Banyak buku psikologi modern mengajarkan pentingnya komunikasi asertif.
Definisinya terdengar sederhana: kemampuan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, kebutuhan, atau ketidaksetujuan secara jujur dan tegas, tanpa bersikap agresif maupun pasif.
Di atas kertas, konsep ini terdengar ideal. Siapa yang tidak ingin hidup di lingkungan di mana setiap orang dapat berbicara secara terbuka dan saling menghormati?
Namun semakin bertambah usia, saya mulai menyadari bahwa konsep komunikasi asertif sering kali bertabrakan dengan realitas budaya di banyak negara Asia, termasuk Indonesia.
Dalam banyak pelatihan komunikasi, kita diajarkan kalimat-kalimat seperti:
“Saya memahami pertimbangan Anda, tetapi saya memiliki pandangan yang berbeda.”
Atau:
“Boleh saya mengajukan alternatif yang mungkin bisa dipertimbangkan?”
Menurut standar komunikasi modern, kalimat-kalimat tersebut tergolong sopan, profesional, dan asertif.
Masalahnya, di banyak lingkungan sosial Asia, kalimat seperti itu belum tentu diterima sebagai bentuk komunikasi yang sehat. Dalam konteks tertentu, kalimat tersebut justru dapat dianggap sebagai bentuk pembangkangan yang dibungkus kesopanan.
Banyak orang Asia tumbuh dalam budaya yang menempatkan harmoni sosial, senioritas, dan hierarki sebagai nilai yang sangat tinggi. Sejak kecil, kita diajarkan untuk menghormati orang tua, guru, atasan, dan mereka yang dianggap memiliki posisi lebih tinggi.
Pada titik tertentu, nilai ini tentu memiliki manfaat. Sebuah masyarakat tidak dapat berjalan tanpa adanya rasa hormat terhadap orang lain.
Namun ada pertanyaan yang jarang dibahas:
Apakah rasa hormat selalu berarti kepatuhan?
Di sinilah saya melihat adanya perbedaan mendasar antara teori komunikasi modern dan praktik sosial yang masih hidup di banyak masyarakat Asia.
Dalam teori komunikasi asertif, setiap individu memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya.
Dalam budaya yang sangat hierarkis, hak tersebut sering kali tidak dianggap universal. Hak untuk berbicara sering kali bergantung pada posisi seseorang dalam struktur sosial.
Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar haknya untuk berbicara.
Semakin rendah posisinya, semakin besar kewajibannya untuk mendengarkan.
Saya pernah menemukan referensi mengenai tradisi yang dipengaruhi Konfusianisme, di mana seseorang yang lebih muda tidak boleh berbicara dalam forum apabila belum diberi izin. Bahkan mengangkat tangan diantara jeda pembicaraan pun dapat dianggap tidak pantas.
Terlepas dari apakah setiap detail historisnya benar atau tidak, gagasan dasarnya jelas: keteraturan sosial dianggap lebih penting daripada ekspresi individu.
Menariknya, banyak orang modern hanya melihat satu sisi dari tradisi tersebut.
Mereka melihat kewajiban bawahan untuk patuh.
Mereka melihat kewajiban anak untuk taat.
Mereka melihat kewajiban junior untuk menghormati senior.
Namun mereka sering melupakan sisi lainnya.
Dalam ajaran Konfusian klasik, pemimpin juga memiliki kewajiban moral yang sangat besar. Penguasa dituntut untuk bijaksana. Senior dituntut menjadi teladan. Mereka yang berada di posisi atas dituntut untuk mendengarkan nasihat dan menerima kritik yang benar.
Dengan kata lain, hubungan idealnya bukanlah:
“Atasan selalu benar.”
Melainkan:
“Bawahan menyampaikan dengan hormat, dan atasan mendengarkan dengan kebajikan.”
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, bagian kedua sering kali hilang.
Yang tersisa hanyalah tuntutan agar pihak yang lebih rendah terus menghormati pihak yang lebih tinggi.
Akibatnya, konsep rasa hormat perlahan berubah menjadi alat untuk menghindari pertanyaan.
Anak yang berbeda pendapat dianggap durhaka.
Karyawan yang menolak beban kerja berlebihan dianggap tidak loyal.
Junior yang mengoreksi kesalahan senior dianggap tidak tahu diri.
Dalam situasi seperti itu, komunikasi asertif bukan lagi dianggap sebagai keterampilan. Ia dianggap sebagai ancaman.
Menurut saya, di sinilah letak akar permasalahannya.
Perdebatan ini sebenarnya bukan tentang Timur versus Barat.
Bukan tentang komunikasi asertif versus sopan santun.
Melainkan tentang satu pertanyaan sederhana:
Apakah seseorang yang memiliki status lebih rendah tetap memiliki hak untuk memiliki suara?
Jika jawabannya ya, maka komunikasi asertif memiliki tempat dalam masyarakat.
Jika jawabannya tidak, maka yang sedang dipertahankan bukanlah rasa hormat, melainkan kepatuhan.
Seseorang dapat mematuhi orang lain karena takut.
Seseorang dapat mematuhi orang lain karena bergantung secara ekonomi.
Seseorang dapat mematuhi orang lain karena tidak memiliki pilihan.
Namun tidak satu pun dari hal tersebut secara otomatis berarti rasa hormat.
Sebaliknya, seseorang dapat sangat menghormati orang lain sambil tetap tidak setuju dengannya.
Ia dapat menghormati orang tuanya sambil memilih jalan hidup yang berbeda.
Ia dapat menghormati atasannya sambil menunjukkan kelemahan sebuah keputusan.
Ia dapat menghormati gurunya sambil mempertanyakan sebuah gagasan.
Mungkin tantangan terbesar masyarakat modern bukanlah memilih antara budaya Timur atau budaya Barat.
Tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara menjaga rasa hormat dan mengakui martabat setiap individu.
Karena pada akhirnya, seseorang bisa sangat senior dan tetap salah.
Dan seseorang bisa sangat junior tetapi kebetulan sedang benar.
No comments:
Post a Comment