Saturday, April 9, 2011

Lepaskan Sumber Penderitaanmu

Seringkali kita tidak menyadari, bahwa apa yang kita sayangi, terkadang justru lebih banyak memberikan kesusahan daripada kesenangan. Tapi kita dibutakan oleh segala yang terlihat baik-baik di kulit luarnya, dan mengabaikan racun yang tersimpan di dalam. Itulah kesusahan di kemudian hari yang harganya tidak sebanding dengan kesenangan yang kita dapat. Seperti narkoba, atau minuman memabukkan yang memberikan kesenangan sementara. Ketika kita sadar, sudah terlambat untuk melepasnya atau malah kita tak sanggup melepasnya walau sudah tahu semua itu tidak ada bagus-bagusnya.

Tiba-tiba saya teringat dengan pengalaman dahulu... Waktu saya masih semester 3-4an, saya pernah dihadiahi mobil. Enak kan? jadi bisa pulang pergi ke kampus dengan mobil pribadi... Tidak keringatan, tidak harus berebut tempat duduk, dan relatif lebih aman. Selain itu juga kalo mau jalan-jalan bersama teman jadi lebih gampang. Tapi tunggu dulu... Setelah semua itu ada kewajiban yang mengikutinya. Saya dituntut untuk membersihkan mobil itu setiap hari dengan tangan saya sendiri. Bagaimana dengan bengkel? Uang saya sebagai mahasiswa tidak mencukupi kalau setiap hari harus cuci mobil di bengkel... Walaupun menaiki mobil sendiri, tapi rasa capek sehabis kuliah tetap terasa. Bayangkan saja, tugas-tugas yang menumpuk, otak yang kelelahan belajar, dll. Bahkan tanpa mempedulikan itupun, saya tetap ‘harus’ membersihkan mobil saya. Hampir setiap hari saya diceramahi untuk selalu mencuci dan mencuci mobil. Tentu saya tidak bisa menuruti hal itu terus menerus karena kondisi fisik yang memang tidak memungkinkan. Bahkan terkadang ketika saya sedang membaca, santai, istirahat, atau mengerjakan tugas masih juga dipaksa mencuci mobil.

Jadi saya ini harus bagaimana? Suatu hari, karena sudah tidak tahan, saya akhirnya mengatakan kalau begini caranya, saya tidak sanggup lagi memiliki mobil ini. Saya bersedia mengembalikan mobil ini kepada yang memberikan dan kembali ke cara lama saya, naik kendaraan umum. Lelahnya naik kendaraan umum belum apa-apa dibandingkan kelelahan fisik dan mental yang harus saya hadapi. Walaupun harus kehilangan fasilitas, gengsi, dan kemudahan yang tersedia, saya bersedia melepasnya demi kebahagiaan pribadi.

Ceritanya saya sudahi sampai disini. Tentu ketika saya mengatakan ingin ‘melepas’ mobil itu saya tidak bercanda. Kalau orang yang memberikan mobil itu ingin menariknya kembali, saya bersedia mengembalikan dan mengganti nama di surat-surat kepemilikan (yang saat itu atas nama saya). Kita dapat menemukan banyak sekali cerita-cerita yang serupa di dunia ini, dimana apa yang dianggap menyenangkan, ternyata setelah dipikir baik-baik lebih banyak menyusahkan, seperti teman, pacar, game, dll. Sayangnya terkadang kita tidak memiliki kekuatan untuk melepas semua itu karena terbuai dengan secuil kesenangan yang ditawarkan, seperti dibuat mabuk dan buta. Diperlukan suatu kebijaksanaan untuk dapat menilai apakah sesuatu yang kita anggap baik akan memberikan kita kebahagiaan jangka panjang, atau hanya kebahagiaan jangka pendek plus setumpuk penderitaan. Dan diperlukan keberanian untuk melepas hal yang lebih banyak menyusahkan ketimbang membahagiakan tersebut.

3 comments:

Qing said...

Nice post :-)
Sama halnya dengan penderitaan, kadang kita di sakiti terus tidak ingin melepaskan rasa sakit akhirnya rasa sakit terus mengikuti kita...

Barry said...

Thx for the comment...

22 said...

nice one bar.. tapi kadang emang kehidupan itu memberikan kita pilihan, dimana setiap pilihan pasti ada kewajiban dan tanggung jawab yang mengikutinya.