Beberapa waktu lalu saya sempat mengobrol santai dengan salah satu Engineering Manager di kantor saya, Mas Yudi. Sekilas pembicaraan kami terdengar seperti obrolan ringan di sela-sela pekerjaan, tetapi semakin lama kami berdiskusi, semakin terasa bahwa sebenarnya kami sedang membahas satu tema besar yang sama dari dua sudut pandang yang berbeda. Tema tersebut adalah bagaimana keterbatasan manusia seharusnya menjadi dasar dalam mendesain sistem, baik sistem kerja, produk digital, maupun kebiasaan sehari-hari.
Ada dua topik utama yang kami bahas saat itu, yaitu mengenai kapasitas memori manusia dan konsep friction versus frictionless environment. Awalnya kedua topik ini terdengar tidak saling berkaitan, tetapi pada akhirnya saya menyadari bahwa keduanya sebenarnya berbicara tentang hal yang sama, yaitu bagaimana kita dapat bekerja lebih efektif tanpa harus memaksa manusia menjadi sosok yang sempurna.
## Otak Bukan Tempat Penyimpanan Tanpa Batas
Mas Yudi sempat mengatakan bahwa manusia tidak mungkin menjalankan terlalu banyak hal secara paralel tanpa bantuan sistem yang mendukung kapasitas otaknya. Bahkan menurut beliau, sebaiknya selalu ada ruang kosong yang sengaja disisakan agar otak tidak bekerja pada kapasitas penuh sepanjang waktu.
Saya langsung teringat pada sebuah konsep dari Tao Te Ching karya Laozi yang pernah saya baca bertahun-tahun lalu. Di dalamnya terdapat analogi bahwa sebuah wadah berguna justru karena bagian tengahnya kosong. Sebuah kuali mampu menampung makanan bukan karena dindingnya, melainkan karena ruang kosong di dalamnya. Dari komentar terhadap kitab tersebut, saya pernah menemukan penjelasan menarik bahwa manusia pun sebaiknya tidak mengisi seluruh kapasitas dirinya setiap hari apabila ingin mampu bertahan dalam jangka panjang.
Semakin tinggi posisi seseorang di dalam organisasi, justru semakin penting baginya untuk tidak bekerja pada kapasitas seratus persen. Mungkin cukup enam puluh hingga delapan puluh persen saja. Ruang kosong yang tersisa bukanlah bentuk kemalasan ataupun waktu yang terbuang sia-sia, melainkan ruang untuk berpikir, mengambil keputusan, mengevaluasi arah, dan melahirkan ide-ide baru yang tidak mungkin muncul ketika pikiran sedang penuh sesak.
Saya semakin yakin bahwa kreativitas hampir selalu membutuhkan pikiran yang rileks. Tidak mengherankan apabila banyak eksekutif memilih melakukan diskusi strategis di restoran, lapangan golf, atau sambil berjalan santai daripada terus-menerus duduk di ruang rapat yang penuh tekanan. Keputusan strategis memang tidak selalu menyentuh detail implementasi, tetapi keputusan tersebut menentukan arah bagi semua detail yang akan dikerjakan setelahnya. Beban kognitif seperti ini sulit dilakukan ketika seseorang sedang berada di bawah tekanan yang konstan.
Sebaliknya, apabila pekerjaan seseorang bersifat sangat repetitif dan hampir tidak membutuhkan pengambilan keputusan baru, bekerja pada kapasitas penuh mungkin masih memungkinkan. Namun ketika pekerjaan tersebut masih memiliki area yang penuh ketidakpastian dan membutuhkan inisiatif dari waktu ke waktu, ruang kosong di dalam pikiran menjadi aset yang jauh lebih berharga daripada sekadar produktivitas sesaat.
## Great Sage Tidak Menghafal Semua Jawaban
Percakapan kami kemudian berlanjut pada sebuah analogi yang saya sukai sejak lama, yaitu sosok great sage dalam dunia fantasi.
Di berbagai kisah fantasy, selalu ada sosok bijak yang seolah mengetahui hampir segala sesuatu. Namun jika diperhatikan lebih dalam, mereka sebenarnya tidak selalu mampu menjawab setiap pertanyaan saat itu juga. Ketika menghadapi persoalan yang rumit, mereka membuka perpustakaan, mencari manuskrip kuno, meracik bahan-bahan tertentu, atau mempelajari kembali catatan lama sebelum memberikan jawaban.
Hal menunjukkan kalau kebijaksanaan bukanlah kemampuan menghafal seluruh informasi di luar kepala. Kebijaksanaan justru terletak pada kemampuan mengetahui informasi apa yang dibutuhkan, di mana letaknya, bagaimana menemukannya kembali, lalu menghubungkan berbagai potongan informasi tersebut menjadi solusi.
Di era modern, pendekatan seperti ini bahkan menjadi semakin relevan. Kita memiliki aplikasi pencatat seperti Obsidian, notebook digital, cloud storage, laptop, smartphone, hingga AI yang dapat membantu proses pencarian informasi. Dengan begitu, kita tidak perlu mengorbankan kapasitas otak hanya untuk menghafal setiap detail kecil. Energi mental tersebut dapat dialihkan untuk melakukan analisis, menyusun strategi, dan mengambil keputusan yang memang membutuhkan kreativitas manusia.
Engineer senior sering kali terlihat seperti orang yang mengetahui segala hal, padahal kenyataannya mereka lebih sering mengetahui di mana harus mencari jawaban. Mereka ingat lokasi dokumentasi, nama repository, atau siapa yang pernah menangani masalah serupa. Yang mereka kuasai bukan sekadar knowledge, melainkan sistem retrieval yang sangat baik.
## Mendesain Sistem yang Mengikuti Perilaku Manusia
Topik kedua yang kami bahas adalah mengenai friction dan frictionless environment. Dalam dunia product management maupun UX, konsep ini sebenarnya sudah cukup dikenal, tetapi saya merasa penerapannya jauh lebih luas daripada sekadar desain aplikasi.
Saya ingat sebuah kisah mengenai sebuah wilayah di Afrika yang memiliki angka kematian tinggi akibat masyarakat mengonsumsi air yang tercemar. Pemerintah kemudian membagikan tawas kepada warga agar air dapat dijernihkan sebelum diminum. Secara teori solusi tersebut sangat masuk akal, tetapi pada praktiknya hampir tidak ada perubahan berarti karena sebagian besar warga tetap memilih langsung meminum air kotor tersebut.
Penyebabnya ternyata bukan karena mereka tidak memahami manfaat tawas, melainkan karena tawas tersebut disimpan di dalam rumah. Setelah berjalan jauh mengambil air dari sungai, mereka sudah terlanjur haus sehingga langkah tambahan untuk mengambil tawas, menaburkannya, dan menunggu proses pengendapan terasa terlalu merepotkan.
Solusi lanjutannya akhirnya sangat sederhana tetapi berdampak besar. Pemerintah memindahkan dispenser tawas ke dekat sumber air sehingga setiap orang langsung menambahkan tawas ketika mengambil air. Selama perjalanan pulang, proses pengendapan sudah berlangsung sehingga ketika tiba di rumah, air siap diminum dengan waktu tunggu yang jauh lebih singkat. Solusi yang sama, bahan yang sama, tetapi perubahan kecil pada alur distribusi menghasilkan perubahan perilaku yang jauh lebih besar.
Dari cerita tersebut kita dapat melihat bahwa friction bukan hanya soal langkah tambahan. Friction adalah segala sesuatu yang menambah biaya mental seseorang untuk melakukan sebuah tindakan. Tambahan satu klik, tambahan beberapa meter berjalan, tambahan satu keputusan kecil, atau tambahan beberapa detik berpikir sering kali terdengar sepele. Namun ketika dikalikan ribuan pengguna, dampaknya bisa sangat besar.
Pengalaman saya sebagai Product Manager berkali-kali menunjukkan hal tersebut. Perubahan posisi tombol, penyesuaian warna, atau perubahan urutan informasi sering kali menghasilkan perubahan perilaku pengguna yang benar-benar terlihat pada dashboard analitik (i.e. Mixpanel). Bagi satu orang mungkin perbedaannya tidak terasa, tetapi pada ribuan bahkan jutaan pengguna, dampaknya bisa menjadi sangat signifikan.
## Flow State Sangat Mudah Rusak
Saya juga menggunakan analogi lain yang menurut saya cukup menggambarkan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang minim friction.
Dalam teknik memasak Chinese food, seorang chef akan memanaskan wok hingga mencapai suhu yang sangat tinggi sebelum mulai memasak. Ketika wajan sudah berada pada suhu ideal, tidak ada waktu lagi untuk mencari telur, kecap, bawang, atau bumbu lain yang terlupa. Semua bahan harus sudah tersedia di dekat tangan karena keterlambatan beberapa detik saja dapat membuat seluruh masakan gagal.
Menurut saya, kondisi tersebut sangat mirip dengan flow state ketika seseorang sedang berpikir atau bekerja secara mendalam. Saat momentum berpikir sudah terbentuk, otak berada pada kondisi yang sangat produktif. Namun apabila di tengah proses tersebut seseorang harus mencari file, membuka folder yang lupa lokasinya, meminta akses, atau mencari catatan yang tercecer, momentum tersebut mudah sekali hilang dan sering kali membutuhkan waktu lama untuk kembali.
Karena itu, salah satu cara menciptakan frictionless environment adalah dengan menyiapkan seluruh resource sebelum proses eksekusi dimulai. Mungkin di dunia nyata tidak semua hal dapat dipersiapkan secara sempurna, tetapi semakin sedikit hambatan yang muncul di tengah jalan, semakin besar peluang seseorang mempertahankan fokusnya.
## Friction Dapat Digunakan ke Dua Arah
Konsep friction ternyata tidak hanya berguna untuk mendorong perilaku yang diinginkan, tetapi juga sangat efektif untuk mengurangi perilaku yang tidak kita harapkan.
Di dalam desain produk, tombol yang bersifat berbahaya biasanya dibuat kurang menonjol, ditempatkan pada posisi tertentu, atau disertai dialog konfirmasi sebelum dijalankan. Tujuannya bukan untuk mempersulit pengguna, melainkan untuk memastikan tindakan tersebut benar-benar dilakukan dengan sengaja.
Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila seseorang ingin membangun kebiasaan baik, maka ia sebaiknya menghilangkan sebanyak mungkin hambatan yang menghalangi kebiasaan tersebut. Sebaliknya, apabila ingin mengurangi kebiasaan buruk seperti merokok atau terlalu sering membuka media sosial, cara yang jauh lebih efektif sering kali bukan sekadar mengandalkan niat, melainkan dengan menambahkan sedikit friction. Menaruh rokok di tempat yang sulit dijangkau, menghapus shortcut aplikasi, atau menambahkan beberapa langkah sebelum aplikasi dapat dibuka memang terdengar sederhana, tetapi perubahan kecil seperti ini mampu mengubah frekuensi perilaku dalam jangka panjang.
## Mendesain Sistem untuk Manusia
Pada akhirnya kedua topik yang kami bahas sebenarnya bermuara pada satu prinsip yang sama.
Kita seharusnya tidak mendesain sistem dengan asumsi bahwa manusia akan selalu disiplin, selalu fokus, selalu ingat, dan selalu rasional. Sebaliknya, kita perlu membangun sistem yang tetap mampu bekerja ketika manusia sedang lelah, lupa, sibuk, kehilangan motivasi, atau sedang menghadapi tekanan.
Itulah mengapa kita membutuhkan catatan daripada menghafal semuanya. Itulah mengapa otak perlu memiliki ruang kosong untuk berpikir. Itulah mengapa produk digital perlu meminimalkan friction. Dan itulah mengapa seorang Product Manager, UX Designer, maupun Engineer tidak hanya bertugas membangun fitur, tetapi juga membangun lingkungan yang membantu manusia mengambil keputusan yang lebih baik.
Kualitas sebuah sistem bukan diukur dari seberapa keras manusia dipaksa bekerja di dalamnya. Kualitas sebuah sistem justru terlihat dari seberapa baik sistem tersebut mampu mengakomodasi keterbatasan manusia, lalu mengubah keterbatasan itu menjadi kekuatan.
No comments:
Post a Comment