---
Sore itu langit oranye, dan aku baru saja mengalami salah satu momen paling memalukan dalam hidupku.
Aku berjalan keluar dari gerbang sekolah dengan langkah lemas, menendang-nendang kerikil kecil yang berserakan di trotoar. Tas kugendong asal di sebelah bahu, sementara pikiranku masih dipenuhi percakapan beberapa menit lalu.
Aku sudah mempersiapkan semuanya.
Sudah berhari-hari memikirkan apa yang mau kukatakan. Bahkan sempat latihan di depan kaca, meskipun pada akhirnya semua kalimat yang sudah kususun hilang begitu saja ketika berhadapan dengannya.
Aku duduk di pinggir lapangan basket sekolah, kepala tertunduk, ketika kudengar langkah kaki mendekat, lalu suara yang sudah sangat kuhafal.
"Woi. Ngapain lu di sini sendirian? Kayak abis diputusin."
Dan di sebelahku, sahabatku sudah berdiri sambil nyengir lebar, lengkap dengan gaya sok kerennya dengan tangan dimasukkan ke saku celana.
"Bukan diputusin," gumamku. "Kan belum jadian. Ditolak, mentah-mentah anjir. Katanya dia mau fokus belajar dulu."
Dia diam sebentar. Lalu—bukannya menghibur—dia malah ketawa. Ketawa keras banget sampai orang-orang di lapangan menoleh.
"BUAHAHAHA! Sumpah? Alasan klasik banget! Fokus belajar muka lo! Orang tadi pagi aja gue liat dia lagi gosip di kantin"
"Anjir, lu ketawain gue?"
"Sori sori," katanya, masih cekikikan sambil duduk di sampingku, "abisnya lucu aja bayangin muka lu waktu ditolak."
"Sialan lu emang." Aku menendang kerikil kecil ke arahnya, meleset. "Udah, gantian lu dong yang curhat. Biar impas."
Dia menggaruk belakang kepalanya, agak salah tingkah. Itu tanda dia lagi menyembunyikan sesuatu. Kemudian dia langsung mengelap air mata di sudut matanya karena kebanyakan ketawa, lalu menyeringai licik. "Gue udah nembak dia duluan tadi pas jam istirahat pertama!"
Butuh dua detik penuh buat informasi itu masuk ke kepalaku. "HAH?"
"Barusan. Sebelum lu." Dia nyengir, tapi matanya melirik was-was, siap kabur kalau perlu.
"Terus dijawab apa?!"
"Sama! Ditolak juga! Katanya mau fokus ibadah!"
Aku menatapnya lama, campur aduk antara kesal, gemas, dan mau ketawa. Tanpa mikir panjang, tangan gue langsung melayang, BUGH! Pukulan ringan mendarat telak di bahu kirinya.
"Aduh, sakit, bego!" protesnya sambil ngusap lengan.
"Ngeselin lo ya!" kataku, masih setengah ketawa setengah kesel. Kita berdua akhirnya saling bersandar di punggung satu sama lain, menyipitkan mata menatap langit siang yang terik, sama-sama merenungi nasib dua cowok apes yang baru aja ditolak cewek yang sama di hari yang sama.
"Lu tuh emang licik dari dulu," kataku, masih setengah ketawa setengah kesel. "Sama kayak waktu kita kabur pas jam pelajaran buat beli es krim, terus ujung-ujungnya yang dihukum push up di depan kelas cuma gue doang. Lu malah udah ngacir duluan."
"Ya abis lu lambat larinya," dia nyengir tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Kan waktu itu gue ada urusan."
"Urusan apaan? Kabur dari sekolah!"
"Ya itu urusan gue."
Aku meninju lengannya lagi.
Dia menghindar sambil tertawa.
"Udah, udah!"
Kami duduk begitu saja beberapa saat, menonton anak-anak lain main basket, membiarkan rasa malu tadi perlahan menguap dibawa angin sore.
"Dah lah," katanya sambil menepuk paha. "Daripada kita meratapi nasib di sekolah, mending naik motor ke pantai. Angin laut enak nih buat ngilangin stres."
"Lu yakin?"
Dia mengangguk mantap.
Aku melihat motornya. Motor tua yang catnya sudah mulai kusam, knalpotnya kadang mengeluarkan suara aneh, dan entah kenapa setiap kali dikendarai selalu ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Aku menghela napas, "Kalau mogok gimana?"
Dia tersenyum, "Ya kita dorong."
"Ya udah." Jawabku pada akhirnya. Dan begitulah, tanpa rencana matang, tanpa alasan yang benar-benar jelas selain ingin melupakan hari yang memalukan ini, kami berboncengan motor menuju pantai.
Beberapa menit kemudian kami sudah berada di jalan. Dia yang mengendarai motor, sementara aku duduk di belakang, dan entah kenapa mood ku tiba-tiba naik. Aku mulai teriak-teriak nggak jelas ke angin, menyanyikan lagu yang bahkan aku sendiri nggak hafal liriknya.
"WOI DIEM!" dia setengah teriak sambil nyetir, melihatku dari kaca spion dengan muka panik. "Orang-orang ngeliatin, dikira lu abis kabur dari rumah sakit jiwa!"
"BIARIN! GUE LAGI BAHAGIA!"
"BAHAGIA APAAN, BARU AJA DITOLAK CEWEK!"
Aku kembali berteriak tanpa alasan yang jelas, dan dia membalas dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Gue nyesel ngajak lu."
"Udah telat!"
Kami terus melaju, sampai akhirnya... motor tiba-tiba tersendat, lalu mati begitu saja di tengah jalan yang mulai sepi.
"WOI, KOK MATI?!"
"Ya gue juga nggak tau, anjir!" Dia turun, mencoba menyalakan lagi, gagal berkali-kali sampai akhirnya menyerah dan menghela napas panjang.
"Mogok, Bro," bisiknya pasrah.
"ELU SIH! Motor dinosaurus gini masih dipaksa jalan!" Aku marah-marah sambil turun dari motor.
"Terus gimana ini?!" Aku ikut turun, menatap motor itu seperti menatap pengkhianat.
"Yaudah, mau gimana lagi. Ya dituntun lah, masa digendong."
Akhirnya kita berdua menuntun motor tua itu bareng-bareng di pinggir jalan, sambil saling menyalahkan sepanjang perjalanan - sampai tiba-tiba langit yang tadinya oranye berubah gelap dan hujan deras turun begitu saja, tanpa aba-aba.
"ANJIR HUJAN! GARA-GARA IDE SIAPA NIH?!"
"IDE GUE!" Katanya tanpa penyesalan.
Kita tidak punya jas hujan, tidak punya tempat berteduh. Akhirnya kita menerobos hujan deras sambil tertawa seperti orang gila.
Setelah perjalanan panjang, basah kuyup, lelah, dan entah sudah berapa kali memaki motor tua itu, kami sampai juga di pantai. Motor kami parkirkan secara asal di dekat warung-warung kecil, lalu berlari menuju pasir.
Tanpa banyak bicara, kami langsung menerjang ombak. Air laut menghantam kaki kami, aku berteriak. Dia juga ikut berteriak. Kami saling menyipratkan air seperti dua anak kecil yang tidak punya masalah apa pun di dunia.
Untuk beberapa jam, aku bahkan lupa bahwa beberapa jam sebelumnya aku baru saja ditolak. Lupa soal sekolah, lupa soal tugas, lupa soal masa depan. Yang ada cuma kami berdua, laut, angin, dan langit sore.
"Enak juga ya," katanya sambil merebahkan diri di pasir basah, menatap langit yang mulai menampakkan sedikit warna jingga di sela awan.
"Iya," jawabku, ikut rebahan di sampingnya. "Padahal tadi rasanya pengen ngilang aja dari muka bumi."
Kami tertawa kecil, lalu diam sejenak menikmati suara ombak.
Perutku tiba-tiba berbunyi keras.
"Anjir, laper," kataku.
"Ada warung mie ayam tuh, deket motor kita." Dia menunjuk sebuah warung kecil beratap terpal biru, lampunya baru saja dinyalakan si pemilik warung.
Kami berjalan ke sana sambil mengeringkan diri seadanya, memesan dua mangkuk mie ayam, kemudian duduk di bangku kayu panjang berhadapan. Entah kenapa itu justru jadi momen paling nyaman hari itu.
Dua mangkuk mie ayam datang beberapa menit kemudian. Aku langsung menyeruput kuahnya.
"Asli, ini mie ayam terenak setelah kita ditolak cewek," kataku.
Dia mengangguk, "Makanya. Kalau patah hati, makan."
Beberapa saat kami hanya menikmati mie ayam dalam diam.
"Eh," katanya di sela suapan, "lu kepikiran nggak sih, kita bakal kayak gimana ya kalau udah tua nanti?"
"Maksudnya?"
"Ya... masa depan lah. Lu kepikiran nggak jadi apa? Nikah sama siapa? Segala macem." Tanyanya tiba-tiba. Tatapannya menerawang ke luar tenda, menatap kegelapan laut.
Aku menyeruput kuah mie sebentar, berpikir. "Nggak tau juga sih. Tapi kayaknya... gue pengen lu jadi best man gue pas nikahan. Dan pas lu nikah, gue juga mau jadi best man lu."
Dia menatapku, lalu nyengir lebar. "Setuju. Dan kalau kita udah sama-sama punya anak—"
"Anak kita harus temenan," potongku cepat, seolah pikiran kami memang selalu nyambung. "Kalau nggak mau pun, kita paksa!"
"Gila! Kita aja sering berantem."
Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
"Terus kalau kita udah tua?" Tanyaku lagi.
"Kalau udah tua, udah ompong, keriput, kita harus tetap nongkrong bareng. Ngopi-ngopi sore sambil ngetawain keputusasaan kita hari ini," balasnya.
"Setuju banget." Aku mengangkat sendok seolah itu gelas untuk bersulang, dan dia menyentuhkannya dengan sendoknya sendiri, konyol tapi entah kenapa terasa serius juga.
Untuk sesaat, kami hanya saling menatap sambil tersenyum. Masa depan terasa begitu jauh. Begitu luas. Seolah masih ada waktu yang tidak terbatas untuk kami.
Tapi kemudian, senyumnya agak mengendur. Suaranya merendah, ada nada halus yang aneh di sana. Dia menatap laut. "Tapi ya, mudah-mudahan jangan sampai salah satu dari kita pergi duluan. Mudah-mudahan umur kita panjang"
Aku menatapnya, agak bingung dengan perubahan mood tiba-tiba itu. Entah kenapa kalimat itu membuatku sedikit merinding. "Lu ngomong apaan sih. Tiba-tiba serius amat."
"Nggak apa-apa," dia buru-buru tersenyum lagi, seperti menutupi sesuatu. "Cuma kepikiran aja. Moga-moga kita umur panjang, terus bisa liat masa depan kita masing-masing."
Aku tertawa, memukul pelan bahunya. "Ya jelas lah, umur panjang. Emang lu mau ninggalin gue duluan? Nggak akan gue izinin."
Dia tertawa juga, dan momen aneh itu berlalu begitu saja, tenggelam dalam obrolan-obrolan konyol lainnya, ditemani suara ombak dan hujan yang perlahan berhenti sepenuhnya, menyisakan langit yang mulai dipenuhi bintang.
Kami kembali menatap laut. Tidak ada yang tahu berapa panjang sebenarnya waktu yang kami punya. Saat itu, aku tidak memikirkannya. Bagiku, masa depan masih terasa seperti sesuatu yang pasti datang. Dan kami yakin akan berada di sana bersama.
---
"Terus, terus," katanya tidak sabar, "Habis itu Om bayarin mie ayamnya gak?"
Di sampingku, anak perempuanku—yang sudah menginjak usia remaja, dengan gaya bicara yang jauh lebih ceplas-ceplos daripada aku waktu seusianya—berjongkok, memperhatikan nama yang terukir di batu itu dengan penasaran. Wajahnya mirip banget denganku, tapi senyumnya... senyumnya mengingatkanku pada seseorang.
Aku tersenyum ringan, membelai rambut anak perempuanku itu. "Ya dibayarin lah. Masa Papa yang bayar, kan motor dia yang mogok."
Anakku tertawa keras setelah mendengar semua cerita barusan, sampai harus menutup mulutnya sendiri. Aku menghela napas, menatap batu nisan itu dengan perasaan campur aduk antara haru dan hangat.
Anakku terdiam sebentar, senyumnya perlahan berubah lebih lembut, matanya sedikit berkaca-kaca meski masih tersenyum.
"Sayang ya," gumamnya, "jadinya kan nggak kesampaian. Aku nggak bisa temenan sama anaknya Om."
"Iya," aku mengelus rambutnya kembali. "Tapi setidaknya, kamu sekarang tahu, seperti apa dia orangnya."
Anakku mengangguk, lalu mengulurkan tangan, mengelus permukaan nisan itu pelan, seperti mengelus kepala seseorang yang sedang tertidur.
"Ternyata Om tuh kayak gitu ya orangnya... Kayaknya Om seru... Makasih ya, Om," bisiknya, "udah nemenin Papa waktu masih muda dulu. Makasih udah jadi sahabat terbaik Papa."
Aku hanya menatap semua itu dalam diam, dengan senyum tipis dan mata yang mulai memanas. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dada. Sedih, tentu saja. Tapi anehnya, kali ini tidak terasa sesakit dulu. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan rerumputan di sekitar makam, seolah menjawab ucapan anakku barusan.
"Pa," anakku berdiri, menepuk lututnya, mood-nya kembali ringan seketika seperti biasa. "Aku jadi laper gara-gara denger cerita soal mie ayam tadi."
Aku tertawa. "Mau makan mie ayam?"
"Iya! Sekalian buat mengenang si Om," katanya sambil nyengir lebar, persis seperti seseorang yang pernah kukenal dulu.
Aku tertawa kecil, mengacak pelan rambutnya. "Yuk. Papa tahu tempat mie ayam yang enak gak jauh dari sini."
Kami berjalan meninggalkan makam, dan sebelum benar-benar pergi, aku menoleh sekali lagi ke arah makam itu.
Makam itu masih terlihat di antara pepohonan. Dalam hati, aku merasa lega. Kami memang tidak pernah sempat memenuhi semua janji masa muda kami. Kami tidak pernah menjadi best man satu sama lain, kami tidak pernah tumbuh tua bersama. Anak kami juga tidak pernah menjadi teman seperti yang dulu kami bayangkan di pinggir pantai.
Tapi setidaknya... Aku masih bisa membawa kenangan tentang dirinya. Dan sekarang, kenangan itu tidak lagi hanya milikku. Aku sudah memperkenalkan sahabat terbaikku kepada anakku.
Mungkin itu bukan masa depan yang dulu kami bayangkan. Tapi mungkin... Ini adalah salah satu cara kecil untuk menepati janji.
Aku tersenyum, lalu berbalik dan menyusul putriku. Kami berjalan pulang bersama. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa seperti benar-benar menatap masa depan bersamanya.
---
Writer's note :
Jadi gw nulis cerita ini, entah ini bisa disebut sequel, atau prequel, atau keduanya, karena terlalu banyak complaint di cerita original nya, yg link nya gw taro di awal cerita. Kata orang2, terlalu sedih.
Sejujurnya, original story nya pun merupakan cerita paling sedih yang pernah gw tulis. Even gw sempet terbawa suasana ketika menulisnya, dan setelah mempublikasikan nya.
Jadi makanya gw tulis cerita ini, untuk sedikit uplifting the mood.
Also, kisah asli yg menginspirasi series ini - aslinya happy ending kok. I hope this fact juga bisa membantu uplifting the mood. Gw taro kisah asli yg menginspirasi kedua kisah ini di bagian "writer's note" di bagian cerita original.
Finally, gw harap siapapun yg membaca kedua cerita ini, yang saat ini sedang berkonflik dengan sahabat, keluarga, atau saudara, dapat menemukan resolusi tebaik... Untuk melangkah menuju masa depan...
I wish you all happiness...
Theme song yg gw dengerin sambil baca ulang seluruh series ini :
Lian Xi
No comments:
Post a Comment