Wednesday, January 28, 2026

Harga dari Ketenangan

Beberapa waktu belakangan ini, gue berhadapan dengan pegawai frontliner yang melakukan kesalahan. Bukan kesalahan besar. Biasanya cuma selisih kecil—beberapa ribu rupiah. Jumlah yang, kalau mau jujur, lebih kecil dari ongkos mental buat ribut panjang lebar.

Ada satu pola menarik yang gue lihat, terutama di anak-anak muda sekarang.

Mereka nggak ribet crosscheck ke sana-sini. Nggak panik. Nggak defensif. Kalau kerugiannya masih bisa mereka tanggung sendiri, mereka pilih beresin di tempat. Bayar sendiri. Selesai.

Awalnya, refleks generasi lama—termasuk mungkin gue juga—akan bilang: “Ini orang kurang teliti.”
Atau: “Harusnya dicek dong, biar jelas salah siapa.”

Tapi makin sering gue lihat kejadian kayak gini, makin kerasa ada perspektif lain yang lebih dalam.

Buat mereka, beberapa ribu rupiah itu kalah penting dibanding peace of mind.


Daripada pusing ngecek ulang, manggil supervisor, bongkar log, debat 15 menit buat sesuatu yang nilainya recehan, mereka memilih mengorbankan uang kecil demi ketenangan batin. Secara ekonomi mungkin “nggak optimal”. Tapi secara mental? Sangat rasional.

Pernah juga suatu kali, setelah dicek ulang, ternyata justru gue yang salah. Dan tentu aja, gue balikin reimburse-nya. Fair is fair. Tapi poinnya bukan soal siapa yang salah. Poinnya adalah: mereka nggak langsung berangkat dari asumsi “gue harus menang”.

Mereka berangkat dari pertanyaan yang lebih sederhana:
“Worth it nggak energi gue buat ini?”

Dan jujur aja, itu sikap yang patut diacungi jempol.

Kita hidup di dunia yang terlalu sering ngajarin kita buat always be right, always escalate, always fight for every cent. Padahal nggak semua hal layak diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Ada kalanya, melepaskan sedikit itu justru bentuk kebijaksanaan.

Tentu, ini ada batasnya. Kalau kesalahannya ratusan ribu atau jutaan, ceritanya lain. Itu bukan lagi soal peace of mind, tapi soal sistem, akuntabilitas, dan fairness. Tapi selama masih di wilayah kecil—receh secara nominal, mahal secara mental—mungkin kita memang perlu belajar dari generasi ini.

Belajar merelakan sedikit.
Belajar memilih mana yang perlu diperjuangkan, dan mana yang cukup dilepaskan.

Karena kadang, menang itu bukan soal uang yang kembali. Tapi soal kepala yang tetap adem dan hati yang nggak keruh.

No comments: