Pemikiran seperti inilah yang membuat suatu golongan atau kelompok gampang diadu domba:
Kamu adalah bagian dari kelompok ini, kamu adalah bagian dari golongan ini. Kalau ada anggota dari golongan kamu yang dijahati oleh golongan lain, kamu harus pasang badan, ikut marah dan ikut membela orang yang dijahati oleh golongan lain tersebut. Itu yang namanya prinsip kekeluargaan dan gotong royong. Nanti kalau kamu ada masalah sekalipun, orang-orang dari golongan kamu akan bantu untuk membela kamu.
Pemikiran yang ini menyentuh salah satu mekanisme sosial yang cukup berbahaya: ketika solidaritas kelompok berubah menjadi kewajiban untuk membela kelompok tanpa menggunakan penilaian pribadi.
Ada beberapa lapisan menarik di sini.
1. Solidaritas yang berubah menjadi loyalitas buta
Pada dasarnya, prinsip kekeluargaan dan gotong royong bukan sesuatu yang buruk.
Kita membantu orang yang mengalami ketidakadilan. Kita mendukung orang yang membutuhkan pertolongan. Kita tidak membiarkan seseorang menghadapi kesulitan sendirian.
Namun, masalah muncul ketika solidaritas mulai memiliki persyaratan tidak tertulis:
- Kamu harus membela anggota kelompokmu.
- Kamu harus ikut marah ketika anggota kelompokmu disakiti.
- Kamu tidak boleh mempertanyakan tindakan anggota kelompokmu.
- Kamu harus menganggap kelompok lain sebagai pihak yang berlawanan.
- Kalau kamu tidak ikut membela, loyalitasmu terhadap kelompok akan dipertanyakan.
Di titik ini, solidaritas bukan lagi tentang kepedulian. Ia menjadi alat untuk mengendalikan perilaku anggota kelompok.
2. Identitas kelompok menggantikan penilaian moral individu
Ini bagian yang menurut gue paling penting.
Seseorang bisa saja melakukan kesalahan, tetapi karena dia bagian dari kelompok kita, kita merasa harus membelanya.
Sebaliknya, seseorang dari kelompok lain bisa saja menjadi korban ketidakadilan, tetapi kita enggan membelanya karena dia bukan bagian dari kelompok kita.
Akibatnya, standar moral menjadi tidak konsisten.
Kelompok sendiri : "Dia melakukan kesalahan, tetapi kita harus memahami dan membelanya."
Kelompok lain : "Dia melakukan kesalahan. Memang kelompok mereka seperti itu."
Padahal, keadilan seharusnya tidak berubah hanya karena identitas orang yang terlibat berubah : "Siapa pun orangnya, mari kita lihat tindakan, bukti, konteks, dan tanggung jawabnya."
3. Inilah mekanisme yang membuat orang gampang diadu domba
Bayangkan ada dua kelompok yang sebenarnya tidak memiliki konflik langsung.
Kemudian seseorang dari kelompok A mengalami masalah dengan seseorang dari kelompok B.
Konflik personal yang seharusnya bisa diselesaikan oleh dua individu tersebut mulai dibingkai sebagai konflik antarkelompok.
Akibatnya:
- Anggota kelompok A merasa harus membela rekannya.
- Anggota kelompok B merasa harus membela rekannya.
- Orang-orang yang sebenarnya tidak terlibat ikut terseret.
- Masing-masing kelompok mulai membangun prasangka.
- Konflik semakin besar meskipun sebagian besar anggotanya bahkan tidak mengetahui duduk persoalan sebenarnya.
Yang awalnya hanya konflik dua orang akhirnya menjadi konflik puluhan atau bahkan ribuan orang.
Dan orang yang memulai atau memanfaatkan konflik tersebut mungkin justru mendapatkan keuntungan dari perpecahan itu.
4. Gotong royong seharusnya tidak berarti menghilangkan independensi moral
Menurut gue, ada perbedaan mendasar antara dua prinsip berikut:
- Solidaritas: Gue akan membantu lo ketika lo mengalami kesulitan.
- Loyalitas buta: Gue akan membela lo sekalipun lo melakukan kesalahan.
Kita bisa membantu seseorang tanpa membenarkan perbuatannya.
Kita bisa menyayangi anggota keluarga tanpa harus menyetujui semua tindakannya.
Kita bisa menjadi bagian dari suatu komunitas tanpa harus menganggap orang di luar komunitas sebagai musuh.
Bahkan, terkadang bentuk solidaritas yang paling tulus adalah berani mengatakan kepada teman sendiri bahwa dia keliru, sebelum kesalahannya semakin merugikan dirinya maupun orang lain.
Intinya
Solidaritas seharusnya menyatukan manusia dalam menghadapi kesulitan, bukan mengikat manusia dalam kewajiban untuk membenci kelompok lain.
Kita tidak perlu melepaskan identitas kelompok untuk menjadi manusia yang peduli.
Tetapi kita perlu mempertahankan kemampuan berpikir secara independen, bahkan ketika berhadapan dengan orang-orang yang kita anggap sebagai keluarga sendiri.
Karena pada akhirnya, kita bukan hanya anggota sebuah kelompok. Kita juga individu yang memiliki akal sehat, hati nurani, dan tanggung jawab moral atas keputusan kita sendiri.
Dan satu hal lagi :
Kalau seseorang hanya boleh mendapatkan solidaritas dengan syarat dia harus selalu berpihak kepada kelompoknya, itu bukan lagi kebersamaan yang sepenuhnya bebas. Itu sudah mulai menyerupai sistem loyalitas.
Menurut gue, justru masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memungkinkan seseorang berkata, "Dia memang teman saya, tetapi dalam persoalan ini dia salah," tanpa harus takut dianggap mengkhianati kelompoknya.