedakan adalah konsistensi.

Kalau dari waktu ke waktu pola yang muncul didominasi oleh perilaku yang merugikan orang lain, menjaga jarak menjadi pilihan yang masuk akal. Bahkan saat orang tersebut masih memiliki manfaat tertentu dalam hubungan profesional, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan konfrontasi. Menjaga batas yang sehat sering kali sudah cukup tanpa perlu memutus hubungan secara dramatis.

Sebaliknya, kalau sebagian besar pola yang terlihat justru menunjukkan niat baik, integritas, dan manfaat yang jauh lebih besar daripada kekurangannya, maka satu-dua sifat yang mengganggu menjadi relatif tidak signifikan. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari kekurangan. Justru sedikit ketidaksempurnaan itu sering kali menjadi bagian alami dari sebuah hubungan, seperti sedikit rasa asin dalam makanan manis yang justru membuat rasa manisnya menjadi lebih terasa.


Perubahan terbesar gue bukan terletak pada menjadi lebih lembut atau lebih pasif, melainkan pada perubahan cara mengambil kesimpulan. Dulu, satu kejadian sering kali sudah cukup untuk menjatuhkan vonis. Sekarang, ada kesadaran bahwa karakter seseorang baru benar-benar terlihat setelah cukup banyak data terkumpul. Penilaian yang baik membutuhkan waktu, observasi, dan keberanian untuk menunda reaksi sampai pola mulai terlihat dengan jelas.

Mungkin pelajaran yang paling berharga bukan tentang menjadi lebih mudah memaafkan, melainkan tentang membedakan mana ancaman yang benar-benar nyata dan mana yang hanya tampak seperti ancaman karena pengalaman masa lalu. Tidak semua situasi adalah pertaruhan hidup dan mati. Tidak semua kesalahan adalah tanda bahwa seseorang memang buruk. Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanyalah sedikit waktu untuk mengamati, sebelum memutuskan apakah seseorang layak didekati, dijaga jaraknya, atau benar-benar ditinggalkan.

Hanya Terlihat Bodoh, atau Bodoh Beneran?

Waktu kita masih lebih muda, ada kecenderungan untuk mengasumsikan kompetensi. Kita berpikir, "Ah, mungkin dia tahu sesuatu yang gue nggak tahu." Itu sebenarnya sikap yang cukup sehat, karena bikin kita rendah hati dan nggak gampang meremehkan orang.

Tapi setelah berkali-kali ketemu orang yang memang mengambil keputusan buruk, mengabaikan data, menolak belajar, atau mengulang kesalahan yang sama... asumsi itu mulai retak.


Ada perbedaan antara:
  • Terlihat bodoh karena kita belum tahu alasan di balik tindakannya.
  • Mengambil keputusan yang buruk karena informasi yang dia punya terbatas.
  • Memang tidak kompeten, dan bahkan tidak sadar bahwa dirinya tidak kompeten.

Nah, kategori terakhir itu memang ada. Dan jumlahnya mungkin lebih banyak daripada yang dulu kita bayangkan. Dalam psikologi bahkan ada konsep Dunning–Kruger effect, yaitu ketika orang yang kemampuan atau pengetahuannya rendah justru cenderung melebih-lebihkan kemampuannya sendiri. Jadi bukan cuma salah, tapi juga merasa dirinya benar.

Yang menurut gue perlu dijaga adalah jangan sampai bergeser ke ekstrem sebaliknya, yaitu:
"Kalau dia kelihatan bodoh, berarti pasti bodoh."

Karena itu juga bisa menjebak kita. Ada kalanya seseorang memang kelihatan membuat keputusan aneh, padahal dia punya constraint yang kita nggak tahu, atau dia sedang mengoptimalkan tujuan yang berbeda.

Jadi sekarang gue lebih suka pakai prinsip yang agak pragmatis:
Mulailah dengan memberi benefit of the doubt, tapi jangan mempertahankannya tanpa batas.

Kalau sekali-dua kali orang membuat keputusan yang terlihat aneh, ya cari tahu dulu konteksnya.

Kalau setelah berkali-kali:
  • dia menolak bukti,
  • mengulang kesalahan yang sama,
  • tidak pernah belajar,
  • dan hasilnya konsisten buruk,

ya... saat itu lebih realistis menerima bahwa tingkat kompetensinya memang rendah di area tersebut. Bukan berarti dia bodoh sebagai manusia secara keseluruhan—setiap orang punya domain kuat dan lemah—tetapi untuk urusan itu, memang tidak bijak mengandalkan dia.

Perubahan cara pandang ini juga mencerminkan sesuatu yang sering terjadi pada orang yang lama bekerja di dunia produk atau manajemen. Di awal karier, kita cenderung menganggap semua keputusan pasti didasarkan pada pertimbangan matang. Setelah melihat organisasi dari dekat, kita baru sadar bahwa banyak keputusan ternyata lahir dari kombinasi ego, bias, politik kantor, kebiasaan lama, atau sekadar kurangnya kemampuan berpikir sistematis.

Itu memang membuat pandangan jadi lebih realistis. Tantangannya adalah tetap mempertahankan rasa ingin tahu, supaya kita tidak kehilangan kemampuan untuk terkejut ketika ternyata seseorang yang awalnya kita nilai rendah justru punya alasan yang valid.