Wednesday, March 10, 2010

Tidak Tertahankan (Nan Yi Kang Ju)

Hidup ini selalu penuh masalah
Lautan kehidupan manusia sungguh merupakan kekacauan
Sudahkah kita lupa mengapa kita saling membutuhkan?
Bahkan pengembara juga lupa apa itu ketakutan

Merindukan masa lalu tanpa bisa kembali kesana
Sayangnya nasib menggariskan kita untuk berpisah dan bertemu berulang kali
Dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan, apakah yang harus kita lakukan?
Cinta, hal ini selalu tidak tertahankan…

Datang dan pergi, ada ketakutan dan keraguan disitu
Berangkat dan tinggal selalu berselang
Selalu ada keengganan, baik pagi maupun malam
Ada masa-masa susah, ada kebaikan dan kepahitan dalam hidup
Lewat naik-turunnya kehidupan, kita menemukan jalan menuju puncak

Nyata dan palsu, terlalu banyak yang berjanji “sehidup semati”
Baik atau buruk, banyak yang ingin tetap tinggal namun tidak dapat
Sekali lagi timbul keengganan setiap pagi dan malam
Ada masa-masa susah, ada kebaikan dan kepahitan dalam hidup
Cinta dan kebencian terus berganti
Tanpa bisa ditahan…




Terjemahan lagu "Nan Yi Kang Ju" By Emil Chou

Tuesday, March 9, 2010

Baik atau Buruk?

Tanpa udara api tidak bisa eksis,
karena udara api menjadi padam.
Setiap orang bisa mematahkan ranting,
tapi siapa juga yang bisa menyambungnya kembali?

Tanpa ambisi manusia tidak bisa hidup.
karena ambisi pula manusia tidak bisa bahagia.
Setiap orang bisa merusak dengan mudah,
tapi siapa juga yang bisa memulihkan yang sudah rusak?


Nanti Baru Bahagia... Ngga Mungkin Sekarang!

Percakapan dengan seseorang berinisial "S"

S : Kamu kalau senyum jadi lain de... Auranya jadi beda...

B : Aku juga kalo diluar lebih banyak senyum kok... Makanya kalo mau aku sering senyum, bikin aku punya mindset, kalo ketemu S itu menyenangkan... Kemaren aja aku baru dateng udah dicari-cari kesalahannya...

S : Nanti de, kalo aku tenang baru jadi baik...

B : Mau denger cerita?

***

Ada orang yang semasa remajanya cuma kenal belajar dan kerja keras. Ia tidak pernah mau 'membuang-buang' waktunya bersama teman2nya. Suatu kali ia ditanya : "Kapan kamu mau bersenang-senang?" "Nanti, kalau aku sudah bekerja dan dapat gaji besar, baru aku mau bersenang-senang..."

Ketika orang itu sudah dewasa, bekerja, dan punya gaji yang terhitung besar, ia masih saja bekerja tanpa henti. Tidak ada waktu yang boleh terbuang bersama teman2 dan keluarganya. Ia kembali ditanya, "Kapan kamu punya waktu luang untuk bersenang-senang?" "Nanti, kalau aku sudah punya rumah, mobil mewah, dan perusahaan sendiri, aku baru mau meluangkan waktuku..."

Kembali, orang itu kemudian memiliki rumah, mobil mewah, dan perusahaan pribadi. Tapi lagi2 ia masih belum memiliki waktu luang. "Kapan kamu mau bersenang-senang?" "Nanti, kalau aku sudah pensiun, baru aku mau bersenang-senang..."

Ketika orang itu sudah pensiun, ternyata ia tetap memiliki kesibukan barunya... Ia banyak menghabiskan waktunya di tempat ibadah, dan aktif dalam kepengurusan organisasinya. Untuk kesekian kalinya, ia kembali ditanya, "Kapan kamu mau bahagia?" "Nanti, kalau saya sudah mati, saya akan bahagia di surga..."

***

S : Jadi, orang itu ngga pernah bahagia selama hidupnya?

B : Orang mau berbuat apapun, ngga perlu tunggu nanti2... Kalau begitu, ngga akan ada habisnya. Kalau mau berbuat sesuatu, lakukan sekarang. Mau baik jangan tunggu tenang, mau bahagia juga bsia kapan aja...

S : Tapi terlalu banyak tekanan dalam hidup...

====================

Di lain waktu, kembali terjadi pembicaraan dengan "s"

S : Insomnianya kumat lagi nih...

B : Tau sakit, dikasih obatnya tapi nggak mau menjalankan...

S : Maksudnya apa, ngomong ngga ada juntrungan!!! Meditasi? Hipnoterapi? Loe kalo udah suka sama pengobatan jadi fanatik... Nanti, kalau pikiran gw udah tenang! Baru mau jalanin! Gituan kan musti diresapin!!!

====================

Hidup tidak pernah lepas dari tekanan. Satu2nya tempat dimana tidak ada beban adalah kuburan! Selama hidup, orang terus membawa tekanan dari hari ke hari.

Orang kaya punya tekanannya sendiri,
orang miskin punya tekanannya sendiri,

Pekerja punya bebannya sendiri,
pengguran punya bebannya sendiri,

Beban tidak pernah bisa dilepas selama hidup! Ia hanya berubah bentuk dari satu ke lainnya, tapi tidak dengan beratnya. Adakah tekanan yang dihadapi orang kaya lebih kecil dari orang miskin? Adakah tekanan yang dihadapi pekerja lebih kecil dari pengangguran? Mungkin ada yang merasa demikian, tapi pada akhirnya, permasalahan yang dihadapi oleh orang dari golongan manapun sama beratnya. Hanya kita saja yang sulit mengerti realita ini karena kita tidak mengalaminya sendiri. Buktinya menurut survey, obat yang paling laku saat ini adalah obat tidur! Inilah realita yang dihadapi oleh mereka yang tidak bisa melepas beban walau sesaat!

Dengan mengetahui bahwa tidak mungkin menghilangkan beban hidup, jadilah orang yang bahagia sekarang juga! Apakah mungkin matahari bersinar saat hujan? Mungkinkah seseorang tersenyum bahagia saat membawa-bawa beban? Tidak mudah, tapi tidak mustahil!

Bukan berapa besar masalah itu ada, tetapi berapa lama kita telah menanggungnya... Lepaskanlah masalah itu sejenak... agar kita kuat menopangnya kembali... Sejenak saja...

Semoga pengalaman nyata yang saya bagi ini boleh membawa manfaat seluas-luasnya.

Monday, March 1, 2010

Cara Menjaga Hubungan Baik Dengan Siapapun

Dialog pembuka artikel ini, yang terjadi antara teman berinisial "C" dgn gw.

C : Kok loe bisa tenang yah menghadapi kelakuan dia? kok kalo gw rada2 ngga bisa nahan emosi loh ngeliatnya? tadi aja hampir2 gw bentak dia... Gimana yah biar gw ngga emosian? soalnya nyokap gw aja udah bilang,

B : Gini2, denger yah kata2 gw... Untuk bisa menjaga hubungan yang baik dengan siapapun, dan cara agar loe bisa menahan emosi secara alamiah, ingatlah pada 3 hal ini; suppression, tolerance, dan professionalism.

C : Maksud dari ketiga hal itu?

***

Yap, artikel ini akan berbicara tentang ke-3 hal yang gw sebutkan sebelumnya. Artikel ini gw tulis berdasarkan pembicaraan gw dgn "C", dan karena gw anggap pembicaraan ini baik untuk dibaca oleh banyak orang, maka gw tuliskan dalam blog ini.

Langsung saja yah...

Pertama, suppression. Suppression berarti menekan. Apa pula yang harus ditekan? Yaitu ungkapan emosi kita. Ini hal dasar yang sangat penting dalam berhubungan dengan siapapun. Anda tidak mungkin kan begitu bertemu orang lantas mulai mengomentari cara berpakaiannya yang buruk dan caranya berdandan? Atau jika ada yang melakukan sedikit kesalahan, lantas Anda langsung saja memakinya atau menjotosnya di depan umum? Anda tidak bisa serta-merta mengungkapkan segala kekesalan Anda pada semua orang. Orang yang tidak bisa menahan diri untuk segera memarahi orang lain dalam bentuk apapun, saya berani jamin, orang itu pasti tidak dapat memiliki teman dekat, atau mungkin orang itu mengalami kerusakan bagian otak yang memang mengatur suppression ini (contohnya pada kasus pengguna narkoba). Anda harus bisa menahannya, sekalipun dengan hati yang panas. Kalau begitu, apakah tidak "berbahaya"? Tentu hal ini berbahaya jika tidak dilanjutkan dengan langkah kedua nanti...

Kedua, tolerance. Toleransi disini bukannya Anda harus bisa mengerti dan memaklumi setiap kesalahan yang orang lain lakukan tanpa pernah menegurnya. Toleransi disini berarti Anda mencoba menempatkan diri Anda pada posisinya, sambil mempertimbangkan 'kapasitas' orang tersebut. Ada orang yang memiliki kapasitas besar dalam banyak hal, misalnya saja berpikir dan mengambil keputusan, ada yang tidak. Coba Anda bayakngkan jika Anda berada di posisi orang yang bersangkutan. Jika itu Anda, tindakan apa yang dapat Anda lakukan? Sekiranya Anda di posisinya dan tidak dapat melakukan sesuatu apapun, Anda tidak berhak memarahinya, karena Anda juga tidak lebih baik darinya. Jika Anda merasa seharusnya ia dapat melakukan sesuatu namun kenyataannya tidak ia lakukan, pertimbangkanlah kapasitas berpikir dan pengambilan keputusannya. Bisa saja hal yang menurut Anda mudah tidak terlintas sedikitpun di kepalanya. Janganlah berpikir, "Kok begitu saja tidak kepikiran sih???" Karena sekali lagi, kapasitas orang berbeda-beda. Jika demikian kasusnya, nasihatilah ia baik2 dengan rasa kekeluargaan, saat situasi hati Anda sudah membaik. Jika hati masih panas, lebih baik menunda dahulu. Jika seseorang dinasihati dengan baik2, nasihat Anda akan mudah masuk ke kepalanya dan diterima di hatinya, dan lama2, nasihat Anda akan berpengaruh memperluas kapasitas orang tersebut. Tapi, jika kasusnya orang tersebut sudah sering mengulangi kesalahan dan tidak mengerti dengan nasihat baik2, sudah seharusnya Anda menegurnya agak keras. Ingatlah satu hal, tidak ada seorangpun yang tidak ingin kesalahannya ditutupi. Selama kesalahan seseorang ada di dalam batas toleransi, dapat ditutupi, apalagi jika orang itu tahu berterima kasih, dan bisa beajar dari kesalahannya, lakukanlah. Sebab suatu saat nanti, jika giliran Anda melakukan kesalahan, mungkin sekali teman2 Anda yang akan maju membela Anda pertama kali. Tapi jika Anda enggan menutupi kesalahan2 kecil, maka ketika Anda melakukan kesalahan, pikirkan berapa banyak telunjuk yang akan menghakimi Anda. Sekali lagi, lakukan jika orang itu tahu berterima kasih dengan belajar dari kesalahannya, dan kesalahannya memang dapat ditutupi. Jika tidak, biarkan mereka menanggung akibat perbuatan mereka sendiri. Terkadang tamparan bisa jadi bentuk kasih sayang. Hanya pengalaman yang bisa mengajarkan Anda kapan menggunakan belaian atau tamparan.

Yang ketiga, profesionalism. Dunia ini panggung sandiwara, Anda memainkan banyak peran dan pekerjaan Anda bukan hanya di kantor saja. Ketika Anda dikantor, Anda bekerja sebagai karyawan, ketika di rumah dengan istri, Anda bekerja sebagai suami, ketika bersama anak, Anda bekerja sebagai ayah. Jangan Anda pikir pekerjaan sebagai keluarga dan teman tidak seserius pekerjaan di kantor! Bayangkan Anda menjalankan 2 proyek sekaligus. Mungkinkah Anda membawa masalah dari proyek yang satu ke proyek lainnya tanpa membuat salah satu atau kedua proyek itu hancur? Jadi, masalah di kantor jangan dibawa ke rumah, masalah dengan satu teman jangan dibawa ke teman lainnya (kecuali sekedar curhat), masalah rumah juga jangan dibawa ke kantor. Pisahkan hal yang satu dengan hal lainnya yang tidak menunjang, lakoni setiap peran Anda dengan profesionalitas penuh, dan ketahuilah kapan, dimana, dan bagaimana Anda harus bertindak. Umumnya peran seseorang terbagi dalam 4 bagian besar, yaitu sebagai pekerja, sebagai teman, sebagai keluarga, dan sebagai Anda secara pribadi. Rasanya tidak terlalu sulit menjalankan ke-4 proyek ini selama Anda enjoy2 saja.

Demikian 3 hal yang harus dijaga untuk mempertahankan hubungan yang baik. Semoga bermanfaat.

Monday, February 22, 2010

Hsin Hsin Ming

Tao yang Agung tidaklah sulit (untuk dimengerti),
hanya perlu berhenti mengambil dan memilih.

Jika (persepsi akan) semua hal yang disukai dan dibenci dihancurkan,
segalanya menjadi murni seperti "ruang (kosong)".

Buatlah sedikit perbedaan (dalam persepsi),
maka langit dan bumi terpisah.

Jika kamu ingin mengetahui "kebenaran",
jangan berpikir untuk menerima atau menolak.

Suka dan tidak suka,
adalah penyakit pikiran.

Tanpa mengetahui makna terdalam,
kamu tidak dapat menenangkan pikiran.

Tao itu murni bagaikan ruang,
tidak lenyap, tidak bertambah.

Jika kamu melekat pada sesuatu,
kamu tidak dapat melihat mereka secara apa adanya.

Diluar, jangan menjadi terikat dengan benda duniawi,
Di dalam, jangan tersesat di dalam kekosongan.

Masuklah dalam hening dan jadilah "Satu",
dan semua dualitas lenyap.

Jika kamu menghentikan semua aktifitas dan menjadi hening,
usaha (untuk menghentikan semua aktifitas itu) juga merupakan aktifitas.

Jika kamu berpegang pada dualitas,
bagaimana kamu dapat mengetahui "Yang Satu"?

Jika kamu tidak mengerti "Yang Satu",
Ini dan itu (segala sesuatu) tidak akan bekerja.

Tolaklah, maka dunia akan menyatakan dirinya.
Kejarlah, maka kekosongan semakin menjauh.

Semakin kamu berpikir dan bicara,
semakin jauh kamu dari Tao.

Hancurkan semua pikiran,
dan pergilah dengan leluasa kemanapun.

Kembalilah ke "dasar" dan mengertilah.
Kejarlah "rupa" dan hilangkan sumbernya.

Sesaat saja tercerahkan,
kekosongan dihadapan akan diterangi.

Kekosongan yang berubah menjadi "sesuatu",
hanyalah delusi kita semata.

Jangan keluar untuk mencari kebenaran,
tapi singkirkan semua opini kita.

Jangan hidup di dalam dualitas.
Berhati-hatilah! Jangan menuju jalan itu.

Jika kamu berpikir "ini baik" dan "ini tidak",
pikiranmu akan tersesat ke dalam kebingungan.

"Yang dua" datang dari "Yang Satu",
tapi jangan sampai kita juga melekat pada "Yang Satu".

Saat pikiran kita tidak terganggu (terpecah),
ke-10.000 benda* jadi tidak bernoda.

Tidak ada kesalahan, tidak ada 10.000 benda.
Tidak ada gangguan, tidak ada pikiran.

Tidak ada dunia, tidak ada yang melihat dunia.
Tidak ada yang melihat dunia, tidak ada dunia.

Ini menjadi itu karena sesuatu yang lain.
Seusatu itu juga jadi ini-itu karena "ini" yang lain.

Jika kamu ingin memahami keduanya,
lihatlah keduanya sebagai satu kekosongan.

Dalam kekosongan keduanya adalah sama,
dan masing2 memegang 10.000 benda.

Jika kamu tidak melihat mereka sebagai dua hal yang berbeda lagi,
bagaimana kamu bisa lebih menyukai yang satu dibanding yang lain?

Tao itu tenang dan luas,
Tidak mudah, tidak sulit.

Tapi pikiran2 kecil mudah tersesat.
Terburu-buru dan terjatuh di belakang.

Melekat dan mereka pergi terlalu jauh,
dan sudah pasti akan mengambil jalan yang salah.

Biarkan segala sesuatu! Pada akhirnya,
tidak ada yang pergi, tidak ada yang menetap.

Ikutilah alam dan menyatulah dengan Tao,
Jadilah bebas, easy-going, dan tidak mudah terusik.

Terikat oleh pikiran, kebenaran menghilang,
Menjadi berat, tumpul (bodoh), dan tidak sehat.

Tidak sehat, pikiran terbebani.
Jadi mengapa menerima atau menolak sesuatu?

Jika kamu ingin menyatu dengan Tao
jangan memandang hina indra2 kita.

Ketika kita tidak memandang hina ke-6 indra,
itu sudah merupakan pencerahan.

Sang Bijak tidak bertindak,
Si bodoh mengikat dirinya sendiri.

Dalam Dharma sejati tidak ada "ini" atau "itu",
jadi mengapa mengejar keinginan secara membuta?

Gunakan pikiran untuk mengacaukan pikiran,
adalah merupakan kesalahan dasar.

Damai atau tidak merupakan manifestasi pikiran,
Pencerahan tidak mengenal "suka" atau "tidak suka"

Semua dualitas muncul,
dari pandangan salah.

Ilusi, bunga di udara--
Mengapa mencoba menangkapnya?

Menang, kalah, benar, salah--
Singkirkan semuanya!

Jika kita tidak pernah tidur,
mimpi2 lenyap dengan sendirinya.

Jika pikiran tidak pernah membuat perbedaan,
10.000 benda pada hakikatnya adalah satu.

Pahami esensi kegelapan ini,
dan bebaslah dari kekacauan.

Lihatlah 10.000 benda sebagai satu,
dan kembalilah ke dalam hakikat sejatimu.

Semua makhluk tercerahkan dimanapun,
semuanya memasuki "sumber" ini.

"Sumber" ini melampaui ruang dan waktu.
Sesaat saja bagaikan 10.000 tahun.

Bahkan jika kamu tidak dapat memandangnya,
sluruh alam semesta berada di depan matamu.

Mikrokosmos adalah makrokosmos:
tidak terbatas, tidak berbeda.

Mikrokosmos adalah makrokosmos:
pengukuran tidak berlaku disini.

"Yang demikian" adalah sama dengan "yang tidak demikian".
"Yang tidak demikian" adalah sama dengan "yang demikian".

Jika tidak seperti ini,
jangan repot2 ingin tinggal.

Satu adalah semua,
semua adalah satu.

Ketika kamu melihat segalanya seperti ini,
kamu jadi tidak khawatir akan ketidaksempurnaanmu.

Kepercayaan dan pikiran bukanlah "dua",
Bukan dua adalah percaya pada pikiran.

Tao melampaui kata2 dan pembicaraan,
ia tidak memiliki masa lalu maupun masa depan.

Apakah sajak ini mengagumkan??
10.000 Dharma kembali ke satu.
Kemanakah yang "Satu" kembali?
Apakah kamu memikirkan jawabannya???
Semakin kamu berpikir,
semakin jauh kamu dari jawabannya.

Saturday, February 6, 2010

Kotak dan Kemoceng

Sepasang suami istri merasa keberatan untuk mengasuh ayah si suami yang sudah kakek-kakek. Mereka memutuskan untuk membuang si kakek itu ke sungai. Mereka menyuruh si kakek untuk masuk ke dalam kotak kayu dengan alasan ingin mengajak kakek ke suatu tempat. Karena si kakek juga sulit berjalan, maka ia masuk saja tanpa menaruh curiga. Sesampainya pasangan muda itu ke pinggir sungai, mereka bermaksud segera membuang si kakek ke sungai, namun tiba2 si kakek berkata, "Hei, nanti kotak ini disimpan baik2 yah... Siapa tahu anak kalian juga ingin menggunakan kotak ini untuk membawa kalian jalan2 seperti aku sekarang..." Pasangan itu langsung tertegun. Mereka segera membawa si kakek pulang dan sejak itu mereka memperlakukan si kakek lebih baik.

Beberapa tahun kemudian, pasangan itu telah memiliki seorang anak, dan si kakek juga masih hidup. Namun pasangan ini tidak memperlakukan anak mereka dengan baik. Menurut pasangan ini anak itu tidak ada gunanya, bisanya cuma merengek, dan prestasinya pun biasa2 saja. Bahkan meerka menganggap kalau mereka sering bertengkar gara2 anak ini. Setiap hari anak ini dipukul dan dimaki-maki. Tidak pernah marah2 absen satu haripun. Si kakek yang prihatin melihat nasib cucunya berusaha menasihati pasangan ini,

"Anak ini sering merengek minta perhatian. Jangan malah dimarahi..."
"Perhatian apa lagi yang dia minta? Uang, mainan, dan makanan terbaik sudah kami sediakan"
"Ketika ia sakit, ia minta ditemani, bukannya diledek 'penyakitan'. Ketika kalian bertengkar, ia ingin mendamaikan, bukannya merusak suasana. Ketika ia punya masalah, ia ingin tempat cerita, bukannya orang yang mencari-cari kesalahannya. Ketika ia berprestasi sekecil apapun, ia ingin dipuji, bukannya mendengar 'begitu saja sudah bangga'..."
"..............."
"Lebih baik kalian simpan kemoceng yang kalian pakai untuk menggebukinya, dan catatlah setiap kata makian kalian..."
"Untuk apa?"
"Kelak nanti kalian sudah tua, penyakitan, tidak bisa apa2 lagi, dan hanya menyebabkan anak kalian bertengkar dengan pasangannya, anak kalian bisa menggunakan kemoceng ini, dan kalau ia lupa terhadap kata2 makian, ia bisa membuka catatan kalian..."

Wednesday, February 3, 2010

Orang Waras di Tengah Orang Gila

Seorang pertapa mendapat wahyu bahwa seluruh air akan dicemari wabah yang membuat orang yang meminumnya jadi gila. Ketika ia memberitahu semua orang perihal hal ini, tidak ada yang mau percaya. Karena pertapa ini masih ingin melanjutkan pertapaannya dan mencari jati diri, maka ia mengumpulkan air bersih sebanyak-banyaknya sebelum semua air itu tercemar. Ia mengumpulkan cukup banyak air untuk sepanjang hidupnya.

Ketika air diluar sana benar2 tercemar, seluruh orang di dunia jadi benar2 gila, dan masing2 menganggap dirinya yang paling benar. Satu2nya orang yang waras hanyalah pertapa ini. Tidak ada yang mau mendengarkannya bicara, tidak ada yang mau menemaninya, dan bahkan ia dianggap gila oleh orang2 yang benar2 gila itu. Awalnya ia tidak mau peduli dan terus melanjutkan pertapaannya yang sunyi, tapi lama2 ia jadi kesepian, sementara orang2 gila diluar sana menyanyi, menari, dan tertawa-tawa.

Lama2 dia jadi berpikir, "Buat apa aku tetap waras namun kesepian disini? Lebih baik aku bergabung dengan mereka saja..." Dan... ia meminum air tercemar itu, menjadi gila, dan bergabung dengan mereka semua...

Bagaimana dengan kita? Sanggupkan kita menjadi orang waras di tengah kegilaan ini?