Waktu kita masih lebih muda, ada kecenderungan untuk mengasumsikan kompetensi. Kita berpikir, "Ah, mungkin dia tahu sesuatu yang gue nggak tahu." Itu sebenarnya sikap yang cukup sehat, karena bikin kita rendah hati dan nggak gampang meremehkan orang.
Tapi setelah berkali-kali ketemu orang yang memang mengambil keputusan buruk, mengabaikan data, menolak belajar, atau mengulang kesalahan yang sama... asumsi itu mulai retak.
- Terlihat bodoh karena kita belum tahu alasan di balik tindakannya.
- Mengambil keputusan yang buruk karena informasi yang dia punya terbatas.
- Memang tidak kompeten, dan bahkan tidak sadar bahwa dirinya tidak kompeten.
Nah, kategori terakhir itu memang ada. Dan jumlahnya mungkin lebih banyak daripada yang dulu kita bayangkan. Dalam psikologi bahkan ada konsep Dunning–Kruger effect, yaitu ketika orang yang kemampuan atau pengetahuannya rendah justru cenderung melebih-lebihkan kemampuannya sendiri. Jadi bukan cuma salah, tapi juga merasa dirinya benar.
Yang menurut gue perlu dijaga adalah jangan sampai bergeser ke ekstrem sebaliknya, yaitu:
"Kalau dia kelihatan bodoh, berarti pasti bodoh."
Karena itu juga bisa menjebak kita. Ada kalanya seseorang memang kelihatan membuat keputusan aneh, padahal dia punya constraint yang kita nggak tahu, atau dia sedang mengoptimalkan tujuan yang berbeda.
Jadi sekarang gue lebih suka pakai prinsip yang agak pragmatis:
Mulailah dengan memberi benefit of the doubt, tapi jangan mempertahankannya tanpa batas.
Kalau sekali-dua kali orang membuat keputusan yang terlihat aneh, ya cari tahu dulu konteksnya.
Kalau setelah berkali-kali:
- dia menolak bukti,
- mengulang kesalahan yang sama,
- tidak pernah belajar,
- dan hasilnya konsisten buruk,
ya... saat itu lebih realistis menerima bahwa tingkat kompetensinya memang rendah di area tersebut. Bukan berarti dia bodoh sebagai manusia secara keseluruhan—setiap orang punya domain kuat dan lemah—tetapi untuk urusan itu, memang tidak bijak mengandalkan dia.
Perubahan cara pandang ini juga mencerminkan sesuatu yang sering terjadi pada orang yang lama bekerja di dunia produk atau manajemen. Di awal karier, kita cenderung menganggap semua keputusan pasti didasarkan pada pertimbangan matang. Setelah melihat organisasi dari dekat, kita baru sadar bahwa banyak keputusan ternyata lahir dari kombinasi ego, bias, politik kantor, kebiasaan lama, atau sekadar kurangnya kemampuan berpikir sistematis.
Itu memang membuat pandangan jadi lebih realistis. Tantangannya adalah tetap mempertahankan rasa ingin tahu, supaya kita tidak kehilangan kemampuan untuk terkejut ketika ternyata seseorang yang awalnya kita nilai rendah justru punya alasan yang valid.
No comments:
Post a Comment