Malam itu gw benar-benar lepas kendali.
Tepat di malam tahun baru—malam yang katanya harusnya penuh tawa, doa, dan keluarga. Tapi di rumah gw, yang ada cuma sunyi yang menyesakkan dada. Kedua orangtua kita masih dirawat. Depresi berat. Bangsal jiwa. Kata-kata yang sampai sekarang pun masih susah gw cerna.
Gw duduk di kamar, HP di tangan, scrolling tanpa tujuan. Satu per satu postingan muncul. Foto keluarga lain pakai baju rapi, meja makan penuh, caption bahagia: “Blessed New Year Dinner with family”. Ada juga notif dari grup keluarga besar—foto rame-rame, ketawa, seolah dunia mereka utuh. Tanpa gw. Tanpa kita.
“Lucu ya,” gumam gw sendiri. “Kalian makan malam, gw makan amarah.”
Dada gw panas. Nafas gw mulai nggak karuan. Tangan gw gemetar. Tiba-tiba gw berdiri dan teriak, entah ke siapa.
“KENAPA HARUS KELUARGA GUE?!”
Satu gelas melayang ke tembok. *Prang.* Kursi gw tendang. Laci gw banting. Gw nangis sambil ketawa—histeris. Gw mengutuk nasib, Tuhan, hidup, semuanya.
“Capek… capek banget…” suara gw pecah.
Di tengah kekacauan itu, tiba-tiba ada tangan melingkar dari belakang. Erat. Hangat. Gw kaget setengah mati.
“JANGAN—” gw hampir berontak.
Tapi pelukan itu malah makin kencang. Nggak ada kata. Nggak ada ceramah. Cuma pelukan yang bikin gw berhenti bergerak. Gw tau itu siapa.
“Kak…?” suara gw kecil.
Kak Ian nggak jawab. Dia cuma nahan gw, seolah bilang: *gw di sini*. Akhirnya gw nyerah. Badan gw lemas. Gw muter badan, mukul dadanya pakai kepalan tangan yang gemetar.
“Kenapa Kak?! Kenapa hidup segini kejam?!”
Gw nangis sekencang-kencangnya.
Kak Ian tetep diem. Dia cuma usap kepala gw pelan, terus bilang lirih,
“Udah… nggak apa-apa. Gw di sini.”
Itu doang. Tapi cukup.
Gw nangis sampai tenaga gw habis. Sampai suara gw serak. Sampai akhirnya gw cuma terisak kecil, masih dipeluk. Malam itu, Kak Ian temenin gw tidur di kamar gw. Dia duduk di samping ranjang sampai nafas gw bener-bener teratur.
Besok paginya, gw bangun dengan mata sembab. Rumah masih sunyi. Tapi ada aroma makanan.
Di dapur, Kak Ian udah rapi pakai kemeja. Di meja ada sarapan sederhana.
“Udah bangun?” katanya singkat.
“Iya…”
“Makan dulu. Gw harus ke kantor.”
Gw cuma ngangguk. Dia nggak banyak bicara. Gw tau, di balik sikapnya yang tenang, dia juga nyimpen luka yang sama dalamnya. Tapi dia milih buat kuat—buat gw.
Sebelum pergi, dia berhenti sebentar di pintu.
“Kalau hari ini berat, kabarin gw aja. Jangan dipendem sendiri.”
Pintu tertutup. Gw duduk sendiri, makan pelan-pelan, dengan dada yang masih sakit… tapi nggak sendirian.
Dan sampai sekarang, gw tau satu hal:
Gw bisa survive melewati masa tergelap dalam keluarga kami, itu karena dia.
Kak Ian.
Dan untuk itu, gw akan selalu bersyukur.
No comments:
Post a Comment