Sunday, February 1, 2026

Tentang Hubungan Transaksional

Jujur saja, sampai sekarang gue masih sering kesulitan membedakan antara hubungan yang disebut transaksional dengan konsep reciprocity, balas budi, atau kontribusi. Di atas kertas, istilah-istilah itu terdengar berbeda. Lebih halus. Lebih bermartabat. Lebih “manusiawi”.

Tapi esensinya, rasanya sama saja.

Kadang gue merasa istilah-istilah itu hanyalah cara yang lebih sopan untuk membungkus ketidaknyamanan kita terhadap kata “transaksi”. Kata itu terdengar dingin. Kaku. Seolah-olah setiap relasi manusia harus selalu dihitung, ditimbang, dan dicatat di buku besar tak kasat mata.

Padahal, kenyataannya, hampir semua hubungan memang punya unsur timbal balik. Entah kita mau mengakuinya atau tidak.


Dan mungkin… itu bukan sesuatu yang buruk.

Tidak ada orang tua yang membesarkan anaknya dengan harapan anak itu tumbuh menjadi beban bagi dunia. Bahkan cinta orang tua yang paling tulus pun biasanya disertai harapan implisit: anaknya bisa hidup layak dan bertanggung jawab.

Begitu juga pertemanan. Tidak ada teman yang bisa terus-menerus memberi tanpa pernah menerima. Tidak ada hubungan yang tahan lama jika satu pihak selalu diminta mentraktir, membantu, mengalah, atau memahami—sementara pihak lain tidak pernah berusaha memberi kembali, sekecil apa pun bentuknya.

Mungkin yang sering kita tolak bukanlah transaksinya, melainkan transaksi yang terasa kasar, eksploitatif, atau tidak seimbang. Kita tidak alergi pada timbal balik. Kita alergi pada relasi yang terasa seperti diperas, dipakai, lalu ditinggalkan.

Reciprocity bukan tentang hitung-hitungan kaku. Ia lebih mirip kesadaran bersama bahwa relasi itu hidup karena dua arah. Bahwa kehadiran kita di hidup orang lain seharusnya membawa nilai, bukan hanya kebutuhan.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita akui adalah ini: hampir semua hubungan melibatkan pertukaran. Waktu, energi, perhatian, uang, empati, dukungan emosional. Bedanya, hubungan yang sehat tidak selalu menagih, tapi tetap berharap. Tidak selalu mencatat, tapi tetap ingat. Tidak selalu seimbang di setiap momen, tapi terasa adil dalam jangka panjang.

Dan mungkin, kejujuran semacam itu justru lebih dewasa daripada berpura-pura bahwa semua relasi sepenuhnya bebas dari kepentingan.

No comments: