Wednesday, May 6, 2026

Di Antara Doa yang Tertunda

“If they must be saved by someone in the body of an Elder, he will manifest in the body of an Elder and speak Dharma for them. ~ Saddharma Pundarika Sutra, Universal Gate of Avalokitesvara”

Hari itu hari Minggu.
Aku pulang dari wihara dengan hati yang masih berisik.

Di luar, langit biasa saja. Tidak ada tanda-tanda keajaiban. Tapi di dalam kepala, rasanya seperti ada ribuan suara yang saling bertabrakan—tentang kerjaan yang tidak beres, uang yang makin menipis, konflik keluarga, dan fitnah yang entah dari mana datangnya.

Aku bahkan sempat berhenti berdoa.

Bukan karena aku tidak percaya.
Tapi karena aku terlalu lelah untuk melakukannya.

Dua minggu penuh, aku tidak menyentuh doa sama sekali. Tidak ada puja, tidak ada mantra, tidak ada apa-apa. Seolah-olah aku menarik diri dari sesuatu yang dulu menjadi bagian paling stabil dalam hidupku.

Hari itu, aku memaksakan diri datang ke wihara.
Entah kenapa.
Mungkin hanya karena aku tidak ingin benar-benar kehilangan semuanya.

Selesai puja Avalokitesvara Bodhisattva, pembacaan Saddharma Pundarika, bab Universal Gate, aku tidak merasa tercerahkan. Tidak ada rasa damai yang tiba-tiba turun dari langit. Yang ada hanya… sedikit ruang kosong di antara kekacauan.

Cukup untuk bernapas.


Aku memesan Gojek untuk pulang.

Sepanjang perjalanan, aku diam. Angin menyentuh wajahku, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikiran yang masih berlarian ke mana-mana.

Sampai tiba-tiba—

“Dek…”

Aku sedikit kaget.
Driver di depan membuka suara tanpa aku mulai percakapan.

“Iya, Pak?”

Dia terdiam sebentar, seolah ragu dengan kata-katanya sendiri.

“Sesedikit apa pun waktu yang kamu punya… coba sempatkan buat baca doa.”

Aku langsung terdiam.

Itu bukan kalimat yang biasanya keluar dari percakapan random.
Dan entah kenapa… kalimat itu terasa terlalu tepat.

Aku tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena… kena.

“Pak,” kataku pelan, “jujur aja ya… saya belakangan ini malah nggak bisa doa sama sekali.”

Dia tidak langsung menjawab.
Aku melanjutkan, tanpa benar-benar sadar kenapa aku bisa sejujur itu ke orang asing.

“Saya lagi banyak masalah. Kerjaan, keluarga… bahkan ada yang fitnah kalau saya ambil komisi yang saya nggak pernah saya ambil. Jadi kayak… ya udah, saya drop aja.”

Motor tetap melaju.
Beberapa detik hening.

Lalu dia bicara lagi, kali ini suaranya sedikit berubah.

“Dek… saya merinding ini.”

Aku mengernyit. “Hah?”

“Saya nggak tahu kenapa tadi ngomong begitu. Tiba-tiba aja keluar. Padahal…” dia tertawa kecil, getir, “kalau dibilang pantas ngasih nasihat, saya ini jauh dari pantas.”


Aku diam, mendengarkan.

“Dulu waktu muda… saya udah coba semua kenakalan. Judi, minum, perempuan… lengkap.”
Dia berhenti sejenak.
“Makanya saya juga bingung kenapa bisa ngomong kayak gitu ke kamu.”

Aku menatap punggungnya sebentar, lalu tersenyum tipis.

“Pak,” kataku, “nasihat baik itu datang dari mana aja. Nggak harus dari orang yang sempurna.”

Dia tidak menjawab, tapi aku bisa merasakan suasana di antara kami berubah. Tidak canggung, tidak aneh. Justru… hangat.

Beberapa saat kemudian, aku mengeluarkan sesuatu dari kantongku.

“Ini, Pak,” kataku sambil sedikit mengangkat tangan. “Saya sebenarnya selalu bawa ini.”

Sebuah mala kecil melingkar di telapak tanganku.

(Catatan : Ini wrist mala milik saya pribadi yg dimaksud dalam cerita ini)

Dia melirik lewat spion, lalu tersenyum.

“Wah… bagus itu tasbihnya, Dek.”

Aku mengangguk.

“Tapi ya itu, Pak. Bawa doang. Dipakainya jarang.”

Dia tertawa pelan.

“Nggak apa-apa. Mulai aja dari sedikit. Lagi nunggu, lagi diam… ya baca sedikit. Nggak harus nunggu waktu khusus.”

Aku tidak menjawab.

Tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu… pikiranku tidak berisik.

Seolah-olah ada satu kalimat sederhana yang berhasil menahan semuanya agar tidak tumpah keluar.

Motor terus berjalan, sampai akhirnya kami tiba di depan rumahku.

Aku turun, membayar, lalu menatap beliau sekali lagi.

“Makasih ya, Pak.”

Dia mengangguk.
Tapi sebelum aku benar-benar masuk, dia berkata satu hal lagi:

“Saya juga nggak tahu kenapa tadi ngomong begitu, Dek. Tapi… semoga kamu baik-baik saja.”

Aku tersenyum.

“Iya, Pak. Semoga.”

---

Malam itu, aku duduk sendirian.

Tidak ada altar yang megah.
Tidak ada ritual panjang.

Hanya aku… dan satu mala kecil di tangan.

Aku menarik napas pelan.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua minggu—

aku membaca satu mantra.

Pendek.
Sederhana.
Tidak sempurna.

Tapi cukup.


---

Sejak hari itu, aku tidak langsung berubah.

Masalahku tidak hilang.
Dunia tidak tiba-tiba menjadi lebih ramah.

Tapi setiap ada jeda kecil—menunggu, duduk, atau bahkan saat pikiranku mulai berlari—aku kembali ke mantra itu.

Sedikit demi sedikit, seperti menyalakan kembali api yang hampir padam.

Sampai suatu hari, tanpa aku sadari…

aku kembali duduk di depan altar, melakukan puja dengan lebih utuh.

Bukan karena aku dipaksa.
Tapi karena aku sudah cukup kuat untuk kembali.

---

Kadang aku masih berpikir tentang hari itu.

Tentang seorang pria tua di atas motor, yang berkata sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak sepenuhnya mengerti.

Tentang bagaimana sebuah kalimat sederhana bisa menjadi jembatan di saat aku hampir tenggelam.

Dan dalam diam, aku percaya—

Berkah Avalokitesvara tidak selalu datang dengan cara yang megah.

Kadang, ia hanya datang sebagai suara biasa…
dari seseorang yang kebetulan duduk di depanmu,

di tengah perjalanan pulang.


No comments: