Hampir setiap generasi memang punya kecenderungan mengkritik teknologi baru yang muncul setelah mereka dewasa.
- Socrates (atau lebih tepatnya dialog yang ditulis oleh Plato tentang Socrates) mengkritik tulisan karena dianggap melemahkan ingatan.
- Ada masa ketika novel dianggap merusak moral anak muda.
- Radio dianggap akan menghancurkan budaya membaca.
- Televisi dianggap akan menghancurkan budaya berpikir.
- Video game dianggap akan menghancurkan generasi muda.
- Internet dianggap membuat orang tidak bisa fokus.
- AI sekarang dianggap akan membuat manusia malas berpikir.
Polanya berulang terus.
Semua manusia bergantung pada alat.
Manusia justru menjadi spesies dominan karena kemampuan membuat dan mewariskan alat.
Kalau kita mau konsisten dengan logika "jangan bergantung pada alat", maka:
- Jangan pakai kacamata.
- Jangan pakai kalkulator.
- Jangan pakai mobil.
- Jangan pakai listrik.
- Jangan pakai pisau.
- Jangan pakai bahasa tulis.
Sampai titik tertentu, peradaban itu sendiri adalah akumulasi ketergantungan terhadap alat yang diwariskan generasi sebelumnya.
Yang lebih penting bukan "apakah kita bergantung", melainkan:
Apa yang terjadi ketika alat itu hilang?
Misalnya:
- Boleh pakai GPS setiap hari.
- Tapi bagus kalau masih punya kemampuan dasar membaca peta.
- Boleh pakai AI untuk coding.
- Tapi bagus kalau masih bisa memahami output AI dan debugging.
- Boleh pakai kalkulator.
- Tapi bagus kalau masih mengerti konsep matematikanya.
Menurut gue, di situlah kritik yang paling kuat sebenarnya berada. Bukan pada penggunaan alatnya, tapi pada hilangnya pemahaman dasar.
Nah, yang kadang bikin jengkel adalah ketika kritik itu berubah menjadi romantisasi masa lalu.
Misalnya:
"Programmer dulu lebih hebat karena ngoding tanpa internet."
Ya... karena internetnya memang belum ada.
Kalau programmer tahun 1990 dilempar ke dunia sekarang dan dipaksa bikin sistem cloud-native, CI/CD pipeline, container orchestration, AI integration, security compliance, observability stack, mobile app, dan analytics sendirian, dia juga bakal megap-megap.
Sebaliknya, banyak programmer modern yang mungkin kalah dalam optimasi assembly, tapi jauh lebih mampu mengelola kompleksitas sistem yang skalanya jutaan user.
Skill yang dibutuhkan berubah.
Bukan selalu memburuk.
Bukan selalu membaik.
Tapi berubah.
Ada para senior programmer yang berhasil bertahan setelah 5 tahun mendalami satu bahasa.
Yang tidak terlihat adalah berapa banyak orang yang mendalami teknologi yang kemudian mati, menjadi usang, atau kariernya mandek karena terlalu sempit.
Di era sekarang, kemampuan belajar hal baru sering lebih berharga daripada kemampuan menghafal satu hal selama bertahun-tahun.
AI mungkin akan mendorong tren itu lebih jauh lagi.
Secara historis memang sering terjadi bahwa perubahan besar lebih mudah diterima generasi baru daripada generasi lama. Banyak ide yang awalnya ditolak habis-habisan lalu menjadi normal setelah pergantian generasi.
Tapi kalau dilihat lebih dekat, bukan usia yang jadi masalah utama.
Ada orang umur 25 yang pikirannya sudah membatu.
Ada orang umur 80 yang masih penasaran, masih belajar, masih mau mencoba teknologi baru.
Menurut gue garis pemisahnya bukan tua vs muda.
Melainkan:
rasa ingin tahu vs rasa sudah tahu.
Begitu seseorang mulai berpikir:
"Dunia seharusnya tetap seperti saat saya berumur 25 tahun."
Biasanya di situlah proses menjadi fosil intelektual dimulai.
Dan lucunya, itu bisa terjadi pada usia berapa pun.
Jadi waktu gue merasa kesal mendengar, "AI bikin manusia bodoh", "internet bikin programmer lemah", atau "anak muda sekarang terlalu bergantung teknologi", mungkin yang sebenarnya mengganggu bukan kritiknya.
Yang mengganggu adalah asumsi tersembunyi di baliknya:
"Cara saya dulu adalah cara yang benar, dan perubahan setelah itu adalah kemunduran."
Padahal sejarah manusia jauh lebih berantakan dan jauh lebih menarik daripada itu. Hampir semua kemajuan yang sekarang dianggap normal dulunya pernah dituduh akan menghancurkan umat manusia.
No comments:
Post a Comment