Monday, August 17, 2026

The Song that Understands Me

Gue suka sama lagu-lagu yang either liriknya menggambarkan keputusasaan, atau nada lagunya terdengar desperate, atau bahkan gabungan keduanya.

Bukan karena gue selalu ingin mendengarkan sesuatu yang sedih. Bukan juga karena gue menikmati penderitaan. Ada sesuatu yang lebih sederhana dari itu: gue merasa familiar dengan emosi yang ada di dalamnya.

Hopelessness. Desperation. Putus asa.


Kalau gue harus memilih satu emosi yang paling sering gue rasakan sepanjang hidup gue, mungkin itu adalah keputusasaan.

Ada masa-masa di mana keputusasaan itu bentuknya sangat jelas. Gue tahu apa yang gue inginkan, tapi rasanya terlalu jauh untuk dicapai. Gue tahu apa yang salah, tapi nggak tahu bagaimana cara memperbaikinya. Gue tahu gue ingin keluar dari suatu keadaan, tapi semua jalan keluar yang gue lihat terasa tertutup.

Tapi ada juga masa ketika keputusasaan itu nggak punya bentuk yang jelas. Nggak ada satu kejadian besar yang bisa gue tunjuk dan bilang, “Nah, ini masalahnya.”

Cuma ada perasaan seperti... gue sudah mencoba. Gue sudah berusaha. Gue sudah bertahan. Gue sudah menyesuaikan diri. Gue sudah mencoba memahami orang lain. Gue sudah mencoba menjadi lebih baik. Gue sudah mencoba menjadi lebih kuat.

Tapi kenapa rasanya tetap begini-begini saja?

Mungkin itu sebabnya gue suka lagu yang terdengar desperate. Ada sesuatu yang sangat jujur dari suara seseorang yang terdengar seperti sudah berada di ujung batasnya.

Bukan suara yang tenang, bukan suara seseorang yang sudah berdamai dengan keadaan. Tapi suara seseorang yang benar-benar ingin sesuatu, sampai-sampai keinginannya terdengar seperti permohonan.

Kadang bahkan bukan liriknya yang membuat gue merasa demikian. Bisa cuma cara penyanyinya menarik napas. Cara suaranya pecah di nada tertentu. Cara musiknya semakin lama semakin intens, seolah-olah ada sesuatu yang sedang dikejar dan kalau sesuatu itu tidak ditemukan sekarang, semuanya akan runtuh.

Dan anehnya, gue suka itu. Karena ada perasaan seperti, “Yes. That's exactly how it feels.”

Musik sering kali melakukan sesuatu yang nggak bisa dilakukan oleh bahasa biasa. Kalau gue bilang, “Gue sedih,” itu cuma menjelaskan sebuah keadaan.

Tapi ketika gue mendengar seseorang menyanyikan sesuatu dengan suara yang nyaris seperti berteriak, atau instrumennya semakin lama semakin penuh dan kacau, gue nggak cuma mendengar kesedihan.

Gue mendengar kegelisahan, gue mendengar keinginan untuk diselamatkan, gue mendengar seseorang yang masih berharap, meskipun dia sendiri mungkin sudah nggak percaya bahwa harapan itu akan datang.

Dan mungkin itu bagian yang paling menarik. Desperation sebenarnya masih mengandung harapan. Orang yang benar-benar sudah nggak menginginkan apa-apa mungkin tidak akan desperate.


Desperation muncul karena masih ada sesuatu yang sangat kita inginkan, tapi kita merasa semakin kecil kemungkinan mendapatkannya.

Makanya lagu-lagu desperate terasa sangat manusiawi buat gue, karena di balik keputusasaan selalu ada sesuatu yang pernah kita harapkan.

Cinta yang ingin dipertahankan;
Tempat yang ingin kita tuju;
Seseorang yang ingin memahami kita;
Kehidupan yang kita bayangkan akan kita jalani.

Atau mungkin cuma keinginan sederhana untuk suatu hari nanti bisa bangun dan merasa bahwa hidup ini nggak seberat biasanya.

Dan mungkin selama hidup gue, gue terlalu sering berada di titik di antara “gue masih berharap” dan “gue sudah nggak percaya harapan itu akan terjadi.”

Jadi ketika gue menemukan sebuah lagu yang berada di titik emosional yang sama, rasanya seperti menemukan seseorang yang berbicara dalam bahasa yang gue mengerti.

Bukan karena lagu itu menyelesaikan masalah gue. Bukan juga karena setelah mendengarnya semuanya menjadi lebih baik. Tapi setidaknya selama beberapa menit, gue nggak merasa sendirian dengan perasaan itu.

Ada seseorang di luar sana—entah penyanyinya, penulis lagunya, atau bahkan karakter fiktif yang sedang diceritakan dalam lagu—yang juga pernah merasakan sesuatu yang kurang lebih sama.

Dan mungkin itu alasan sebenarnya kenapa gue menyukai lagu-lagu seperti itu.

Gue nggak selalu mencari musik untuk membuat gue bahagia; Kadang gue cuma mencari musik yang cukup jujur untuk menemani gue ketika gue sedang tidak bahagia.

Karena ada perbedaan besar antara merasa sedih sendirian dengan merasa sedih sambil mendengar seseorang berkata, lewat musik, “Gue tahu rasanya.”

Dan untuk seseorang yang sepanjang hidupnya cukup familiar dengan hopelessness, kadang itu sudah lebih dari cukup. Bukan penyelamatan ataupun solusi.


Cuma companionship.

Teman duduk di sebelah gue selama beberapa menit, ketika hidup terasa terlalu berat untuk dijelaskan dengan kata-kata.

No comments: