Saturday, July 4, 2026

Pesan di Tengah Malam

Gue masih ingat malam itu karena semuanya terasa terlalu biasa. Habis mandi, gue udah pakai kaos oblong yang mulai pudar warnanya, bikin kopi sachet yang bahkan belum sempat gue minum, lalu rebahan sambil scrolling HP tanpa tujuan. Jam udah lewat tengah malam, notifikasi mulai sepi, dan rasanya dunia lagi sama tenangnya seperti malam-malam sebelumnya.

Lalu nama dia muncul di layar.


"Thanks ya, bro. Makasih udah jadi sahabat gue."

Cuma itu.

Pendek. Terlalu pendek.

Kalau itu dikirim sama orang lain, mungkin gue cuma bakal bales, "Apaan sih tiba-tiba?" sambil ketawa. Tapi yang ngirim adalah dia. Orang yang beberapa tahun lalu pernah cerita gimana rasanya bangun tiap pagi cuma karena tubuhnya belum menyerah, sementara pikirannya sudah menyerah jauh lebih dulu. Orang yang pernah bilang ke gue kalau depresi itu licik, karena kadang justru bikin seseorang kelihatan lebih tenang tepat sebelum mengambil keputusan yang paling buruk.

Jantung gue langsung turun ke perut.

Gue nelepon.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Nggak diangkat.

"Goblok..." gumam gue sambil buru-buru nyari sandal. Lalu gue buang lagi sandalnya karena malah bikin lama. Gue cuma nyamber hoodie tipis, dompet, kunci motor, terus berhenti di depan pintu.

Motor.

Sial.

Kalau nyalain motor, gue harus buka pagar, keluarin motor, nutup pagar lagi. Terlalu lama.

Rumah dia cuma sekitar sepuluh menit kalau lari.

Gue langsung lari.


Sepanjang jalan gue nggak peduli orang ngelihat gue kayak orang gila. Nafas udah ngos-ngosan, dada panas, kaki mulai berat, tapi kepala gue isinya cuma satu.

"Jangan. Tolong jangan."

"Goblok... bangsat... jangan bikin gue telat..." kata gue di sela-sela napas yang udah berantakan.

Setiap beberapa puluh meter gue coba nelepon lagi. Tetap nggak ada jawaban. Tiap nada sambung yang nggak diangkat bikin bayangan di kepala gue makin liar. Gue mulai ngebayangin hal-hal yang bahkan nggak mau gue pikirin.

"Angkat, anjing... angkat..."

Begitu sampai depan rumahnya, lampu teras udah mati. Seluruh rumah kelihatan gelap. Gue bahkan nggak sempat mikir buat pencet bel. Kaki gue langsung muter ke samping rumah menuju jendela kamarnya yang selama ini selalu dia buka kalau malam lagi panas.

Gue gedor jendelanya sekuat tenaga.

BRAK! BRAK! BRAK!

"WOI!"

Nggak ada jawaban.

Gue gedor lagi sampai telapak tangan gue mulai sakit.

"WOI! BUKA! CEPET!"

Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki yang diseret pelan. Tirai bergeser sedikit, lalu wajah kusut dengan rambut acak-acakan muncul dari balik kaca.

Dia nyipit sambil garuk kepala.

"...Hah?"

Begitu jendelanya kebuka, dia nguap lebar.

"Bro... lu ngapain?"

Gue nggak jawab.

Gue langsung narik jendelanya lebih lebar, naik sedikit, terus masuk begitu aja sampai hampir nyenggol meja belajarnya.


Dia bengong.

"WOI! Lu kenapa?"

Gue pegang dua bahunya.

"Lu nggak apa-apa kan?"

"...Hah?"

"Lu nggak ngapa-ngapain kan?"

Dia ngedip dua kali, masih setengah tidur.

"Apaan sih?"

"Gue dapet chat dari lu."

"Oh..."

"OH APANYA?!"

Dia masih melongo beberapa detik sebelum akhirnya sadar.

"...Yang 'makasih udah jadi sahabat gue' itu?"

"IYA YANG ITU!"

Hening.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Terus, sialnya, dia malah ketawa.

Bukan ketawa keras, tapi ketawa yang makin lama makin nggak bisa berhenti.

"Anjir..." katanya sambil nutup muka. "Gue tadi lagi main Gravity Shot."

"Gue nggak peduli lu lagi main apa!"

"Gravity Shoot, bro. Game di HP."

"GUE JUGA NGGAK PEDULI NAMA GIMNYA!"

Dia ketawa sampai duduk di lantai.

"Gue tadi habis menang streak panjang. Tiba-tiba kepikiran aja, 'wah, hidup gue lumayan ya sekarang'. Terus gue jadi pengen bilang makasih ke beberapa orang. Ya salah satunya lu."

Gue masih berdiri sambil ngos-ngosan. Rasanya antara pengen mukul dia, meluk dia, atau pingsan sekalian.

"Lu sadar nggak sih chat kayak gitu tuh serem?"

"Sumpah nggak kepikiran."

"Gue nelepon tujuh kali."

"Hah?"

"DELAPAN KALI KALI INI."

Dia baru lihat HP yang ternyata masih di mode silent di atas kasur.

"Oh..."

"Oh katanya."

Mukanya langsung berubah. Ketawanya pelan-pelan hilang.

"...Sorry, bro."

Gue akhirnya duduk di lantai juga. Nafas gue masih belum normal.

"Kok lu bisa langsung kepikiran sejauh itu?"

Gue diam beberapa saat.

Karena jawabannya terlalu sederhana.

"Karena gue masih inget waktu lu cerita soal masa-masa itu."

Dia ikut diam.

Angin malam masuk pelan lewat jendela yang masih terbuka.

Setelah cukup lama nggak ada yang ngomong, dia nyeletuk pelan.

"Gue udah jauh lebih baik sekarang."

"Gue tahu."

"Tapi lu masih takut."

"Iya."

Dia mengangguk kecil.

"...Makasih."

"Gue benci kalau lu ngomong makasih malam-malam."

Dia ketawa lagi, kali ini pelan.

"Noted."

Orang tuanya sempat kebangun gara-gara ribut di kamar. Setelah gue jelasin sambil setengah malu, bokapnya cuma geleng-geleng kepala lalu bilang, "Ya udah, sekalian aja nginep."

Kami akhirnya duduk di lantai sambil minum teh hangat yang dibikinin nyokapnya. Obrolannya ngalir ke mana-mana. Dari kerjaan yang bikin capek, game yang lagi kami mainkan, sampai film jelek yang entah kenapa tetap kami tonton sampai habis. Sesekali kami ketawa, sesekali diam. Nggak ada pembicaraan besar yang dramatis, cuma dua sahabat yang sama-sama sadar kalau malam itu hampir berubah jadi mimpi buruk hanya karena satu kalimat yang terlalu singkat.

Sebelum tidur, lampu kamar udah dimatiin dan cuma cahaya jalan yang masuk dari sela gorden.

Tiba-tiba dia ngomong.

"Bro."

"Hm?"

"Makasih ya."

Gue langsung noleh.

Dia buru-buru nambahin, "Yang ini konteksnya jelas."

Gue ngakak sambil melempar bantal ke mukanya.

"Besok kalau mau bilang makasih lagi, bilangnya siang bolong aja."

"Deal."


Paginya, semuanya kembali terasa biasa. Kami sarapan, bokapnya sempat ngeledek gue karena datang lewat jendela, nyokapnya masih ketawa tiap lihat muka kami yang kurang tidur, dan dia nganter gue sampai depan pagar.

Sebelum gue pulang, dia nepuk bahu gue pelan.

"Gue serius ya."

"Apa?"

"Enak juga ternyata punya orang yang bakal lari malam-malam cuma gara-gara satu chat."

Gue nyengir.

"Jangan dibiasain. Capek."

Dia ketawa.

Gue juga.

Di jalan pulang gue baru sadar kalau kaki gue lecet, telapak tangan gue merah gara-gara gedor jendela, dan kopi yang gue bikin semalam pasti masih ada di meja rumah dalam keadaan dingin.


Rasanya semua itu sepele.

Karena kalau malam itu ternyata dugaan gue benar, gue bakal rela lari lebih jauh, lebih cepat, dan lebih sering daripada harus hidup dengan penyesalan bahwa gue memilih menganggap satu pesan itu sebagai sesuatu yang biasa.

No comments: