Friday, June 12, 2026

Manajemen dan Peran AI

Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan ngomong soal "people are our greatest asset". Tapi perlakuan ke manusia sering justru lebih buruk daripada perlakuan ke software.

Kalau AI ngasih output jelek, orang langsung mikir:
- Prompt-nya sudah jelas belum?
- Context yang diberikan cukup nggak?
- Requirement-nya ambigu nggak?
- Ada review process nggak?
- Ada feedback loop nggak?

Tapi kalau manusia bikin salah:
- "Kok nggak punya inisiatif?"
- "Kan harusnya ngerti sendiri."
- "Masa begitu aja harus diajarin?"


Padahal secara manajemen, dua-duanya mirip.

Kalau seorang PM ngasih requirement setengah matang ke engineer, lalu hasilnya meleset, apakah sepenuhnya salah engineer? Belum tentu.

Kalau seorang manager ngasih brief kabur ke staff, lalu hasil kerjanya nggak sesuai ekspektasi, apakah sepenuhnya salah staff? Belum tentu.

Karena salah satu fungsi manager memang mengurangi ambiguitas.


Menurut gue perkembangan AI menyentuh sesuatu yang fundamental: AI memaksa banyak manager menghadapi kenyataan tentang kualitas manajemen mereka sendiri.

Dulu mereka bisa berlindung di balik:
"Anak buahnya yang kurang kompeten."

Sekarang ketika AI yang "anak buahnya", alasan itu mulai runtuh.

Kalau AI terus menghasilkan output buruk, orang mulai bertanya:
"Prompt lu gimana?"
"Context yang lu kasih apa?"
"Lu review hasilnya nggak?"

Dan pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya adalah pertanyaan yang seharusnya sudah lama ditanyakan terhadap cara mereka mengelola manusia.

Manusia juga butuh konteks dan review.

Banyak manager memperlakukan review seolah hadiah istimewa.

Padahal review itu bagian dari pekerjaan manager.

Mentoring itu bagian dari pekerjaan manager.

Memberikan arah itu bagian dari pekerjaan manager.

Mengambil tanggung jawab ke atas ketika timnya melakukan kesalahan juga bagian dari pekerjaan manager.

Kalau semua keputusan, semua klarifikasi, semua risiko, semua accountability dilempar ke individual contributor, maka pertanyaannya sederhana: Terus manager-nya ngapain?

Tentunya ada sisi lain juga. Kadang memang karyawan juga harus lebih proaktif bertanya, lebih mandiri, lebih bertanggung jawab. Itu juga benar.

Tapi yang sering bikin frustrasi adalah ketika kata "inisiatif" dipakai sebagai alasan untuk menghindari pekerjaan manajerial.

"Inisiatif" seharusnya berarti:
"Saya sudah kasih arah yang jelas, sekarang silakan eksplorasi."

Bukan:
"Saya sengaja nggak kasih konteks yang jelas, silakan tebak sendiri apa yang saya mau."

Itu bukan inisiatif. Itu tebak-tebakan.

Dan lucunya, AI sekarang justru mengajari banyak orang sesuatu yang seharusnya sudah diketahui sejak lama:

Output berkualitas adalah hasil dari kombinasi kemampuan pelaksana, kualitas arahan, dan kualitas review.

Baik pelaksananya manusia maupun mesin.

Kalau dipikir-pikir, mungkin perkembangan AI bukan cuma revolusi teknologi.

Mungkin ini juga cermin raksasa yang dipaksa berdiri di depan para manager.

Dan sebagian orang mulai tidak suka dengan apa yang mereka lihat di cermin itu.

1 comment:

Anonymous said...

Setuju melihat dari perspective impact AI menjadi filter tak di sengaja buat organisasi. menarik