Sang Guru sering sekali menceritakan kehidupan sehari-harinya saat sedang memberi wejangan, dan sangat jarang mengutip kata2 orang lain. Hal inilah yang kemudian dipertanyakan banyak orang, kenapa ia jarang mengutip?
"Nak, menurutmu, apakah mungkin seorang yang belum pernah berenang bisa mengajarkan cara berenang yang baik sekalipun ia pernah diberitahu caranya?"
"Tidak Guru, karena diperlukan praktik yang menyusul teori terlebih dahulu. Mengapa demikian? karena kondisi mental setiap orang berbeda-beda, sehingga kata2 yang sama, bisa ditasirkan dengan cara berbeda pula pada setiap orang. Dalam beberapa kondisi, bahkan jika salah menafsirkan instruksi bisa berakibat fatal. Hanya lewat praktik seseorang dapat menyatukan persepsi dan mengetahui makna sebenarnya dari suatu instruksi..."
"Karena itu, akupun hanya mengajarkan apa yang aku lakukan sendiri, agar aku dapat menjawab setiap kebingungan orang yang mendengar instruksiku dengan baik. Hanya orang yang pernah melewati suatu jalan yang bisa menuntun orang lain ke jalan itu..."
Wednesday, January 27, 2010
Tuesday, January 26, 2010
Doa yang Aneh
Di abad pertengahan, ada seorang pelaut yang bermaksud mencari penginapan karena badai akan segera tiba. Ia bermalam di sebuah hotel kecil yang dikelola oleh seorang gadis muda. Setelah beberapa lama pelaut ini ketiduran, sayup2 terdengar suara gadis itu. Pelaut ini menghampirinya, dan ternyata ia sedang berdoa. Entah doa apa yang diucapkannya, kedengarannya tidak jelas, dan cenderung aneh... Tapi sang pelaut tahu kalau gadis ini seorang yang tulus. Ia ingin menyelamatkannya dari 'neraka', maka pelaut inipun mulai menyapa sang gadis dan mengajarinya cara berdoa yang baik dan benar. Ternyata si gadis merespon dengan baik. Sebentar saja si gadis ini sudah dapat mengucapkan doa dengan baik dan jelas.
Esoknya sang pelaut segera melanjutkan perjalanan. Di tengah laut, tiba2 terdengar suara gadis pengelola hotel memanggilnya dari jauh. Sang pelaut ternganga melihatnya, bagaimana tidak? gadis itu berjalah di atas air! "Hei pelaut, kemarin kamu telah mengajariku cara berdoa yang baik, tapi sayangnya aku lupa lagi... coba ajarkan hal itu lagi padaku..." Pelaut itu menolaknya, "Aku rasa kamu tidak memerlukannya..." Tapi gadis itu memaksa, dan akhirnya... mau tidak mau ia mengulangi apa yang dia ajarkan kemarin pada gadis itu. Kemudian dengan riang gadis itu berjalan kembali ke tempat asalnya... Masih berjalan di atas air... Sekarang pemuda itu berpikir, siapa yang sebenarnya lebih dekat dengan surga? Dan siapa yang seharusnya diselamatkan?
Esoknya sang pelaut segera melanjutkan perjalanan. Di tengah laut, tiba2 terdengar suara gadis pengelola hotel memanggilnya dari jauh. Sang pelaut ternganga melihatnya, bagaimana tidak? gadis itu berjalah di atas air! "Hei pelaut, kemarin kamu telah mengajariku cara berdoa yang baik, tapi sayangnya aku lupa lagi... coba ajarkan hal itu lagi padaku..." Pelaut itu menolaknya, "Aku rasa kamu tidak memerlukannya..." Tapi gadis itu memaksa, dan akhirnya... mau tidak mau ia mengulangi apa yang dia ajarkan kemarin pada gadis itu. Kemudian dengan riang gadis itu berjalan kembali ke tempat asalnya... Masih berjalan di atas air... Sekarang pemuda itu berpikir, siapa yang sebenarnya lebih dekat dengan surga? Dan siapa yang seharusnya diselamatkan?
Labels:
Story
Sunday, January 24, 2010
Sumber Materi Blog Ini
Dialog gw dengan seseorang berinisial 'A'
A : Kok isi blog loe diedit dari aslinya dan sumber ceritanya tidak dicantumkan?
B : Ada 3 jenis manusia, satu, yang seperti sampah, tidak berguna sama sekali. Kemudian, seperti hujan, yang hanya menguntungkan beberapa orang terdekat saja. Dan yang terakhir seperti matahari, yang terbit dan memberi manfaat bagi semua orang; bagi orang baik atau jahat, pandai atau bodoh, bejat ataupun bermoral.
A : Terus? Maksud loe?
B : Gw mau jadi seperti matahari, memberi manfaat sebanyak-banyaknya... Banyak orang yang lebih peduli akan 'apakah sesuatu berasal dari sumber yang sama dengan apa yang mereka yakini' Bukannya 'apakah sesuatu itu baik, benar, dan relevan sekalipun tidak berasal dari sumber yang sama dengan yang mereka yakini'. Gw yakin, bahkan orang yang tidak terlalu pandai pun bisa menilai apakah yang ada di blog ini baik atau tidak setelah mereka membacanya. Tapi bagi beberapa orang, jika mereka tahu sumber materi dari beberapa posting di blog ini, paling2 sebelum dibaca sudah dicap tidak baik hanya karena tidak berasal dari keyakinan mereka... Gw cuma ingin memberi manfaat seluas-luasnya, bahkan bagi orang semacam itu...
A : Kok isi blog loe diedit dari aslinya dan sumber ceritanya tidak dicantumkan?
B : Ada 3 jenis manusia, satu, yang seperti sampah, tidak berguna sama sekali. Kemudian, seperti hujan, yang hanya menguntungkan beberapa orang terdekat saja. Dan yang terakhir seperti matahari, yang terbit dan memberi manfaat bagi semua orang; bagi orang baik atau jahat, pandai atau bodoh, bejat ataupun bermoral.
A : Terus? Maksud loe?
B : Gw mau jadi seperti matahari, memberi manfaat sebanyak-banyaknya... Banyak orang yang lebih peduli akan 'apakah sesuatu berasal dari sumber yang sama dengan apa yang mereka yakini' Bukannya 'apakah sesuatu itu baik, benar, dan relevan sekalipun tidak berasal dari sumber yang sama dengan yang mereka yakini'. Gw yakin, bahkan orang yang tidak terlalu pandai pun bisa menilai apakah yang ada di blog ini baik atau tidak setelah mereka membacanya. Tapi bagi beberapa orang, jika mereka tahu sumber materi dari beberapa posting di blog ini, paling2 sebelum dibaca sudah dicap tidak baik hanya karena tidak berasal dari keyakinan mereka... Gw cuma ingin memberi manfaat seluas-luasnya, bahkan bagi orang semacam itu...
Labels:
Dialogue,
Lesson of Live
Musuh di Luar, Musuh di Dalam
Agar kita jangan sampai menambah kebencian dan musuh diluar sana, bersimpatilah terhadap kesedihan orang lain. Renungkan bahwa setiap orang juga dapat mengalami kesedihan serupa kapanpun dimanapun, dan kita tidak seharusnya bersenang terhadap kesedihan orang lain, sebagaimana kita tidak senang saat seseorang tertawa diatas penderitaan kita.
Agar jangan kita menjadi iri hati lantas jatuh sakit karena tidak bisa menerima kebahagiaan orang lain, berbahagialah ketika orang lain berbahagia. Tidak ada untungnya juga kita bersedih atau marah atas kebahagiaan orang lain, satu2nya yang celaka adalah diri sendiri. Orang yang menceritakan prestasinya hanya ingin berbagi kebahagiaannya denganmu, bukan ingin membuatmu sakit karena iri.
Ketika kita berbagi penderitaan, maka penderitaan itupun dapat berkurang setengahnya.
Ketika kita berbagi kebahagiaan, maka kebahagiaan itupun menjadi berlipat ganda.
Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.
Milikilah rasa malu untuk berbuat jahat,
dan rasa takut akan akibat perbuatan jahat.
Agar jangan kita menjadi iri hati lantas jatuh sakit karena tidak bisa menerima kebahagiaan orang lain, berbahagialah ketika orang lain berbahagia. Tidak ada untungnya juga kita bersedih atau marah atas kebahagiaan orang lain, satu2nya yang celaka adalah diri sendiri. Orang yang menceritakan prestasinya hanya ingin berbagi kebahagiaannya denganmu, bukan ingin membuatmu sakit karena iri.
Ketika kita berbagi penderitaan, maka penderitaan itupun dapat berkurang setengahnya.
Ketika kita berbagi kebahagiaan, maka kebahagiaan itupun menjadi berlipat ganda.
Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.
Milikilah rasa malu untuk berbuat jahat,
dan rasa takut akan akibat perbuatan jahat.
Labels:
Lesson of Live
Menghadapi Seorang Musuh
Tidak ada seorangpun yang tidak mencintai dirinya sendiri; oleh karena itu, mereka yang mencintai dirinya sendiri tidak seharusnya menganiaya orang lain. Jangan karena marah dan benci lantas mengharapkan orang lain celaka.
Terhadap seorang musuh, hendaknya kita :
Mengembangkan cinta kasih terhadapnya sebagaimana seorang ibu yang tetap menerima anaknya bagaimanapun buruknya anak tersebut, dan bagaimanapun seorang anak telah menyakiti ibunya.
Mengambangkan belas kasih terhadapnya berdasarkan fakta bahwa ia adalah orang yang menderita; yang tidak menyadari bahwa dirinya menderita; dan lantas berusaha mencari penghiburan lewat perbuatan buruknya terhadapmu. Kasihanilah orang yang menderita ini...
Tidak memperhatikan dan memikirkan orang tersebut
Dengan merenungkan hal ini : setiap orang akan menanggung akibat dari pikiran, perbuatan, dan perkataannya sendiri. Aku mengalami ini sebagai akibat dari pikiran, perkataan, dan perbuatan burukku sendiri yang disadari ataupun tidak. Kelak lawan2ku juga akan menanggung akibat dari perbuatan mereka sendiri.
Terhadap seorang musuh, hendaknya kita :
Mengembangkan cinta kasih terhadapnya sebagaimana seorang ibu yang tetap menerima anaknya bagaimanapun buruknya anak tersebut, dan bagaimanapun seorang anak telah menyakiti ibunya.
Mengambangkan belas kasih terhadapnya berdasarkan fakta bahwa ia adalah orang yang menderita; yang tidak menyadari bahwa dirinya menderita; dan lantas berusaha mencari penghiburan lewat perbuatan buruknya terhadapmu. Kasihanilah orang yang menderita ini...
Tidak memperhatikan dan memikirkan orang tersebut
Dengan merenungkan hal ini : setiap orang akan menanggung akibat dari pikiran, perbuatan, dan perkataannya sendiri. Aku mengalami ini sebagai akibat dari pikiran, perkataan, dan perbuatan burukku sendiri yang disadari ataupun tidak. Kelak lawan2ku juga akan menanggung akibat dari perbuatan mereka sendiri.
Labels:
Lesson of Live
Kenali Sahabat Sejatimu!
Ketika kita sudah menyukai seseorang, maka 1000 kesalahannya tertutup oleh 1 kebaikan.
Ketika kita sudah tidak menyukai seseorang, maka 1000 kebaikannya tertutup oleh 1 kesalahan.
********************
Seseorang bukanlah teman bila ia :
Ia bukanlah teman sejati bila selalu senang jika ada pertengkaran, dan hanya mencari-cari kesalahan. Yang benar2 teman sejati adalah seseorang yang tidak tidak dapat dipisahkan darimu oleh orang lain, bagaikan seorang anak yang berada di pelukan ayahnya.
********************
Seorang sahabat patut diikuti jika ia memiliki 7 hal, yaitu jika ia :
********************
4 macam manusia yang harus dipandang sebagai sahabat sejati :
4 macam manusia yang harus dianggap sebagai musuh yang berputa-pura menjadi sahabatmu :
Ada 4 cara untuk mengetahui watak seseorang :
Demikian cuplikan dari beberapa naskah kuno yang banyak berbicara tentang sahabat, dan terbukti masih sangat relevan bahkan untuk beberapa dekade kedepan. Semoga semua orang bisa memetik manfaat dari cuplikan ini...
Ketika kita sudah tidak menyukai seseorang, maka 1000 kebaikannya tertutup oleh 1 kesalahan.
********************
Seseorang bukanlah teman bila ia :
- Berprilaku tanpa malu
- Menghina temannya
- Berkata “aku adalah temanmu” tapi tidak melakukan apapun untuk membantu
Ia bukanlah teman sejati bila selalu senang jika ada pertengkaran, dan hanya mencari-cari kesalahan. Yang benar2 teman sejati adalah seseorang yang tidak tidak dapat dipisahkan darimu oleh orang lain, bagaikan seorang anak yang berada di pelukan ayahnya.
********************
Seorang sahabat patut diikuti jika ia memiliki 7 hal, yaitu jika ia :
- Memberikan apa yang sulit diberikan
- Melakukan apa yang sulit dilakukan
- Dengan sabar menanggung apa yang sulit ditanggung
- Memberitahukan rahasianya sendiri
- Menjaga rahasia orang lain
- Tidak meninggalkan orang lain di dalam kemalangan
- Tidak menghina seseorang karena kemalangannya
********************
4 macam manusia yang harus dipandang sebagai sahabat sejati :
- Sahabat yang suka menolong
- Sahabat di waktu senang dan di waktu susah
- Sahabat yang suka memberi nasihat baik
- Sahabat yang selalu memperhatikan keadaanmu
- Ia menjaga dirimu sewaktu engkau sedang tidak siaga
- Ia menjaga milikmu sewaktu engkau sedang lengah
- Ia akan melindungimu sewaktu engkau sedang ketakutan
- Jika engkau mau mengerjakan sesuatu, ia akan membantumu dengan bekal dua kali lipat dari apa yang engkau butuhkan
- Ia menceritakan rahasianya padamu
- Ia merahasiakan rahasiamu
- Ia tidak akan meninggalkanmu di waktu kesusahan
- Ia bersedia mengorbankan nyawanya untuk membelamu
- Ia akan mencegah engkau berbuat salah
- Ia menganjurkan engkau berbuat baik
- Ia memberitahumu apa yang belum engkau dengar
- Ia menunjukkan engkau jalan ke Surga
- Ia tidak bergembira atas kemalangan yang menimpa dirimu
- Ia turut bergembira atas keberhasilanmu
- Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentangmu
- Ia menyetujui setiap orang yang memuji dirimu
4 macam manusia yang harus dianggap sebagai musuh yang berputa-pura menjadi sahabatmu :
- Sangat serakah
- Memberi sedikit, meminta banyak
- Melakukan kewajiban karena takut
- Hanya ingat kepentingannya sendiri
- Ia mengeluarkan pernyataan bersahabat tentang hal2 yang sudah lewat
- Ia mengeluarkan pernyataan bersahabat tentang hal2 yangakan datang
- Ia berusaha mendapat perhatianmu lewat kata2 kosong
- Jika saatnya tiba engkau butuh bantuannya, ia menyatakan tidak sanggup
- Ia membiarkan engkau berbuat salah
- Ia tidak menganjurkan engkau berbuat baik
- Ia memuji-muji di depanmu
- Ia menjelek-jelekkan di belakangmu
- Ia menjadi sahabatmu jika engkau mau bermabuk-mabukkan bersamanya
- Ia menjadi sahabatmu jika engkau mau keliaran di waktu yang tidak pantas bersamanya
- Ia menjadi sahabatmu jika engkau sering mengunjungi tempat hiburan yang tak layak
- Ia menjadi sahabatmu jika engkau suka berjudi
Ada 4 cara untuk mengetahui watak seseorang :
- Moralitasnya dapat diketahui dengan memperhatikan dari dekat setelah tinggal bersamanya untuk waktu yang lama
- Integritasnya dapat diketahui dengan berurusan dengannya dan memberikan perhatian dari dekat untuk waktu yang lama
- Keteguhannya dapat diketahui dengan mengamatinya dengan penuh perhatian pada saat ia mengalami kemalangan
- Kebijaksanaannya dapat diketahui dengan berbincang dengannya tentang berbagai masalah untuk waktu yang lama.
Demikian cuplikan dari beberapa naskah kuno yang banyak berbicara tentang sahabat, dan terbukti masih sangat relevan bahkan untuk beberapa dekade kedepan. Semoga semua orang bisa memetik manfaat dari cuplikan ini...
Labels:
Ancient Text,
Lesson of Live
Saturday, January 23, 2010
Mata Burung
Seorang master pemburu memiliki 3 orang murid yang akan segera ditunjuk jadi pewaris namanya. Ia menyiapkan semacam tes kelulusan bagi ke 3 orang itu. Master menaruh boneka burung di sebuah dahan pohon, dan muridnya disuruh memanah burung tersebut. Kedengarannya memang mudah, tapi, tahukan kamu bahwa muridnya hanya boleh memanah mata dari boneka burung tersebut?
Master memanggil murid pertama dan memberitahukan apa yang harus ia lakukan. Murid pertama ini menenangkan pikirannya dan melatih fokusnya terhadap burung itu selama 1/2 jam. Ketika ia bersiap memanah, master bertanya padanya, "Apakah kamu melihat pohon itu dengan jelas?" Murid pertama menjawab, "Ya..." Dan sang master segera menghajar muridnya itu. "Dasar bodoh! Kamu belum siap menjadi pewarisku!"
Kemudian murid kedua dipanggil. Murid kedua perlu waktu 1 setengah jam untuk mempersiapkan diri. Dan ketika ia bersiap memanah, master kembali bertanya, "Apakah kamu melihat pohon itu dengan jelas?" Murid kedua menjawab, "Pohon apa?" Sang master agak tersenyum penuh harap. Kemudian master bertanya lagi, "Apakah kamu melihat burung itu dengan jelas?" Murid kedua kembali menjawab, "Ya..." Master kembali kecewa... "Kamu memang berbakat, tapi tidak cukup berbakat sebagai pewarisku..."
Akhirnya murid ketiga dipanggil. Kali ini murid ketiga perlu persiapan 2 jam lebih! Tapi sang master tetap sabar menunggu. Ketika murid ketiga bersiap memanah, master bertanya, "Apakah kamu melihat pohon itu dengan jelas?"
"Pohon apa?"
"Apakah kamu melihat burung itu dengan jelas?"
"Burung apa?"
"Lantas apa yang ada di matamu?"
"Yang ada di mataku hanyalah biji mata dari burung itu..."
Dan... ia melepaskan anak panahnya tepat di mata elang itu...
Dapatkah anda memetik pelajaran dari kisah ini?
Master memanggil murid pertama dan memberitahukan apa yang harus ia lakukan. Murid pertama ini menenangkan pikirannya dan melatih fokusnya terhadap burung itu selama 1/2 jam. Ketika ia bersiap memanah, master bertanya padanya, "Apakah kamu melihat pohon itu dengan jelas?" Murid pertama menjawab, "Ya..." Dan sang master segera menghajar muridnya itu. "Dasar bodoh! Kamu belum siap menjadi pewarisku!"
Kemudian murid kedua dipanggil. Murid kedua perlu waktu 1 setengah jam untuk mempersiapkan diri. Dan ketika ia bersiap memanah, master kembali bertanya, "Apakah kamu melihat pohon itu dengan jelas?" Murid kedua menjawab, "Pohon apa?" Sang master agak tersenyum penuh harap. Kemudian master bertanya lagi, "Apakah kamu melihat burung itu dengan jelas?" Murid kedua kembali menjawab, "Ya..." Master kembali kecewa... "Kamu memang berbakat, tapi tidak cukup berbakat sebagai pewarisku..."
Akhirnya murid ketiga dipanggil. Kali ini murid ketiga perlu persiapan 2 jam lebih! Tapi sang master tetap sabar menunggu. Ketika murid ketiga bersiap memanah, master bertanya, "Apakah kamu melihat pohon itu dengan jelas?"
"Pohon apa?"
"Apakah kamu melihat burung itu dengan jelas?"
"Burung apa?"
"Lantas apa yang ada di matamu?"
"Yang ada di mataku hanyalah biji mata dari burung itu..."
Dan... ia melepaskan anak panahnya tepat di mata elang itu...
Dapatkah anda memetik pelajaran dari kisah ini?
Labels:
Story
Subscribe to:
Posts (Atom)