Fanfiction dari Deadly Sevens Inside Me
- Original series - Deadly 7 Inside Me : https://www.webtoons.com/id/fantasy/deadly-7-inside-me/list?title_no=722
- Deadly 7 Inside Me; Aftermath : https://www.webtoons.com/id/canvas/deadly-7-inside-me-aftermath/list?title_no=1118500
- IG pengarang : https://www.instagram.com/deruuyo/
- Wiki tentang karakter Murder : https://desime.fandom.com/id/wiki/Murder
---
Di tempat yang tidak mengenal pagi dan malam, para roh berkumpul. Tidak ada lantai maupun langit. Hanya kehampaan luas tempat konsep-konsep kuno memiliki kesadaran dan mengambil bentuk sebagai roh.
Justice berdiri di tengah lingkaran, di sebelahnya, Redemption menundukkan kepala dengan wajah muram, dan Kindness menggenggam kedua tangannya sendiri.
Jauh di belakang mereka, bersandar pada kehampaan seolah-olah sedang menunggu pertunjukan dimulai, berdiri sebuah sosok yang tersenyum; Murder.
Di hadapan mereka semua, sebuah bayangan sedang bersiap digantung. Seorang anak kecil dengan rambut putih. Tubuhnya mungil, lehernya terikat.
Tidak ada tangisan, ataupun jeritan. Tidak ada permohonan. Hanya sepasang mata yang menatap langit dengan tenang.
"Dia tidak takut," bisik Kindness.
Justice menyipitkan mata, "Dia seharusnya takut."
"Dia akan mati," kata Redemption pelan.
Murder tertawa kecil, "Justru itu."
Semua roh menoleh kepadanya, Murder tersenyum, "Dia pikir kematian adalah kedamaian."
Lalu tali itu ditarik dan tubuh kecil itu terangkat. Untuk pertama kalinya, semua roh melihat sesuatu yang membuat mereka tidak dapat berkata-kata. Elian tersenyum.
"Sebentar lagi... Aku bisa tidur seperti Papa dan Mama." Napasnya terputus-putus... Kemudian dunia manusia menghilang dari matanya. Namun bagi para roh, kisah Elian baru saja dimulai.
---
Sebelum tangannya mengenal darah dan namanya dikenal sebagai Sinner, Elian hanyalah seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah rumah kecil di pinggir kota.
Perang telah berakhir beberapa tahun sebelumnya, namun perang tidak pernah benar-benar meninggalkan manusia. Ia hanya berganti wujud.
Ayah Elian adalah seorang veteran. Dahulu, ia pulang sebagai pahlawan. Namun sekarang, ia pulang sebagai seorang lelaki yang tidak pernah benar-benar meninggalkan medan perang.
Suara pintu dibanting dapat membuatnya berteriak; Suara benda jatuh dapat membuatnya membentak; Dan sedikit kesalahan saja bisa membuat tangannya terangkat.
"Diam!" Plak!
Elian jatuh ke lantai, dan ibunya langsung berlari. "Elian!"
"Jangan sentuh dia!" Sang ayah berdiri dengan napas berat.
"Aku sudah bilang jangan melawan!"
Elian memegang pipinya, "Maaf, Pa..."
Ibunya memeluknya, "Sudah..."
"Aku nggak bermaksud..."
"Ibu tahu." Seraya memeluk Elian.
Di dalam kehampaan, Kindness memperhatikan, "Dia tidak membenci ayahnya."
---
Ibu Elian adalah kebalikan dari suaminya. Jika suaminya membawa sisa-sisa perang ke dalam rumah, perempuan itu membawa sedikit kedamaian dari dunia luar.
Tetangga yang terluka datang kepadanya, ia obati. Anak tetangga yang kelaparan datang, ia beri makan. Orang tua yang tidak mampu membeli obat datang, ia membantu sebisanya.
Ia tidak bisa membantu banyak, karena keluarganya sendiri juga miskin. Namun jika ada sedikit kelebihan, ia selalu membaginya.
Suatu sore, seorang tetangga tua datang, "Maaf, Bu. Anak saya belum makan."
Ibu Elian melihat panci, kemudian mengambil sebagian makanan. Elian yang sedang duduk di meja langsung menatap ibunya, "Ma..."
"Kenapa?"
"Jangan kasih semuanya."
Ibunya tersenyum, "Iya, ibu nggak kasih semuanya."
"Nanti Papa marah?"
"Ibu tahu."
"Terus kenapa dikasih?"
Ibunya berlutut di hadapannya, "Karena mereka lapar."
Elian terdiam, "Tapi kita juga lapar."
"Makanya Ibu cuma kasih sedikit." Ia mengusap rambut putih-keperakan Elian, "Kita masih punya cukup untuk makan malam."
Elian memandangi makanan yang dibungkus ibunya, "Kenapa Ibu selalu menolong orang?"
Ibunya tersenyum, "Karena kalau kita melihat orang lain kesusahan, hati kita juga ikut sakit."
"Kenapa?"
"Karena kita manusia."
Elian tidak mengerti, dan ibunya melanjutkan, "Kalau kamu bisa membuat orang lain sedikit lebih bahagia tanpa membuat dirimu sendiri menderita, lakukan."
Elian menunduk, "Kalau nanti Papa marah?"
Ibunya terdiam sesaat, kemudian tersenyum, "Kalau Papa marah, biar ibu yang hadapi."
"Kalau ibu dipukul?"
"Nggak apa-apa, biar ibu yang hadapi Elian..."
"Ibu nanti sakit."
Sang ibu memeluk anaknya, "Kalau kamu melihat orang lain sakit, jangan belajar untuk menjadi orang yang tidak peduli hanya supaya kamu tidak ikut sakit."
Kalimat itu tinggal di dalam hati Elian, dan jauh di dalam jiwanya, sesuatu terbangun. Kindness membuka matanya, "Anak ini memiliki resonansi denganku."
Justice mengangguk, "Dia memiliki benih kebajikan yang kuat."
Murder, yang sejak tadi diam, hanya memandangi Elian.
Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang.
---
Malam itu hujan turun. Ayah Elian pulang dalam keadaan mabuk. Langkahnya berat, botol bir masih berada di tangannya. "Di mana makan malam?"
Ibu Elian segera berdiri, "Sebentar, segera kusiapkan."
Sang ayah melihat meja, kemudian melihat sebuah panci yang hanya 3/4 terisi. Wajahnya berubah, "Kamu kasih makanan lagi?"
Ibu Elian diam.
"Jawab!"
"...sedikit."
Brak! Botol menghantam meja. Elian yang berada di sudut ruangan langsung menutup telinganya, "Jangan, Pa..."
"Diam!"
Ayahnya mendekati ibunya, "Kita sendiri kekurangan!"
"Aku tahu."
"Terus kamu kasih makanan kita?!"
"Ini masih cukup untuk kita makan bertiga..."
"Jangan bantah aku!" Botol di tangan lelaki itu pecah. Suara pecahannya membuat Elian membuka mata. Ayahnya menggenggam pecahan botol, dan ibu Elian mundur.
"Jangan..."
"Diam!"
"Papa!"
Ayahnya mengangkat tangan, dan sesuatu bergerak di balik bayangannya. Anger, roh amarah merayap di dalam dirinya. Di sampingnya, Drunken berbisik seperti asap. Dan di belakang semuanya — Murder tersenyum, "Sudah waktunya."
Kindness berteriak, "Jangan!"
Murder menoleh, "Kenapa?"
"Ini bukan jalan anak itu!"
"Dia akan membunuh istrinya."
"Kalau begitu kita seharusnya hentikan!"
Murder tertawa, "Aku bukan Justice!"
Elian melihat ayahnya mengangkat pecahan botol, sementara ibunya menangis, "Elian... jangan lihat."
Tapi kali ini Elian tidak menutup matanya. Ia tidak sanggup. Ia melihat ketakutan di wajah ibunya, dan sesuatu di dalam dirinya pecah. Bukan kebencian ataupun kemarahan; Hanya sebuah pikiran sederhana: "Mama akan sakit."
Tangannya menemukan pisau di meja selagi ayahnya melangkah maju. Elian bergerak, dan pisau itu menembus punggung ayahnya. Sang lelaki terdiam, matanya melebar, "El...ian?"
Tubuhnya terhuyung. Ia berbalik. Elian menangis, "Papa..."
Pisau itu masih berada di tangannya, sementara ayahnya mulai mengangkat tangan. Namun tidak pernah sempat menyentuh anaknya. Elian menusuk sekali lagi tepat ke dada. Kemudian tubuh lelaki itu akhirnya terjatuh.
Elian memandangi ayahnya. Darah perlahan menyebar di lantai; Namun wajah ayahnya... damai. Tidak marah, tidak berteriak, tidak lagi bisa memukul.
Elian berlutut, "Papa?"
Tidak ada jawaban. Ia menoleh kepada ibunya yang berdiri membeku. Air mata mengalir dari kedua matanya sambil memandang suaminya, dan kemudian dia memandang anaknya.
"Elian..." Sang ibu menutup mulutnya. Ia menangis, "Apa yang kamu lakukan?"
Elian menggenggam pisaunya, "Papa mau bunuh Mama."
Ibunya jatuh berlutut, "Aku tahu..."
"Aku nggak mau Mama sakit."
"Ibu tahu..."
"Mama marah?"
Sang ibu menatap anaknya. Bagaimana mungkin ia marah? Bagaimana mungkin seorang ibu membenci anak yang baru saja menyelamatkan hidupnya? Namun bagaimana mungkin seorang istri tidak berduka ketika melihat suaminya mati? Kedua perasaan itu bertabrakan di dalam dirinya.
Cinta, duka, syukur, ngeri, semua perasaan bercampur aduk sekaligus.
Kindness menangis, "Jangan biarkan dia sendirian."
Redemption maju, "Dia membutuhkan pengampunan."
Justice melangkah, "Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Murder memperhatikan Elian. Untuk pertama kalinya, ia melihat sebuah celah. Bukan kebencian ataupun dendam. Melainkan kepolosan yang jauh lebih berbahaya.
Elian menatap wajah ayahnya, "Papa tidur..."
Ia menyentuh pipinya, "Papa kelihatan damai."
Murder berbisik, "Ya."
Elian menoleh, "Damai..."
Murder tersenyum, "Begitulah."
Kindness berteriak, "Jangan dengarkan dia!"
Namun Elian sudah terlalu lelah, ia menatap ibunya, "Mama..."
Ibunya membuka kedua tangannya, menyambut Elian yang berlari ke pelukannya, "Maaf..."
Ibunya memeluknya erat, "Elian..."
"Aku nggak mau Mama sakit."
Ibunya menangis, "Ibu tahu."
"Kalau Mama tidur..." Elian mengusap wajah ibunya, "...Mama juga nggak akan sakit lagi."
Mata sang ibu melebar, "Elian..."
Pisau itu bergerak sekali. Sang ibu terdiam. Elian memeluknya, "Sabar ya, Ma."
Tubuh ibunya perlahan melemas.
"Mungkin sakitnya cuma sebentar..." Air mata jatuh dari wajah Elian. "Tapi nanti Mama bisa seperti Papa; Tertidur dengan damai."
Ia tersenyum di pelukan sang ibu. Dan ketika napas terakhirnya hilang, Elian tetap berada di dalam pelukan itu. Murder berdiri tepat di belakangnya.
---
Malam itu, Elian mengatur tubuh kedua orang tuanya. Ia menarik tangan ayahnya, kemudian tangan ibunya, dan menyatukan keduanya. Lalu ia berbaring di antara mereka, "Aku juga capek."
Ia memejamkan mata, "Selamat tidur, Papa."
Ia berpindah sedikit, "Selamat tidur, Mama."
Kemudian Elian tertidur.
Dan ketika ia tertidur — di sekeliling tubuh kecil yang tertidur di antara dua jenazah itu, tercipta selubung tenang, hangat, hampir seperti selimut. Roh Peace, yang jarang campur tangan dalam urusan manusia, entah bagaimana telah tertarik oleh keheningan aneh di hati Elian dan memilih menjaga tidurnya. Peace menatapnya, "Aku akan menjaganya selama dia tidur."
Redemption datang, wajahnya penuh kecemasan, "Kita harus membawanya."
Justice menimpali, "Dia telah melakukan pembunuhan."
Kindness berbicara kepada seluruh roh yang hadir, "Kumohon, datanglah dan perbaiki ini, selamatkan sisa dari anak itu yang masih bisa diselamatkan!"
Redemption berlutut di hadapan jiwa Elian, "Elian."
Anak itu masih tertidur.
"Bangunlah."
Tidak ada jawaban.
"Apakah kamu menyesal?"
Elian membuka mata dan ia tampak bingung.
"Menyesal?"
"Atas apa yang kamu lakukan."
Elian berpikir, kemudian menggeleng, "Papa dan Mama sekarang nggak sakit."
Redemption terdiam. "Apakah kamu merasa bersalah?"
Elian menggeleng lagi, "Kenapa harus merasa bersalah?"
Justice maju, "Karena kau membunuh mereka."
Elian menatap Justice, "Aku cuma bikin mereka berhenti sakit."
Justice terdiam. Kindness memandang Redemption. Redemption memandang Justice. Tidak ada yang memiliki jawaban.
Kemudian Peace berdiri di depan Elian, "Biarkan dia tidur dahulu."
Dan malam itu, Justice tidak dapat menyentuhnya. Bukan karena Elian lebih kuat. Melainkan karena di dalam dirinya tidak ada kebencian yang bisa dihukum.
Tidak ada niat jahat maupun dendam. Tidak ada kesadaran bahwa dirinya telah melakukan dosa. Hanya seorang anak yang mengira bahwa kematian adalah bentuk terakhir dari belas kasih dan kebaikan.
---
Pagi berikutnya, seorang petugas keamanan menemukan Elian yang sedang tertidur di antara dua jenazah.
"Astaga..."
Ia segera memanggil bantuan. Polisi datang, namun tidak ada tanda perampokan yang jelas. Anak itu tidak mengatakan apa-apa. Ketika ditanya siapa yang membunuh orang tuanya, Elian hanya menjawab: "Mereka sudah tidur."
Petugas mengira anak itu trauma. Tidak ada yang tahu kebenarannya. Elian dibawa ke panti asuhan, dan di sana, ia dikenal sebagai anak yang ceria. Ia murah senyum, aktif bermain, banyak membantu anak-anak lain, bahkan sering membagikan makanannya.
"Elian, kenapa kamu kasih punyamu?"
"Karena kamu belum makan."
"Tapi nanti kamu lapar."
Elian tersenyum, "Kalau masih ada, kita bagi."
Kindness tersenyum dari kejauhan, "Masih ada sisa kebaikan di hatinya..."
---
Tidak lama kemudian Elian menyadari sesuatu. Anak-anak di panti sering sakit. Mereka kurus, pucat, batuk, dan sering demam. Namun para pengurus panti selalu tampak sehat.
Suatu malam, Elian melihat seorang pengurus mengambil sebagian besar makanan dari gudang. Ia menyimpannya sendiri, kemudian makanan yang tersisa diberikan kepada anak-anak.
Elian memperhatikan, "Kenapa makanan yang dibagikan cuma sedikit?"
Pengurus itu membentak, "Diam."
Elian mengangguk, "Baik..."
Beberapa hari kemudian, ia melihat sesuatu yang lebih buruk. Seorang pengurus menambahkan sesuatu ke makanan. Seorang anak bertanya, "Itu apa?"
"Ini obat. Supaya kamu cepat sembuh..."
Elian memperhatikan anak itu. Malamnya anak tersebut demam tinggi dan Elian duduk di samping tempat tidurnya, "Kamu sakit?"
"Iya..."
"Takut?"
"Sedikit."
Elian memegang tangannya sambil tersenyum, "Nggak apa-apa. Sebentar lagi semuanya akan membaik..."
Di balik senyumnya, Murder berbisik, "Dia mulai mengerti."
Kindness merinding, "Tidak!"
Murder menjawab, "Dia tidak membenci mereka. Dan itu justru yang membuatnya mengerikan."
---
Elian kemudian mengetahui semuanya. Para pengurus mencuri uang, makanan dijual, dan anak-anak sengaja dibuat tampak sakit agar para donatur iba. Dan anak-anak yang terlalu sakit... dibiarkan mati begitu saja.
Elian duduk sendirian malam itu, mengingat wajah damai ayahnya. Lalu ia mengingat wajah damai ibunya. Kemudian ia melihat anak-anak panti; Mereka kesakitan.
Ia berpikir lama, lalu tersenyum. "Mereka juga capek."
Kindness menangis, "Jangan..."
Redemption berteriak, "Elian!"
Justice berdiri, "Ini dosa."
Murder hanya tertawa. "Dia bahkan tidak merasa sedang melakukan dosa."
---
Malam itu Elian mengendap ke dapur, memperhatikan makanan terbaik yang disimpan para pengurus. Ia mencampurkannya dengan racun.
Kemudian satu per satu para pengurus makan, "Enak sekali."
Elian hanya tersenyum sambil mengintip mereka. Beberapa menit kemudian, mereka mulai terbatuk-batuk, kemudian jatuh satu demi satu.
Elian memandangi mereka. Ia tidak merasa takut ataupun marah. Tidak merasa puas dalam arti manusia biasa. Ia hanya berpikir: Mereka tidak akan bisa menyakiti anak-anak lagi.
Kemudian ia melihat anak-anak panti yang kelaparan dan pucat. Beberapa bahkan sudah hampir mati karena racun dosis kecil yang diberikan para pengurus selama berbulan-bulan.
Elian mengambil makanan, dan seorang anak memandangnya, "Elian? Ini makanan apa?"
"Ini makanan yang enak. Cobalah..."
Anak itu tersenyum, "Makasih."
Elian menyuapinya. Satu anak; Kemudian anak berikutnya; Kemudian anak berikutnya lagi. Beberapa menit kemudian, mereka mulai merasa lemah.
"Kepalaku pusing..."
Elian memeluknya, "Sabar."
Anak itu memandangnya, "Aku takut."
Elian mengusap rambutnya, "Jangan takut."
"Tapi sakit."
"Sebentar lagi akan sembuh." Elian memeluknya lebih erat. "Sebentar lagi kamu bisa tidur, kemudian kamu nggak akan sakit lagi. Seperti papa dan mamaku..."
Anak itu tersenyum lemah kemudian menutup mata sementara Elian terus memeluknya. Satu demi satu anak-anak itu pergi, dan Elian tidak menangis. Ia hanya menata tubuh mereka dengan rapi, seperti seseorang yang sedang menidurkan saudara-saudaranya, "Selamat tidur."
Kindness jatuh berlutut, "Tidak..."
Redemption menatap Elian dengan mata penuh kesedihan, "Dia masih mengira ini kebaikan."
Justice mengepalkan tangan, "Namun darah mereka ada di tangannya."
Murder berdiri di samping Elian dan berkata: "Dan itulah mengapa dia milikku."
---
Petugas keamanan akhirnya menemukan semuanya. Elian ditangkap dan orang-orang berteriak.
Monster.
Pembunuh.
Setan.
Namun Elian hanya memandang mereka dengan bingung, "Kenapa mereka marah?"
"Karena kau membunuh banyak orang!"
Elian menunduk, "Tapi mereka sudah tidak sakit."
"Kau membunuh anak-anak!"
"Mereka memang sudah sakit."
"Itu bukan alasan!"
Elian terdiam. Ia benar-benar tidak mengerti. Dan kemudian hukuman mati dijatuhkan.
Di hari eksekusi, Elian berjalan menuju tiang gantungan tanpa perlawanan, tanpa tangisan, ataupun permohonan.
Seorang penjaga bertanya: "Kamu tidak takut?"
Elian menggeleng, "Kenapa harus takut? Sebentar lagi aku akan tertidur dan mendapat wajah yang sama dengan mereka semua..."
Penjaga itu mengerutkan kening, "Tidur?"
Elian tersenyum, "Iya."
Ia melihat langit. "Mungkin aku bisa bertemu Papa dan Mama kembali..."
Kindness menatapnya dari alam roh, "Elian..."
Redemption berbisik, "Masih ada waktu."
Justice menggeleng, "Sudah terlambat."
Redemption menatapnya, "Apakah benar-benar terlambat?"
Justice diam. Karena untuk pertama kalinya dalam keberadaannya, Justice tidak yakin bagaimana cara menghakimi seseorang yang bahkan tidak memahami kejahatan.
Tali dipasang, Elian memejamkan mata.
"Semoga semua orang... Dapat menemukan kedamaian di dalam tidurnya..."
Tali ditarik; tubuh kecil itu terangkat. Dan dunia manusia kembali sunyi.
---
Di alam setelah kematian, jiwa Elian berdiri sendirian. Kindness menghampirinya terlebih dahulu, "Elian."
Anak itu tersenyum. Ia mengenali cahaya itu. "Oh. Kamu yang waktu itu."
Kindness berlutut, "Ikutlah denganku."
Elian menatapnya, "Ke mana?"
"Tempat di mana kau tidak perlu menyakiti siapa pun lagi."
Elian tersenyum, "Berarti aku sudah tidak perlu membuat orang berhenti sakit?"
Kindness terdiam.
Redemption datang, "Elian."
Anak itu menatapnya, "Apakah kamu menyesal?"
Elian berpikir, kemudian menggeleng.
"Aku tidak tahu."
"Apakah kamu mengakui bahwa yang kamu lakukan adalah dosa?"
Elian menunduk, "Aku tidak mengerti."
Justice datang, "Kalau begitu, aku akan memberitahumu."
Namun Peace berdiri di antara mereka, "Cukup!"
Justice memandangnya, "Dia telah membunuh. Lalu mengapa aku tidak dapat menghakiminya?"
Peace menatapnya, "Karena di dalam hatinya tidak ada kebencian."
Justice terdiam, sementara kindness menangis.
"Dan itu justru masalahnya." Murder berjalan keluar dari kegelapan mendekati Elian.
"Ikutlah denganku. Hanya akulah yang bisa memahami apa yang kamu cari — kedamaian, dengan caramu sendiri yang salah kaprah dan mengerikan itu."
Elian menatapnya, "Siapa kamu?"
Murder tersenyum, "Aku adalah alasan mengapa semua orang yang kau cintai akhirnya tidur."
Elian terdiam, kemudian ia mengulurkan tangan. Murder menggenggamnya, dan pada saat itu — Bayangan hitam menyelimuti tubuh mungilnya. Matanya terbuka, dan tidak lagi sebagai mata seorang anak yang baru saja mati. Melainkan sebagai mata sebuah dosa kuno yang akhirnya menemukan wadah sempurna. Murder menyatu dengan sosok Elian.
Murder-Elian mengangkat tangan, "Perkenalkan... Ini adalah Sinner-ku yang paling terkemuka... Mulai hari ini, aku dan dia adalah satu..."
Ia tersenyum kepada para roh. Kindness menatap Murder-Elian dengan air mata, "Dia seharusnya menjadi salah satu dari kami... Jagalah dia," bisiknya akhirnya, kalah namun tak sepenuhnya putus asa. "Walau bagaimanapun, aku tetap sebagian dari dirinya..."
"Aku tahu," jawab Murder dalam wujud Elian. "Itulah sebabnya wujud kami akan selalu tampak begitu... tenang. Begitu polos. Sebuah paradoks yang bahkan aku sendiri tak sepenuhnya mengerti."
---
Dan begitulah Elian, akhirnya menjadi legenda di antara para roh. Di antara para sinner yang pernah menjadi wujud manusia dari roh dosa pembunuhan, tak ada yang lebih dibanggakan selain seorang bocah berambut putih dengan wajah yang tak pernah kehilangan ketenangannya — bahkan di ujung tali gantungan sekalipun.
Anak yang mencari kedamaian dengan cara yang paling gelap, dan menemukan kegelapan itu memeluknya balik.
Setiap kali Murder mengambil wujudnya, para roh selalu merasa sesuatu yang ganjil, karena Murder tidak terlihat seperti monster. Ia terlihat seperti seorang anak kecil dengan senyum polos.
Dan ketika ia tersenyum, ia selalu mengatakan hal yang sama, "Jangan takut. Aku cuma mau membantu."
Kindness membenci kalimat itu. Redemption takut mendengarnya. Justice tidak pernah mampu menjawabnya. Peace selalu menangis ketika mendengarnya.
Sedangkan Murder dalam wujud Elian selalu tersenyum polos. Karena tidak ada Sinner lain yang mampu memahami dirinya sedalam Elian.
Elian tidak membunuh karena kebencian ataupun keserakahan. Bukan karena kemarahan atau karena dendam. Ia membunuh karena ia percaya bahwa kematian adalah bentuk terakhir dari belas kasih.
Dan mungkin itulah alasan mengapa Murder memilihnya. Bukan karena Elian adalah anak yang paling jahat, melainkan karena Elian mampu melakukan dosa paling mengerikan karena kebaikan hatinya.
Di dalam jiwa Elian, Kindness masih ada. Peace masih menjaganya. Redemption masih menunggunya. Justice masih mengawasinya. Dan Murder tidak pernah meninggalkannya.
Karena di dalam diri seorang anak yang hanya ingin semua orang berhenti merasa sakit, Murder menemukan wadah yang sempurna. Seorang Sinner yang tidak membutuhkan kebencian untuk membunuh atau kemarahan untuk menghancurkan. Seorang Sinner yang tidak membutuhkan alasan apapun.
Hanya sebuah senyum, dan sebuah kalimat sederhana:
"Sebentar lagi sakitnya hilang."
"Kalian akan tidur dengan damai."
Di antara seluruh Sinner yang pernah dilahirkan oleh dosa - Elian dikenang sebagai The Greatest Sinner of Murder.
---
Writer's note
13 Agustus 2016, pertama kali webtoon ini release. Dan webtoon ini selalu menjadi salah 1 webtoon lokal favorit penulis.
Dalam lore di webtoon Desime ini, para roh, apakah dari golongan "virtue" atau roh kebajikan, maupun "sins" atau roh dosa - selalu bisa mengambil wujud dari para saint atau sinner mereka yg terkemuka. Dengan kata lain, yang sifat dominan nya ber-resonasi dengan para roh kebajikan atau roh dosa tersebut.
Back then, penulis tertarik sama sosok roh "Murder", karena wujud manusia roh murder ini adalah anak kecil yang polos. Even roh murder sendiri selalu digambarkan kekanak-kanakan dan clumsy.
Dalam hati penulis, "Ini anak masih kecil bikin dosa kayak gimana yah sampai jadi sinner nya Murder yang paling terkemuka?"
Semalem penulis baru tahu, ternyata Desime dibuat sekuel nya dalam series "Aftermath". Dan kenangan penulis akan Murder pun bangkit lagi. Selagi penulis rebahan di ranjang, imajinasi penulis mulai melayang, dan membayangkan sosok anak berambut putih itu... Bagaimana dia hidup... Apa yang dia alami... Dan perbuatan dosa apa yang dia lakukan...
Lalu lahirlah fanfiction ini.
Fanfiction ini sendiri memiliki nuansa yg berbeda dari komik original maupun sequel nya. Kalau komik original nya lebih lighthearted dan mungkin juga "warming" - fanfic ini punya nuansa gelap. Sisi lain dari dialog para roh yang tidak muncul di komik original nya.
Nevertheless, penulis berharap sedikitnya fanfic ini bisa sedikit menghibur, skaligus merayakan 10 tahun Desime. Dan mungkin juga fanfic ini bisa mengisi jawaban atas pertanyaan banyak orang di periode 2016-202 itu, "Ini anak sebenernya bikin dosa apa sih? Psikopat yah?"
Anyway, penulis menulis cerita ini sambil dengerin lagu ini... Mungkin pembaca juga bisa membaca ulang keselurhan cerita ini sambil mendengarkannya juga...
Gentle Hands
No comments:
Post a Comment