Malam itu pos ronda sudah dicat ulang.
Cat hijaunya masih terlalu baru. Terlalu bersih. Terlalu bukan kami.
Lampu LED putih dipasang menggantikan bohlam kuning redup yang dulu suka kedip-kedip kayak mau mati tapi keras kepala bertahan. Bangkunya juga beda. Dulu kayu panjang yang bunyinya “kriyet” tiap ada yang duduk terlalu semangat. Sekarang besi hollow. Dingin. Kaku.
Aku duduk sendiri sambil nyalain rokok.
Jam setengah dua pagi.
Kereta terakhir baru lewat beberapa menit lalu.
Dulu, jam segini justru tongkrongan lagi rame-ramenya.
Ada Rio yang ketawa paling keras sampai warga kompleks keluar ngintip. Ada Dimas yang tiap nongkrong pasti bilang dia mau kaya sebelum umur tiga puluh sambil ngutang kopi dua ribu. Ada Nando yang suka bawa gitar tapi lagu yang dimainin itu-itu aja sampai kami hafal salah nadanya.
Dan ada aku.
Anak yang bahkan rumahnya sendiri nggak pernah terasa kayak rumah.
Aku ngelihat ke ujung gang.
Kosong.
Lucu ya.
Dulu kalau ada tiga motor parkir aja udah sempit. Sekarang bahkan kalau ada mobil berhenti, masih terasa luas.
Aku hisap rokok pelan.
Angin malam lewat bawa bau tanah habis hujan dan suara televisi dari rumah warga yang belum tidur.
“Masih suka ke sini ternyata.”
Aku nengok.
Pak Hadi, penjaga ronda komplek, jalan pelan sambil bawa termos.
“Belum tidur, Pak?”
“Lah sampeyan juga belum.”
Aku ketawa kecil.
Dia duduk di sebelahku. Termos dibuka. Kopi hitam. Masih gaya lama.
“Yang lain mana?” tanyanya.
Pertanyaan paling sederhana.
Dan entah kenapa selalu paling susah dijawab.
“Udah sibuk semua.”
“Si Rio kemarin pulang bentar katanya.”
“Iya. Tapi saya nggak sempat ketemu.”
Padahal sebenarnya aku sempat lihat Instagram story Rio. Lagi nongkrong sama teman-teman kantornya di Jakarta Selatan. Tempat fancy. Lampunya remang-remang. Gelasnya mahal.
Bukan di sini.
“Dimas?” tanya Pak Hadi lagi.
“Bandung. Baru punya anak.”
“Wah…”
“Iya.”
“Nando?”
Aku diam sebentar.
“Nando udah nggak ada, Pak.”
Pak Hadi langsung pelan suaranya. “Oh iya… saya lupa.”
Aku mengangguk kecil.
Kami diam cukup lama setelah itu.
Kereta lain lewat.
Getarannya masih sama.
Dulu kami suka berhenti ngobrol tiap kereta lewat. Entah kenapa. Kayak ada aturan tidak tertulis. Baru setelah suara rel mereda, obrolan lanjut lagi.
Aneh ya.
Tubuh bisa mengingat sesuatu bahkan setelah orang-orangnya hilang.
“Dulu rame banget di sini,” kata Pak Hadi.
Aku senyum tipis.
“Pernah sampai tiga puluh orang, Pak.”
“Tiga puluh? Halah.”
“Serius.”
Dan tiba-tiba kepalaku penuh lagi sama suara-suara lama itu.
“GESER WOY GUE DUDUK.”
“Siapa yang mesen mi rebus dua?!”
“Anjing motor siapa nutup jalan?!”
“Bro dengerin gue dulu anjir ini penting.”
Tawa.
Asap rokok.
Bunyi korek.
Suara plastik kresek.
Gitar fals.
Orang curhat putus cinta jam satu pagi kayak dunia kiamat besok.
Hal-hal kecil yang dulu terasa abadi.
Padahal ternyata cuma mampir sebentar.
Aku dulu pikir tongkrongan itu tempat buat killing time.
Belakangan baru sadar:
itu tempat aku bertahan hidup.
Karena di rumah, nggak ada yang nunggu aku pulang.
Bapak pergi waktu aku SMP.
Ibu sibuk kerja sampai malam.
Kalau pulang pun kami lebih sering diam.
Rumah cuma tempat tidur dan mandi.
Tapi pos ronda ini…
Di sini orang sadar kalau aku menghilang dua hari.
Di sini ada yang nyamperin kalau aku mendadak diam.
Di sini ada yang hafal aku nggak suka bawang di nasi goreng.
Di sini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa keberadaanku punya bentuk.
Aku ingat malam waktu aku kena PHK pertama kali.
Aku duduk di pojokan sini.
Nggak ngomong apa-apa.
Rio naruh kopi depan aku tanpa banyak tanya.
Dimas bilang,
“Kalau lu miskin, kita miskin bareng lah.”
Bercanda goblok.
Tapi entah kenapa malam itu aku pulang nggak jadi nangis.
Aku juga ingat waktu Nando meninggal karena kecelakaan.
Untuk pertama kalinya pos ronda ini sunyi.
Tiga puluh orang hadir malam itu.
Tapi nggak ada yang benar-benar ngobrol.
Kami cuma duduk.
Karena ternyata umur dua puluhan adalah fase ketika kita mulai sadar:
orang bisa benar-benar hilang.
Setelah Nando pergi…
tongkrongan mulai berubah.
Nggak langsung bubar.
Nggak dramatis.
Cuma…
pelan-pelan berkurang.
Satu kerja shift malam.
Satu pindah kota.
Satu menikah.
Satu sibuk pacaran.
Satu capek.
Dan anehnya, nggak ada yang sadar kapan tepatnya semua selesai.
Suatu hari kami masih lengkap.
Tahu-tahu beberapa bulan kemudian,
yang datang tinggal empat.
Lalu dua.
Lalu aku sendirian.
Aku pernah marah soal itu.
Dalam hati aku pikir:
“Kok kalian bisa ninggalin tempat ini gitu aja?”
Tapi makin gede aku makin ngerti.
Mereka bukan ninggalin tempat ini.
Mereka cuma lanjut hidup.
Dan mungkin…
aku satu-satunya yang terlalu takut melangkah pergi.
Pak Hadi berdiri pelan sambil nepuk pundakku.
“Sudah larut. Pulang sana.”
Aku ketawa kecil.
“Iya, Pak.”
Dia jalan pergi pelan-pelan.
Aku masih duduk beberapa menit lagi.
Ngelihat rel kereta.
Ngelihat jalan kosong.
Ngelihat pos ronda yang sekarang terasa seperti museum kecil buat versi muda diriku sendiri.
Lalu aku sadar sesuatu.
Selama ini aku pikir aku datang ke sini buat mengenang mereka.
Padahal sebenarnya…
aku datang ke sini supaya aku bisa ketemu diriku yang dulu.
Versi diriku yang pernah merasa punya keluarga.
Aku matiin rokok.
Berdiri.
Dan tepat sebelum pergi, aku dengar suara anak-anak ketawa dari ujung gang.
Sekelompok anak SMA datang naik motor.
Berisik.
Ketawanya terlalu keras.
Salah satu dari mereka bawa gitar.
Aku hampir ketawa sendiri.
“Bang, masih boleh nongkrong di sini nggak?” tanya salah satu dari mereka.
Aku nengok ke pos ronda.
Lalu ke mereka.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
tempat ini nggak terasa sedih.
Aku geser sedikit dari bangku.
“Boleh,” kataku.
“Asal jangan pulang cepet.”
No comments:
Post a Comment