Cinta itu bagai ruang,
ia melingkupi, namun juga memberi keleluasaan.
Nafsu itu bagi kandang,
ia mengikat, mengekang, dan tidak membiarkan bebas.
Cinta berarti keinginan agar seseorang bahagia.
Nafsu berarti keinginan untuk memiliki apapun alasannya.
Cinta terbuka bagi semua makhluk.
Nafsu hanya bagi yang enak dipandang dan dirasakan saja.
Tidak ada perbedaan antara memiliki, mengekang, mengikat, dan merampas kebebasan, Tapi manusia hanya mencari kata2 indah untuk menutupi kenyataan.
Jika apa yang kamu rasakan tidak dapat dimengerti,
cinta kah? nafsu kah?
Tanyakan ini pada dirimu : Marahkah saya jika ia kawin lari dengan sahabat baikku?
Jika ya, kamu dipenuhi nafsu! Lebih baik ia mati menderita bersamaku daripada hidup bahagia bersama orang lain...
Jika tidak, itulah cinta sejati! Jika ia bahagia, sayapun bahagia...
Tuesday, May 4, 2010
Monday, March 29, 2010
Apakah Kamu Sangat Mencintainya?
Apakah kamu sangat mencintai seseorang,
Sehingga kamu dapat mencintainya :
Karena ia bukan siapa-siapa?
Karena ia adalah dirinya sendiri?
Karena ia sebagaimana ia ada?
Sekalipun ia :
Adalah sampah?
Seorang penjahat?
Kawin lari dengan sahabatmu?
Sehingga kamu sanggup :
Merelakannya pergi?
Menegurnya saat ia bersalah?
Menamparnya untuk kebaikannya?
Sehingga kamu dapat mencintainya :
Karena ia bukan siapa-siapa?
Karena ia adalah dirinya sendiri?
Karena ia sebagaimana ia ada?
Sekalipun ia :
Adalah sampah?
Seorang penjahat?
Kawin lari dengan sahabatmu?
Sehingga kamu sanggup :
Merelakannya pergi?
Menegurnya saat ia bersalah?
Menamparnya untuk kebaikannya?
Labels:
Lesson of Live,
Poem
Friday, March 26, 2010
Surat Untuk Sahabat : Everything Changing
Hanya di dalam kesunyian dan kesendirianlah,
seseorang dapat menemui dirinya sendiri,
dan menyadari apa yang sulit disadari.
Waktu aku sendiri aku menulis ini.
Tak terasa sudah setahun sejak hari itu,
waktu itulah kamu yang mengajakku ke tempat ini.
Kalian menunjukkan kehangatan dan kekeluargaan yang belum pernah aku rasakan selama ini, sehingga dengan sadar aku ingin melangkah ke tempat ini dan menjadi bagian dari kalian.
Hei! Ingatkah kamu?
Saat itu kamu bilang kamu masih belum puas berada disini, sehingga kamu sempat ingin menambah waktu belajarmu yang seharusnya sudah selesai...
Saat itu kamu mengatakan kalau kamupun ingin berada disini karena tempat ini tempat yang nyaman...
Aku tidak tahu sama sekali. Sebenarnya apa sih yang dulu kamu alami? Sampai2 kamu segitu inginnya berada disini?
Rasanya hari yang telah lewat setahun itu baru kemarin.
Waktu itu ada seseorang yang menanyakan,
"Adakah teman dekat yang kalian miliki diluar tempat ini?"
Dengan polosnya aku menjawab,
"Banyak..."
Memang tidak salah jawabanku itu,
tapi rasanya kok tidak tepat juga yah?
Ternyata memang kalian semua sudah menjadi bagian dari hidupku...
Rasanya seperti baru kemarin kamu mengungkapkan,
betapa inginnya kamu berada di tempat ini...
Tapi hari ini aku baru tahu,
ternyata tempat ini sudah berubah dari apa yang kamu kenal...
Padahal karena campur tangan kamu jugalah,
aku menjadi bagian dari tempat ini...
Tapi sekarang kamu pergi begitu saja...
Aku sedikit kecewa sih,
tapi apa mau dikata,
segala sesuatu terus berubah,
tempat ini maupun kamu...
Seandainya saja kamu mau bertahan sedikit lebih lama...
Tapi tak apa...
Aku tidak punya 1000 tangan,
untuk dapat mengerjakan banyak hal.
Aku tidak punya 1000 mata,
untuk memperhatikan mereka satu persatu.
Tapi semoga saja,
dengan modal semangat dan memori yang kamu tinggalkan,
aku bisa membuat tempat ini menjadi lebih baik,
seperti tempat yang kamu kenal dulu...
Semoga kamu kuat untuk melangkah di jalan barumu,
doaku senantiasa menyertaimu...
Jika kamu merasa tersesat suatu hari nanti,
ingatlah tempat ini juga masih merupakan rumahmu dan selalu menjadi keluargamu...
seseorang dapat menemui dirinya sendiri,
dan menyadari apa yang sulit disadari.
Waktu aku sendiri aku menulis ini.
Tak terasa sudah setahun sejak hari itu,
waktu itulah kamu yang mengajakku ke tempat ini.
Kalian menunjukkan kehangatan dan kekeluargaan yang belum pernah aku rasakan selama ini, sehingga dengan sadar aku ingin melangkah ke tempat ini dan menjadi bagian dari kalian.
Hei! Ingatkah kamu?
Saat itu kamu bilang kamu masih belum puas berada disini, sehingga kamu sempat ingin menambah waktu belajarmu yang seharusnya sudah selesai...
Saat itu kamu mengatakan kalau kamupun ingin berada disini karena tempat ini tempat yang nyaman...
Aku tidak tahu sama sekali. Sebenarnya apa sih yang dulu kamu alami? Sampai2 kamu segitu inginnya berada disini?
Rasanya hari yang telah lewat setahun itu baru kemarin.
Waktu itu ada seseorang yang menanyakan,
"Adakah teman dekat yang kalian miliki diluar tempat ini?"
Dengan polosnya aku menjawab,
"Banyak..."
Memang tidak salah jawabanku itu,
tapi rasanya kok tidak tepat juga yah?
Ternyata memang kalian semua sudah menjadi bagian dari hidupku...
Rasanya seperti baru kemarin kamu mengungkapkan,
betapa inginnya kamu berada di tempat ini...
Tapi hari ini aku baru tahu,
ternyata tempat ini sudah berubah dari apa yang kamu kenal...
Padahal karena campur tangan kamu jugalah,
aku menjadi bagian dari tempat ini...
Tapi sekarang kamu pergi begitu saja...
Aku sedikit kecewa sih,
tapi apa mau dikata,
segala sesuatu terus berubah,
tempat ini maupun kamu...
Seandainya saja kamu mau bertahan sedikit lebih lama...
Tapi tak apa...
Aku tidak punya 1000 tangan,
untuk dapat mengerjakan banyak hal.
Aku tidak punya 1000 mata,
untuk memperhatikan mereka satu persatu.
Tapi semoga saja,
dengan modal semangat dan memori yang kamu tinggalkan,
aku bisa membuat tempat ini menjadi lebih baik,
seperti tempat yang kamu kenal dulu...
Semoga kamu kuat untuk melangkah di jalan barumu,
doaku senantiasa menyertaimu...
Jika kamu merasa tersesat suatu hari nanti,
ingatlah tempat ini juga masih merupakan rumahmu dan selalu menjadi keluargamu...
Tuesday, March 23, 2010
Agama Bagaikan Obat
Pembicaraan dengan seorang teman berinisial "PS" saat sedang outing program bersama BNEC di Anyer...
B : Orang sakit flu mesti minum obat flu, orang batuk mesti minum obat batuk. Agama itu seperti obat, setiap orang yang punya "penyakit" berbeda mesti minum "obat" berbeda juga...
PS : Makanya ada macam2 agama yah, karena pola pikir dan kondisi setiap orang berbeda...
B : Yap! Biarpun ada beragam agama, tapi tujuannya satu, yaitu "kesembuhan". Mungkin pada awalnya terasa sangat berbeda, tapi semakin lama dan semkin kedalam, justru kita semakin banyak menemukan persamaannya...
PS : Bagaimana supaya kita tahu bahwa suatu agama cocok untuk seseorang?
B : Dengan melihat kondisi orang itu "before and after". pertama-tama, apakah setelah menganut suatu agama, orang itu mendapat ketenangan bathin atau malah penuh ketakutan dan kekacauan? Kemudian, apakah dia semakin penuh kasih atau semakin penuh kebencian? dan apakah dia semakin bijaksana atau semakin tidak dapat berpikir jernih?
B : Jika dia semakin tenang, mengasihi dan bijaksana, maka agama itu cocok buat dia. Tapi jika ia semakin kacau, penuh kebencian, dan tidak dapat berpikir jernih, maka agama itu tidak cocok buat dia.
B : Orang sakit flu mesti minum obat flu, orang batuk mesti minum obat batuk. Agama itu seperti obat, setiap orang yang punya "penyakit" berbeda mesti minum "obat" berbeda juga...
PS : Makanya ada macam2 agama yah, karena pola pikir dan kondisi setiap orang berbeda...
B : Yap! Biarpun ada beragam agama, tapi tujuannya satu, yaitu "kesembuhan". Mungkin pada awalnya terasa sangat berbeda, tapi semakin lama dan semkin kedalam, justru kita semakin banyak menemukan persamaannya...
PS : Bagaimana supaya kita tahu bahwa suatu agama cocok untuk seseorang?
B : Dengan melihat kondisi orang itu "before and after". pertama-tama, apakah setelah menganut suatu agama, orang itu mendapat ketenangan bathin atau malah penuh ketakutan dan kekacauan? Kemudian, apakah dia semakin penuh kasih atau semakin penuh kebencian? dan apakah dia semakin bijaksana atau semakin tidak dapat berpikir jernih?
B : Jika dia semakin tenang, mengasihi dan bijaksana, maka agama itu cocok buat dia. Tapi jika ia semakin kacau, penuh kebencian, dan tidak dapat berpikir jernih, maka agama itu tidak cocok buat dia.
Labels:
Dialogue,
Diary,
Lesson of Live
Sunday, March 14, 2010
Siapa yang Perlu?
Orang sehat tidak butuh obat, tapi orang sakit yang perlu...
Orang pandai tidak perlu belajar, tapi orang bodoh yang perlu...
Orang saleh tidak perlu berdoa, tapi orang pendosa yang perlu...
Orang tenang tidak perlu meditasi, tapi orang kalut yang perlu...
Orang pandai tidak perlu belajar, tapi orang bodoh yang perlu...
Orang saleh tidak perlu berdoa, tapi orang pendosa yang perlu...
Orang tenang tidak perlu meditasi, tapi orang kalut yang perlu...
Labels:
Stanza
Tebu dan Bambu
Konon seorang guru dapat mengajar dalam 3 bentuk, yaitu secara langsung, lewat perbuatannya, dan dengan bahasa simbol. Ada suatu simbolisme yang saya temukan dan cukup menarik, yaitu bambu dan tebu. Apa sih makna bambu dan tebu? semua orang sering melihat bambu dan memakan tebu, lantas apa istimewanya? Ternyata semakin sering kita melihat alam, semakin sering pula kita akan mendapat pelajaran tersirat darinya.
Lihatlah bambu, saat masih muda, ia begitu lunak dan enak untuk dikonsumsi (rebung). Tapi semakin tua, sudah keras, dalamnya kopong pula...
Sekarang lihatlah tebu, saat masih muda, ia begitu keras dan tidak ada rasanya. Tapi semakin tua, ia malah semakin lembut dan manis rasanya.
Bambu ibarat kehidupan duniawi, dan tebu itu ibarat kehidupan spiritual. Pada awalnya, kehidupan duniawi begitu manis dan nyaman. Tetapi, semakin kita terjun jauh terlibat dalam hal2 duniawi, justru ia semakin hambar dan tidak berguna... Sementara kehidupan spiritual, pada awalnya kita akan menemukan berbagai kesulitan dalam menempuhnya, tapi semakin lama, justru kehidupan spiritual akan berbuah semakin manis.
Jadi, apaka saya bermaksud mengatakan sebaiknya kita menempuh kehidupan spiritual saja? Tidak demikian. Tapi saya mendorong setiap orang untuk menjalankan keduanya sekaligus tanpa membuang / mengabaikan yang lainnya, agar keduanya dapat saling melengkapi. Ketika kehidupan spiritual begitu sulit ditempuh, maka anda bisa disokong oleh kehidupan duniawi Anda. Namun saat kehidupan duaniawi begitu membosankan dan rasanya sudah hambar, kita akan disokong oleh kehidupan spiritual kita. Dengan menjalankan keduanya, hidup akan semakin bermakna dan kita akan selalu mempunyai tujuan hidup.
Lihatlah bambu, saat masih muda, ia begitu lunak dan enak untuk dikonsumsi (rebung). Tapi semakin tua, sudah keras, dalamnya kopong pula...
Sekarang lihatlah tebu, saat masih muda, ia begitu keras dan tidak ada rasanya. Tapi semakin tua, ia malah semakin lembut dan manis rasanya.
Bambu ibarat kehidupan duniawi, dan tebu itu ibarat kehidupan spiritual. Pada awalnya, kehidupan duniawi begitu manis dan nyaman. Tetapi, semakin kita terjun jauh terlibat dalam hal2 duniawi, justru ia semakin hambar dan tidak berguna... Sementara kehidupan spiritual, pada awalnya kita akan menemukan berbagai kesulitan dalam menempuhnya, tapi semakin lama, justru kehidupan spiritual akan berbuah semakin manis.
Jadi, apaka saya bermaksud mengatakan sebaiknya kita menempuh kehidupan spiritual saja? Tidak demikian. Tapi saya mendorong setiap orang untuk menjalankan keduanya sekaligus tanpa membuang / mengabaikan yang lainnya, agar keduanya dapat saling melengkapi. Ketika kehidupan spiritual begitu sulit ditempuh, maka anda bisa disokong oleh kehidupan duniawi Anda. Namun saat kehidupan duaniawi begitu membosankan dan rasanya sudah hambar, kita akan disokong oleh kehidupan spiritual kita. Dengan menjalankan keduanya, hidup akan semakin bermakna dan kita akan selalu mempunyai tujuan hidup.
Labels:
Lesson of Live
Subscribe to:
Posts (Atom)


