Hari ini gue keingetan satu memori lama yang ternyata cukup berpengaruh ke cara gue menjalani hidup.
Dulu, waktu masih lebih muda, gue pernah mendengar dua pemuka agama dari dua agama yang berbeda menyampaikan pesan yang intinya mirip. Mereka bilang kalau orang awam sering kali menjadi pengecut. Lari dari masalah. Lari ke hobi, hiburan, musik, mabuk, nonton tanpa henti, dan segala macam distraksi.
Waktu itu gue menerima pesan itu mentah-mentah.
Kalau lagi ada masalah, berarti gue harus terus menghadapinya. Gue nggak boleh kabur. Nggak boleh mengalihkan perhatian. Nggak boleh terlalu menikmati hobi. Kalau gue berhenti mikirin masalah, berarti gue lemah.
Ternyata...
Itu justru menjadi salah satu kesalahan terbesar yang pernah gue lakukan.
Masalah yang seharusnya dipikirkan secukupnya malah gue bawa ke mana-mana. Gue mengunyahnya terus. Siang, malam, sebelum tidur, bangun tidur. Bukannya selesai, malah jadi rumination. Kebencian makin besar. Dendam makin dalam. Pikiran makin gelap.
It doesn't work.
Sampai akhirnya gue cari second opinion ke orang yang lebih berpengalaman.
Yang menarik, justru kebalikannya yang disarankan. Gue disuruh punya lebih banyak hobi, cari aktivitas yang bikin otak istirahat.
Awalnya gue agak bingung. Bukannya itu berarti lari dari masalah?
Tapi setelah gue menjalaninya, gue baru sadar sesuatu.
Ketika pikiran gue punya ruang untuk bernapas, justru gue jadi lebih mampu menghadapi masalah. Gue lebih tenang. Lebih jernih. Bahkan ibadah gue juga terasa lebih baik.
Hari ini gue juga sadar, mungkin instruksi yang dulu gue dengar sebenarnya kurang lengkap.
Masalahnya bukan pada hobinya. Masalahnya adalah kalau hobi dijadikan tempat tinggal.
Kalau setiap ada masalah, kita langsung kabur ke Netflix, game, media sosial, atau apa pun, lalu nggak pernah balik menghadapi kenyataan. Itu jelas nggak sehat.
Tapi sebaliknya juga nggak sehat. Kalau setiap hari kita memaksa diri terus memikirkan masalah tanpa pernah memberi kesempatan otak beristirahat, hasilnya juga bisa sama buruknya.
Lucunya lagi, para pemuka agama sendiri sebenarnya juga melakukan hal yang mirip.
Mereka berdoa, mereka bermeditasi, mereka retreat.
Bukankah itu juga bentuk mengambil jarak sejenak dari hiruk-pikuk masalah?
Bedanya, mereka kembali lagi.
Meditasi bukan untuk tinggal di dalam keheningan selamanya.
Doa bukan untuk menggantikan tanggung jawab.
Keduanya adalah tempat mengisi ulang tenaga supaya bisa kembali menghadapi kehidupan.
Mungkin itu pelajaran yang baru benar-benar gue pahami sekarang.
Keberanian bukan berarti menatap masalah dua puluh empat jam sehari.
Keberanian adalah tahu kapan harus berhenti sebentar, mengisi tenaga, menjernihkan pikiran, lalu kembali lagi menghadapi apa yang memang harus dihadapi.
Karena ternyata, kadang yang gue butuhkan bukan berpikir lebih keras. Tapi memberi ruang supaya pikiran gue bisa bernapas.
No comments:
Post a Comment