Konon, di ujung paling utara Negara Cassarine dan ujung paling selatan Negara Eldmoor, ada sebuah desa kecil bernama Tavenford. Desa itu berdiri tepat di tempat dua sungai bertemu. Sungai Silvane dari pegunungan Eldmoor mengalir jernih dan dingin, sementara Sungai Umbra dari dataran Cassarine mengalir tenang dan keruh kecokelatan. Di titik pertemuannya, air kedua sungai berjalan berdampingan berabad-abad tanpa mau bercampur, seolah masing-masing masih ingin mengingat asalnya.
Penduduk desa itu tidak pernah terlalu peduli pada garis perbatasan. Anak-anak dari tepi barat dan tepi timur mandi di sungai yang sama, pedagang menyeberang tanpa ditanya, dan pernikahan antar-tepi sudah menjadi hal biasa. Di desa itulah lahir dua anak lelaki, hanya terpaut beberapa bulan.
Yang satu biasa dipanggil Tor, anak seorang pembuat perahu dari tepi barat. Tubuhnya kurus, kulitnya legam terbakar matahari, dan ia tidak bisa diam lebih dari sepuluh hitungan. Yang satunya bernama Ed, anak seorang penenun dari tepi timur. Ia lebih pendiam, suka mengamati, dan tangannya selalu sibuk membuat sesuatu dari apa saja yang ia temukan.
Mereka bertemu di tengah sungai pada umur enam tahun, ketika Tor nekat berenang menyeberang dan kehabisan tenaga di tengah arus. Ed, yang sedang memancing di atas batu pipih, menjulurkan galahnya.
"Pegang! Jangan lepas!" teriak Ed.
"Aku... tidak... lepas..." jawab Tor terengah-engah sambil mencengkeram galah itu seperti nyawanya.
Sejak hari itu mereka tidak terpisahkan. Mereka memanjat pohon ek tua di tengah desa, mencuri pir milik Nyonya Orla, dan berlomba menyeberang sungai setiap sore. Mereka bahkan punya sandi rahasia berupa siulan: tiga nada pendek dan satu nada panjang, naik di ujungnya, seperti burung yang bertanya.
"Kalau kau dengar ini," kata Tor suatu malam sambil berbaring di atas batu yang masih hangat, "berarti aku ada di dekat sini. Di mana pun."
"Di mana pun?" Ed tertawa kecil.
"Di mana pun. Sungai ini tidak akan bisa memisahkan kita."
Mereka tumbuh menjadi pemuda. Tor mewarisi galangan perahu ayahnya, Ed menggantikan ayahnya di alat tenun, dan hidup terasa seperti sungai yang mengalir tenang. Sampai pada musim kemarau tahun ketika Eldmoor dan Cassarine saling menuduh soal hak atas hulu sungai.
Awalnya hanya kabar di pasar. Lalu datanglah utusan berkuda dari dua arah, membawa gulungan perintah. Para pemuda tepi barat dipanggil ke bawah panji Eldmoor. Para pemuda tepi timur dipanggil ke bawah panji Cassarine. Sungai yang selama ini hanya hiasan, mendadak menjadi garis yang sungguh-sungguh.
Sehari sebelum keberangkatan, seorang juru potret keliling singgah di pasar desa dengan kotak kayunya yang besar. Tor menarik Ed ke depan kotak itu.
"Buat apa, Tor? Kita tidak punya uang lebih," bisik Ed.
"Justru karena itu." Tor merangkul bahu sahabatnya erat-erat. "Supaya kita punya sesuatu yang bisa dipegang kalau nanti rindu."
Juru potret itu mencetak dua lembar. Satu dibawa Tor, satu dibawa Ed. Dalam gambar itu, dua pemuda berdiri saling merangkul, yang satu tertawa lebar, yang satu tersenyum canggung, dan di belakang mereka tampak kabur air kedua sungai yang tidak mau bercampur.
Pagi harinya, di jembatan bambu yang menghubungkan kedua tepi, mereka berpisah. Tidak ada banyak kata. Hanya dua pelukan yang terlalu lama, dan satu siulan pendek dari masing-masing arah ketika punggung mereka sudah saling menjauh.
***
Perang itu berlangsung lama. Sebelas tahun berlalu, dan selama itu desa-desa terbakar, ladang menjadi kuburan, dan nama-nama baru muncul dari medan laga.
Di pihak Eldmoor, ada seorang panglima yang naik dari prajurit biasa berkat kecerdasannya membaca sungai dan arus. Anak buahnya menjulukinya Sang Arus Tenang, karena ia tak pernah tampak panik dalam keadaan terburuk sekalipun.
Di pihak Cassarine, ada seorang panglima yang terkenal ahli menyusun siasat, serapih orang menenun benang menjadi kain. Ia dijuluki Si Sembilan Jari, sebab satu jarinya hilang di pertempuran pertamanya.
Keduanya saling mendengar julukan satu sama lain. Tapi di tengah perang, yang sampai ke telinga hanyalah julukan, bukan nama asli, dan wajah musuh di seberang hanyalah bayangan di balik panji.
***
Pada tahun kedelapan, pasukan Sang Arus Tenang terjebak di Ngarai Kelabu. Kabut turun tebal di malam hari. Pasukan Cassarine sudah menutup mulut ngarai di sisi utara dan menunggu di lereng, menanti fajar untuk menghabisi.
Di atas lereng, Si Sembilan Jari berdiri memandangi kegelapan dengan para perwiranya di sampingnya.
"Panglima, kita tinggal menunggu pagi," kata seorang perwira. "Mereka tidak punya jalan keluar."
Sang panglima tidak menjawab. Ia memperhatikan sesuatu yang aneh. Dari dasar lembah, di antara bunyi tetes embun dan batuk prajurit yang kedinginan, terdengar siulan lirih. Tiga nada pendek, satu nada panjang yang naik di ujungnya.
Tangannya mengepal. Napasnya tertahan.
"Tarik mundur pasukan dari lereng selatan," perintahnya akhirnya.
"Apa? Panglima, itu satu-satunya jalan keluar mereka!"
"Saya tahu." Suaranya terdengar datar, tetapi matanya basah. "Tapi coba kamu lihat, langit tidak berbintang. Badai akan segera datang. Melihat struktur disini, akan sangat rentan longsor. Saya tidak mau mengambil resiko pasukan kita habis oleh karena bencana ini."
Para perwira saling berpandangan sesaat, namun menemukan bahwa logika sang panglima ada benarnya. Malam itu, pasukan Eldmoor menemukan lereng selatan terbuka dan merayap keluar dalam kabut, tanpa tahu mengapa nasib berpihak pada mereka.
Sementara di punggung bukit, Si Sembilan Jari membalas siulan itu satu kali saja, sangat pelan, lalu menunduk dan tidak menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
***
Tiga tahun kemudian, giliran yang lain berhutang.
Pasukan Cassarine kalah telak di dataran Vessmir. Panglima mereka, Si Sembilan Jari, terluka parah dan hanyut di sungai ketika menyelamatkan pasukannya menyeberang. Ia terdampar di pasir tepi sungai, setengah sadar, demam, dengan jubah basah menutupi wajahnya.
Patroli kecil pasukan Eldmoor menemukannya menjelang subuh.
"Panglima, ini panglima musuh!" seru seorang prajurit. "Lihat lambang di bajunya. Kita habisi saja sekarang, perang ini bisa berakhir lebih cepat!"
Sang Arus Tenang berjongkok di samping tubuh itu. Ia sudah mengangkat tangan hendak menyibak hoodie yang menutupi wajah sang panglima, ketika orang itu mengigau pelan dalam demamnya. Bukan kata-kata, melainkan siulan lemah. Tiga nada pendek dan satu nada panjang yang naik di ujungnya.
Tangannya membeku di udara.
"Bawa dia ke rumah tabib di seberang sungai," katanya.
"Panglima?!"
"Dia terluka, dan aku tidak membunuh orang yang tak bisa melawan. Itu perintahku." Ia melepaskan jubah wol kelabunya yang masih kering, yang bagian tepinya bertambal jahitan rapi, lalu menyelimutkannya ke tubuh yang menggigil itu. "Dan jangan bilang siapa-siapa. Kalau ada yang bertanya, kita tidak pernah menemukan siapa pun di sini."
Sebelum matahari terbit, ia sudah pergi lebih dulu. Ia tidak menoleh ke belakang.
***
Perang itu akhirnya selesai juga, tidak dengan kemenangan siapa-siapa, melainkan karena kedua negara sudah terlalu letih. Kedua panglima pulang ke tanah masing-masing, menanggalkan gelar, dan hidup sebagai orang biasa.
Tapi para prajurit yang menyaksikan dua peristiwa itu tidak bisa menutup mulut selamanya. Mereka bercerita di kedai, di pasar, di depan tungku. Cerita itu berpindah dari mulut ke mulut dan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan banyak bumbu di sana-sini: tentang dua panglima yang saling menyelamatkan tanpa pernah tahu wajah satu sama lain, tentang siulan di tengah kabut, tentang jubah yang diselimutkan di pagi buta.
Tak seorang pun tahu nama asli mereka. Hanya julukan yang tersisa. Ada yang berbisik bahwa keduanya lahir di tanah yang sama, dari dua tepi sebuah sungai. Tapi bisik-bisik itu tak pernah dibenarkan siapa pun, sebab dua orang yang paling tahu jawabannya tidak pernah mau menjawab.
Dan sampai hari ini, kata orang-orang tua, kalau malam berkabut di Tavenford, kadang masih terdengar siulan lirih di antara dua arus yang tidak mau bercampur.
***
"...dan begitulah," kata sang kakek sambil menyeruput tehnya, "legenda dua panglima dari Tavenford."
Hujan turun pelan di luar, menimpa genteng dengan irama yang menenangkan. Di beranda sebuah rumah sederhana, seorang lelaki tua bersandar di kursi anyamannya. Di lantai di hadapannya, dua anak duduk bersila dengan mulut setengah terbuka, lupa pada kue gandum madu yang mulai dingin di piring.
Lyra, cucunya yang berumur sepuluh tahun, langsung menegakkan badan. "Terus, Kek? Mereka akhirnya ketemu nggak?"
"Menurut cerita yang kakek dengar, tidak."
"Yaaah." Lyra cemberut. "Sedih banget. Tapi Kek, siapa sebenarnya mereka? Kakek pasti tahu kan, soalnya Kakek hafal banget ceritanya."
Kakek hanya tersenyum, matanya melirik ke arah jendela yang basah oleh hujan. "Nama asli mereka..."
Belum sempat kalimat itu selesai, Fenn, teman sekelas Lyra yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri. Matanya terpaku pada lemari pendek di sudut beranda. Di atasnya, bersandar pada dinding, ada sebuah bingkai foto tua berwarna cokelat pudar.
"Kek," kata Fenn pelan, "itu foto siapa?"
"Yang mana, Nak?"
"Yang itu. Dua orang yang rangkulan itu." Fenn menunjuk dengan jari yang sedikit gemetar. "Yang sebelah kanan itu, wajahnya mirip banget sama foto di rumahku. Di ruang tamu rumahku ada foto yang persis sama. Kata Nenek, itu Kakek Buyutku. Namanya Torin."
Beranda mendadak sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar.
Kakek meletakkan cangkirnya pelan-pelan. Tangannya sedikit bergetar ketika ia berdiri, melangkah ke lemari itu, dan mengambil bingkai foto tersebut. Ia mengusap kacanya dengan ibu jari, seperti sudah ribuan kali ia lakukan.
"Torin," ulangnya lirih. "Jadi kau cicitnya Torin."
"Kakek kenal Kakek Buyutku?" tanya Fenn bingung.
"Tidak, Nak. Kakek tidak pernah bertemu langsung." Kakek menoleh pada Lyra. "Tapi yang di sebelah kirinya itu, yang tersenyum canggung itu, adalah kakek-ku. Namanya Edrin."
Lyra menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pelan-pelan, ia menyambungkan potongan-potongannya. "Tunggu... Kek, jangan bilang... dua panglima tadi itu..."
"Sang Arus Tenang dan Si Sembilan Jari," kata Kakek sambil mengangguk, "adalah dua anak lelaki dalam foto ini."
"Tapi tadi Kakek bilang mereka tidak pernah ketemu," protes Fenn.
"Itu kata legenda. Dan legenda itu memang sengaja dibiarkan begitu." Kakek duduk kembali, foto itu masih dipeluknya. "Kenyataannya lain, Nak. Mereka bertemu. Sering sekali."
Dua anak itu terdiam.
"Setelah perang, di sebuah malam berkabut, kakekku menyeberang diam-diam dengan perahu kecil buatan sahabatnya. Di tengah sungai, di batu pipih tempat mereka dulu berbaring waktu kecil, seseorang sudah menunggu. Tak ada yang bicara. Kakekku bersiul, tiga pendek dan satu panjang, dan dari gelap dibalas dengan siulan yang sama."
"Mereka sudah tahu?" bisik Lyra.
"Mereka sudah tahu. Kakekku mengenali jahitan di tepi jubah itu sejak ia siuman di rumah tabib. Itu jahitan ibu Torin, yang dulu sering ia lihat di rumah sahabatnya. Torin mengenali jari yang hilang itu, begitu ia melihat tangan sahabatnya menuang teh di pertemuan pertama mereka setelah perang." Kakek tersenyum tipis. "Tapi tak satu pun dari mereka mengucapkannya."
"Kenapa, Kek?" tanya Fenn.
"Karena rumor sudah terlanjur beredar, dan rumor itu berbahaya. Seorang panglima Eldmoor yang membiarkan musuhnya lolos, dan seorang panglima Cassarine yang membuka jalan bagi lawannya: di mata kedua negara, itu pengkhianatan. Kalau salah satu dari mereka membenarkan, bukan hanya mereka yang dihukum, tapi juga istri, anak, dan seluruh keluarga mereka."
Kakek menatap hujan. "Selama puluhan tahun, setiap kabut turun, mereka saling mengunjungi. Makan ikan bakar, minum teh, membicarakan panen dan cuaca dan anak-anak yang mulai nakal. Tentang perang, tidak sepatah kata pun. Seolah dengan tidak membicarakannya, mereka bisa menjaga satu-satunya hal yang tidak boleh diambil siapa pun dari mereka."
"Kakek tahu dari mana?" tanya Lyra.
"Ayah Kakek. Waktu kecil ia pernah mengintip dari balik semak dan memergoki mereka. Kakekku membuatnya bersumpah tutup mulut. Baru di ranjang kematiannya, ayah Kakek menceritakannya, dengan pesan agar rahasia ini disimpan sampai keadaannya benar-benar aman." Kakek mengangkat bahu pelan. "Kedua negara kuno itu sekarang sudah tidak ada, Nak. Cuma tinggal nama di buku sejarah. Kedua negara kuno itu sudah melebur menjadi satu akhirnya. Rasanya, sudah aman."
Hening sejenak. Lalu Kakek mengerutkan bibirnya dan bersiul pelan: tiga nada pendek, satu nada panjang yang naik di ujungnya.
Fenn tersentak. Matanya melebar.
"Itu..." bisiknya. "Nenekku sering bersiul begitu kalau lagi masak. Katanya itu siulan turun-temurun dari Kakek Buyut Torin."
Kakek tertawa. "Jadi keluargamu pun ikut menyimpannya selama ini."
Lyra menatap foto itu lama, lalu berkata lirih, "Kek, berarti mereka sebenarnya nggak pernah benar-benar berpisah, ya?"
"Tidak, Nak. Mereka hanya tidak pernah mengakuinya." Kakek mengusap kepala Lyra, lalu menatap Fenn dengan pandangan hangat. "Yang tertunda tiga generasi bukan pertemuan mereka. Hanya pengakuannya. Dan sore ini, dua keluarga akhirnya saling menyebut nama."
Di luar, hujan mulai reda. Di atas lemari pendek itu, dua pemuda dalam bingkai tua tetap saling merangkul, tersenyum pada siapa pun yang mau memandang. Dan di belakang mereka, samar-samar dalam warna cokelat yang memudar, air dari dua sungai itu masih mengalir berdampingan, tidak lagi terasa seperti pemisah, melainkan seperti dua tangan yang akhirnya berjabat.






No comments:
Post a Comment