Friday, May 29, 2026

Radical Dreamer - After the Endless Dream

A Chrono Cross fanfic
Chrono Cross Wiki : https://en.wikipedia.org/wiki/Chrono_Cross

Angin laut El Nido selalu punya cara tersendiri untuk menyapa Arni. Dia membawa bau garam yang khas, gemerisik daun palem, dan rasa hangat yang membungkus kulit. Di usiaku yang kini menginjak dua puluh satu tahun, rutinitas pagiku tidak banyak berubah. Aku masih sering duduk di dermaga kayu yang menjorok ke laut, menatap riak air yang memantulkan langit biru bersih.

Namun, ada yang berbeda di dalam kepalaku.

Sejak hari itu—hari yang tidak bisa kutunjuk dengan pasti di kalender mana pun—aku terbangun dengan isi kepala yang penuh. Aku mengingat sebuah petualangan yang luar biasa. Samar-samar, seperti kabut pagi yang perlahan memudar disengat matahari, tapi di saat yang sama terasa begitu nyata. Begitu nyata hingga aku bersumpah bisa merasakan dinginnya dinding pualam Chronopolis atau beratnya gagang Mastermune di tanganku. Aku ingat melompati dimensi, melihat takdir yang bercabang, dan menghadapi kegelapan di akhir waktu.

Bagi orang-orang di Desa Arni, itu hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur yang luar biasa.

"Serge! Ayo, cerita lagi soal 'Radical Dream' itu!" seru salah satu anak nelayan, melompat ke atas tumpukan jala di dekatku. Dalam sekejap, beberapa penduduk desa yang sedang senggang ikut berkumpul. Mereka selalu antusias.

Aku terkekeh, menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal. "Sampai mana kita kemarin? Oh ya, saat kami terjebak di tubuh monster bersisik macan, panther demon, dan harus meyakinkan teman-teman sendiri kalau itu aku."

Mereka tertawa, mengangguk-angguk, terpesona oleh narasi yang kusunting sedemikian rupa agar terdengar seperti petualangan kepahlawanan yang jenaka. Aku senang melihat mereka terhibur. Tapi di balik senyumku, ada rasa sunyi yang tipis namun tajam. Saat mereka pulang ke rumah masing-masing dengan tawa yang tersisa, aku kembali sendirian di dermaga.

Mereka mengagumi ceritaku, tapi mereka tidak ingat. Mereka tidak tahu rasanya kehilangan, rasanya melihat dunia yang terbelah dua. Bagi mereka, itu hanya fiksi. Aku adalah satu-satunya saksi hidup dari sebuah garis waktu yang telah dihapus.

"Serge," sebuah suara berat yang sangat akrab memecah lamunanku.

Aku menoleh. Langkah kaki yang mantap mendekat, dan sesosok pria paruh baya dengan kemeja nelayan yang longgar kini berdiri di sampingku. Ayah. Wazuki. Dia tersenyum hangat, menepuk bahuku dengan telapak tangannya yang kasar khas pekerja laut.

"Kau masih saja suka melamun di sini sejak menyelesaikan 'dongeng' kepahlawananmu itu, Nak. Ibumu sudah menyiapkan makan malam. Sup ikan Arni kesukaanmu," ucapnya lembut.

Aku menatap garis-garis wajahnya yang menua dengan damai. Di garis waktu yang baru ini—setelah luka Sang Waktu berhasil diobati menggunakan Chrono Cross—timeline dari dua dunia telah menyatu kembali dan berjalan normal. Tragedi malam badai saat aku berusia tujuh tahun tidak pernah terjadi. Di dunia ini, aku tidak pernah diserang macan iblis, tidak pernah hampir mati tenggelam, dan takdir tidak pernah menyeret kami ke Chronopolis.

Wazuki masih hidup. Dia aman di sini, bersamaku.

Pikiranku sempat menerawang jauh ke belakang. Memori masa lalu yang kelam mendadak melintas; ingatan tentang sosok tegap berbulu hitam, cakar tajam, dan tatapan dingin penuh muslihat. Lynx. Makhluk kejam yang pernah mencuri tubuhku, yang ternyata adalah perwujudan tragis dari ayahku sendiri setelah jiwanya dikoyak dan dikendalikan oleh FATE.

Tapi kini, monster itu tidak pernah ada dalam sejarah. Yang ada di hadapanku hanyalah seorang ayah biasa yang menyayangi anaknya.

"Serge? Kau melamun lagi?" Wazuki terkekeh, melambaikan tangan di depan wajahku.

"Ah, tidak, Ayah," jawabku cepat, buru-buru menyembunyikan binar haru di mataku. Aku tersenyum lebar, menatapnya lekat-lekat. "Aku hanya berpikir... aku sangat bersyukur Ayah ada di sini."

Wazuki agak terkejut, lalu tertawa lepas sambil mengacak-acak rambut biruku, persis seperti yang dilakukannya saat aku masih kecil. "Bicara apa kau ini? Tentu saja aku di sini. Memangnya aku mau ke mana? Sudah, cepat rapikan jalamu. Jangan membuat ibumu menunggu terlalu lama."

"Siap, Ayah," ujarku.

Wazuki mengangguk puas, lalu berbalik berjalan kembali menuju rumah dengan langkah santai. Menatap punggungnya yang menjauh, rasa hangat menjalar di dadaku, sedikit mengikis rasa sunyi yang tadi sempat mengendap. Dunia ini mungkin melupakan perjuanganku, tapi melihat Ayah bisa hidup dengan tenang adalah bukti bahwa semua air mata di masa lalu tidak sia-sia.

Sampai sore itu tiba.

Matahari mulai turun, melukis langit El Nido dengan warna jingga dan ungu yang melankolis. Aku sedang menggulung tali pancing ketika menyadari ada seseorang yang berdiri di ujung dermaga.

Dia mengenakan jubah perjalanan yang agak berdebu, menatap lurus ke cakrawala. Angin laut memainkan rambut pirangnya yang dikuncir dua. Namun, bukan itu yang membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang hingga terasa sesak di dada.

Itu adalah benda yang dipegangnya. Sebuah liontin. Berbentuk tetesan air berwarna hijau zamrud, berkilau lembut terkena cahaya senja. Amulet itu.

Aku melangkah maju, kakiku terasa berat sekaligus ringan di saat yang sama. Suara langkahku di atas kayu dermaga membuatnya menoleh. Sepasang mata biru yang familiar menatapku, penuh dengan kedewasaan yang melampaui usianya, namun menyimpan percikan api yang sangat kukenal.

"Kau..." Suaraku tercekat di tenggorokan. Air mata tiba-tiba menggenang tanpa permisi. "Kid? Atau... Schala?"

Gadis itu tersenyum. Senyum itu sehangat matahari Arni, namun ada kelelahan yang mendalam di sudut-sudut matanya. Dia menggeleng pelan, lalu menggenggam liontinnya erat-erat di dada.

"Bukan dua-duanya, Serge," jawabnya, suaranya seperti melodi yang sudah lama hilang dari kepalaku. "Tapi di saat yang sama, aku adalah Kid, dan aku adalah Schala. Jiwa yang terpisah kini telah utuh. Dan butuh waktu yang sangat lama bagiku untuk menemukan jalan ke sini."

Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku melangkah lebar dan menariknya ke dalam pelukan. Dia terasa nyata. Kehangatannya, aroma laut dan debu jalanan yang menempel padanya, semuanya nyata. Dia membalas pelukanku dengan kekuatan yang mengejutkan, seolah takut aku akan menguap menjadi buih laut.

"Kau kembali," bisikku, meresapi momen itu.

"Aku berjanji akan mencarimu menembus ruang dan waktu, kan? Dasar bodoh," bisiknya, terkekeh di bahuku, namun aku bisa mendengar getaran emosi di suaranya. Sisi tangguh Kid yang jenaka masih ada di sana, melebur sempurna dengan keanggunan Schala.

Kami duduk di tepi dermaga, membiarkan kaki kami menggantung di atas air yang mulai menggelap. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak perlu menyaring ceritaku. Aku tidak perlu berpura-pura bahwa ini semua hanyalah "Radical Dream".

"Jadi, kau benar-benar berkelana ke berbagai tempat?" tanyaku, menatap profil wajahnya yang disinari cahaya bulan yang mulai terbit.

"Ya. Menembus ruang, membelah dimensi yang tersisa, mencari tahu di mana jiwamu 'mendarat' setelah kita menyembuhkan luka Sang Waktu," ceritanya, matanya menerawang ke langit malam. "Dan dalam perjalananku, aku bertemu mereka, Serge. Teman-teman kita."

"Benarkah? Bagaimana kabar mereka?" tanyaku antusias, rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun mendadak membuncah.

Kid—aku memutuskan untuk tetap memanggilnya begitu di dalam hati—tersenyum ceria. "Glenn memimpin ksatria Acacia dengan adil di garis waktu yang baru ini. Dia jauh lebih bijaksana sekarang. Lalu Riddel... dia membuka panti asuhan kecil. Dia terlihat sangat bahagia merawat anak-anak."

"Bagaimana dengan Guile? Atau... Fargo?"

"Fargo masih sekasar dulu, tapi dia menjadi pelaut yang dihormati, bukan lagi bajak laut yang getir," Kid tertawa kecil, suara tawa yang begitu kurindukan. "Dan Guile... yah, penyihir misterius itu tetap menjadi teka-teki. Dia hanya menitipkan salam lewat angin malam ketika aku melewatinya. Mereka semua menjalani hidup mereka dengan baik, Serge. Tanpa bayang-bayang kehancuran dunia."

Kid tiba-tiba terdiam sejenak. Pandangannya melembut, menatap riak air yang memantulkan cahaya bulan. Tatapannya beralih ke langit malam, seolah melihat sesuatu yang jauh di sana.

"Dan... aku juga melihat 'dia', Serge," bisik Kid pelan.

Aku menahan napas. Aku tahu persis siapa yang dimaksud tanpa perlu dia menyebutkan namanya. Gadis berwajah badut Prancis yang eksentrik, yang selalu menggoda dengan aksennya yang khas, namun menyimpan kesedihan terdalam di matanya. Harle.

"Bagaimana... bagaimana keadaannya?" tanyaku, mendadak merasa ada batu yang mengganjal di tenggorokanku.

"Dia bebas, Serge. Benar-benar bebas," Kid tersenyum, kali ini senyumnya terasa begitu tulus tanpa ada rasa cemburu atau persaingan masa lalu di antara mereka. "Di garis waktu yang baru ini, dia bukan lagi refleksi dari kegelapan atau alat dari sang naga. Aku melihatnya di sebuah kota festival yang ramai di daratan utama. Dia menjadi seorang penari jalanan yang luar biasa. Tanpa riasan badut yang menyembunyikan wajahnya, dia tersenyum lepas, menari di bawah hujan kelopak bunga, dikelilingi orang-orang yang bertepuk tangan untuknya. Dia hidup untuk dirinya sendiri sekarang."

Mendengar itu, sebuah senyuman tipis terukir di wajahku. Rasa bersalah yang selama ini terpendam—karena tidak bisa 'menyelamatkannya' di akhir pertempuran dimensi dulu—akhirnya luruh sepenuhnya. Harle akhirnya menemukan cahayanya sendiri.

Dia juga bercerita tentang kota-kota asing. Tentang dunia modern yang dipenuhi lampu. Tentang kereta besi yang melaju seperti petir. Tentang musik yang belum pernah kudengar.

Mendengar itu, ada rasa lega yang luar biasa memenuhi dadaku. Petualangan kami yang penuh air mata dan darah tidak sia-sia. Mereka semua hidup, bahagia, meski mereka mungkin tidak mengingat remaja berambut biru yang dulu memimpin mereka dengan gagang anyaman di punggungnya.

"Tapi yang paling penting," Kid menoleh menatapku, matanya berkilau jenaka namun dalam. "Aku akhirnya menemukanmu. Di desa kecil yang damai ini. Kau tahu betapa frustrasinya aku? Aku harus melewati tiga realitas alternatif yang keliru sebelum mencium bau sup ikan Arni yang menyengat ini."

Aku tertawa lepas. Benar-benar tertawa dari lubuk hatiku yang paling dalam. Rasa sunyi yang selama ini mengendap di dasar jiwaku menguap begitu saja, terbawa angin malam El Nido.

Di hadapan penduduk desa, aku adalah seorang pendongeng yang menceritakan mimpi indah. Namun di sini, di samping gadis ini, aku adalah Serge. Sang penjelajah dimensi. Chrono Cross kami bukan sekadar khayalan.

"Terima kasih telah mencariku," kataku pelan, menatap matanya yang memantulkan cahaya bintang.

Kid tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahuku. Liontin hijau di tangannya berpendar lembut, seolah ikut bernapas lega karena pencariannya telah usai.

"Kita sudah selesai berlari, Serge. Sekarang, mari kita mulai petualangan yang baru. Yang biasa saja, yang membosankan, tapi di tempat yang sama."

Aku menggenggam tangannya, merasakan jemarinya yang hangat berpaut dengan jemariku. Malam itu, di dermaga Arni, malam terasa begitu ceria, begitu tenang. Aku akhirnya memiliki seseorang yang berbagi memori yang sama—seorang teman yang tahu bahwa mimpi itu nyata, dan bahwa kami berhasil menyelamatkan dunia, hanya untuk bisa duduk berdua di tepi dermaga ini.

No comments: