Thursday, May 28, 2026

Eldareth - Requiem of the Dark Saint


Seribu tahun telah berlalu sejak nama Alarion mengguncang benua Eldareth.

Waktu telah mengikis kerajaan, menenggelamkan kota-kota tua ke dalam tanah, dan mengubah nama-nama besar menjadi doa yang bahkan tak lagi dipahami maknanya. Dinasti runtuh. Bahasa berubah. Perang-perang besar tinggal menjadi fragmen legenda yang diwariskan setengah percaya.

Namun ada satu hal yang tetap bertahan melewati abad demi abad.

Ordo Lux Noctis.

Kini ordo itu tak lagi dikenal hanya sebagai penjaga mukjizat suci. Di bawah lambang matahari dan bulan yang saling melingkar, para tabib Lux Noctis mempelajari dua hal sekaligus: cara menyembuhkan… dan cara memahami racun.

Karena selama seribu tahun, dunia perlahan belajar bahwa cahaya tanpa bayangan akan membutakan. Dan bayangan tanpa cahaya hanya melahirkan kehancuran.

Di sebuah desa kecil jauh di selatan, hidup seorang anak laki-laki bernama Lucien.

Ia bukan anak yang bisa diam.

Pagi-pagi sekali ia sudah memanjat atap rumah demi mengambil jamur embun yang tumbuh di sela genting basah. Saat matahari naik, ia berlari ke hutan dengan keranjang penuh akar liar dan daun obat. Dan ketika malam tiba, saat anak-anak lain terlelap, Lucien justru duduk di samping tungku bersama kakeknya sambil mengaduk cairan herbal berwarna aneh.

“Kau salah menakar.”

Suara sang kakek terdengar datar dari balik kepulan uap.

Lucien bahkan tidak menoleh. “Enggak salah.”

“Kau menuang terlalu banyak ekstrak duskroot.”

“Memang sengaja.”

Sang kakek akhirnya mengangkat kepala. “Kau mau meracuni pasien?”

Lucien tersenyum kecil, seolah pertanyaan itu terlalu mudah.

“Kalau duskroot dicampur madu pahit lalu direbus terlalu lama, racunnya pecah. Sisanya justru bikin demam turun lebih cepat.”

Ruangan itu mendadak hening, hanya diisi bunyi kayu terbakar.

Sang kakek menatap cucunya cukup lama sebelum mengembuskan napas pelan.

Anak ini aneh.


Bukan aneh dalam arti buruk. Justru sebaliknya—terlalu cepat memahami sesuatu yang bahkan orang dewasa sering gagal pahami. Lucien tidak melihat racun sebagai sesuatu yang jahat. Baginya, racun hanyalah bentuk lain dari obat yang belum dimengerti.

Dan itu membuat sang kakek gelisah sekaligus kagum.

Karena dulu, sangat lama sekali, ia pernah mendengar cerita tentang seseorang yang berpikir seperti itu.

Tentang seorang Dark Saint.

Beberapa bulan kemudian, setelah banyak pertimbangan, sang kakek menulis sebuah surat pengantar di atas perkamen tua menggunakan tinta hitam pekat.

Surat itu ditujukan kepada Ordo Lux Noctis cabang utama di Eldareth.

Kepada mereka yang masih menjaga ajaran Sang Dark Saint.

Lucien nyaris tidak bisa tidur pada malam sebelum keberangkatannya.

Bukan karena takut.

Ia terlalu bersemangat.

Perjalanan menuju Eldareth memakan waktu berminggu-minggu. Kapal dagang yang ia tumpangi beberapa kali dihantam badai laut utara hingga seluruh lambungnya berderit seperti akan patah. Udara asin terus menempel di rambut dan pakaiannya. Banyak penumpang jatuh sakit akibat mabuk laut.

Lucien justru menikmati semuanya.

Ia menghabiskan sebagian besar waktunya bertanya pada awak kapal tentang penyakit laut, jamur yang tumbuh di kayu lambung, dan alasan luka tertentu membusuk lebih cepat di udara lembap. Kadang-kadang ia malah membantu membersihkan luka para pelaut hanya karena penasaran dengan warna infeksi mereka.

Anehnya, para awak kapal menyukainya.

Anak itu terlalu tulus untuk dianggap mengganggu.

Dan akhirnya, pada suatu sore berkabut, Lucien melihat menara-menara Ordo Lux Noctis untuk pertama kali.

Biara itu berdiri di atas bukit batu hitam yang menghadap laut utara. Kubah-kubah putih menjulang di antara menara obsidian gelap yang berkilau samar terkena cahaya senja.

Anehnya, tempat itu tidak terasa menyeramkan.

Justru damai.

Seolah cahaya dan bayangan memang sejak awal ditakdirkan berdampingan.

Para biarawan dan suster menerima Lucien dengan hangat setelah membaca surat dari kakeknya. Ia diberi kamar kecil di salah satu asrama murid—tak besar, tapi nyaman. Jendelanya menghadap taman dalam biara, dan aroma herbal samar memenuhi udara.

Namun bahkan setelah membereskan barang-barangnya, Lucien tetap tak bisa diam.

Rasa penasarannya terlalu besar.

Ia keluar lagi dan mulai menjelajahi biara sendirian.

Lorong-lorong batu membentang panjang di bawah cahaya lilin. Tangga spiral tua menghubungkan aula doa, ruang pengobatan, dan perpustakaan besar yang luasnya bahkan mungkin melebihi seluruh desanya.

Semakin jauh berjalan, mata Lucien semakin berbinar.

Sampai tanpa sadar, langkahnya membawanya ke bagian terdalam biara.

Wilayah itu sunyi.

Tak ada suara murid. Tak ada denting lonceng doa. Hanya angin dingin yang berembus perlahan melewati taman batu.

Di tengah taman itu berdiri sebuah pohon besar yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Lucien berhenti melangkah.

Batang pohon itu hitam keunguan, seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Duri-duri panjang melingkar di sepanjang batangnya seperti taring makhluk hidup. Namun daun-daunnya justru berwarna hijau keperakan dan berkilau lembut diterpa matahari sore.

Bunga-bunganya kecil dan putih pucat.

Indah.

Dan aromanya…

Lucien menarik napas perlahan.

Manis. Hangat. Sedikit pahit.

Aroma yang anehnya terasa menenangkan.

“Cantik sekali…” gumamnya pelan.

Rasa penasaran mendorongnya melangkah lebih dekat. Tangannya perlahan terangkat ke arah batang berduri itu.

Lalu seseorang menarik pergelangan tangannya dari belakang.

Gerakannya cepat.

Terlalu cepat.

Lucien refleks menoleh.

Seorang suster berdiri di belakangnya.

Rambutnya hitam panjang, dengan semburat ungu samar saat terkena cahaya senja. Wajahnya tampak muda—mungkin tak lebih dari tujuh belas tahun—namun sorot matanya terasa begitu tenang hingga sulit ditebak usianya.

Matanya terasa tua.

“Jangan disentuh,” katanya lembut.

Lucien berkedip kaget. “Eh?”

Suster itu melepaskan tangannya perlahan lalu menatap pohon di hadapan mereka.

“Getahnya menghentikan denyut jantung sebelum rasa sakit sempat mencapai otak.”

Nada suaranya tenang. Hampir lembut.

Namun entah kenapa justru membuat tengkuk Lucien meremang.

Ia spontan mundur setengah langkah.


“Serius?”

Suster itu mengangguk kecil.

“Tapi daun, bunga, dan buahnya adalah bahan obat yang sangat berharga,” lanjutnya. “Bahkan racunnya sendiri bisa menjadi obat yang luar biasa… jika diolah dengan benar.”

Lucien kembali menatap pohon itu.

Namun kali ini bukan dengan rasa takut.

Melainkan kagum.

“Jadi…” katanya perlahan, “hal paling mematikan dari pohon ini justru bisa menyelamatkan orang?”

“Ya.”

“Dan orang baru bisa memahami cara mengubah racun menjadi obat… kalau mereka benar-benar memahami betapa mematikannya racun itu?”

Untuk pertama kalinya, suster itu tersenyum tipis.

Senyum kecil yang terasa sangat sunyi.

“Kau cepat mengerti.”

Lucien tertawa kecil, sedikit malu namun jelas antusias. Entah kenapa, percakapan singkat itu terasa seperti membuka pintu baru di dalam pikirannya. Semua rasa ingin tahunya yang selama ini liar dan tak terarah mendadak terasa menemukan bentuk.

Ia membungkuk hormat.

“Terima kasih sudah menyelamatkan saya, Sister.”

Suster itu mengangguk pelan.

“Siapa nama Sister?” tanya Lucien.

Hening sesaat.

Angin berembus perlahan di antara daun-daun keperakan.

“Sister Marienne.”

Nama itu terasa asing. Namun ada sesuatu dalam cara ia mengucapkannya yang membuat nama itu terdengar berat, seolah membawa waktu yang terlalu panjang.

Tapi Lucien tidak terlalu memikirkannya.

Ia hanya tersenyum cerah.

“Saya Lucien. Mohon bimbingannya mulai sekarang!”

Lalu ia pergi dengan langkah ringan, kembali menyusuri koridor batu sambil terus menoleh kagum ke berbagai arah.

Sister Marienne memandangi punggung anak itu sampai menghilang di balik lorong.

Setelah cukup lama, barulah ia menoleh ke arah pohon besar di sampingnya.

Tatapannya melembut.

“Alarion…” bisiknya pelan.

Daun-daun pohon itu bergoyang perlahan.

Padahal angin telah berhenti.

“Satu milenium akhirnya terasa tidak sia-sia.”

Tangannya terangkat, menyentuh batang hitam penuh duri itu tanpa ragu.

Tak ada luka muncul di kulitnya.

Tak ada racun yang bereaksi.

Karena selama seribu tahun terakhir, darah yang mengalir di tubuh Sister Marienne tak lagi sepenuhnya manusia.

Pada malam kematian Alarion, racun sang Dark Saint telah menyatu ke dalam dirinya—perlahan menggantikan darah, tulang, bahkan denyut hidupnya sedikit demi sedikit. Kutukan itu seharusnya membunuhnya dalam hitungan hari.

Namun Marienne bertahan.

Dan sejak saat itu, tubuhnya menjadi sesuatu yang tak pernah benar-benar hidup… namun juga tak mampu mati.

Racun dalam dirinya kini sejenis dengan getah pohon itu.

Itulah sebabnya duri-duri Alarion tak lagi melukainya.

Karena pohon itu memang adalah Alarion.

Tubuh terakhir Sang Dark Saint telah menyatu dengan tanah Eldareth seribu tahun lalu. Dagingnya membusuk menjadi akar. Darahnya berubah menjadi racun hitam yang mengalir di dalam batang dan duri. Dan jiwanya tetap tertinggal di antara cabang-cabang yang terus hidup melewati zaman.


Lux Noctis merahasiakan kebenaran itu selama berabad-abad.

Bagi dunia, pohon tersebut hanyalah tanaman suci kuno yang dijaga para tabib ordo.

Tak ada yang tahu bahwa mereka sebenarnya sedang berdiri di hadapan jasad seorang saint.

Untuk sesaat, cahaya matahari sore menembus sela daun keperakan dan membentuk bayangan menyerupai sosok manusia berjubah panjang.

Dan untuk pertama kalinya sejak era para saint berakhir…

pohon itu kembali berbunga.

No comments: