Tuesday, August 4, 2026

Api yang Merambat

Ada suatu masa di mana hidup gue kayak lagi dikeroyok. Bukan satu masalah datang, satu masalah pergi — nggak. Semuanya kompak dateng bareng, gantian nendang dari segala arah. Kerjaan lagi kacau. Keuangan menipis, padahal tagihan nggak pernah nanya-nanya dulu sebelum jatuh tempo. Keluarga di rumah lagi ada gesekan yang bikin capek hati. Dan di tengah semua itu, badan gue sendiri kayak ikut protes — gampang capek, susah tidur, kepala berat.

Malam itu, gue duduk di pinggir kasur sambil megang HP, nggak tau mau ngapain. Rasanya semua beban itu numpuk jadi satu batu besar di dada. Gue scroll kontak, dan mata gue berhenti di satu nama. Teman lama, yang biasanya nggak keberatan kalau diajak ngobrol berat.

Gue ketik pesan pendek.


"Lo lagi sibuk nggak?"

Nggak lama, balesan masuk.

"Nggak juga, kenapa?"

Gue tarik napas panjang sebelum ngetik lagi.

"Gue lagi berat banget. Boleh gue cerita?"

"Boleh banget. Cerita aja."

Gue mulai ngetik, tapi jari-jari gue kayak nggak secepat isi kepala. Ada terlalu banyak yang mau keluar, dan huruf-huruf di layar rasanya terlalu lambat buat nampung semuanya. Akhirnya gue kirim satu pesan lagi.

"Gue capek ngetik. Gue telepon aja ya, boleh?"

"Boleh, telepon aja."

Gue tekan tombol telepon, dan begitu suara di ujung sana kedengeran, gue langsung ngomong duluan, setengah minta izin, setengah nggak sabar.

"Gue mau venting ya. Mungkin bakal berantakan, mungkin bakal kedengeran kayak orang ngamuk. Lo kuat dengerin, kan?"

"Iya, gue kuat. Cerita aja, gue dengerin."

Dan jadilah gue venting habis-habisan. Semua yang selama ini gue tahan, keluar tanpa saringan. Gue ngomong soal kerjaan yang bikin gue ngerasa nggak dihargai, soal duit yang seret padahal kebutuhan nggak pernah mau nunggu, soal rumah yang harusnya jadi tempat pulang tapi malah jadi tempat gue ngumpulin lelah baru, soal badan yang kayak ikut-ikutan nyerah. Suara gue naik turun, kadang kedengeran marah, kadang kedengeran kayak mau nangis. Teman gue di seberang sana nggak motong, nggak nyela, cuma sesekali bilang "iya," "terus?," atau "gue di sini, lanjut aja," seolah dia lagi kasih ruang seluas-luasnya buat semua yang gue keluarin.


Gue nggak tau udah berapa lama gue ngoceh. Yang gue inget, akhirnya gue berhenti sendiri, bukan karena udah selesai omongannya, tapi karena napas gue abis. Gue diem, cuma kedengeran suara napas gue yang masih agak berat di telepon.

Teman gue juga diem. Nggak buru-buru ngomong, nggak buru-buru kasih nasihat. Cuma diem, nemenin diem gue.

Beberapa detik kayak lebih panjang dari biasanya. Terus gue yang mecahin keheningan itu.

"Eh," kata gue, suaranya masih agak serak, "kayaknya gue udah puas ngomel. Boleh nggak sekarang kita balikin suasananya? Gue pengen coba latihan bersyukur."

"Boleh banget. Mau mulai dari mana?"

Gue mikir sebentar, terus keluar aja apa yang paling deket sama gue saat itu.


"Gue mau mulai dari lo dulu," kata gue. "Makasih ya, lo udah lahir ke dunia ini. Makasih udah jadi teman gue. Dan makasih, malam ini lo mau bales chat gue, terus mau lanjut telepon, terus mau dengerin gue ngoceh sepanjang ini tanpa protes."

Di seberang sana, kedengeran suara ketawa kecil, kayak nggak nyangka gue bakal ngomong sehangat itu abis tadi ngomel-ngomel.

"Sama-sama," katanya pelan. "Gue seneng bisa ada buat lo."

Dan yang bikin gue sendiri kaget, ucapan syukur yang kecil itu — yang tadinya cuma buat satu orang yang jelas-jelas ada di depan mata, di ujung telepon — tiba-tiba aja ngalir ke mana-mana. Kayak ada pintu yang kebuka, dan gue nggak bisa berhenti.

Gue lanjut ngomong, "Makasih juga buat hari ini, buat semua hal kecil yang masih bisa gue nikmatin, walaupun banyak masalah. Makasih gue masih bisa makan, masih bisa liat langit, masih bisa denger suara lo di telepon ini."

Terus, tanpa gue rencanain, ucapan gue berubah bentuk jadi doa buat orang lain.

"Gue harap lo bahagia," kata gue. "Beneran bahagia, sampai nggak ada ruang buat susah di hati lo. Gue harap temen-temen deket gue juga bahagia. Orang-orang di sekitar gue, yang gue kenal, yang gue temuin sehari-hari, semoga mereka juga bahagia."

Gue berhenti sebentar, narik napas, terus lanjut lagi, kali ini suaranya agak pelan tapi mantap.

"Bahkan orang-orang yang nggak terlalu deket sama gue, yang mungkin gue lupa namanya besok, gue harap mereka juga bahagia. Dan orang-orang yang pernah — atau bahkan masih — musuhan sama gue, entah dulu entah sekarang, gue harap mereka juga bahagia. Sebahagia-bahagianya, sampai nggak ada sedikit pun kebencian yang bisa numbuh di kepala mereka, karena udah kepenuhan sama bahagia."

Selesai gue ngomong itu, kita berdua diem lagi. Tapi diem yang ini beda sama diem yang tadi.

Kali ini yang kaget malah teman gue.

"Anjir, Bro!" katanya, setengah ketawa, setengah nggak percaya. "Gue kaget banget, demi apa! Lu bisa selancar itu ngucapin berkat dan doa baik, sama lancarnya kayak pas lu maki-maki dunia tadi!"

Gue ikut ketawa denger komentarnya.

"Gue juga nggak nyangka," kata gue jujur. "Tadi kayak ada yang lepas, terus begitu lepas, susah berhentinya. Positifnya kayak merembet ke mana-mana."

"Untung yang merembet kali ini bukan emosi negatif," katanya, masih sambil ketawa.

Kita ngobrol santai beberapa menit lagi, ngomongin hal-hal ringan, sampai akhirnya gue pamit nutup telepon karena udah malam dan mata gue mulai berat.

Sehabis nutup telepon itu, gue duduk sebentar di pinggir kasur, mikirin apa yang baru aja kejadian. Dan gue nyadar satu hal.

Kebencian itu kayak api. Gampang banget merembet, membakar hal-hal yang bahkan nggak ada hubungannya sama sumber masalah awal. Satu kesel di kerjaan bisa bikin gue jutek ke orang rumah. Satu capek soal duit bisa bikin gue gampang tersinggung sama omongan orang yang sebenarnya nggak ada maksud apa-apa.

Tapi malam itu gue baru sadar, cinta kasih juga punya sifat yang sama. Dia juga gampang merembet. Satu rasa syukur kecil ke satu orang, bisa ngalir jadi doa buat banyak orang, bahkan buat orang yang selama ini gue anggap musuh.

Bedanya cuma satu: api kebencian membakar dan menghancurkan, sementara api cinta kasih menghangatkan dan menyembuhkan.

Dan mungkin, tinggal itu aja pilihan yang kita punya tiap hari. Bukan soal masalah yang datang bakal berhenti atau nggak, karena masalah bakal selalu ada, kadang dateng bergantian, kadang dateng bareng-bareng. Tapi soal api mana yang mau kita pantik duluan di dalam diri kita sendiri. Apa kita mau terus-terusan memantik api kebencian yang gampang menjalar dan menghanguskan apa aja di sekitarnya, atau kita coba ambil jarak sebentar, tarik napas, dan memantik api cinta kasih yang juga sama gampangnya menjalar — tapi ke arah yang menyembuhkan.

No comments: