Sunday, February 1, 2026

Memories of Grandpa

Gw benci kakek gw.

Itu kalimat yang paling lama tinggal di kepala gw—bukan sehari dua hari, tapi bertahun-tahun. Kayak mantra gelap yang gw ulang-ulang setiap kali ada sesuatu yang mengingatkan gw tentang keluarga gw yang jatuh, tentang rumah yang dulu katanya besar tapi cuma tersisa cerita, tentang nama keluarga yang dulu disebut orang dengan hormat tapi buat gw cuma terdengar seperti lelucon pahit.

Gimana nggak benci?

Keluarga gw bangkrut gara-gara dia. Setidaknya itu yang selalu gw percaya. Uang habis, harga diri habis, masa depan keluarga gw hancur—semuanya gara-gara satu kebiasaan yang bahkan kalau gw tulis pun rasanya jijik: dia hobi judi.

Yang paling bikin gw nggak bisa maafkan adalah satu gambar yang kebentuk di kepala gw sejak kecil. Nenek gw sakit. Terbaring. Lemah. Uang lagi seret. Tapi di tengah semua itu, kakek gw masih sempat-sempatnya main judi. Dan kata orang, dia udah begitu dari muda, dan semakin menjadi di hari tua nya. Jadi bukan “khilaf”, bukan “sekali dua kali”, tapi pola hidup.

Gw tumbuh dengan cerita-cerita itu menempel di kulit gw. Keluarga kita katanya dulu orang kaya. Bukan kaya “punya mobil satu”, tapi kaya yang membuat orang lain iri. Ironisnya, kekayaan itu bahkan nggak sempat gw nikmati sedari gw lahir—karena ketika gw lahir, keluarga gw udah keburu bangkrut.

Jadi buat gw, kakek itu bukan figur hangat yang suka bawa permen atau ngajak jalan-jalan. Kakek itu simbol. Simbol runtuhnya keluarga. Simbol penderitaan nenek. Simbol ketidakadilan hidup: orang yang bikin rusak malah tetap bisa ketawa, sementara yang menanggung akibatnya ya orang-orang kayak gw.

Singkat cerita, kakek gw meninggal.

Dan gw nggak langsung berubah jadi manusia lembut yang tiba-tiba ikhlas. Nggak. Bahkan setelah beberapa tahun sejak dia meninggal, gw masih nyimpen kebencian itu. Kadang kebencian itu muncul tanpa gw undang—pas denger orang cerita soal keluarganya yang harmonis, pas liat temen gw punya kakek yang baik, pas gw ngeliat foto keluarga orang lain dan gw ngerasa… kenapa gw dapatnya yang kayak gini?

Sampai suatu hari, kejadian kecil yang nggak gw sangka justru ngerobohin tembok yang gw bangun lama banget.

Gw lagi berberes album foto lama.

Album itu udah tua, sampulnya kusam, plastik pembungkus fotonya udah agak lengket karena umur. Gw bukanya cuma karena iseng—atau mungkin karena ada bagian dalam diri gw yang butuh sesuatu untuk dipegang, semacam bukti bahwa gw pernah punya masa kecil yang beneran terjadi, bukan cuma potongan ingatan yang samar.

Gw mulai dari halaman awal: foto-foto keluarga, beberapa wajah yang udah jarang gw denger namanya disebut. Lalu tiba-tiba gw nemu foto gw masih kecil… bersama kakek.

Gw kaget. Bukan kaget karena ada foto itu—wajar, namanya juga album keluarga. Gw kaget karena ekspresi di foto itu.


Di foto pertama, gw digendong. Kepala gw nyender di dada kakek. Mulut gw kebuka lebar, ketawa. Ketawa yang polos banget, ketawa anak kecil yang belum kenal konsep dendam. Kakek gw juga senyum—bukan senyum dibuat-buat, tapi senyum yang kelihatan… tulus. Yang kayak bilang, “Ini cucu gw.”

Gw balik halaman.

Ada foto lain, gw dipangku. Ada foto gw nempel terus sama dia, kayak dunia gw waktu itu cuma sebatas pangkuan itu. Ada foto dimana kakek gw keliatan bangga, atau minimal—hangat. Dan semakin banyak foto yang gw lihat, semakin jelas satu hal yang selama ini gw tutup rapat-rapat:

Ternyata ada masa di hidup gw dimana hubungan gw sama kakek gw nggak seburuk itu.

Dan itu bikin gw… bingung.

Karena kebencian gw selama ini terasa rapi. Terstruktur. Nyaris logis. Kakek adalah orang jahat, titik. Orang jahat nggak mungkin jadi tempat gw ketawa-ketawa. Orang jahat nggak mungkin gw peluk dengan nyaman. Orang jahat nggak mungkin bikin gw terlihat aman.

Tapi foto-foto itu ada. Nyata. Diam-diam membantah versi cerita yang gw pegang bertahun-tahun.

Halaman berikutnya yang bikin dada gw sesak adalah foto ulang tahun gw waktu masih bayi.

Gw nggak inget hari itu, jelas. Tapi di foto, ada kue. Ada balon. Ada dekor seadanya tapi niat. Dan gw tau, di masa itu ekonomi keluarga kita lagi nggak bagus. Kita udah dalam “keterbatasan”. Tapi ulang tahun gw dirayakan lumayan besar.

Gw menatap foto itu lama.

Di situ, kakek gw berdiri dekat gw. Tangannya mungkin baru aja naruh sesuatu di meja. Matanya ke arah kamera. Dan sekali lagi, ada ekspresi yang gw benci akui: ada sayang di sana.

Di titik itu, kebencian gw nggak langsung hilang. Tapi ia retak.

Karena gw dipaksa ngakuin dua kebenaran yang selama ini gw anggap mustahil berdampingan:

Gw nggak setuju sama banyak hal yang kakek gw lakukan.

Tapi fakta bahwa dia sebenarnya sayang sama gw… juga benar.

Dan dua kebenaran itu rasanya kayak batu yang saling gesek di dada gw.

Gw sedih. Gw marah. Gw malu. Gw menyesal.

Gw sedih karena gw baru “ketemu” sisi itu ketika dia udah lama nggak ada. Gw marah karena kenapa orang bisa sayang di satu sisi, tapi tega di sisi lain? Gw malu karena ternyata selama ini gw nyimpen kebencian begitu dalam, bertahun-tahun, sampai kebencian itu jadi identitas. Gw menyesal karena mungkin… mungkin ada bagian dari hidup gw yang gw sia-siain cuma karena gw terlalu sibuk memelihara dendam.

Gw tutup album itu pelan-pelan, seperti takut bunyinya terlalu keras dan membangunkan semua memori yang tadi keangkat.

Malam itu gw nggak langsung jadi orang yang pemaaf. Gw nggak tiba-tiba bilang, “Aku memaafkanmu, Kek,” dengan dramatis. Nggak. Hidup bukan film.

Tapi untuk pertama kalinya, gw ngerasain kebencian gw nggak lagi utuh. Ada lubang kecil yang masukin rasa lain: rasa kehilangan. Rasa sayang yang terlambat. Rasa “seandainya”.

Tapi ya sudah.

Hidup terus berlanjut.

Yang bisa gw lakukan sekarang cuma berdoa untuk dia—bukan karena dia sempurna, bukan karena semua kesalahannya jadi hilang, tapi karena pada akhirnya dia juga manusia. Manusia yang punya kekurangan, punya dosa, punya sisi gelap, tapi juga—entah bagaimana—punya kapasitas untuk sayang.

Dan gw berusaha untuk jadi manusia yang lebih baik daripada dia.

Bukan dengan pura-pura lupa. Bukan dengan menghapus masa lalu. Tapi dengan belajar dari reruntuhan yang dia tinggalkan.

Supaya suatu hari nanti, kalau ada orang yang membuka album foto tentang gw… mereka nggak harus merasakan kebingungan yang sama.

Gw cuma bisa bilang, “Dia pernah salah. Tapi dia berusaha.”

No comments: