Inisiatif atau Kemampuan Membaca Pikiran?
Ada satu kata yang sering banget muncul di dunia kerja, hubungan pertemanan, bahkan kehidupan sehari-hari: inisiatif.
Kalau ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan, cepat atau lambat pasti ada yang bilang:
"Harusnya lebih inisiatif dong."
Kalimat ini terdengar masuk akal. Bahkan sering dianggap sebagai nasihat yang baik. Masalahnya, semakin lama gue mengamati, semakin gue sadar bahwa kata inisiatif sering digunakan secara terlalu longgar.
Kadang yang diminta memang inisiatif.
Kadang yang diminta sebenarnya kemampuan membaca pikiran.
Dan dua hal itu sangat berbeda.
Standar yang Tidak Selalu Sama
Salah satu sumber frustrasi terbesar dalam berinteraksi dengan orang lain adalah ketika standar yang digunakan terasa berbeda.
Misalnya:
- Saat kita tidak melakukan sesuatu, kita dianggap kurang inisiatif.
- Saat orang lain tidak melakukan sesuatu, alasannya adalah karena tidak ada yang memberi tahu.
Situasi seperti ini menciptakan pertanyaan yang sulit diabaikan:
Apakah inisiatif memang merupakan nilai yang dijunjung tinggi, atau hanya tuntutan yang berlaku untuk orang tertentu saja?
Karena kalau inisiatif benar-benar penting, seharusnya standar itu berlaku untuk semua orang.
Masalah Komunikasi yang Disamarkan Menjadi Kurang Inisiatif
Ada kecenderungan yang cukup umum di banyak tempat.
Orang menganggap sesuatu yang sudah jelas di kepala mereka sebagai sesuatu yang juga jelas bagi orang lain.
Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, label yang muncul adalah:
"Kurang inisiatif."
Padahal akar masalahnya belum tentu di sana.
Bisa jadi masalahnya adalah ekspektasi yang tidak pernah dikomunikasikan dengan jelas.
Bisa jadi arahnya belum pernah disampaikan.
Bisa jadi konteksnya hanya diketahui oleh sebagian orang.
Dalam kondisi seperti itu, menyalahkan kurangnya inisiatif sering kali menjadi cara yang lebih mudah daripada mengakui adanya kegagalan komunikasi.
Inisiatif yang Sebenarnya
Menurut gue, inisiatif adalah kemampuan untuk melihat masalah lalu mengambil tindakan tanpa harus diminta.
Ada masalah yang jelas terlihat.
Ada informasi yang cukup untuk bertindak.
Ada ruang untuk mengambil keputusan.
Lalu seseorang bergerak.
Itulah inisiatif.
Tetapi ada definisi lain yang sering diam-diam diselundupkan ke dalam kata tersebut:
Melakukan sesuatu yang tidak pernah dikomunikasikan, tidak pernah dibahas, dan tidak pernah menjadi ekspektasi yang jelas.
Kalau gagal melakukannya, dianggap tidak punya inisiatif.
Ini bukan inisiatif.
Ini tebak-tebakan.
Lebih tepatnya, kemampuan membaca pikiran orang lain.
Dan sampai hari ini, setahu gue, itu belum masuk dalam deskripsi pekerjaan siapa pun.
Orang yang Benar-Benar Inisiatif
Ada satu pola menarik yang sering gue lihat.
Orang yang benar-benar punya inisiatif biasanya tidak terlalu sering berbicara tentang inisiatif.
Mereka melihat masalah.
Mereka menyelesaikannya.
Lalu mereka lanjut ke hal berikutnya.
Sebaliknya, kata "inisiatif" terkadang digunakan sebagai alat untuk memindahkan tanggung jawab.
Bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan untuk menjelaskan mengapa masalah itu menjadi tanggung jawab orang lain.
Mungkin Pertanyaan yang Lebih Penting
Daripada terus bertanya apakah seseorang cukup inisiatif atau tidak, mungkin ada pertanyaan yang lebih berguna:
- Apakah ekspektasinya sudah jelas?
- Apakah konteksnya sudah dibagikan?
- Apakah standar yang digunakan berlaku untuk semua orang?
- Apakah kita sendiri menunjukkan perilaku yang kita tuntut dari orang lain?
Karena inisiatif memang penting.
Tetapi inisiatif tidak bisa menggantikan komunikasi.
Dan komunikasi yang buruk tidak otomatis berubah menjadi masalah inisiatif hanya karena kita memberi label seperti itu.
Pada akhirnya, orang tidak keberatan diminta untuk lebih proaktif.
Yang sering membuat frustrasi adalah ketika mereka diminta memenuhi ekspektasi yang bahkan tidak pernah diucapkan.
No comments:
Post a Comment