Gw sering liat atau mengalami sendiri, kalo gw mulai pasang boundary, gw dibilang egois.
Boundary yang sehat sering terasa egois bagi orang yang selama ini diuntungkan oleh ketiadaan boundary kita.
Misalnya selama ini gw selalu available. Orang bisa curhat kapan aja, minta bantuan kapan aja, ngajak gw masuk ke konfliknya, atau bahkan ngomong seenaknya karena mereka tahu gw bakal memahami alasan mereka.
Begitu suatu hari gw bilang gw nggak bisa terlibat dalam masalah ini, mereka langsung mencap gw egois. Padahal gw nggak mengambil sesuatu dari mereka. Gw cuma berhenti memberikan sesuatu yang sebelumnya gw berikan secara berlebihan.
Lalu soal empati, memahami alasan seseorang tidak sama dengan menyetujui perilakunya.
Gw bisa simultaneously memegang dua hal: "Gw ngerti kenapa lo melakukan ini." dan "Gw tetap nggak mau diperlakukan seperti itu." Itu bukan kontradiksi, itu justru emotional maturity.
Ketika orang lain menganggap boundary kita adalah keegoisan, cobalah untuk bertanya ke diri sendiri terlebih dahulu: "Apakah gw sedang melakukan sesuatu yang tidak adil kepada orang lain, atau apakah gw hanya berhenti melakukan sesuatu yang mereka sudah terbiasa gw lakukan?" Karena dua hal itu sangat berbeda.
Kadang-kadang kita memang perlu introspeksi kalau boundary kita terlalu keras. Tapi kadang-kadang orang cuma kecewa karena akses mereka terhadap gw sekarang punya pintu.
Pintu itu bukan tanda bahwa gw jahat. Tapi itu tanda bahwa sebuah rumah punya pemilik.
No comments:
Post a Comment