Sejak kecil, sampai sekarang, gue selalu takut sama perubahan.
Setiap kali dihadapkan pada fase coming of age, lulus sekolah, atau momen harus meninggalkan zona nyaman, rasanya dada ini sesak banget. Gue tipe orang yang gampang attached sama lingkungan yang udah bikin gue merasa safe and comfort. Dulu, saking takutnya kehilangan momen-momen indah itu, gue bahkan sempat merasa down. Gue harus berjuang setengah mati cuma buat coping dengan situasi baru yang dipaksakan oleh waktu.
Gue selalu berpikir bahwa ketika sebuah fase hidup selesai, maka kebahagiaan di dalamnya juga ikut mati.
Tapi hari ini, di umur gue yang sudah menyentuh 36 tahun, pemikiran itu patah total.
Hari ini gue baru aja selesai bantu-bantu ngurusin sebuah event bazar. Konsepnya semi non-profit, jadi suasananya kerasa hangat banget. Di akhir acara, gue bareng tim volunteer sibuk beberes. Tangan gue sendiri ikut turun tangan membongkar dan merapikan mading (majalah dinding) yang dipajang selama acara.
Pas lagi keringetan sambil gulung kabel dan beresin papan mading itulah, tiba-tiba ada perasaan familiar yang menghantam gue.
Déjà vu. Rasa ini... rasanya persis banget kayak momen belasan tahun lalu.
Pikiran gue langsung terbang ke masa-masa SMA. Masa di mana gue masih jadi anak OSIS yang sibuk ngurusin Pensi (Pentas Seni). Rasa lelah yang bercampur puas, candaan random di sela-sela beres-beres, dan kebersamaan tanpa sekat dengan tim—semuanya hadir di sini. Hari ini.
Dulu gue pikir, setelah lewat umur kepala tiga, momen-momen enjoyment yang murni kayak zaman sekolah dulu bakalan hilang selamanya. Gue pikir hidup bakal berubah jadi rutinitas dewasa yang kaku dan membosankan.
Nyatanya? Enggak juga.
Hari ini gue belajar satu hal penting tentang hidup: Kita sebenarnya enggak perlu setakut itu sama perubahan.
Memang benar, ada kalanya sebuah fase bahagia itu akan berhenti.
Memang benar, kita enggak bisa selamanya tinggal di tempat yang sama.
Tapi, perubahan bukan berarti akhir dari segalanya.
Rasa itu bisa datang lagi.
Dalam bentuk lain.
Di tempat lain.
Dengan orang lain.
Di umur yang bahkan nggak pernah kita bayangin sebelumnya.
Perubahan itu cuma antrian yang silih berganti. Waktu mungkin merenggut masa lalu kita, tapi hidup selalu punya cara magis untuk membawa kita rehearsing that kind of experience, di waktu yang enggak terduga, dan dengan orang-orang yang baru.
Gue yang umur 36 tahun hari ini, berhasil ketemu lagi sama "anak OSIS" yang dulu sempat gue tangisi kepergiannya. Dia enggak hilang. Dia cuma nunggu momen yang tepat buat kembali menyapa.
Jadi, buat siapa pun yang hari ini lagi takut setengah mati menghadapi perubahan: chill. Tempatnya mungkin berubah, tapi kebahagian nya tetap sama.
No comments:
Post a Comment